
Di tempat lain, Refald tertegun mendengar putranya terus saja memanggil-manggil namanya. Namun, ia melihat Fey memberi kode agar ia tetap berada di kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang ia kerjakan. Melihat berkas-berkas yang menumpuk membuat Refald sulit berkosentrasi pada pekerjaannya. Ia terus memikirkan dan mencemaskan Rey yang kini sedang dalam bahaya karena ada binatang buas mengejarnya.
"Ayah! Tolong aku!" suara teriakan Rey terus menggema di telinga Refald.
Karena sudah tidak sabar lagi, akhirnya Refald bangun dari kursinya dan hendak pergi keluar pintu ruangan. Namun, sebelum Refald mencapai gagang pintu, ia dikejutkan dengan pernyataan Fey yang mencoba menghentikan langkah kakinya.
“Kalau kau sampai meninggalkan tempat ini, maka ... jangan harap kau bisa bertemu denganku lagi,” ujar Fey sambil menatap tajam mata Refald. Fey tidak main-main dengan ucapannya.
Ini pertama kalinya Fey mengatakan kalimat tersebut dengan wajah seserius itu. Refald berbalik arah dan bergerak cepat menuju istrinya yang bersandar di meja kerja Refald.
“Honey, apa kau tidak khawatir? Putra kita sedang dalam bahaya!” wajah Refald terlihat cemas sekali.
Refald memang sangat menyanyangi putranya lebih dari apapun meski mereka berdua sering berdebat satu sama lain. Tapi jika Rey dalam bahaya, Refaldlah yang selalu sigap menolongnya.
“Sudah takdirnya Refald, ini adalah takdir yang sudah digariskan untuk Rey. Kau sendiri juga sudah tahu, kan?” Fey mencoba menenangkan suaminya agar tidak panik.
“Tapi dia terluka, Honey. Putra kita sedang kesakitan.”
“Ada yang bsia menyembuhkannya suamiku, kau tahu itu!” Fey terlihat tenang-tenang saja sementara Refald mondar mandir kesana kemari sambil terus mengusap kepalanya saking cemasnya. Refald berdiri di depan jendela kantornya sambil mengamati keramaian pusat kota yang ada di bawah sana.
Fey memeluk tubuh suaminya dari belakang untuk menenangkan Refald lagi. Refald langsung terkesiap merasakan detak jantung istrinya yang berdetak cepat.
“Tenanglah suamiku, Rey kita pasti baik-baik saja,” ujar Fey dengan nada suara lembut. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Refald.
“Honey, Kau tahu Rey sangat takut dengan suara serigala. Dia masih trauma mendengar lolongan salah satu binatang liar itu. Kejadian di Swiss, tidak akan bisa dia lupakan.”
“Itu karena Rey masih manusia normal, Refald. Akan sangat berbeda bila kekuatannya bangkit setelah ia benar-benar mencintai seseorang sama seperti kau mencintaiku dulu. Jika kau ikut campur, sama saja kau menghambat kemunculan kekuatannya. Ada Rhea bersamanya, berikan ruang untuk mereka berdua agar saling mengenal satu sama lain. Tidakkah kau merasa pertemuan mereka sama seperti pertemuan kita sewaktu masik SMA dulu? Ayolah Refald, buang rasa cemasmu itu, Rey sudah bukan anak kecil lagi. Sudah waktunya ia menemukan cinta sejatinya.”
__ADS_1
Refald berbalik badan menatap wajah Fey yang begitu tenang dalam menghadapi segala hal. Fey memang banyak berubah drastis sejak ia menjadi seorang ibu. Mungkin itu karena jiwa keibuan Fey lebih dominan sehingga lebih terlihat bijaksana. Hari ini, memang hari yang ditunggu-tunggu Fey karena akhirnya Rey bisa bertemu dengan Rhea yang tidak lain adalah calon istri Rey sendiri.
“Kau benar, Honey. Kisah mereka lebih manis dariku. Aku terlalu cuek padamu padahal jelas-jelas kau adalah tunanganku dulu. Tapi tetap saja, aku tidak bisa melihat Rey berdarah. Di dalam tubuhnya mengalir darah kita berdua. Jika Rey terluka, maka aku juga merasakan sakitnya.”
“Pikirmu aku juga tidak begitu? Akulah yang melahirkannya, tentu saja aku juga merasakan sakit seperti yang ia rasakan saat ini, tapi suamiku Sayang ... apa kau lupa? Kau juga terluka ketika pertama kali bertemu denganku karena diseruduk banteng liar, aku menyembuhkan lukamu meski aku salah mengambil obat dan berujung kau mengerjaiku habis-habisan. Kali ini kisah putra kita agak berbeda. Rhea benar-benar menyembuhkan luka Rey. Dan kabar bahagianya adalah, Rhea sudah menyerahkan selendang pelangi yang dulu kuberikan padanya. Gadis itu mengikatkannya di lengan Rey. Artinya, ia menerima lamaran kita secara tidak langsung. Kini, mereka bisa menikah di dunia lain sama seperti pernikahan kita dulu.” Fey bergelendot manja dipelukan Refald.
