Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 88 Bayangan Hitam


__ADS_3

Aku menjelaskan semua yang kualami selama berada di dalam hutan pada Yua, saat kami masih berada di ruang multimedia komplit dengan peristiwa-peristiwa aneh di luar nalar manusia, termasuk kekuatan Refald yang bisa menyelamatkanku sehingga aku dan dia bisa keluar dari hutan dalam keadaan hidup-hidup tanpa luka sedikitpun.


Sebagai manusia biasa, tentulah Yuna sangat terkejut mendengar apa yang aku ceritakan padanya. Tidak pingsan saja masih untung. Namun, ia mencoba memahami apa yang terjadi mengingat siapa Refald. Ketampanannya, pesonanya, dan juga kharismanya, wajar jika dia terlihat sangat sempurna ditambah dengan kekuatan luar biasa yang seorang Refald punya. Bahkan Yua merasa kalau Refald adalah Edward di dunia nyata yang paling aku kagumi selama ini.


"Jadi ... kau sudah punya Edar sungguhan, heh?" itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Yua.


"Bukan Edar Yuaaaaa, ED-WARD! Kenapa kau salah eja terus sih nama idolaku?" kesalku.


"Habis namanya sudah, sih ... kau tahu sendiri kan lidahku ini lidah Jawa, mana bisa sok nginggris?"


"Terserah kau sajalah, yang penting aku memang punya Edward di dunia nyata meskipun Refald tidak suka bila ia kusamakan dengan vampir tampan itu." aku senyam-senyum sendiri.


"Kenapa?" tanya Yua penasaran.


"Karena dia bukan vampir, dia manusia sama seperti kita, maknya dia tidak mau disamakan dengan vampir. Padahal kan Edward ganteng banget ya? Sama gantengnya dengan dia," cerocosku tanpa aku tahu kalau Refald ada di belakangku. Yuna langsung diam 1000 bahasa dan tubuhnya langsung terbujur kaku tak berani menoleh kearahku lagi.


"Kau kenapa? Kayak lihat hantu saja!" gumamku. Aku mencoba menoleh ke arah pandang Yuna dan ... betapa terkejutnya aku setelah melihat Refald mendadak ada di sini. "Astaga ... kau bikin aku jantungan saja! Kenapa kau kemari lagi sih?" ujarku sambil memegang dadaku karena jantungku hampir saja copot.


"Kau terus saja membicarakanku, tentu saja aku terpanggil Honey," tandas Refald sambil terus menatapku. "Dan kau bilang apa tadi?" tanyanya.


"Apa?"


"Aku ganteng?"


"Nggak ... eh ... iya ...," jawabku gugup. Tanpa kuduga, Refald langsung menarik tubuhku mendekat kearahnya sehingga tidak ada sekat lagi diantara kami berdua. "Refald, lepaskan aku! Apa yang kau lakukan? Ini sekolah!"

__ADS_1


"Siapa yang bilang kalau ini bioskop?" ujar Refald masih sambil terus menatapku. "Yuna, tutup matamu!" seru Refald pada temanku. Seketika, Yua menuruti permintaan Refald karena ia sendiri juga ketakutan.


Refald menempelkan bibirnya dibibirku dengan lembut, ia benar-benar menciumku. Di sekolah, tepat di depan Yua meskipun ia tidak melihat adegan mesra kami.


"Jika kau memanggil namaku lagi, aku akan langsung datang kembali dan meminta hadiahku. I love you Honey." Refald mencium keningku lalu berlalu pergi meninggalkanku yang kini sudah seperti patung hidup. "Dasar mesum," gumamku setelah aku yakin Refald sudah tidak ada di sini. "Yua, buka matamu! Kenapa kau menurut saja saat Refald memintamu menutup mata?"


"Habis, aku takut sama pacarmu! Dia tampan, tapi menyeramkan," jawab Yua.


"Kau benar, tapi dia juga kuat, karena itulah hingga sekarang aku masih baik-baik saja."


“Pantas saja aku merasa aneh, saat kalian kembali dan tidak mengalami luka-luka. Ternyata ...” Yua tidak bisa berkata-kata untuk mengeskpresikan rasa keterkejutannya.


“Kamu orang pertama yang diperbolehkan tahu tantang keistimewaan Refald. Jangan bocorkan rahasia ini pada siapapun, sebab ....” Aku menggantungkan kalimatku karena aku takut anak buah Refald sedang mengawasi gerak-gerik kami di sini.


“Sebab apa?” tanya Yua penasaran.


Yua langsung menelan salivanya dan matanya hampir melotot menatapku. “Apa mereka semua ada di sini?” tanya Yua yang mulai panik.


