Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 57 Fakta


__ADS_3

Refald duduk disebelahku dan memelukku. Ia menempelkan dagunya dipundakku. “Kau tahu Honey ... aku sangat terkejut saat kau mengatakan ingin membatalkan pertunangan kita.” Refald mulai memberikan penjelasan saat kami berada di rumah nenek sebelum datang kemari. “Aku sangat marah dan emosi, hampir saja aku akan berteriak untuk menolak keputusanmu waktu itu, tapi ternyata ... aku lebih terkejut lagi saat tahu kalau kau telah mencintai orang lain. Dan lucunya, ternyata orang yang kau cintai itu adalah aku sendiri. Aku bahagia, seketika marahku menghilang dan terganti dengan senyum mengembang akibat dari kekonyolanmu itu. Apalagi kau salah menduga siapa tunanganmu. Ingin sekali aku berlari memelukmu, tapi ... aku tidak mungkin bisa melakukannya. Tidak sebelum kau tahu siapa aku sebenarnya.”


Aku trenyuh mendengar penjelasan dari Refald. Pantas saja waktu itu Refald hanya diam dan membalikkan badan. Aku kira dia melakukannya karena ingin menghindariku, tapi ternyata malah sebaliknya, ia pasti sedang menertawaiku karena aku salah paham pada Eric.


Aku beralih menatap Refald yang masih bersandar di bahuku. Perlahan aku melepaskan pelukannya dan kami langsung bertatapan. Entah mengapa suasana hatiku menjadi lebih baik sekarang, meski rasa malu itu masih ada sedikit.


“Sejak kapan kau tahu kalau tunanganmu adalah aku?” tanyaku lembut.


Refald menggenggam tanganku dengan lembut lalu menciumnya. “Sejak kau menceritakan siapa kau sebenarnya, kau ingat? Saat kau pingsan dan aku membawamu ke UKS.”


Aku mengingat kejadian di UKS waktu itu. Benar juga, waktu itu aku menceritakan pada Refald mengenai semua jati diriku yang sebenarnya. Saat itu dia terlihat sangat terkejut. Sekarang aku baru paham kenapa waktu itu Refald tiba-tiba saja bersikap aneh. Bahkan sangat aneh seakan ada sesuatu yang ia sembunyikan. Ternyata ini alasannya. Dia mungkin terkejut kalau aku ternyata adalah tunangannya.


“Aku sangat senang akhirnya setelah sekian lama aku bisa menemukanmu,” lanjut Refald. “Tapi sekaligus sedih karena ternyata kau sama sekali tidak mengenaliku. Perasaanku campur aduk saat itu, tapi aku berusaha memahami situasinya. Aku paham karena kita sudah terpisah sekian lama, karena itulah aku berusaha mendekatimu dan mencoba membuatmu jatuh cinta padaku. Sebab kau bilang, kalau kau sama sekali tidak menyukaiku.”


“Itu karena kau sangat menyebalkan? Kau membentakku disaat pertama kali ... ah bukan, kau bilang itu adalah pertemuan kita yang kedua kalinya. Aku harap kau tidak lupa.”


“Tentu aku ingat. Itu karena aku sendiri juga belum tahu kalau kau adalah alasanku ada di sini. Bahkan di pertemuan pertama kita yang mengesankan itu juga aku masih belum tahu kalau kau adalah tunanganku. Meski begitu, aku sangat tertarik ingin bertemu denganmu lagi. Tidak kusangka aku bisa bertemu kembali denganmu dengan cara dan situasi yang berbeda. Seolah-olah pertemuan kita itu sudah terjadwal dengan sempurna.”


Kami berdua saling menatap satu sama lain mengenang masa-masa kami dulu. Tanpa sadar kami pun saling tersenyum dan jadi salah tingkah sendiri.


Aku merasa lucu dengan jalan takdir kami masing-masing. Bagaimana tidak? Secara kebetulan kami dijodohkan oleh keluarga kami tanpa bisa ditolak ataupun dibantah karena kami sama-sama menyayangi mereka semua. Harusnya kami bisa bahagia menjalani perjodohan ini layaknya orang biasa lainnya, kerena kedua belah pihak sudah setuju satu sama lain.


