
“Putri Lafeysionara, maaf atas kelancanganku karena telah berani mencintai salah satu dedemit kesayangan anda dan pangeran Refald. Ketahuilah bahwa ini pertama kalinya saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Meski awalnya itu semata karena dia mirip dengan Jo bo ah, pasangan dari orang yang saya tiru ini, tapi ternyata perasaan itu memang benar nyata. Saya tahu, wujud kami berdua memang palsu, tapi cinta kami asli. Terimakasih sudah merestui hubungan kami Putri, saya berjanji akan membuat mbak Kun bahagia. Dan juga selamat untuk anda ... semoga kami bisa segera menyusul anda berdua.”
Itu adalah kalimat yang diucapkan iblis bernama Arka dalam mimpi Fey. Setelah mendengar kalimat itu, Fey melihat Arka dan mbak Kun langsung menghilang dari pandangannya. Tadinya, Fey ingin mengejar kepergian mereka tetapi Fey keburu bangun dari pingsannya.
Saat Fey membuka mata, orang yang pertama kali ia lihat adalah Refald. Pria yang paling dicintai Fey melebihi dirinya sendiri. Refald selalu setia menunggui istrinya hingga sadar kembali. Ia tak penah beranjak meninggalkan Fey sendirian. Mata Refald menatap lembut wajah Fey yang terlihat pucat sambil terus memegangi tangannya.
“Kau sudah sadar, Honey? Apa yang kau rasakan?” tanya Refald penuh perhatian.
“Kita ... ada dimana? Apa yang terjadi padaku?” bukannya menjawab, Fey malah balik bertanya dan mengamati sekelilingnya. Ruangan ini sangat tidak asing lagi baginya.
“Kau pingsan begitu acara pernikahan mbak Kun selesai digelar. Saat ini kita masih berada dirumah pa Po dan Di.”
Mendengar nama pak Po, wajah Fey kembali sedih. Dedemit itu sudah bukan manusia lagi. Rumah ini, hanya akan menjadi kenangan tak terlupakan saat pak Po menjadi manusia.
“Dimana Di, sekarang?” tanya Fey dengan nada gemetar.
“Di sedang bersama, pak Po. Tidak ada yang berubah Honey, kecuali dunia keduanya. Mereka berdua tetap menjadi pasangan suami istri. Berhenti mengkhawatirkan orang lain, biarkan mereka mengurus masalah mereka sendiri. Merekapun punya privasi dan kehidupan sendiri-sendiri. Lihat dirimu, kau pingsan kerena terlalu lelah dan banyak pikiran. Tidak bisakah kau memikirkan kesehatanmu demi aku, Honey?”
“Maafkan aku Refald, terlalu banyak hal mengejutkan yang terjadi. Dan aku ... tidak pernah menyangka bakal seperti ini jadinya. Terutama masalah mbak Kun, aku kira dia ... beneran tidak menyukai pak Po, tapi nyatanya keputusan yang kita ambil telah melukai perasaannya. Meski demikian, dia masih mau menuruti perintahku yang jelas-jelas pernah menyebabkannya patah hati.”
“Semua itu sudah berlalu, Honey. Ini sudah takdir. Melalui perintahmu pula, mbak Kun pun akhirnya menemukan pasangan hidupnya. Kau tahu? Mbak Kun dan iblis bernama Arka kini tengah bahagia. Tadinya mereka ingin menungguimu sampai kau terjaga, tapi aku menyuruh mereka pergi agar aku bisa berdua saja denganmu. Jangan menengok ke belakang lagi Honey, yang lalu biarlah berlalu. Semua hal mengejutkan yang terjadi sudah lewat dan semuanya berakhir bahagia. Besok kita akan pulang kerumah dan setelah itu kita akan tinggal di Swiss.”
“Apa? Lalu ... bagaimana dengan Di? Bagaimaan bisa ia tinggal disini sendirian. Bagaimana dengan desa ini? bukankah kau sudah membuat cetak birunya atas nama pak Po dan Di?”
Refald langsung mencium Fey dengan ciuman manisnya. “Mulai sekarang saat kita berdua di dalam kamar, jangan membicarakan orang lain lagi ataupun hal yang lainnya. Aku tidak akan pernah mau menjawabnya.”
__ADS_1
“Tapi ....”
Sebuah ciuman sweet lagi-lagi mendarat mulus di bibir Fey. “Sudah kubilang, tidak ada orang lain lagi diantara kita. Kau hanya boleh memikirkanku saja, oke.”
“Terserah kau saja!” Fey beralih posisi membelakangi Refald.
Sebenarnya ada banyak hal yang Fey pikirkan saat ini, dan hal teraneh yang terjadi disini adalah, tumben Refald tidak langsung meminta nutrisi darinya. Apa mungkin kerena ia terlihat pucat dan lemah sehingga Refald tidak ingin membicarakannya.
