Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 232 Sunset


__ADS_3

Refald turun dari lantai dua sambil berselancar digagang tangga. Anehnya, saat menginjakkan kakinya di lantai, para kecoak-kecoak itu tak berani mendekat ke arah Refald. Sebaliknya, mereka langsung menjauhi langkah kaki Refald dimanapun Refald berada. Pemandangan ajaib itu sukses membuat takjub mandor dan semua orang yang ada di ruangan ini. Bahkan, kebanyakan dari mereka, masih sibuk menepis dan menghindari kerumunan binatang-binatang berbau menyengat itu.


“Si ... siapa kau? Bagaimana bisa kau masuk kemari, ha?” bentak mandor itu.


“Kasih tahu nggak, ya? Ehm ... aku ... tidak akan memberitahumu meski kau memohon padaku.” Refald menyeringai sambil menatap tajam mata mandor itu.


“Kurang ajar! Apa yang kalian tunggu! Cepat habisi orang ini!” perintahnya pada para pengawalnya. Sejak tadi, mereka terus sibuk menepis kecoak yang sedang menggerayangi tubuh mereka.


“Tapi kecoak ini menggelikan, Bos! Hiiii ....” ujar salah satu anak buah mandor itu.


“Dasar bodoh! Kau itu, preman? Masa sama kecoak saja takut!”


“Bukan takut Bos, geliii ... hiiii ....” semua anak buah mandor itu sibuk berjingkat dan melompat sambil menepis semua kecoak-kecoak yang mencoba mendekati tubuh mereka.


“Jangan banyak alasan! Cepat bunuh orang itu atau akan aku habisi kalian semua dengan tanganku sendiri!” teriaknya tanpa peduli dengan banyaknya kecoak yang merambati tubuhnya.


Tidak ada pilihan lain selain menuruti apa yang diperintahkan majikannya. Seluruh preman itu langsung menyerang Refald secara bersamaan. Refald sendiri juga sudah siap berkelahi. Untuk sementara, ia akan menjadi manusia biasa tanpa menggunakan kekuatannya. Sebab, setelah ini akan ada kejadian besar yang bakal menguras banyak tenaga dalamnya, karena itu sebisa mungkin Refald harus berhemat dan tidak membuang-buang energinya.


Pukulan pertama berhasil ditangkis Refald dengan kepalan tangannya, lalu masih sambil memegang tangan tersebut, Refald menendang ulu hati preman itu hingga terhuyung ke belakang. Sementara teman-temannya yang lain maju menyerang bersamaan dan lagi-lagi, serangan itupun berhasil ditangkis oleh Refald dimasing-masing kedua tangannya.


Refald memiting tangan kedua preman yang berhasil ditangkisnya hingga kedua tubuh preman tersebut membelakangi tubuh Refald. Mereka berdua mengerang kesakitan akibat tangannya dipelintir kuat oleh suami Fey itu. Dengan cara sama seperti sebelumnya, Refald menendang kuat kedua punggung preman itu hingga mereka terdorong maju ke depan dan membentur dinding. Salah satu dari mereka langsung pingsan seketika. Sedangkan satunya lagi mengerang kesakitan karena keningnya berdarah.


Refald masih berdiri tegak tak bergerak menunggu serangan-serangan berikutnya. “Ayo! Majulah, kita selesaikan secepatnya!” ujar Refald masih dengan tatapan tajam setajam silet.


Beberapa Preman mulai mengeluarkan senjata tajam mereka dan menyerang Refald bersama-sama. Kejadian pengeroyokan yang dilakukan terhadapnya saat ini, mengingatkan Refald pada sebuah film action komedi yang pernah Refald lihat bersama Fey ketika keduanya bersantai di rumah. Ia pun mempraktekkan salah satu jurus di film tersebut dengan cara menginjak kuat semua kaki-kaki preman yang mencoba mendekatinya dengan sangat cepat sehingga seluruh preman itu menjatuhkan senjatanya dan melompat-lompat karena menahan sakit akibat injakan kaki Refald. Bahkan mereka semua mengalami retak kaki. Suara teriakan mereka langsung memekikkan telinga setiap orang yang mendengarnya.