Namun, kenyataannya tidak seperti itu, kami harus mengalami berbagai banyak hal, salah satunya adalah perpisahan. Dan setelah sekian lama terpisah, takdir mempertemukan kami kembali dengan cara yang berbeda pula dan membuat kami yang dulunya saling tidak suka kini berubah jadi saling cinta.


Aku sendiri juga masih belum bisa percaya kalau saat ini aku sangat mencintai Refald, padahal dulu aku sempat tidak menyukainya sama sekali. Bahkan saat kami dipertemukan kembali, kesan pertamaku padanya sangatlah buruk.


Aku kira dia adalah playboy bodoh yang suka semena-semena pada wanita. Tapi ternyata aku salah, malah sebaliknya, Refald selalu bersikap acuh pada semua wanita yang berusaha mendekatinya. Kini, aku tahu mengapa ia seperti itu. Alasannya sudah jelas, bahwa Refald hanya hidup demi aku dan hanya akulah satu-satunya wanita yang ia cintai.


Perlahan Refald menggenggam erat tanganku dan mendekatkan wajahnya pada wajahku selah-olah kami akan berciuman lagi. Tapi adegannya terhenti tepat saat hidung kami saling bersentuhan dan Refald kembali mundur dan tertunduk.


Kenapa si bodoh ini berhenti? Apa mungkin Refald takut kalau aku marah dan bertindak gegabah seperti tadi?


Aku sempat tidak mengerti kenapa Refald seperti itu, tapi aku mulai gemas dan langsung mencondongkan wajahku lalu mencium bibir Refald yang seksi dengan cepat. Tentu saja Refald terbelalak dengan ciuman dadakanku. Ini adalah kali pertama aku mencium seseorang. dan orang itu adalah Refald, cinta pertamaku sekaligus tunanganku, calon suamiku.


Refald menatapku tak percaya. Ia masih terpana. Tapi rona bahagia juga terlihat di wajahnya.


“Sampai kapan kita akan di sini?” tanyaku mengalihkan suasana karena aku sendiri juga merasa malu atas tindakan yang kulakukan barusan. “Kau bilang kita harus segera turun. Hari sudah semakin sore, kita harus bisa ke luar dari sini sebelum malam datang,” ujarku seraya mengalihkan suasana yang agak aneh ini.


Refald tersenyum. “Bagaimana kakimu? Kau bisa berjalan?” sepertinya Refald menyadari maksudku.

__ADS_1


“Aku rasa bisa, tapi agak pincang, karena sakitnya masih terasa meski tidak separah tadi.”


Refald berdiri ke bibir tebing dan memeriksa keadaan di sekelilingnya. Setelah itu ia berbalik menghadapku dan memerhatikanku.


Aku sangat senang karena ada Refald bersamaku. Setidaknya, aku tidak sendirian menghadapi hal buruk seperti ini. Kami berdua jatuh ke jurang dan kami masih beruntung bisa selamat dalam keadaan hidup dan tidak mengalami luka yang parah.


Ini tidak masuk akal sebenarnya, karena secara logika, siapapun yang jatuh ke jurang sudah pasti orang itu tidak akan bisa selamat. Namun, kenyataannya, aku dan Refald masih baik-baik saja. Bahkan kami masih bisa memikirkan dan mencari jalan ke luar supaya bisa pergi dari tempat menakjubkan ini secepatnya.


Refald memakai sarung tangannya lagi dan bersiap-siap untuk turun. “Naiklah ke punggungku. Kita akan turun sekarang. Ini penurunan kita yang terkahir, karena di bawah sana sudah terlihat dasar jurangnya. Hanya saja, entah tali ini sampai atau tidak di dasar jurang, kita baru akan tahu kalau sudah turun,” terang Refald sambil membenarkan sarung tangan dan talinya.


Bagaimana kalau ternyata talinya tidak sampai, apa kita akan baik-baik saja?” tanyaku agak sedikit cemas.


