
Sebenarnya, Refald tidak bisa meninggalkan Fey dalam keadaan seperti ini. Namun, istri tercintanya itu terus dan terus menyuruhnya pergi. Akhirnya, dengan sangat berat hati, mau tidak mau ... Refald menuruti pemintaan Fey.
Sebelum Refald pergi, ia sempat melihat Fey berusaha keras mendorong putranya agar bisa segera lahir dan itu merupakan usaha terakhir yang bisa Fey lakukan sebelum ia benar-benar kehabisan tenaga. Dan ternyata, berhasil.
Putra pertama Refald keluar tepat disaat ayahnya hendak keluar menuju pintu keluar ruang persalinan. Seketika langkah Refald terhenti dan ia bergegas lari untuk menyambut kehadiran putranya kedunia. Tangisan kencang dari sang jabang bayi membuat Refald dan Fey tertawa bahagia.
Fey sendiri akhirnya bisa bernapas lega karena telah berhasil melahirkan putranya dengan lancar tanpa mengalami kendala apapun. Ia juga tersenyum bahagia melihat suaminya menggendong putranya yang masih berlumuran darah. Kebahagiaan tak terkira, terpancar jelas diwajah suaminya yang menatap lembut putranya.
Dokter segera mengambil alih sang jabang bayi dari gendongan ayahnya. Bayi mungil yang menggemaskan itupun segera dirawat dan dibersihkan menggunakan air hangat serta dipakaikan pakaian serba hangat yang sudah disiapkan sejak tadi. Ketika dokter dan para suster sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Refald berjalan cepat ke arah Fey yang tergulai lemah.
Air mata Refald terus berlinang melihat istrinya yang tersenyum menatapnya. Refald menggenggam erat tangan Fey lalu mencium mesra keningnya.
“Terimakasih Honey, kau sangat luar biasa.” Refald menciumi tangan istrinya. “Aku sungguh sangat mencitaimu, kau melahirkan Reyshinhard Refey Dilagara, dan dia sangat tampan.” Dalam tangisnya, Refald mencoba tersenyum menatap Fey.
“Reyshinhard Refey Dilagara, itukah nama yang kau berikan untuk buah hati pertama kita?” tanya Fey lirih tapi juga tetap merasa sangat bahagia.
“Ehm, dia sangat tampan sepertiku, bahkan lebih tampan dariku. Maafkan aku Honey, aku harus segera pergi. Aku akan segera kembali begitu semuanya selesai.” Sekali lagi Refald mencium mesra bibir Fey yang bergetar lalu ia pun menghilang begitu saja tanpa sepengetahuan orang-orang yang sedang sibuk mengurus bayi Rey.
“Dimana tuan muda Refald, Nyonya?” tanya dokter yang baru saja kembali dari kamar mandi.
“Dia sedang ada urusan Dok, sebentar lagi Refald juga pasti akan langsung kembali kemari begitu semua urusannya selesai,” terang Fey.
“Bagaimana perasaan anda sekarang? Apa ada keluhan?” tanya dokter itu lagi sambil memeriksa kembali kondisi Fey.
Fey sendiri tidak langsung menjawab karena para leluhurnya dan leluhur suaminya termasuk juga kekeknya sang mantan raja dedemit tiba-riba saja hadir memenuhi ruangan untuk ikut menyambut salah satu keturunan mereka semua hadir ke dunia. Secara ajaib, kekuatan Fey yang tadinya sudah terkuras habis seusai melahirkan Rey, mendadak kembali pulih seperti semula berkat sentuhan lembut dari kakek Fey diatas kepalanya.
Begitu pula dengan para leluhur-leluhur Fey yang lainnya, mereka semua secara bergantian mengusap lembut ubun-ubun Fey satu pesatu untuk memberikan kekuatan dan juga tenaga baru agar keadaan Fey kembali pulih seperti sedia kala. Tentu saja hal itu hanya diketahui oleh Fey saja. Sementara semua orang yang ada di ruangan ini tidak menyadari kalau ada puluhan makhluk astral tak kasat mata memenuhi ruangan.