“Wuah, jurus injak kaki ini ternyata ampuh juga. Daebak!” gumam Refald senang tak menyangka. Ia jadi semakin bersemangat membikin pindang para nyingnying yang ada dihadapannya ini.


Melihat semua anak buahnya tumbang dengan mudah, mandor itu mulai terlihat panik. Apalagi kecoak-kecoak yang ada disekitarnya masih saja mengganggunya, tetapi tidak mengganggu Refald. Itu sungguh aneh sekali. Kemanapun Refald melangkah, kecoak itu selalu menjauhi kaki Refald.


“Kenapa binatang menjijikkan itu menjauhimu? Mereka seolah tidak berani padamu. Siapa kau sebenarnya, ha? Apa yang kau inginkan? Kenapa kau mengganggu ketenanganku?” bentak mandor itu mulai sedikit takut juga pada Refald.


“Kau dulu yang sudah mengganggu ketenanganku! Kalau saja kau tidak menggangguku, maka akupun juga tidak mengganggumu. Ah ... kecoak itu bukannya takut padaku, tapi mereka tahu mana yang sehabitat dengan mereka. Karena itulah mereka mengincar kalian semua.” Refald tersenyum mengejek. Perlahan, ia melangkah maju mendekat ke arah mandor itu berdiri.


“Dasar brengsekk, beraninya kau menyamakan kami dengan para kecoak itu, ha! Lagipula aku tidak mengenalmu! Untuk apa aku mengganggumu!” bentaknya lagi.


“Bos! Orang itu ... orang itulah yang sudah menghajar kami semua saat berada di pasar beberapa hari yang lalu!” teriak salah satu preman karena sudah mengingat wajah Refald. “Dia bukan manusia biasa Bos, dia punya kekuatan aneh!” preman itupun memperingatkan bosnya.

__ADS_1


“Oooh, jadi kaulah orang yang sudah mengacaukan semua rencanaku! Katakan dimana istriku dan juga gegundiknya? Serahkan mereka berdua padaku, maka aku akan mengampunimu!” mandor itu mulai menunjukkan kesombongannya tanpa tahu siapakah orang yang sedang dihadapinya saat ini.


Pangeran dedemit Refald, tak akan mudah diancam oleh seekor nyingnying seperti mandor ini.


“Huh, Mengampuniku? Kau sadar dengan apa yang sudah kau katakan? Kau benar-benar menyebalkan.” Refald menyeringai kesal. “Dasar tak sadar diri! Untungnya, aku sedang baik hati sekarang, jadi kau tidak akan aku bunuh. Ah ... maksudku ... belum aku bunuh.” Refald melempar sebuah berkas kehadapan mandor yang berdiri tidak jauh darinya. “Tanda tangani saja surat perceraian itu, dan hiduplah dengan baik, mungkin aku akan berubah pikiran untuk tidak membunuhmu jika kau mendengarkan kata-kataku,” ancam Refald.


Mandor itu membuka map yang dilemparkan Refald padanya. Setelah membaca berkas itu, mandor tersebut malah tertawa terbahak-bahak. “Jadi hanya untuk ini kau membuat kekacauan ditempatkau, ha? Dibayar berapa kau oleh wanita itu?” ia kembali tertawa.


“Jangan banyak bicara! Cepat tanda tangani saja! Atau aku akan memaksamu melakukannya.” Refald menjetikkan jarinya dan tiba-tiba, muncullah berbagai macam jenis ular berbisa masuk ke ruangan dari segala arah.


Tidak ada yang tahu bagaimana dan darimana ular-ular itu masuk kemari. Yang jelas, seluruh binatang melata itu bergerak maju mendatangi mandor yang berdiri tegak dihadapan Refald. Mereka baru berhenti bergerak tepat di bawah kaki mandor tersebut sambil menunggu perintah selanjutnya dari Refald.


“Cepat tandatangani berkas itu atau ular-ular ini akan mematukmu! Ah ... satu lagi. Setelah kau mati, aku akan menyuruh anak buahku merasuki tubuhmu supaya menandatangani berkas itu. Tidak ada pilihan lain lagi untukmu, kau sendiri yang menentukan, ingin hidup ... atau mati!” tandas Refald. Ia sangat serius dengan ucapannya.


