
Setelah selesai membasuh mukaku di sungai, aku bermaksud kembali ke tendaku untuk menaruh kembali barang-barang ku dan bersiap-siap untuk menyambut kedatangan para rekan dan juniorku. Dari kejauhan , aku melihat beberapa orang berlari ke arahku. Semakin lama, semakin dekat pula jarak kami sehingga aku tahu siapakah orang-orang ini. Mereka adalah Mia dan Murah. Entah ada angin apa, keduanya berlari tunggang langgang seperti dikejar-kejar sesuatu.
“Kalian berdua sudah datang?” tanyaku pada Mia dan Nura yang terlihat letih dengan napas tersengal-sengal. “Apa yang kalian lakukan? Kalian seperti habis dikejar-kejar hantu saja!”
Mia duduk sambil berusaha mengatur napasnya. Ia mencoba memberi tahu apa alasan mereka berlari sampai seperti itu.
“Nura ... dia ....” napas Mia masih belum stabil. Tapi ia tetap berusaha menjelaskan apa yang terjadi. “Nura bilang dia melihat sosok aneh di hutan ini tadi. Jadi, kami berlari sekencang mungkin."
Aku agak terkejut mendengar penjelasan dari Mia, tapi aku berusaha menenangkan mereka yang masih tampak ketakutan. “Itu cuma khayalan Nura saja. Selama aku di sini tidak terjadi apapun? Dan aku juga tidak pernah lihat hal-hal aneh seperti yang kau bicarakan.”
“Tapi makhluk tadi sangat menyeramkan sekali!” Nura masih saja berusaha menyakinkan aku supaya percaya padanya.
“Kau mungkin lelah. Dan kita berada di dalam hutan. Makanya kau berimajinasi melihat sosok yang bukan-bukan. Waktu itu kau bilang juga pernah melihat naga. Mana ada hewan seperti itu di sini? Kau terlalu sering melihat film fantasi sehingga kau berimajinasi seperti ini saat berada disuatu tempat yang menurutmu menyeramkan.”
“Fey benar, Nura. Mungkin tadi kau cuma mengkhayal.” akhirnya Mia membenarkanku.
“Tapi ....”Nura masih sangat yakin kalau apa yang ia lihat itu benar dan nyata.
”Sudahlah! Bersihkan dirimu sana! Dan titip tolong bawa ini ketendaku yang ada disebelah sana.” aku menunjukkan tenda berukuran sedang warna biru sambil menyerahkan peralatan mandiku pada Nura. “Istirahatlah di sana! Aku akan memeriksa yang lain apakah sudah datang apa belum.”
“Tenda siapa itu?” tanya Nura bingung.
“Itu tenda kita. Para senior yang membuatkannya untukku.”
Mia dan Nura berdiri dan berjalan gontai menuju tenda kami. Aku menatap mereka sambil tersenyum, “Ada-ada saja Nura itu. Dasar penakut!”Tapi aku masih saja kepikiran dengan apa yang diucapkan Nura barusan. “Semoga memang cuma khayalan Nura saja.” gumamku.
Aku berjalan agak jauh untuk melihat apakah Yua dkk dan semua para junior sudah sampai apa belum. Berharap semoga tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya, aku tidak perlu khawatir mereka tersesat, karena para junior itu juga berangkat bersama dan dikawal oleh teman-teman seangkatanku dan juga pembina kami. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.
Saat beberapa langkah aku keluar dari pintu masuk lokasi, tiba-tiba aku mendengar suara Nura dan Mia beteriak sangat kencang sekali. Kemudian tak berselang lama, mereka keluar dari dalam tenda sambil berlari dengan cepat dan berteriak sekencang mungkin mengagetkan semua orang yang ada di sini. Bahkan yang masih terlelappun juga ikutan keluar tenda sambil berlari juga karena panik mengira ada sesuatu yang buruk terjadi.
Aku sendiri langsung balik badan dan menyongsong mereka berdua yang berlari kearahku.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa berteriak?”tanyaku ikutan panik.
“Ada mayat!” teriak Nura dan Mia bersamaan.
Sontak kami semua yang ada di sini terkejut. Begitu juga denganku.
“Di mana?”
“Di sana! Di dalam tendamu!” Nura menunjuk tenda biru itu.
Aku masih belum bisa langsung percaya dengan apa yang dikatakan temanku. Sebab semalam, cuma aku yang ada di dalam tenda itu. Bahkan tadi pagi saat kutinggalkan, aku juga tidak melihat ada orang lain selain diriku sendiri. Kecuali Refald, itupun dia berdiri diluar tenda.
“Tidak ada siapa-siapa di tenda itu!” aku menenangkan kedua temanku yang terlihat panik dan ketakutan.
“Tapi kami berdua melihat mayat di sana!” Nura menyakinkan. “Kalau kau tidak percaya kau bisa periksa sendiri!”
Para alumni dan beberapa senior datang kearah kami dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Sebenarnya aku tidak yakin bagaimana caraku menjelaskan sebelum aku memastikan sendiri apakah yang dikatakan kedua temanku ini benar atau tidak. Karena sejak tadi, mereka sepertinya dihantui dengan hal-hal yang menurutku sangat tidak masuk akal. Mulai dari Nura yang melihat sosok aneh dan sekarang sesosok mayat. Sulit bagiku untuk bisa langsung memercayainya.
