Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 113 Kembali


__ADS_3

Kakek membawa kami berdua menuju sebuah ruangan khusus yang tidak ku tahu ada di mana persisnya. Kami terus berjalan ke bawah seperti ruang bawah tanah, tapi tidak terlihat seperti ruangan bawah tanah pada umumnya. Justru semakin ke bawah, tempatnya semakin mewah dan udaranya lebih dingin dari ruangan lainnya.


Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok yang aku yakini mirip pak Po dan mbak Kun sedang melayang-layang di udara di depan sebuah pintu ruangan.


“Refald, apakah tempat ini ...,”


“Ehm, itu adalah ruang di mana raga kita di simpan supaya tidak busuk selama kita tinggalkan.” Refald langsung menjawab pertanyaanku meski aku belum selesai bicara.


Pak Po dan mbak Kun memberi hormat pada semua leluhur kami ketika kami semua tiba dan membukakan pintu ruangan itu supaya kami bisa masuk ke dalam.


Saat sudah berada di dalam, aku melihat tubuhku dan tubuh Refald terbaring di atas pembaringan yang terbuat dari bongkahan es. Tidak hanya itu, seluruh dinding ruangan ini juga terbuat dari es. Pantas udara di sini begitu dingin. Mungkin suhu di tempat ini mencapai minus sampai air yang menetes saja langsung berubah beku hanya dalam hitungan detik.


Leluhur Refald yang biasa dipanggil sebagai Raja Banta, maju dan berdiri diantara raga kami yang masih utuh seperti sebelumnya, hanya terlihat pucat karena diletakkan di tempat terdingin yang pernah kurasakan. Aku bisa membayangkan betapa dinginnya nanti saat aku dan Refald kembali pada raga kami masing-masing.


“Refald, dan kau Fey, dalam dunia ini, kalian adalah pasangan suami istri. Tetapi ketika kalian kembali ke dunia nyata nanti, status kalian hanya sebatas tunangan. Jalani kehidupan di sana sesuai dengan peraturan yang ada, jika kalian ingin melakukan ritual penyatuan jiwa sebagaimana mestinya suami istri pada umumnya, maka di setiap malam bulan baru, kalian tidak boleh menampakkan diri kepada manusia manapun karena secara otomatis, tubuh kalian berdua akan berubah menjadi transparan layaknya arwah yang gentayangan.


Hal itu hanya akan terjadi terus menerus sampai kalian menikah secara resmi di dunia nyata. Setelah itu, kalian berdua akan menjadi manusia normal seperti sedia kala. Apa kalian mengerti maksudku?” tanya leluhur Refald pada kami berdua.


“Yang mulia, jika kami berubah menjadi transparan seperti Yang mulia katakan, apakah kami bisa bertemu dengan semua yang ada di sini lagi?” tanyaku.


Leluhur Refald tersenyum melihat ekspresiku yang terlihat cemas. “Kau bisa menemui kami kapanpun kau mau tanpa harus menjadi transparan. Kau bisa menyebut nama kami tiga kali dalam hatimu seperti yang sering Refald lakukan ketika dia dalam kesulitan, maka kamipun akan segera datang. Kau sudah bagian dari kami sekarang.”


“Benarkah?” aku sangat senang mendengar jawaban Raja Banta ini. “Itu artinya hamba juga bisa bertemu dengan raja Inu Kartapati dan juga Ratu Candra Kirana?”


“Tentu saja, kami semua yang ada di sini terhubung denganmu, kau dan Refald dalam perlindungan kami semua.” raja Banta melayang mendekatiku. “Sudah saatnya, kau kembali pada ragamu.”Raja Banta menatapku sambil tersenyum. Sekali lagi, para leluhur kami bergantian memberikan berkatnya kepadaku dan juga Refald.


Setelah itu, kami pun masuk secara perlahan ke raga kami masing-masing. Rasanya seperti sedang tidur di atas kasurku yang empuk. Saat jiwa kami masuk sempurna ke dalam tubuh, mataku langsung terpejam dan tak bisa melihat apa-apa.


Semua menjadi gelap sampai aku mendengar samar-samar suara seseorang yang sangat aku kenal. Itu adalah suara ayahku yang memanggil-manggil namaku.


“Shiyuri! Kau sudah sadar? Bangunlah! Kau bisa dengar Ayah?”


Tidak salah lagi, itu memang suara Ayah.

__ADS_1


Perlahan, aku membuka mataku dan benar saja, orang yang pertama kali aku lihat adalah ayahku sendiri. “Otousan,” ucapku lirih. Tubuhku terasa lemah sekali. Aku mengamati ruangan yang ada disekelilingku begitu mataku terbuka sempurna.


“Syukurlah kau sudah sadar. Ayah sangat mengkhawatirkanmu. Sudah 3 hari lamannya kau tidak sadarkan diri. Kau tahu betapa takutnya, ayah.”Ayahku memelukku dengan erat dan aku yakin ayah sedang menangis untukku.


Tiga hari? tapi aku merasa baru sehari semalam aku berada di dunia lain bersama Refald. Tunggu! Dimana Refald.


“Otousan, Refald ....”


“Dia ada di ruangan sebelah, aku belum melihatnya, dia juga belum sadarkan diri. Kalian berdua benar-benar membuat kami semua khawatir.”


