Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 289


__ADS_3

Fakta bahwa hidup Rhea bakal berakhir di detik ini juga membuat hatinya sakit. Sebab, disaat yang bersamaan, Rhea baru menyadari kalau dirinya sungguh-sungguh cinta Rey dengan segenap hati dan jiwanya. Terlebih saat ia tahu, sang pangeran pujaan hatinya rela menempuh bahaya hanya demi bisa membersihkan nama baik mertuanya yang selama ini menjadi beban pikiran Rhea atas rumor buruk yang menimpa ayahnya.


Tapi ternyata, Tuhan masih memberi Rhea satu kesempatan lagi untuk bisa merasakan cinta yang dianugerahkan padanya. Pedang yang melayang cepat itu berhenti bergerak seketika tepat di atas kepala Rhea. Rhea yang memejamkan mata karena tahu takdir yang akan menimpanya menjadi bingung karena pedang tersebut tak kunjung mengenai tubuhnya. Dan Rhea baru tahu ada sesuatu yang terjadi. Beberapa tetes darah menetes ditangannya dan darah itu berasal dari tangan Rey yang menghalau pedang itu dengan kedua tangannya agar tidak mengenai tubuh wanita yang amat sangat dicintai Rey.


“Pa-pangeran,” seru Rhea antara shock dan tak percaya bahwa yang menghentikan laju pedang itu adalah suaminya sendiri.


“Kau ... tidak apa-apa, Istriku?” Rey menatap tajam pedang itu.


Sekuat tenaga, Rey menahan pedang tersebut sampai mengeluarkan banyak darah dan keringat. Rhea langsung shock berat melihat darah suaminya semakin deras mengucur mengenai lengannya. Tiba-tiba saja, muncul iblis lain dengan membawa pedang yang sama hendak menebas Rey saat itu juga.


“Tidaaak!” teriak Rhea dengan lantang sambil menangis. Ia melangkah maju kehadapan Rey untuk menghalau pedang tersebut tepat disaat Refald dan Fey datang membantu menyelamatkan mereka berdua.


Dengan kekuatan Refald, semua iblis yang membawa pedang itupun berhasil Refald hempaskan hanya dengan menggunakan satu tangan. Makhluk-makhluk mengerikan itupun terlempar jauh ke belakang, tapi mereka masih terus berusaha kembali menyerang Refald secara serentak. Jumlah merekapun sangat banyak dan bisa membelah diri menjadi berapapun yang mereka inginkan layaknya hewan ber sel satu seperti amoeba.


Sedangkan Fey langsung memberikan pertolongan pertama pada putranya untuk menghentikan pendarahannya.


“Aku tidak tahu apakah kau ini bodoh atau tidak pintar, tapi usahamu kali ini benar-benar keren, putraku. Sebagai ibumu, aku bangga padamu,” ujar Fey sambil tersenyum.


Rey juga balas tersenyum karena ini pertama kalinya sepanjang hidup Rey, ibunya memuji dirinya. Biasanya selalu saja ayahnya yang dipuji.


"Apa aku .... sudah mirip, Ayah?"


"Sedikit, tapi melihat aksimu saat ini, kau bisa melebihi ayahmu."


Fey memerhatikan suaminya sedang berjuang keras melawan iblis-iblis itu. Sedangkan para pasukannya juga membantu melenyapkan duplikat mereka yang semakin lama, jumlahnya bukannya berkurang tetapi malah semakin banyak.


“Rhea!” panggil Fey pada menantunya yang sejak tadi menopang kepala Rey di pangkuannya dengan wajah pucat karena cemas.


Meski Rhea sempat menangis, kini ia lega karena mertuanya yang luar biasa ini sudah datang menyelamatkannya. “Iya Ibu,” jawab Rhea.


Rey yang mendengar istrinya memanggil ibunya dengan sebutan ‘ibu’ jadi tersentuh. Seketika rasa sakit akibat luka ditangannya mendadak hilang saat Rhea menyebut Fey sebagai ibunya.


“Cepat bawa Rey pergi dari sini! Mereka semua bukan tandingan kalian. biarkan kami yang menangani mereka semua,” pinta Fey pada Rhea.


“Baik Ibu,” seru Rhea dengan penuh semangat.


Tanpa peringatan sebelumnya, Rhea langsung menggendong tubuh Rey yang lemah karena banyak kehilangan tenaga dan darah ditangannya. Sedangkan Fey bergegas pergi membantu suaminya membasmi semua kloningan makhluk mengerikan itu.


“Tunggu! Apa yang kau lakukan?” tolak Rey saat istrinya mencoba menggendongnya.


