Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 75 Hasrat


__ADS_3

Aku terkejut Refald sudah ada di depan pintu dengan gayanya yang seksi dan menggoda. Aku baru sadar kalau ada Refald dikamarku. Aku kira dia akan pergi setelah selesai dengan laptopku, tapi ternyata ia malah tetap berada di sini. Kami hanya berdua di dalam kamar, apalagi ini sudah malam dan tidak ada siapa-siapa lagi selain kami berdua.


“Kenapa baru buka pintu sekarang, Honey?” Refald semakin mendekatkan wajahnya padaku. Dada bidangnya yang putih mulus membuatku menelan saliva berkali-kali. Tiba-tiba saja aku menjadi gugup dilihat Refald seperti itu. “Aku sudah tidak tahan menunggumu terlalu lama di dalam. Apa saja yang kau lakukan, ha?” dengan lembut, Refald membelai mesra pipiku. Sentuhan Refald semakin membuatku gugup.


“Apa maksudmu Refald?” aku grogi Refald mendadak berbicara seperti itu.


Refald menempelkan hidungnya tepat dihidungku. “Kau tahu apa maksudku, tapi kau pura-pura tidak tahu.”


Hembusan napas Refald berhasil membuatku tidak bisa mengatur napasku. Aroma tubuhnya yang khas membuatku semakin terpesona dengan kehadirannya didekatku. Apakah ini yang namanya bucin tingkat tinggi? Rasanya seperti aku seolah akan kehilangan akal sehatku dan digantikan oleh hasrat keremajaanku.


“Refald, aku kira, jarak kita terlalu dekat, tolong mundurlah. Kita masih ....”


Refald langsung mendaratkan bibirnya dibibirku dengan lembut sehingga aku tidak bisa meneruskan kata-kataku. Perlahan ia membuka mulutku dan memasukkan lidahnya dengan paksa. Ia melumaat mulutku habis-habisan. Ingin rasanya menolak tapi hasrat tubuh ini tidak bisa bergerak. Aku sangat menikmati ciuman maut yang ia hantamkan padaku.


Selama beberapa detik kami beradu mulut, saling menghisap dan saling menikmati suasana. Aku begitu terbuai oleh pesona Refald yang begitu menggoda, tapi aku hanya bisa melakukan ini dan tidak bisa lebih dari ini, karena kami berdua masih sekolah.


“I love you, Honey.” Napas Refald terdengar berat. Ia masih menempelkan dahinya didahiku.


Aku merasa Refald benar-benar romantis saat ini. Namun, suasana romantis ini harus berakhir setelah terdengar suara bel pintu berbunyi.


Refald terlihat lebih waspada, tapi ia tiba-tiba tersenyum dan menatapku. “Sepertinya kita memang harus melakukannya saat kita sudah menikah, Honey. Kita kedatangan tamu spesial, berhubung mereka semua ada di sini, bagaimana kalau kita menikah sekarang?”


“Ha?” aku melongo saja mendengar Refad bicara ngelantur seperti itu.


Refald masuk ke dalam kamar mandi sambil menyeringai dan ia berpesan padaku sebelum menutup pintu kamar mandinya, “Ayah mertua dan Nenekmu datang. Sepertinya mereka dapat kabar kalau kita berdua sudah kembali dari hutan.” Pintu kamar mandi pun tertutup, tapi aku baru ingat kalau pakaian dalamku masih ada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Haissh, aku bodoh sekali bagaimana kalau Refald melihatnya? Bodoh kau, Fey!


Aku menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan keras, “Refald! Buka pintunya.” Aku terus menggedor-gedor dengan kuat. Untungnya Refald langsung membukakan pintu. Kali ini ia tidak hanya bertelanjang dada, tapi ia hanya memakai celana pendek saja.


Awalnya aku terpana melihat Refald tapi sebisa mungkin aku cepat menguasai diri. “Ada apa? Kau ingin mandi bersamaku?” Refald mulai menggoda lagi.


“Bukan!” aku langsung menyelinap masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil pakaian dalamku. Tapi aku tidak menemukan benda itu di mana-mana.


Aneh, aku yakin benda itu masih tergantung di gantungan baju kamar mandi, kenapa sekarang tidak ada? Raib ke mana pakaian dalamku itu? Apa Refald yang mengambilnya?


“Apa kau mencari ini, Honey?” tanya Refald dari balik punggungku.