“Tidak, Dok. Saya ... baik-baik saja,” ujar Fey tersenyum. Ia bukan hanya memberitahu kondisinya pada dokter itu saja, tetapi juga memberitahu semua para leluhurnya.
Dokter tersebut memeriksa kondisi Fey lagi dan betapa terkejutnya ia bahwa luka Fey yang ada dibagian intimnya kembali pulih dengan cepat. Kalau wanita lainnya, butuh waktu beberapa hari sampai akhirnya bisa beraktivitas dengan normal. Berbeda dengan Fey, ia tak terlihat seperti wanita yang baru saja melahirkan.
Semua itu berkat kekuatan yang diberikan seluruh leluhurnya termasuk raja Inu Kartapati dan juga ratu Galuh Candra Kirana yang ikut datang memberikan kekuatannya sebagai dukungan karena Fey telah melahirkan keturunannya.
Sambil garuk-garuk kepala, sang dokter memilih pergi setelah memastikan keadaan Fey pulih begitu cepat. Ia berbicara pada asistennya tentang kondisi Fey dan bayinya sehingga mereka bisa meninggalkan Fey tanpa perlu kahwatir lagi. Sebenarnya, melihat Fey yang sehat-sehat saja, ia bisa langsung segera pulang saat ini juga, tapi apa kata yang lainnya jika dokter itu mengizinkan pasien yang baru saja melahirkan, pulang begitu cepat. Tidak masuk akal memang, tapi itulah yang terjadi pada Fey sekarang. Karena itu, dokter tersebut meminta Fey untuk tetap berada di rumah sakit beberapa hari lagi dan Feypun menyetujuinya demi kebaikan bersama.
Mata Fey berbinar-binar ketika melihat Rey yang sudah dalam keadaan rapi dibalut dengan pakaian tebal, diserahkan padanya agar segera disusui. Betapa bahagianya Fey akhirnya bisa melihat langsung wajah putra pertamanya yang baru lahir itu. Rey kecil benar-benar lucu, wajah Rey yang mungil membuat Fey kembali menumpahkan air matanya karena terlalu bahagia bisa menggendong buah cintanya dengan Refald.
“Ayahmu benar, kau sangat tampan,” gumam Fey sambil tersenyum.
Suster segera membantu Fey untuk menyusui Rey yang ternyata dengan sigap langsung menyedot ASI yang diberikan ibunya. Fey yang baru pertama kali ini menyusui pun agak tersentak, tapi ia mulai menikmati momen berharga ini.
“Selamat cucuku, cicitmu ini benar-benar luar biasa. Lihatlah caranya menyedot ASI darimu. Tenaganya sangat kuat,” ujar kakek Fey.
__ADS_1
“Kakek benar, dia sangat kuat ... dan juga tampan. Sama seperti Refald.” Fey terus tersenyum menatap Rey kecil.
“Rey? Apa itu nama putramu?” tanya ratu Candra Kirana.
“Iya, Ratu. Namanya, Reyshinhard Refey Dilagara. Refaldlah yang membari nama itu begitu putranya lahir.”
“Oh, lalu ... dimana Refald sekarang?” tanya ratu Candra lagi.
“Disini, Ratu!” belum sempat Fey menjawab tiba-tiba saja Refald sudah muncul disamping istrinya yang sedang menyusui.
“Kau sudah kembali?” tanya Fey balas tersenyum.
“Iya Honey, aku tidak bisa meninggalkanmu lama-lama.
“Bagaimana dengan Leo?” tanya Fey lagi.
“Dia baik-baik saja, Honey. Ada sedikit drama ikan terbang diluar, dia sedang menunggu kedatangan Shena.” Refald terlalu bahagia sampai lupa ada banyak para leluhurnya yang sedang memerhatikannya sejak tadi. Refaldpun tersadar dan ia langsung berdiri tegap dan memberikan penghormatan pada semuanya. “Maafkan atas kelancangan saya, sungguh saya terlalu bahagia hingga tak langsung memberi salam pada anda semua.” Refald menundukkan kepalanya.