“Tenang saja, Honey ....” Refald masih saja bersikap santai. “Ini adalah hutan, apapun bisa kita manfaatkan untuk bisa bertahan hidup. Kau tidak lupa dengan materi survivel, kan?”


“Aku tahu, maksudku ... bagaimana kita bisa turun lagi, kalau talinya tidak sampai ke dasar jurang?”


“Kita akan buat tali itu sampai ke dasar jurang, oke! Sekarang cepatlah naik dan jangan banyak berkomentar kecuali kalau kau mau menginap dan bermalam di tepat ini.”


“Tentu saja aku tidak mau! Aku ingin cepat pulang dari sini.” Aku langsung bergidik ngeri membayangkan kami harus bermalam lagi di hutan. Apalagi di tempat seperti ini.


“Ayo!”


Aku naik ke punggung Refald dan dia langsung menuruni tebing sambil berpegangan pada tali karmenter yang menggantung diakar pohon yang tumbuh kuat di tebing dengan cepat. Awalnya aku agak takut karena ini pertama kalinya aku melakukan prusiking dengan cara digendong tanpa menggunakan pengaman apapun. Aku semakin memeluk Refald dengan sangat erat karena ketakutan.


“Sepetinya kau memang pantas dijuluki sebagai pendaki kelas kakap,” gumamku lirih.


“Mungkin ini terdengar gila, Honey ... tapi aku memang sudah biasa melakukan ini. Bila kebanyakan orang naik gunung melewati jalan setapak, tapi tidak untukku. Aku selalu naik turun gunung melalui jurang dan tebing-tebing yang menjulang,” jelas Refald mulai narsis.


“Apa kau tidak takut jatuh?” tanyaku tercengang mendengar kata-kata Refald barusan.


“Sudah kubilang aku tidak takut apapun, buktinya aku bisa sampai di sini. Dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah ahli. Jangan pernah kau melakukannya atau memberitahukannya pada orang lain. Aku ... berbeda dengan yang lainnya.”


Kata-kata Refald agak rancu, tapi aku mencoba memahaminya.“Apa yang ada dipikiranmu saat itu?” aku masih tidak bisa percaya Refald ternyata orang yang sangat berani bertaruh nyawa.


Refald tidak menjawab pertanyaanku. “Ada buah murbei, kau mau?” Refald berhenti menuruni tebing saat kami berada di sebuah gerombolan buah murbei yang tumbuh lebat di dinding tebing.


Lagi-lagi ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku agak sedikit cemberut sebenarnya, tapi begitu melihat buah murbei yang ada di depan kami, kesalku mendadak hilang.


Murbei adalah salah satu buah kesukaanku. Buah itu bewarna hitam dan merah berukuran kecil seperti kelereng. Buah murbei memang tumbuh lebat di kawasan pegunungan atau dataran tinggi.

__ADS_1


Berdasarkan klasifikasinya, pohon murbei adalah kelompok tanaman semak atau perdu dengan ketinggian maksimal antara 20 sampai 25 meter. Meskipun begitu, di habitat alami tinggi tanaman ini hanya sekitar 5 sampai 6 meter saja. Buah ini juga di kenal dengan sebutan buah besaran yang memiliki segudang manfaat dimulai dari batang, daun dan buahnya, salah satunya termasuk di bidang kesehatan.


Aku senang karena bisa menemukan buah ini di sini, terlebih lagi aku juga sudah mulai lapar. Perutku sudah keroncongan daritadi. Kebetulan aku juga suka buah yang termasuk salah satu dari buah bery-beryan terutama yang sudah berwarna hitam. Buah murbei yang berwarna hitam jauh lebih manis daripada buah yang berwarna merah.


“Aku suka murbei, aku sangat beruntung bisa menemukan buah ini di sini dan mereka tumbuh sangat lebat di tempat ini.” Aku terkesima melihat banyaknya buah murbei yang menyebar di dinding tebing yang menjulang didepanku.


“Aku juga suka buah ini.” Refald mulai memetik buah murbeinya dan memberikan buah itu padaku.