Aku hanya diam sembari mengingat-ingat kembali kejadian sebelum kami masuk ke dunia lain. “Otousan, Paman ... maksudku ayah Refald ...,”


“Ayah mertuamu masih mencari orang-orang yang menculikmu. Mereka berhasil kabur dan masuk ke dalam hutan yang belum terjamah oleh tangan manusia. Entah mereka masih hidup atau sudah mati mengingat di dalam hutan itu ada banyak sekali binatang buas. Tidak mungkin manusia bisa keluar dari sana hidup-hidup. Bagaimana keadaanmu sekarang, apa yang kau rasakan?” ayah memencet tombol agar ada yang memeriksa kondisiku setelah aku sadar.


“Aku baik-baik saja, Otousan. Tidak ada yang aku rasakan. Aku hanya khawatir bagaimana kondisi Refald saat ini. Terakhir aku melihatnya dia berantakan sekali. Bolehkah aku melihatnya, Otousan?” Aku harap ayahku mengizinkanku keluar untuk melihat Refald.


Harusnya dia juga sudah sadar sekarang. Batinku.


Tak berselang lama, dokter dan seorang suster masuk sambil membawa buku catatan yang akan mereka gunakan untuk mencatat laporan kesehatanku. Dokter itu membuka kedua mataku dengan senter, memeriksa lidahku dan mendengar detak jantungku dengan stetoskopnya.


“Semuanya normal, tidak ada masalah. Apa ada keluhan yang kau rasakan?” tanya dokter itu.


“Tidak, Dok. Saya tidak merasakan apa-apa. Saya baik-baik saja.” aku menjawab apa adanya.


“Baiklah kalau begitu, istirahatlah sehari di sini, baru besok anda boleh pulang,” ucapnya padaku dan mulai mencatat sesuatu di buku catatannya. “Berikan dia vitamin tambahan, Sus. Agar tenaganya cepat kembali pulih.” Dokter itu bicara pada suster cantik yang berdiri di belakang dokter yang ternyata, lumayan tampan juga. Dari tatapan mata keduanya, aku bisa menebak kalau mereka sedang dimabuk asmara.


“Dokter, boleh saya bertanya?”


“Silahkan.” Dokter itu berbalik menghadapku.


“Pasien yang bernama Refald, apa dia sudah sadar?” tanyaku sambil tersenyum sekaligus harap-harap cemas.


“Sepertinya belum. Dia masih belum sadarkan diri. Luka luarnya tidak parah, tetapi sepertinya ia mengalami luka dalam. Kami belum bisa memeriksanya secara detail sebelum dia siuman,” terang dokter tampan itu.

__ADS_1


Seketika ekspresiku berubah jadi terkejut. Refleks aku melompat turun dari tempat tidur dan mencabut sendiri selang infus yang menempel ditanganku. Sakit sih, tapi aku tidak sabar ingin melihat bagaimana kondisi Refald saat ini.


Aku tidak bisa percaya kalau Refald masih belum juga sadar. Kami berdua bersama beberapa waktu yang lalu, bagaimana mungkin Refald belum sadar sementara aku terlihat baik-baik saja.


“Nona! Tunggu! Anda mau ke mana?” teriak dokter dan suster itu bersamaan.


“Fey!” ayahku juga ikutan berteriak, tapi aku tidak peduli dengan teriakan mereka. Aku berlari keluar membuka pintu dan mencari-cari kamar Refald. Aku mengintip setiap pintu kamar yang ada di sebelah kanan dan kiriku supaya bisa menemukan kamar Refald.


Untunglah, ternyata kamar Refald tidak jauh dari kamarku. Tanpa permisi aku membuka pintu ruangan Refald dan shock melihat Refald masih saja terbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan selang infus dan alat bantu pernapasan terpasang di tubuhnya.


“Refald!” gumamku tak percaya.


Bagaimana kondisi Refald bisa separah ini? Saat di dunia lain, dia terlihat baik-baik saja dan tidak mengalami luka apapun. Tapi kenapa sekarang dia jadi seperti ini? Aku menangis sesenggukan di sisi Refald. Tangannya begitu dingin.


BERSAMBUNG


***


Maaf up nya telat, harusnya episode ini aku up kemarin, tapi berhubung ada kesibukan jadi baru bisa up sekarang.


Terimakasih juga yang sudah menurunkan rate-nya Refald, maaf jika tidak suka dengan haluku yang lebay. Tapi aku juga sangat berterimakasih buat yang masih setia dengan kegilaan haluku di dunia fantasi Refald. Berkat dukungan kalian, aku tetap semangat melanjutkan kisah ini walau dulu, sempat putus asa.


Aku yang sekarang, sudah tidak peduli dengan rate, yang penting aku menuangkan semua imajinasi yang aku punya dalam bentuk tulisan dengan tujuan menghibur siapapun yang mau baca karyaku, cuma itu dan nggak ada niatan yang lain. Terimakasih semuanya, love you all pokoknya.


Oh iya, yang ingin tahu hadiah apa yang diminta Fey, tunggu saja ... mudah-mudahan kalian betah dengan dunia haluku yang nggak jelas ini.


Kenapa aku ciptakan kisah Refald dengan genre fantasi? Karena aku penggemar JK. Rowling (penulis Harry Potter) dan Stephenie Mayer (penulis Twilight) mereka berdua pemicu semangatku. Bukan cuma karyanya, tapi perjuangan mereka menjadi penulis yang diakui dunia, itu yang bikin aku kagum sama mereka.


Dan sekarang pemicu semangat terbesarku adalah kalian semua. Aku nggak peduli dengan yang lainnya, asal kalian suka dengan dunia halu yang kuciptakan ini, maka sudah lebih dari cukup buatku. Terima kasih all dan aku sayang kalian.


Tunggu kelanjutan kisah Refald dan fey...


__ADS_1


__ADS_2