Perlahan kami semua mendekati tenda biru itu. Aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk masuk ke dalam tendaku.
“Fey! Hati-hati!”seru Yoshi dan aku mengangguk pelan.
Semua orang memerhatikanku dengan penuh ketegangan. Semuanya hening bahkan aku sampai bisa mendengar hembusan napas mereka. Dalam hati, aku merutuk Nura jika sampai apa yang dia katakan itu salah.
__ADS_1
Aku membuka tenda itu lebar-lebar dan semua orang semakin was-was. Begitu tendanya terbuka, semua bergidik ngeri bahkan sebagian para cewek langsung berteriak karena melihat seseorang berbaring membelakangi kami sambil menutupi tubuhnya dengan memakai selimut milikku.
Iya benar. Selimut yang tadinya terlipat rapi diatas tasku, sekarang dipakai orang itu untuk menutupi tubuhnya. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa itu terjadi? Dan siapa yang menutupkan selimutku pada orang itu? Aku bahkan belum sempat kembali ke tendaku.
Aku bingung dengan kejadian ini. Siapa orang itu dan kenapa selimutku bisa dipakai olehnya. Apa benar orang itu sudah meninggal seperti yang dikatakan Nura dan Mia. Karena sejauh yang kami lihat, orang itu juga tidak bergerak sama sekali ketika mendengar kami heboh sendiri melihatnya. Tapi aku tetap memberanikan diri dan membuang semua pikiran negatifku, begitu juga dengan yang lainnya.
“Apa kau yang memakaikan selimut itu padanya?” tanya Yoshi.
Aku menggeleng. “Bukan aku! Aku belum sempat kembali ke tenda setelah dari sungai tadi. Aku baru kesini setelah Nura dan Mia berteriak melihat orang ini. Aku tidak tahu siapa yang memakaikan selimutku padanya?” ucapku agak kesal juga pada orang yang memakaikan selimutku sembarangan pada orang lain tanpa izin.
“Kalau bukan kau, lalu siapa yang memakaikannya pada orang itu? Mungkinkah orang itu memakainya sendiri sebelum jadi seperti itu?”
“Bisa jadi begitu!” kami semua saling pandang.
Aku dan beberapa alumni sepakat memasuki tenda bersama-sama untuk memeriksa siapa orang ini dan bagaimana kondisinya. Alex maju duluan, lalu berikutnya aku dan disusul oleh Yoshi dan Joni dibelakang. Kami masuk pelan-pelan dan mendekati orang yang memang sekilas terlihat seperti mayat itu.
“Kau yang buka selimut itu!” ucap Yoshi padaku.
“Apa? Kenapa harus aku?”jujur, aku agak sedikit takut.
“Kau pemilik selimut ini!”
“Tapi kau juga laki-laki? Masak kau menyuruh wanita melakukan ini? Bilang saja kalau kau takut!”tuduhku.
“Aku bukannya takut ... hanya tidak terbiasa membuka selimut orang lain. Bagaimana kalau dia sedang telanjang?”
“Apa? Disaat seperti ini kau masih saja bisa berpikiran apakah dia telanjang atau tidak? Kau bahkan tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan!” Aku merasa candaan Yoshi kelewatan.
“Sudah sudah! Jangan berdebat! Aku saja yang buka!” Alex berusaha melerai kami.
Setelah selimut itu terbuka sepenuhnya, kami semua terkejut begitu tahu siapa orang itu. Ternyata, orang itu... dia adalah... REFALD!
Aku langsung lemas hingga terjatuh disamping tubuh Refald. Sedangkan yang lainnya spontan melangkahkan kakinya mundur kebelakang.
Aku mencoba membangunkannya dengan agak sedikit kasar. Beberapa senior yang ada bersamaku juga ikut membangunkannya, tapi Refald masih tidak mau bangun juga.
Aku mulai panik sendiri. Karena sebelum ini Refald masih baik-baik saja. Bagaimana bisa jadi begini? Apa yang terjadi?
Tanpa terasa, rasa cemasku membuat air mataku mengalir jatuh dan secara tidak sengaja membasahi wajah Refald. Ia mulai bergerak dan mengagetkan kami semua yang mengira dia sudah tiada.
Refald mulai membuka matanya perlahan-lahan dan agak terkejut juga karena tiba-tiba melihatku dan beberapa orang secara bersamaan berada didekatnya. Ia mulai duduk dan membuat histeris semua orang yang ada diluar tenda karena mengira ada mayat hidup lagi.
“Ada apa ini? Kenapa kalian semua heboh begitu? Apa ada pertunjukan?”
Aku langsung memukuli cowok itu. “Dasar bodoh!” Refald yang bingung dengan serangan dadakanku menghentikan tanganku dan menggenggamnya erat. Ia heran karena melihatku menangis. Aku ingin melepaskan tanganku dari genggamannya dan mengusap air mataku tapi Refald tidak mau melepaskan tanganku.