“Tak perlu bersikap formal bila berada di duniamu, semua orang yang melihatmu bisa salah paham. Kau pasti disangka gila,” ujar raja Inu dan melirik ke arah suster yang berdiri dibelakangnya.
Suster tersebut gemetar ketakutan melihat apa yang baru saja dilakukan Refald. Dalam sekejap, Refald datang menghampiri suster itu dan menghapus ingatannya. Seketika suster tersebut langsung lupa atas apa yang terjadi barusan, ia pamit undur diri karena tugasnya sudah selesai disini.
“Beres, Raja ....” dalam satu gerakan cepat Refald pun kembali duduk di samping Fey sambil terus memerhatikan putranya yang sibuk menyedot ASI.
“Baiklah, kami tidak bisa lama-lama disini. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua, kami harus pamit undur diri,” ujar kakek Refald dan dalam satu kedipan mata mereka semua menghilang dari ruangan ini.
Untuk sesaat, Fey melihat sekelebat bayangan neneknya yang memakai pakaian serba putih dan terlihat sangat cantik. Ia langsung tahu makna dari apa yang dilihatnya. Tanpa sadar, Fey pun menangis sesenggukan dan Refald langsung menenangkannya karena ia sendiri sudah tahu kalau hal ini bakal terjadi. Hanya saja, Refald sengaja tidak memberitahu Fey sebelumnya.
“Kenapa kau tidak memberitahuku? Kapan kau mengetahuinya?” isak Fey dalam pelukan Refald.
“Kita masih punya waktu seminggu lagi, Honey. Aku mengetahuinya saat aku bertapa beberapa waktu lalu. Jangan menangis, harusnya kau sudah siap sekarang.”
“Kenapa nenek tidak menunggu Rey tumbuh besar dulu?” Fey masih menangis dalam pelukan Refald, tapi ia juga harus hati-hati karena sedang menyusui Rey.
“Beliau akan tetap bisa bermain bersama dengan cicitnya Honey, kau jangan khawatir oke. Tenanglah, lihat Rey yang sedang terlelap itu. Kau tidak boleh banyak pikiran. Semuanya akan baik-baik saja, tidak ada yang berubah. Percayalah padaku.” Refald dan Fey sama-sama melihat putranya. Perlahan, Fey menarik putiingnya supaya Rey kecil merasa lebih nyaman dalam gendongannya.
Tangis Fey mulai mereda, apa yang dikatakan Refald benar. Neneknya, tetap akan hidup dihatinya selamanya dan sudah pasti tetap bisa memantau perkembangan dan pertumbuhan cicitnya nanti.
Beberapa suster, masuk untuk memindahkan Fey ke kamar VVIP yang sudah disiapkan. Refald mengambil alih putranya dan menemani Fey. Refald selalu setia berada disamping istrinya.
“Ayah dan Ibu mungkin baru bisa datang besok. Sebab beliau sekarang masih mengejar penjahat yang memburu Leo. Sementara paman Byon dan bibi Biyanca sibuk mengurusi pernikahan Zaya dan Sanha,” terang Refald saat mereka berdua sudah berada di kamar VVIP yang lebih nyaman dan juga lebih luas dari sebelumnya. Ia meletakkan Rey di box bayi tepat di samping tempat tidur Fey.
“Apa sudah waktunya Zaya menikah?” tanya Fey. Sama halnya dengan Shena. Ia juga belum pernah betemu dengan Zaya, salah satu adik sepupu Refald selain Leo tentunya.
__ADS_1
“Ehm, sudah saatnya. Ingatan Zaya sudah kembali dan ... seperti biasa, paman Byon suka sekali mengerjai semua anggota keluarganya kalau menyangkut soal pernikahan.”
“Memangnya apa yang akan dilakukan, paman Byon?”