“Aku suka yang warna hitam, aku tidak suka yang merah karena rasanya masam sekali.”


“Kita sama lagi, aku juga tidak suka yang merah.” Refald tersenyum melihat hamparan buah murbei yang memenuhi dinding tebing di depan kami.


Sambil bergelantungan kami beristirahat sejenak sambil memakan buah murbei. Dengan telaten, Refald mengambilkan buah murbei padaku dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain berpegangan erat pada tali yang menggantungkan tubuh kami berdua.


Aku sangat takjub melihat kekuatan fisik Refald yang sangat luar biasa. Ia bahkan lebih kuat dari tarsan. Sepertinya Refald sangat menyukai momen ini. Ia menikmati dan memakan buah murbei dengan lahap. Sesekali kami berdua bercanda sambil menikmati suasana aneh dan langka ini.


Setelah kenyang dan selesai mengisi tenaga, kami pun bergegas turun kembali. Ternyata benar dugaan Refald, tali karmenternya tidak sampai ke dasar jurang. Terpaksa kami segera mencari tanjakan untuk berhenti sebelum kami sampai diujung tali.


“Kita istirahat di sini sebentar jika kau mau.” ucap Refald sambil menatapku, setelah itu ia menurunkanku dari gendongannya begitu kami menginjakkan kaki di sebuah tanjakan yang sedikit datar.


“Aku tidak apa-apa. Justru kaulah yang harusnya banyak istirahat. Kau pasti sangat lelah setelah menggendongku sampai sejauh ini. Apalagi tanganmu yang terluka belum sembuh benar, kan?”


“Kau tidak berat sama sekali, Honey, dan lukaku sudah tidak apa-apa. Currierku yang biasa kupakai hiking jauh lebih berat darimu.” Refald menuntunku untuk duduk di sebuah batu.


Aku memerhatikan sekeliling tempat ini. Kami berdua memang benar-benar beruntung, disetiap tanjakan tempat kami berhenti selalu saja ada tempat yang datar seperti jalan setapak sehingga bisa kami pakai untuk beristirahat di bawah tebing menjulang tinggi.


Tebing ini ditutupi semak belukar yang lebat dan sangat lembab. Udara dingin mulai sangat terasa karena kami sudah berada dikedalaman jurang yang entah berapa meter tingginya. Di tambah derasnya air terjun terus mengalir tanpa henti.


“Tunggulah di sini sebentar, aku akan mencari akar-akaran belukar yang bisa kita sambungkan dengan tali karmenter supaya bisa turun dari sini. Sepertinya kita hanya butuh 10 meter lagi supaya bisa sampai di dasar tebing.”


“Kau mau cari ke mana? Jangan tinggalkan aku sendirian, kalau pergi aku juga ikut, aku tidak mau di sini sendirian.”


“Aku tidak pergi, lihat itu?” Refald menunjuk sesuatu yang ada di sebelah kirinya. Aku pun mengikuti arah petunjuk Refald dan menemukan semak belukar lebih lebat dari tempat kami berada.


Aku akan menarik akar-akar itu dan memanfaatkannya sebagai tali agar kita bisa turun. Jadi tunggulah di sini, oke! Aku tidak akan meninggalkanmu.”


Aku mengangguk. Aku kira Refald akan meninggalkanku di sini sendirian. Entah mengapa saat ini aku tidak ingin terpisah dari Refald setelah apa yang ia korbankan untukku.


Aku mengamati seluruh gerak geriknya. Dengan cekatan Refald menarik akar-akar pohon yang berserakan sehingga membentuk sebuah tali panjang. Aku lupa nama pohon itu, yang jelas pohon besar tersebut tumbuh dari balik dinding tebing dan ukurannya lumayan besar dan kokoh. Mungkin akan kuat jika kami gunakan untuk menuruni tebing ini bersama.

__ADS_1


Yes! Akhirnya, sebentar lagi kami bisa pulang, begitu sampai di bawah, kami hanya akan tinggal menyusuri sungai yang akan membawa kami ke tempat kami datang sebelumya. batinku.


****


__ADS_2