Tak dapat dipungkiri mandor itu mulai gemetar ketakuan. Ia tidak pernah menyangka bakal berurusan dengan orang seperti Refald yang jelas-jelas bukanlah tandingannya. Namun, saat ini sang mandor memang sudah tidak punya pilihan lain. Hidup atau mati, bagi Refald sama saja. Manusia langka itu tetap bisa mendapatkan apa yang ia inginkan walaupun mandor itu tidak tahu apa alasan Refald bisa bertindak sampai sejauh ini demi menolong membebaskan wanita yang sebentar lagi bakal jadi mantan istrinya.


“Baiklah, aku akan menandatangani surat perceraian ini, tapi ingatlah satu hal ... kau akan menyesal karena sudah berani membangunkan ... iblis!” mandor itu menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangani pada Refald. Dengan begitu, Riska dan Mandor ini, sudah resmi bercerai baik secara agama dan juga hukum negara.


“Oh, iya?” Refald menundukkan wajahnya pada mandor yang tinggi badannya jauh lebih rendah dari Refald. “Justru aku sangat ingin bertemu dengan para iblis yang merasuki tubuhmu ini. Kenapa kau tidak memanggilnya sekarang? Apa dia takut padaku? Huh, Katakan padanya jika aku sudah keluar dari rumah ini. Aku sangat menantikan kedatangannya.” Refald tersenyum sinis dan setelah menjetikkan jarinya, semua ular dan kecoak yang tadinya memenuhi ruangan ini langsung hilang seketika.


Yang lebih menakjubkan lagi, Refald berjalan sangat cepat menaiki tangga menuju arah Fey. Sejak tadi, Fey sengaja diam dan hanya mengawasi suaminya saat bersenang-senang dari atas. Begitu Refald mendekat, Fey langsung memberikan hadiah ciuman manis untuk mengisi energi suaminya kembali. Keduanya saling menatap mesra sambil saling berpelukan. Mandor yang melihat adegan sok romantis itu dari bawah, hanya melongo saja. Refald dan istrinya juga langsung menghilang bak hantu gentayangan tanpa ada yang tahu kemana perginya dua orang itu.


***


Refald dan Fey sudah ada diluar rumah mandor yang megah itu. Refald menyerahkan berkas yang diperlukan oleh Aditya dan juga Riska agar mereka bisa mewujudkan impian keduanya untuk segera menikah.


“Terimaksih Tuan,” ujar Riska dan Aditya bersamaan. Wajah mereka berdua langsung berseri senang karena kini keduanya bisa segera meresmikan hubungan yang sudah lama mereka nantikan.


“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” tanya Fey yang sejak tadi berdiri disisi suaminya.


“Kami akan pergi keluar negeri, tempatku bekerja dulu. Aku akan menikahi Riska disana dan kami bisa hidup bahagia selamanya.” Aditya menggenggam erat tangan Riska sambil terus tersenyum senang.


“Kapan kalian berangkat?” tanya Fey lagi. Ia juga ikut lega karena keduanya akhirnya bisa menikah. Namun, tidak demikian dengan Refald. Sejak tadi Refald hanya menatap tajam Aditya dalam diam dan tanpa suara, tapi tetap bersikap seperti biasanya.


“Secepatnya, setelah semua urusan disini beres, mungkin lusa kami akan langsung pergi keluar negeri.”


“Terima kasih, Tuan dan Nyonya Refald. Semua ini berkat kalian. Kami berdua, tidak akan pernah melupakan jasa kalian pada kami.” Tanpa permisi, Riska memeluk Fey dan terus tersenyum. Wajahnya sudah tak terlihat murung lagi karena kini ia benar-benar terbebas dari jeratan cinta Nouval, orang yang kini sudah sah menjadi mantan suaminya.

__ADS_1


Bertahun-tahun hidup dengan orang itu, Riska sama sekali tidak bahagia. Namun, kini ia merasa seolah terlahir kembali dengan adanya Aditya disisinya.