“Aku tidak tahu, aku tidak bisa melihat mereka, tapi sepertinya iya, kan merekalah yang membantu kita membersihkan ruangan ini,” terangku pada Yua.


“Hah?” Yua terkejut sekaligus takut. “Lalu bagaimana? Apa mereka akan mengikutiku mulai dari sekarang?” Yua terlihat hampir menangis karena membayangkan salah satu pasukan Refald membuntutinya kemana-mana karena sudah tahu rahasia Refald.


“Ehm, kalau soal itu ... aku juga tidak tahu, kekuatan pasukan Refald punya aturan yang juga tidak aku mengerti. Segala tindakan yang dilakukan Refald dipenuhi dengan undang-undang dasar dan entah siapa yang membuatnya. Nanti aku tanyakan pada Refald, apakah ada peraturan pasukannya itu harus mengikuti orang yang sudah tahu rahasianya atau tidak.” Aku berusaha menenangkan Yua karena gemetar ketakutan.


“Memang ada, ya? Hal aneh semacam itu? Aku tidak percaya, aku kira itu hanya ada dalam cerita atau di film-film saja. “Apa kita sedang bermimpi?” tanya Yua.

__ADS_1


“Tidak Yua, ini bukan mimpi. Reaksiku jauh lebih parah darimu saat pertama kali aku mengetahui siapa Refald yang sebenarnya. Tapi, ini nyata ... kekuatan Refald benar-benar nyata.” Nada suaraku jauh terdengar seperti rasa kagum daripada rasa takut.


“Astaga, aku bisa gila kalau benar-benar diikuti dedemit. Harusnya tadi Refald tidak usah memberitahuku.” Ekspresi Yua yang terlihat frustasi membuatku ingin menggodanya.


“Hati-hati ... bisa saja nanti ada yang bergentayangan mengikutimu!” godaku sambil menahan senyum.


“Diam kau! Jangan menakutiku!” Yua memukul pelan bahuku. Aku yakin Refald bisa mendengar pembicaraan kami dan pasti ikut tertawa karena aku berusaha menakut-nakuti Yua disaat aku sendiri juga ketakutan dengan semua pasukan Refald yang tidak bisa aku lihat. Selain itu, aku juga masih sangat kesal dengan Refald yang tiba-tiba saja menciumku. Dasar Raja demit mesum!


“Pasti ada alasan kenapa Refald mau memberitahumu rahasianya, biasanya dia tidak suka memberitahu siapapun tentang siapa dia sebenarnya. Kamu jangan khawatir, oke. Cukup diam saja dan pura-pura tidak tahu apa-apa, maka kita akan aman.” Aku merangkul bahu temanku agar ia tidak ketakutan lagi.


“Tetap saja, ini menakutkan sekali, hiiii ngeri.” Yua mengangkat kedua bahunya. Aku hanya tersenyum melihat keluhan Yua yang ketakutan membayangkan dirinya diikuti dedemit kemana-mana.


“Tenanglah, mereka tidak akan berbuat buruk padamu, justru sebaliknya, mereka akan melindungimu dari bahaya apapun.”


"Melindungi apanya? Yang ada dibenakku malah sosok Susana saat ia mejadi berbagai macam hantu! Terus, bayanganku ada hantu jeruk purut, kuyang dan juga hantu-hantu yang lainnya mulai melayang-layang dikepalaku, aku benar-benar ketakutan sekarang, ayuk kita pergi dari sini!” Yua menyeret tanganku untuk meninggalkan ruang multimedia sesegera mungkin dan kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Aku pun hanya tertawa melihat tingkah laku Yua.


Tiba-tiba saja, aku melihat ada sekelebat bayangan hitam melintas didepanku dan membuatku terkejut setengah mati. “Apa itu tadi?” tanyaku pada Yua.


“Apanya?” tanya Yua yang bingung dengan pertanyaanku.


“Aku kira aku baru saja melihat sesuatu ....” aku tidak bisa meneruskan kata-kataku. Ingin rasanya aku datang menemui Refald untuk memberitahukan apa yang baru saja aku lihat atau bahkan mungkin ia sudah tahu.


Apa itu tadi? Bayangan apa itu? berbahaya tidak, ya? Seandainya apa yang aku lihat tadi membahayakanku, pasti Refald akan melindungiku. Tidak ada yang perlu aku takutkan selama ada Refald bersamaku, aku menenangkan pikiranku sendiri.


“Jangan menakutiku!” bentak Yua. “Cepat kita pergi dari sini!” ajak Yua sambil menyeret paksa tanganku untuk segera kembali ke kelas.

__ADS_1


***


jangan lupa terus dukung penulis dengan like, vote, komentar dan rate bintang limanya ya .. trima kasih ...love you all


__ADS_2