“Ada apa, Fey! Kenapa kau menangis?” tanyanya lembut. Para seniorku yang tadinya terkejut tiba-tiba jadi baper sendiri.
“Apa yang kau lakukan di sini, ha?” teriakku. Membuat semuanya terkejut. Termasuk juga Refald.
“Aku ingin tidur. Karena semalaman aku tidak tidur. Kebetulan tendamu kosong! Jadi aku tidur di sini. Kenapa kau berteriak seperti itu? Mengagetkanku saja!”
“Kau bisa tidur ditenda cowok! Kenapa kau tidur di sini?”
“Semua tenda cowok penuh. Aku tidak mungkin tidur di tenda para cewek. Yang aku lihat cuma tendamu yang kosong, makanya aku tidur di sini!”
__ADS_1
Aku menatapnya marah. “Kau ini ... kau bilang kau akan pergi hari ini. Sekarang cepat pergi darisini dan tidur saja dirumahmu sendiri sana! Kenapa kau malah bikin heboh semua orang yang ada di sini?”
“Memang apa yang kulakukan? Aku hanya tidur?”
“Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan?”
“Aku memang tidak tahu! Kau tiba-tiba membangunkanku seperti itu. Bagaimana bisa aku tahu?”
“Dasar bodoh!”
“Apa? Kau mengataiku apa?”
“Kau bodoh! Idiot! Dasar gila!”
“Apa? Bagaimana bisa kau mengatakan semua itu pada tunanganmu?”
Semua orang yang ada di sini takjub melihat pertengkaran kami. Bahkan ada yang sampai melongo menatap kami berdua.
“Sepertinya kita semua harus pergi dari sini!” ucap Alex pada yang lainnya. “Biarkan suami istri ini menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka.” Alex mengajak para seniorku dan yang lainnya pergi meninggalkan kami.
“Oei ... Refald! Dia menangis karena khawatir kau mati. Kau tidak tahu itu? Kau itu memang bodoh sekali,” ucap Yoshi sesaat sebelum ia ikutan pergi keluar meninggalkan kami berdua dan menutup tenda.
Refald menatapku. “Benarkah itu?”
Aku menahan air mataku supaya tidak keluar lagi. Tapi sepertinya aku tidak kuat lagi menahannya. Jadi, kuputuskan untuk pergi saja dari hadapan Refald.
Refald menahan lenganku saat aku mulai berdiri menjauhinya. Ia menarik tanganku dengan kuat sehingga aku jatuh kepelukannya. Ia memelukku dengan erat. Air mataku jatuh membasahi pundaknya.
“Maafkan aku! Aku tidak tahu kalau aku membuatmu secemas itu.”
Aku mulai merasa tenang dipelukannya. Perlahan aku melepaskan pelukan Refald setelah terlebih dulu mengusap air mataku.
“Tidak apa-apa. Aku hanya salah paham saja, karena Nura dan Mia bilang melihat ada mayat di sini. Dan setelah aku tahu siapa mayat yang mereka maksud aku ....”
Refald meletakkan jari telunjuknya dibibirku supaya aku diam. “Jangan bilang seperti itu lagi, oke! Aku tidak apa-apa dan tidak akan kenapa-napa. Kau tahu sendiri, kan? Aku sangat kuat. Aku juga sudah janji padamu tidak akan pergi meninggalkanmu apapun yang terjadi. Jadi, jangan berpikiran yang buruk lagi, oke.”
Aku mengangguk. Tapi, perasaan tadi sama persis seperti yang ada dalam mimpiku semalam ketika melihat Refald jatuh dari air terjun. Aku sangat takut mengingat kejadian itu. Untuk sekian lama Refald membuatku merasakan apa itu cinta. Dan aku tidak sanggup lagi jika harus kehilangan orang yang kucintai lagi seperti aku kehilangan ibuku saat itu.
“Kau tidak pergi? Bukankah kau mau membuka perban yang ada ditanganmu?” aku memegang tangan Refald yang masih dibalut dengan perban. Sepertinya lukanya sudah membaik, karena Refald tidak perlu menyangga lengannya lagi dengan kain seperti waktu itu.
“Aku mau tidur lagi. Aku masih ngantuk sekali. Bangunkan aku satu jam lagi, baru aku akan pergi.” Refald membaringkan tubuhnya lagi, tapi aku langsung menariknya kembali.
“Tidak bisa! Kau harus pergi sekarang. Tenda ini akan dipakai teman-temanku yang lain, karena sebentar lagi mereka semua akan datang. Kau tidak bisa tidur di sini.”
“Kenapa?”
“Apa kau mau cari mati? Para seniorku tidak akan tinggal diam kalau kau memaksa tidur bersama dengan mereka.”
“Siapa bilang aku mau tidur dengan mereka?”
“Apa maksudmu?”
“Para seniormu itu pasti akan dengan senang hati membiarkan aku tidur berdua saja denganmu. Pasti mereka akan membuatkan tenda khusus untuk kita.”
“Apa? Dasar mesum! Pergi sana!” aku memukuli tubuh Refald saking kesalnya. “Dasar menyebalkan!”
__ADS_1
****