“Seperti yang ia lakukan pada putranya Leo saat si cecunguk gila itu menikah dengan Shena. Kali ini, paman Byon melakukan hal yang sama. Besok, begitu ayah dan ibu tiba disini, aku dan Leo harus pergi menjemput kedua mempelai. Kau akan berangkat bersama dengan ayah dan kita bertemu di pesta pernikahan Zaya dan Sanha.”Refald duduk di samping istrinya sambil menggenggam tangan Fey.
“Wauuw, apa ... nanti kau juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan paman Byon?’ tanya Fey. Ia penasaran mengingat keluarga suaminya ini sangat suka membuat drama ikan terbang setiap ada anggota keluarganya hendak menikah.
“Tidak Honey, sudah kubilang. Putra kita punya kisah cinta sendiri yang sangat unik melebihi kisah kita berdua. Bahkan aku bakal dibuat repot gara-gara ulahnya. Tapi ya sudahlah, itu sudah menjadi takdir, mau bagaimana lagi?”
“Walau aku tidak tahu takdir seperti apa yang kau bicarakan, aku tetap akan mendukngmu dan juga putra kita. Aku jadi tidak sabar seperti apa putri pak Po dan Di jika suda lahir nanti," ujar Fey sambil tersenyum sendiri.
“Kau tahu, Honey? Pak Po sejak tadi ak berhenti menangis dipangkuan Di begitu mendengar kau sudah melahirkan. Ia bahkan tak berani menemuimu.”
“Kenapa?” tanya Fey heran.
“Karena ia tak kuasa melihat seperti apa wajah calon menantunya.” Refald tertawa dan Feypun juga ikut tertawa.
“Dasar pak Po! Untung Di sangat sabar. Jika aku jadi Di sudah kutendang dia jauh-jauh dari sini"
“Sebentar lagi Shena dan Leo akan datang kemari, apa kau menginginkan sesuatu sebelum mereka datang kemari? Kau pasti butuh asupan gizi lebih banyak karena habis berjuang sekuat tenaga demi putra kita.” Refald mencium kening Fey.
“Ehm, aku ingin makan semua makanan yang aku suka. Aku harus makan banyak supaya ASI ku lancar. Kau mau membelikan semua makanan yang aku suka diluar, kan?”
“Nggak!” jawab Refald tegas dan Fey langsung ngambek. Refald bangun berdiri lalu mengambil ponsel dan mulai menelepon seseorang yang tidak lain adalah pengawalnya sendiri, “Halo, belikan semua makanan yang aku kirimkan padamu barusan. Jangan beli di tempat sembarangan, aku sudah mengirim semua alamat tempat yang harus kau datangi. Cepat sebar seluruh pasukanmu supaya makanan-makanan yang aku pesan bisa cepat sampai kemari. Lakukan sekarang juga!” tandas Refald, Fey sendiri langsung tertegun ternyata Refald malah menyuruh orang lain dan bukanya dia sendiri.
“Bukannya jika kau sendiri yang beli jauh lebih cepat? 10 menit pasti sudah sampai," protes Fey.
“Aku tidak mau meninggalkan istriku sendirian disini."
“Hanya 1 menit? Masa kau tida mau?”Fey tidak percaya Refald tidak mau meninggalkannya. Padahal akan lebih baik kalau suaminya sendiri yang membelikannya untuknya.
“Tidak mau, jangankan 10 menit. Sedetik saja aku tidak pernah meningalkanmu."
Fey menghela napas panjang. "Kau menyebalkan sekali."
BERSAMBUNG
***
episode selanjutnya aku percepat alurnya ya ... soalnya kisah pernikahan Zaya dan Sanha sudah ada di novel Be My Lover, jadi detailnya nggak aku ceritakan disini. bagaimana prosesnya Leo membawa Zaya dan sempat membuat Shena jadi salah paham, hingga Refald yang juga bertugas membawa Sanha, yang udah baca pasti tahu.
__ADS_1
papa muda Refald hehehe ...