“Kita harus pergi dari sini, Pangeran!” jawab Rhea cepat. Ia pun melompat terbang menjauh dari medan perang tanpa peduli pada pemberontakan Rey yang dilakukan padanya.


“Dengan cara ini?” Rey benar-benar shock.


Ini pertama kalinya, orang sekeren dan se-cool Rey digendong seorang cewek, istrinya sendiri pula. Sungguh runtuh sudah gelar keperkasaan Rey dihadapan Rhea.


“Tidak ada cara lain lagi, saya harus segera mengobati luka pangeran sebelum terlambat.” Rhea terus menatap jalan agar tidak sampai menabrak pohon.


“Tidak! Turunkan aku sekarang! Ini perintah! Cepat!” teriak Rey menggelegar hingga Fey dan Refald bisa mendengar suara teriakan putranya.


Rhea yang tersentak mendengar suara teriakan suaminya, seketika berhenti bergerak dan turun ke tanah. Perlahan dan hati-hati, Rhea menurunkan Rey.


“Kenapa Pangeran tidak mau saya gendong?” tanya Rhea dengan polosnya sekaligus kecewa karena Rey berteriak seperti itu padanya. Padahal ia sangat senang bisa melakukan sesuatu untuk orang yang ia cintai.


“Tidak mau! Masa aku digendong seorang wanita? Yang benar saja? Harusnya akulah yang menggendongmu, bukan sebaliknya? Mau ditaruh mana muka tampanku ini, ha?”

__ADS_1


“Memang apa salahnya? Pangeran sedang terluka, wajar jika saya menggendong Pangeran pergi dari sini seperti yang diperintahkan Ratu.”


“Ya jelas salahlah, rusak sudah kemachoanku!” pekik Rey kesal.


“Saya akan mengobati kemachoan pangeran yang rusak itu begitu kita sampai ditempat yang aman. Ayo, kita cari kemachoan bagian mana yang rusak, supaya saya bisa menyembuhkannya juga,” jawab Rhea terlalu polos sehingga langsung sukses membuat Rey melongo tak percaya.


“Hah?” Rey sangat terkejut. “Kau bilang apa tadi?” Rey berharap apa yang ia dengar barusan tidaklah benar.


“Anda bilang kalau kemachoan anda rusak? Saya berjanji akan menyembuhkannya juga, yang penting kita harus meninggalkan tempat ini terlebih dulu.”


“Apa kau tahu apa itu macho?” tanya Rey yang sudah kehabisan kesabaran melihat betapa polosnya istrinya ini.


“Ehm, bukankah macho itu sama dengan otot?” tebak Rhea.


“Astaga! Sejak kapan otot berubah nama jadi macho? Apa kau tidak pernah ikut pelajaran biologi, ha?” Rey langsung lemas mengetahui satu fakta mencengangkan lagi mengenai istrinya yang ternyata tak hanya super duper polos, tetapi juga bloon.


Refald dan Rey hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perdebatan putra dan menantunya.


“Dasar pasangan somplak!” gumam Fey dan Refald bersamaan sambil bertarung dengan iblis-iblis jahat yang sedang menyerang mereka.


Berbagai macam cara, sudah Rhea lakukan supaya Rey mau digendong lagi olehnya dan segera meninggalkan tempat ini. Tapi sang suami masih saja kukuh tidak mau kehilangan kemachoannya lagi untuk yang kedua kali.


Beberapa iblis jahat yang melihat mereka juga mulai menyerang keduanya tapi selalu berhasil dihalau oleh pasukan dedemit Refald. Rhea sendiri hampir habis kesabaran menghadapi sifat keras kepala Rey. Tidak ada yang bisa gadis cantik itu lakukan selain bertahan agar semua iblis kloning itu tak terus-terusan menyerangnya.


“Pangeran, mari ikut saya, kita harus pergi dari sini. Tempat ini terlalu berbahaya untuk kita berdua,” bujuk Rhea.


“Aku tidak mau kalau kau menggendongku lagi.”


“Anda sedang terluka, kalau kita paksakan berjalan, tubuh anda akan semakin lemah. Saya tidak punya ilmu teleportasi seperti yang lainnya. Seandainya saya punya, saya pasti akan memilih cara itu.”


“Memangnya seberapa besar kerusakan kemachoan anda, Pangeran? Beritahu saya supaya saya bisa mengobatinya.”


“Bagaiamana bisa kau mengobatinya? Arti kata macho saja kau tidak tahu,” Rey benar-benar keki sendiri menghadapi kepolosan Rhea.


Disela-sela perdebatan antara Rey dan Rhea, Refald datang dan langsung memukul tengkuk putranya sendiri hingga pingsan. “Beres! Kau bisa bawa dia sekarang, kalian ini berisik sekali!” ujar Refald dan ia langsung melesat kembali ke medan peperangan untuk menyelesaikan pertarungannya dengan semua iblis kloning mengerikan itu.