“Aku sangat ingin Honey, tapi aku tidak bisa melakukannya.” Refald tersenyum simpul saat membaca apa yang ada dipikiran Fey saat ini. Gadis itupun langsung berbalik badan menghadap Refald.
“Kau kembali bisa mendengar apa yang aku pikirkan?” Fey merasa malu, bercampur terkejut.
“Tentu saja, kekuatanku semakin meningkat. Meskipun kau berusaha keras menghalangi pikiranmu agar tak terbaca olehku, aku tetap bisa membacanya.” Refald memandang wajah istrinya yang mulai memerah. “Kenapa kau tidak bertanya alasan aku tidak meminta nutrisi darimu meski aku sangat menginginkannya?”
“Sudah jelas karena aku sekarang lagi kurang vit, apalagi?” Fey besikap jutek pada Refald karena pertanyaannya mudah ditebak.
Fey mengerutkan alisnya menatap Refald yang terlihat sangat bahagia dari sebelumnya. Kalau dipikir-pikir, suasana hati Refald terlihat begitu ceria sejak tadi, dan Fey tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya hingga ia sesenang itu.
“Apa yang terjadi? Kau terlihat sangat bahagia sekali? Kau tidak mau memberitahuku?”
“Aku takut jika aku memberitahumu, maka kau akan menduakanku.”
Fey menatap tajam suaminya. Rasanya aneh melihat Refald berkata seperti itu sambil tersenyum senang. Rona kebahagiaan benar-benar terpancar diwajahnya.
“Apa maksudmu? Kenapa aku bisa menduakanmu? Kau tahu aku hanya mencintaimu, tidak ada orang lain lagi yang kucintai selain dirimu. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?”
__ADS_1
“Aku tahu Honey, akupun sama. Hanya kaulah satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini. Tapi ...”
“Tapi apa? Jangan buat aku penasaran, Refald.”
“Kau benar- benar ingin tahu?” tanya Refald menatap wajah cantik istrinya. Ia sungguh suka menggoda Fey.
“Ehm, beritahu aku. Aku janji aku tidak akan menduakanmu apapun yang terjadi.” Fey semakin serius dengan ucapannya.
“Aku malah berharap kau mau membagi cintamu juga, Honey. Karena aku akan melakukan hal yang sama. Kita ... akan membagi cinta kita berdua untuk Refald kecil.”
“Tidak!” pekik Fey langsung. “Aku tidak mau membagi cintaku dengan siapapun apalagi untuk Re ... apa?” mata Fey jadi terbelalak melihat Refald yang terus saja tersenyum melihatnya. Kalau tidak salah dengar, tadi Refald mengatakan kata ‘Refald kecil’. Apa artinya ... "Refald, maksudmu ... aku ... ha-mil?"
“Iya Honey, kau memiliki Refald kecil.” Refald menyeringai senang. Ia memegang lembut perut rata Fey lalu menciumnya pelan. “Ada Refald kecil di dalam sini, Honey. Kau dan aku ... akan dipanggil ayah dan ibu beberapa bulan kedepan. Kau siap Honey?” Refald mencium mesra kening Fey yang langsung tertegun tak percaya.
Fey benar-benar shock berat. Ia tidak bisa menggambarkan betapa terkejutnya dirinya saat ini. Dari semua hal yang membuatnya terkejut, kabar kehamilannya adalah yang paling mengejutkannya. Ia bahkan sampai tidak bisa bersuara ataupun bergerak. Tubuhnya serasa mati kaku. Fey hanya bisa menangis saking bahagianya.
Refald yang melihat istrinya mulai beraca-kaca, langsung memeluk erat tubuh Fey. “Terimakasih, Honey. Akhirnya ... buah hati kita tercipta, sekarang kita hanya tinggal menunggu kehadirannya. Kau harus menjaga dirimu dengan baik, jangan sampai terluka ataupun kelelahan. Jangan banyak pikiran. Isirahatlah yang cukup. Aku akan melindungi dan menjagamu disetiap waktu. Kau juga harus banyak makan mulai sekarang. Aku akan memberimu banyak nutrisi yang kau butuhkan.” Refald mengusap lembut puggung istrinya.
Fey langsung melepas paksa pelukan Refald. “Disaat seperti ini kau masih sempat-sempatnya memikiran nutrisi? Apa kau tidak malu pada Refal kecil?”
“Bukan nutrisi itu, Honey. Kali ini, nutrisi sungguhan. Refald kecil harus berkembang dulu dengan baik baru aku akan mengunjunginya nanti. Besok kita akan memeriksakan kehamilan pertamamu ini. Kau harus menjaga makananmu dari sekarang, supaya buah hati kita lahir dengan sempurna dan juga sehat. Aku mencintaimu, Honey.” Refald kembali memeluk istrinya yang masih terpaku mendengar kabar kehamilannya sendiri. Rasanya sangat sulit dipercaya bahwa kini Fey telah berbadan dua.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1