Aku menoleh ke arah Refald yang berdiri di belakangku dan betapa terkejutnya diriku ketika melihat Refald sudah menggenggam bra di tangan kanannya dan CD di tangan kirinya. Mataku melotot saking syoknya.


Secepat kilat aku meraih dua benda berhargaku dari tangan Refald. “Apa yang kau lakukan, ha? Dasar mesum!” aku agak kesal karena Refald jadi genit seperti itu.


Deg ... aku salah menduga lagi. “Maaf, aku ... tidak tahu.” Aku nyelonong pergi melewati Refald, tapi rentangan tangan Refald menghadangku.


“Setelah menuduhku mesum dan meminta maaf kau ingin pergi begitu saja? Aku tidak akan membiarkannya!” Refald menatapku dengan tatapan yang menakutkan layaknya harimau yang akan menerkam mangsanya.


“Aku ... tidak bermaksud begitu, aku harus cepat-cepat membuka pintu.” Aku mengalihkan pembicaraan.


Bel pintu rumah terus saja berbunyi membuatku menjadi semakin panik karena Refald masih saja belum mau melepaskanku.


“Berapa ukuran itu, Honey?” tanya Refald yang tidak memedulikan suara bunyi bel yang terus berdering sejak tadi.

__ADS_1


“Ha? Ukuran apa?” aku tidak mengerti maksud Refald.


“Itu ....” mata Refald mengarah ke dadaku. “Aku akan membelikan untukmu nanti.” Refald mulai menyeringai nakal.


Aku melihat pandangan arah Refald yang mengarah ke dadaku dan aku langsung emosi saat menyadarinya ke mana arah pembicaraan Refald ini. Sekuat tenaga aku mendorong tubuh cowok itu menjauh dariku, “Dasar mesum!” teriakku kesal sambil berlari keluar untuk membukakan pintu rumah setelah menyimpan pakaian dalamku ditempatnya.


Tanpa sadar air mataku menetes di pipiku, bukan karena Refald yang sukses membuatku malu tetapi karena aku sangat merindukan nenek dan ayahku. Aku berlari menuruni tangga sambil mengusap air mataku. Secepat kilat aku membukakan pintu dan langsung memeluk tubuh kekar atletis yang ada didepanku begitu pintu terbuka. Seketika aku lupa bahwa kakiku yang terkilir itu sebenarnya masih terasa sakit.


“Otousan!” teriakku begitu melihat ayah didepanku.


Ayahku yang terkejut juga merangkulku dengan erat. “Shiyuri, bagaimana kau bisa tahu kalau yang datang adalah, Ayah? Apa kau memasang cctv di rumah?”


Aku menggeleng, “Tidak Ayah, aku ... “ sejujurnya aku tidak tahu alasan apa yang harus aku katakan pada ayahku. Tidak mungkin aku mengatakan bahwa Refald lah yang memberitahuku karena pasukan Refald sudah memberitahu kedatangannya lebih dulu. “Aku tahu Ayah, aku bisa merasakan hawa keberadaan Ayah.” Akhirnya aku berbohong. Ayah hanya tersenyum sambil memelukku dengan erat.


“Apa hanya ayahmu saja, yang kau sapa?” Nenek terlihat dongkol saat melihatku hanya memeluk ayah.


Aku melepaskan pelukan ayahku dan beralih memeluk nenekku. “Nenek, aku sangat merindukanmu.” Nenek membalas pelukanku dan membawaku masuk ke dalam. “Dasar bocah tengil, kau ini ke mana saja, ha? Kau membuat kami khawatir, ayahmu hampir saja gila dan akan menyusulmu ke hutan. Beruntung tadi kepala perhutani menelepon nenek dan kami langsung datang kemari. Bukannya pulang ke rumah nenek kau malah pergi ke sini.” Aku langsung diberondong omelan yang bertubi-tubi dari ayah dan nenekku.


Melihat mereka sangat khawatir aku jadi bingung harus bagaimana caraku menjelaskannya pada ayah dan nenekku.


“Di mana cecunguk itu, ha? Aku kira dia akan menjagamu! Kenapa kalian berdua malah menghilang begitu saja tanpa kabar?” nenek terlihat sangat kesal.


“Aku di sini, Nek!” Refald menuruni tangga dengan memakai baju yang berbeda dari yang ia pakai tadi.


Pasti pasukan dedemit itu yang mengambilkan pakaian baru untuk Refald. pikirku.

__ADS_1


***


Maaf karena ada beberapa hal, penulis baru bisa crazy up hari ini. Happy reading ya ...


__ADS_2