***


Refald mengajak Fey kesebuah hutan dan lagi-lagi bertengger di salah satu dahan pada pohon tertinggi dan yang paling besar di hutan lebat ini. Sejak tadi, Refald hanya duduk diam sambil memandangi alam sekitarnya tanpa bicara apa-apa. Sedangkan Fey sendiri duduk bersandar dibatang pohon tanpa berani melihat ke bawah. Sebab, jantungnya seakan mau copot jika ia tahu seberapa tinggi ia berada saat ini. Fey juga tidak berani membuka pembicaraan terlebih dulu karena sepertinya, suasana hati Refald sedang kacau. Berkali-kali suaminya itu menghela napas berat. Entah apa yang terjadi sehingga Refald bersikap aneh seperti itu sejak keduanya berpisah dengan Aditya dan Riska tadi.


Beberapa menit berlalu, Refald dan Fey duduk saling berdampingan tanpa bicara satu sama lain. Sebenarnya, Fey punya pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada suaminya, tapi melihat Refald seperti itu, ia jadi mengurungkan niatnya dan tetap menunggu Rafaldlah yang memulai pembicaraan.


“Katakan, ada apa Honey?” akhirnya, Refald mau bicara juga.


Meski pandangannya masih tetap lurus ke depan, Refald masih bisa memerhatikan apa yang ada dalam benak istrinya. Beberapa ranting pohon yang ada disekelilingnya Refald patahkan dan ia lemparkan lagi kesembarang arah.


“Kenapa tadi kau terus saja memancing emosi mandor itu? Apa tidak apa-apa seperti itu? Kenapa iblis yang ada dalam tubuh orang itu tidak keluar dan balik menyerangmu? Benarkah dia takut padamu?” tanya Fey sambil terus menatap suaminya.


“Makhluk itu hanya akan bisa keluar saat matahari sudah mulai terbenam, Honey.” Refald memeriksa arlojinya lalu memandang lurus ke depan. “Kita masih punya waktu kurang lebih 30 menit dari sekarang untuk menyambut kedatangan iblis itu. Karena itulah aku ada disini. Begitu matahari tenggelam, iblis itu pasti mencariku. Tetaplah berada disini saat aku bertarung dengannya.”


Sedikit banyak, Fey mulai memahami perkataan suaminya dan alasan kenapa Refald membawanya kemari. Sepertinya, suaminya itu tidak ingin melibatkan penduduk desa saat ia menghadapi iblis yang bersemayam ditubuh mantan suami Riska. Karena itu, Refald sengaja menjadikan dirinya umpan agar iblis itu tak datang menyerang desa, ia mencoba menggiring iblis tersebut agar datang ketengah hutan dimana tak kan ada seoarangpun yang bakal berani menginjakkan kakinya kemari.


“Apa yang akan kau lakukan pada makhluk itu?” tanya Fey sedikit was-was kalau sudah menyangkut makhluk astral.


“Apalagi? Tentu saja memusnahkannya.”


“Tapi, rekan-rekannya pasti tidak akan terima ... dan mereka akan menyerangmu juga. Artinya ... kita berdua sedang dalam bahaya.”


“Kau sanagt pintar membaca situasi, Honey. Memang benar ... kita berdua sedang dalam bahaya, tapi kau jangan khawatir karena aku akan melindungimu. Lagipula, aku sudah tidak mau jadi pengecut yang hanya bisa melarikan diri dari para iblis-iblis itu. Sudah saatnya aku menghadapi mereka semua dan memusnahkannya agar tidak mengganggu kehidupan kita lagi.”


Fey terdiam, ia merasakan firasat tidak enak mengenai bahaya yang dibicarakan Refald saat ini. Apalagi, ini juga berhubungan dengan takdir pak Po yang diceritakan Refald padanya beberapa waktu lalu. Kini, Fey paham kenapa Refald sejak tadi terlihat kacau. Rasanya, Fey ingin sekali menghentikan semua ini, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Ia berusaha memikirkan cara tetapi tetap saja tidak bisa menemukan petujuk apapun.


Apakah memang harus berakhir tragis? Pak Po ... batin Fey dalam hati sambil menatap matahari yang mulai terbenam didepannya. Padahal langitnya sangat indah, tetapi kenapa terlihat begitu menyeramkan bila mengingat kejadian yang sebentar lagi bakal terjadi.


“Semoga ada jalan keluar untuk petaka ini,” ujar Fey lirih.


Entah Refald mendengar atau tidak, yang jelas ia hanya menatap lurus indahnya suasana matahari yang sudah mulai terbenam dalam diam.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1



__ADS_2