“Mereka masih sekolah Honey, terlalu dini bagi mereka untuk menikah?”
“Lalu kenapa kau dulu mengajakku menikah saat kita juga masih sekolah?”
“Aku terpaksa Honey, itu adalah perjanjian yang aku buat dengan kakek agar kita berdua selamat dari maut. Aku berencana menikah denganmu setelah kita berdua lulus kuliah, tapi .. tidak kusangka kita bakal terikat dengan perjanjian pernikahan ghaib itu.”
“Apa bedanya? Kini Rey dan Rhea juga sudah terikat dengan perjanjian yang aku buat. Mereka akan menikah dalam waktu dekat, kau setuju atau tidak, aku tidak peduli. Pernikahan ghaib mereka akan terjadi.” Fey bersikukuh dengan pendapatnya untuk segera menikahkan Rey dan Rhea. Refald sendiri tidak bisa lagi menentang keinginan istrinya walau dalam hati, ia tidak menyetujuinya jika putra tunggalnya yang baru berumur 17 tahun harus menjadi seorang suami.
Refald memeluk pinggang Fey dan merekatkan tubuh istrinya dekat kearah tubuhnya sehingga keduanya tidak memiliki sekat lagi. Dalam diam, Refald menatap tajam manik mata Feu yang juga sedang menatapnya dengan sejuta kebahagian terpancar di wajah cantik Fey. Perlahan, Refald mulai mendekat dan terus mendekat hingga ia hampir saja mencium bibir ranum Fey tepat disaat Eric membuka pintu ruang kerja Refald tanpa permisi.
“Apa lihat-lihat? Kau tidak tahu kalau aku sedang sibuk, ha?” bentak Refald, wajahnya jadi dongkol akut karena gagal mencium istrinya.
“Apa kalian sudah gila? Ini kantor woy, bukan hotel! Bisa-bisanya kalian bikin anak di ruang ini!” sengal Eric tak kalah dongkol dengan Refald.
“Kau yang tidak sopan! Masuk keruanganku tanpa mangetuk pintu dulu! Kau pikir ini rumahmu, apa?” Refald membalas sengalan Eric.
“Ya sudah kalau begitu! Lanjutkan saja. Aku harus memeriksa kembali berkas-berkas ini dan jangan lupa kasih tulisan di depan pintumu ini, ‘DILARANG MASUK KARENA SEDANG SIBUK’ dasar mesum!” Eric pergi dan menutup pintu dengan keras sehingga mengagetkan staf karyawan yang di luar ruangan Refald.
“Mereka benar-benar sudah tidak punya urat malu, bisa-bisanya mesum di kantor sendiri. Meski sudah lama menikah, harusnya mereka bisa melakukannya di rumah. Sial! Kenapa juga wajah mereka awet muda begitu sih? Padahal sudah mau punya cucu, juga! Menyebalkan sekali mereka itu!” Eric ngedumel sendiri sehingga membuat semua karyawan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat salah satu bos mereka bicara sendiri seperti orang sedang kesurupan.
“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Refald masih sambil memeluk pinggang Fey.
__ADS_1
“Ehm, kita tidak usah pulang malam ini.” Fey tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Refald.
“Kenapa? Rey pasti mencari kita.”
“Kau kan sudah tahu alasannya, Rey tidak akan pulang malam ini. Ia akan tidur di kamar calon pengantinnya sendiri.”
“Terus, apa yang akan kita lakukan jika tidak pulang? Apaaaa ... kau mau buat anak lagi denganku, Honey?” Refald mulai mengeluarkan jurus mautnya menggoda Fey.
“Oke! Tapi selesaikan dulu semua pekerjaanmu disini, baru kita bikin anak lagi,” ujar Fey.
“Benarkah? Kau serius?”
“Setiap hari kan kita buat anak, tapi tidak jadi-jadi lagi sampai sekarang.” Fey tersenyum sendiri.
“Aku akan berusaha keras mulai, sekarang.” Refald mencium mesra bibir istrinya. “Kau tunggu disini, aku akan menyelasaikan pekerjaanku dengan cepat. Setelah itu, kita akan buat anak sampai jadi!” Refald melepas pelukan istrnya dan duduk di meja kerja. Sedangkan Fey hanya tersenyum simpul melihat suaminya kembali bersemangat. Setidaknya, sekarang Refald tidak mencemaskan Rey lagi.
BERSAMBUNG
***
Masih ada satu episode lagi, yang nunggu seperti apa reaksi mbak Kun dan Arka serta Rhea setelah melihat Rey. Sabar ya ...
bantu kasih rate bintang 5 dong, dan jangan lupa dukng like dan komentarnya juga ya ... biar aku makin semangat nulisnya, karena kurag 23 episode lagi novel ini tamat. Love you all ...
papa Refald hehe ...
__ADS_1