Awalnya Rhea terkejut karna Refald bisa membuat pingsan anaknya seperti itu, tapi memang tidak ada cara lain lagi selain cara praktis seperti yang dilakukan ayah mertuanya. Tanpa pikir panjang, Rhea bergegas mengangkat tubuh suaminya dan segera membawanya menjauh dari tempat ini sebelum mereka berdua di serang iblis jahat lagi.


***


Setelah memastikan bahwa Rey dan Rhea menjauh, Refald menyuruh Fey dan seluruh pasukannya bergerak mundur dan berdiri dibelakangnya. Pertarungan sengit ini hanya bisa diselesaikan dengan satu cara, yaitu memgirim semua iblis kloning ini ke tempat terjauh yang tak bisa dijangkau oleh makhluk apapun.


Refald mulai menyiapkan kekuatannya. Ia merentangkan kedua tangan dan langsung membuka sebuah lubang hitam berukuran besar yang sesuai dengan kapastias jumlah iblis kloning. Tanpa membuang waktu, lubang hitam itupun menyedot seluruh mkhluk mengerikan itu tanpa ada yang tersisa. Sekeras apapun usaha mereka melarikan diri dari lubang hitam buatan Refald, tetap saja mereka tersedot kedalamnya. Dan siapapun yang masuk ke dalam lubang hitam tersebut, tidak akan pernah bisa keluar lagi.


“Beres,” ujar Refald yang langsung mendapat pelukan dari Fey.


“Seperti biasa, kau selalu luar biasa.” Fey mencium mesra suaminya dihadapan seluruh pasukannya yang langsung serentak menundukan kepala.


Refald sendiri juga membalas ciuman manis istrinya sebagai hadiah dari setiap aksi yang dilakukan Refald malam ini. “Kalian semua, pergilah!” perintah Refald pada pasukannya, tapi matanya terus menatap manik mata istrinya. “Sebentar lagi akan ada banyak penduduk desa yang datang kemari. Jangan datang sebelum aku memanggil kalian. Dan juga awasi pak Po serta Rey, jangan biarkan mereka bertindak gegabah lagi.”


“Baik, yang mulia Raja Refald, kami permisi.” Serentak seluruh pasukan Refald pun menghilang begitu saja dari pandangan.


“Memangnya apa yang dilakukan pak Po?” tanya Fey ingin tahu.


“Dia masih mojok dan menakuti seluruh penduduk sebelah dengan suara tangisannya. Aku sudah meminta mbak Kun dan Arka untuk menemaninya sambil berjaga-jaga. Aku khawatir ada sebagian indigo berkelas akan cari sensasi dengan lemahnya pak Po saat ini. Kau tahu maksudku, kan?”

__ADS_1


“Ehm, aku mengerti. Tapi, dimana para preman tadi?” Fey mengamati sekitar dan tidak mendapati preman yang telah berani membuat babak belur putranya.


“Mereka sudah lari.” Refald terkekeh.


Pasalnya, para preman itu sedang dikejar-kejar oleh pasukan dedemit Refald untuk memberi mereka pelajaran. Ada yang jatuh terjerembab di lumpur hisap, ada juga yang terkena jebakan setan khusus untuk untuk babi hutan yang sengaja dipasang oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab dan lebih parahnya lagi adalah sebagaian besar dari para preman itu pingsan di tengah hutan belantara. Masih bisa keluar hidup-hidup dari hutan rimba itu saja sudah untung.


Sesuai dengan perkiraan Refald, para penduduk desa mulai berkumpul untuk membuktikan apakah yang dikatakan Fey tadi siang itu benar atau tidak. Ternyata yang datang jauh lebih banyak dari yang Fey perkirakan. Mereka berbondong-bondong menghampiri Fey yang sudah standby bersama suaminya di depan warung makan yang digosipkan menggunakan penglaris pocong.


Untung saja mereka tiba setelah Refald selesai membereskan semua iblis jahat yang mencoba menyerang putra dan menantunya. Jika semua orang ini melihat aksi mereka yang diluar nalar tadi, maka masalahnya akan jadi lebih runyam.


“Sekarang, beritahu kami, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya salah satu penduduk desa itu.


“Pejamkan mata kalian jika ingin tahu kebenarannya!” pinta Refald pada semuanya.


Meski mereka ragu dan juga bingung, mereka mencoba memejamkan mata mereka. Begitu mereka membuka mata, tiba-tiba mereka seperti berada disebuah dimensi lain yang membawa mereka seolah bisa menyaksikan masa lalu pemilik warung ini. Ternyata pemiliknya berbeda dengan pemilik warung bakso tempat Rey dan Rhea berkencan. Meski begitu mereka berdua masih ada ikatan saudara.


Hanya saja, pemilik warung makan ini lebih serakah dari saudaranya. Melihat saudaranya lebih sukses darinya, ia tidak terima dan akhirnya mengambil jalan pintas dengan melakukan ritual yang sangat dilarang agama bahkan adat istiadat masyarakat setempat. Seperti yang sering diperlihatkan di film-film horor lainnya, pemilik warung tersebut pergi ke seorang dukun yang ia percayai bisa membantunya mengatasi masalahnya, yaitu meminta penglaris.


“Pergilah ambil tali pocong yang baru dikuburkan dimalam jumat kliwon, lalu letakkan di laci tempat kau menyimpan uang. Maka pelanggan akan datang dengan sendirinya.” Itulah kata-kata yang diucapkan oleh dukun itu.


Karena sudah dibutakan oleh harta, pemilik warung itupun melakukan apa yang diberitahukan sang dukun. Setelah berhasil, ia meletakkan tali pocong tersebut di lacinya hingga detik ini yang akhirnya ia percayai warungnya semakin laris secara mistis. Itulah yang sebenarnya terjadi. Namun, yang menjadi perhatian semua orang adalah, tidak ada pocong manapun yang datang meludahi makanan seperti yang dirumorkan. Itu hanyalah gosip yang berasal dari asumsi masyarakat sendiri.


“Kalian sudah melihat kebenarannya, jika ingin mematahkan penglaris itu, sebaiknya kalian kembalikan saja tali pocong yang diambil pemilik warung pada pemiliknya,” ujar Refald. “Dan juga, jangan pernah sekali-kali percaya pada hal-hal mistis seperti ini karena yang rugi adalah diri kalian sendiri. Kesuksesan tidak bisa datang secarai instan, harus melalui proses dan kerja keras yang panjang. Apa yang dilakukan pemilik warung itu karena ia tidak percaya diri pada usahanya sendiri. Makanya ia berbuat seperti itu.


“Sekarang sang pemilik warung sudah mendapatkan karmanya. Ia sedang koma di rumah sakit. Saya harap pada kalian agar tidak perlu memperpanjang masalah ini dan berhenti menyebarkan gosip yang tidak-tidak.” Refald memberi ceramah panjang lebar dan tinggi pada penduduk desa yang hadir di tempat ini.


Mereka akhirnya mengerti dan melakukan apa yang tadi Refald katakan, yaitu mengembalikan tali pocong yang dijadikan pemilik warung sebagai jimat ke pada pemiliknya di pemakaman.


“Bagaimana cara kami mengetahui siapa pemilik tali ini, Tuan?” tanya salah satu penduduk desar setelah berhasil mendapatkan tali tersebut.


“Saat kalain datang ke pemakaman, carilah kuburan yang mengeluarkan asap, letakkan saja tali itu diatasnya maka dengan sendirinya tali tersebut akan kembali ke tempatnya supaya tak lagi mengeluarkan asap,” terang Refald dan langsung mengajak Fey lekas pergi dari sini.


Para penduduk desa mengerti dan berangkat ketempat tujuan untuk mengembalikan apa yang sudah diambil oleh salah satu warganya.


"Apa yang terjadi dengan pemilik warung itu?" tanya Fey masih penasaran.


"Kau sungguh ingin tahu?" Refald malah balik bertanya.


"Ehm." Fey mengangguk.


"Kita akan lihat apa yang terjadi disana." Refald menggendong tubuh Fey terbang tinggi diatas langit tepat dibawah bulan purnama yang bersinar terang.


BERSAMBUNG


***


Perhatian!


Cerita diatas hanyalah fiktif dan murni dari halu yang aku ciptakan. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang ada di dunia nyata. Jika ada kesamaan cerita, tokoh pada apa yang aku ceritakan diatas, itu hanya semata-mata imajinasi yang muncul di otakku kalau lagi sengklek. Hehe ... part ini tidak bermaksud menyinggung siapapun. Ini murni hanya pemanis cerita saja.


Tetap dukung semua karyaku ya ... habis tegang terbitlah senang, hehe. Episode berikutnya masuk momen manis Rey dan Rhea yang polosnya jauh melebihi ayahnya. Seperti apa kisah mereka? Jangan bosan menunggu.


Love you all dan terimaksih banyak bagi yang sudah memberikan like, komentar, vote, ghift serta koin dan poinnya. Kalian semua adalah semangatku untuk terus menulis dan semoga bisa menghasilkan karya yang menghibur supaya tidak penat dengan kesibukan di dunia nyata.


__ADS_1


__ADS_2