Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 206 Perasaan Rosalinda Divani


__ADS_3

“Bagaimana keadaanmu, Honey. Kau baik-baik saja?” tanya Refald pada istrinya yang ikut menatap kearah jendela.


“Aku hanya terlalu terhanyut dengan kisah mereka, Suamiku. Aku bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Aku kira kisah cinta beda dunia hanya ada dalam cerita novel atau film saja. Kebanyakan dari kisah seperti itu berakhir sedih. Apakah pak Po dan kekasihnya akan berakhir seperti yang ada dalam cerita?” tanya Fey pada Refald.


Meski Refald tidak langsung menjawab, Fey yakin suaminya itu tahu seperti apa masa depan pak Po. Ia mengamati dengan seksama ekspresi Refald yang terlihat sangat tenang setenang permukaan air kolam. Tidak ada raut kesedihan ataupun kecemasan, itu artinya kisah cinta pak Po mungkin memiliki peluang berakhir bahagia.


Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Refald malah berjalan pelan dan membaringkan tubuh istrinya diatas tempat tidur. Refald menatap tajam wajah Fey yang kini ada di bawah tubuhnya.


“Aku butuh asupan energi lagi, Honey. Malam ini ... aku minta 5 ronde sekaligus untuk cadangan, karena apa yang akan aku lakukan besok, sangatlah berat.”


“Hah?” Fey melongo menatap wajah licik Refald yang menyeringai nakal didepannya. “Tunggu Refald, beri aku alasan kenapa kau gencar sekali bercinta denganku 5 ronde? Kau pikir aku robot apa?”


“Semakin kita sering bercinta, Energimu semakin terisi, Honey. Kau tidak akan kelelahan, sebaliknya kau akan bertenaga.”


“Kenapa bisa begitu? Mana ada orang bercinta habis-habisan itu semakin bertenaga, yang ada itu pingsan, kau jangan membuat teori yang bukan-bukan.”


“Honey, dalam sehari kita sudah bercinta berkali-kali, apa kau lelah? Tidak, kan? Selain itu, Aku ingin segera ada Refald kecil di perut indah ini. Secepatnya!” Refald memegang lembut perut rata Fey.


“Ada apa ini? Apa yang kau cemaskan sebenarnya? Kita tidak harus terburu-buru, kan?” Fey mencium ada gelagat yang tidak beres dengan Refald. “Katakan padaku, apa yang kau sembunyikan dariku?”


Refald tersenyum menatap istrinya yang semakin hari semakin menggemaskan saja, tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari Fey. Kerena Fey kini sangat peka terhadapnya.


“Leo sudah memulai aksinya, tidak lama lagi Shena akan menjadi miliknya dan kau tahu sendiri seperti apa Leo. Tidak butuh waktu lama bagi Leo untuk segera menikahi Shena.”


Penjelasan Refald membuat Fey jadi semakin berpikir, “Tunggu! Apa hubungannya kita punya anak dengan Leo yang akan menikah dengan Shena? Aku sama sekali tidak mengerti.”


“Pokoknya aku ingin segera punya anak sebelum Leo dan Shena menikah! Kau tahu aku sangat tidak suka didahului, apalagi oleh adik-adikku!” nada suara Refald agak meninggi dan tanpa ampun, Refald langsung menyerang Fey dengan ganas. Sebenarnya, Fey ingin protes, tapi ia tidak bisa menolak keinginan suaminya.


Malam ini, menjadi malam panjang antara Fey dan Refald untuk menikmati bulan madu ekstra yang dilakukan keduanya. Semalaman, mereka bergumul diatas kasur melakukan ritual maju mundur cantik untuk beberapa ronde. Kalau manusia normal biasa yang melakukannya, mungkin Fey sudah pingsan menghadapi kekuatan Refald. Namun tidak demikian halnya dengan Refald yang berbeda dari manusia yang lainnya, tentu saja cara honeymoonnya juga tak sama. Ekstrem, dan tidak masuk akal. Refald benar-benar ingin segera memiliki Refald kecil tanpa mau menunda lagi.


***


Setelah malam panjang yang syahdu menghiasi aura sepasang pengantin baru ala Refald dan Fey, keduanya langsung bergerak menyusun rencana untuk menyatukan pak Po dan juga Di. Hal pertama yang harus dilakukan Fey adalah menemui Di yang sedang berjualan bunga di toko bunganya.


“Selamat datang, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Di saat merasakan ada yang datang ke tokonya.


Wanita tunanetra itu memang tidak bisa melihat, tapi ia masih bisa merasakan dan mendengar seseorang yang ada disekitar mereka. Dengan kata lain, indra-indranya yang lain, sangatlah tajam.


“Miss Rosalinda Divani, bisa kita bicara?” tanya Fey langsung tanpa basa basi.


“Maaf, kalau boleh tahu, anda siapa?”


“Anda akan tahu sendiri nanti, ada hal yang ingin saya sampaikan. Ini ... mengenai Haerun Alfarezi.”


Rosalinda Di langsung tertegun mendengar nama yang tidak asing lagi baginya, itu adalah nama lengkap pak Po, kekasihnya yang selama ini selalu ada untuknya. Rasa tegang langsung menyelimuti hatinya. Dalam benaknya langsung muncul sejuta pertanyaan apalagi selama ini, tidak ada yang tahu mengenai hubungannya dengan pak Po. Jika wanita yang ada didepannya ini tahu, pastilah dia bukan wanita sembarangan.


“Siapa anda sebenarnya, bagaimana bisa anda tahu soal Ezi?” tanya Di setelah keduanya berada di tempat yang sepi.


“Ezi?” Fey ingin tertawa mendengar nama panggilan kesayangan untuk pak Po adaah Ezi. Namun iya berusaha menahannya. Sebisa mungkin Fey bersikap biasa meski dalam hati ia iri pada Refald yang kini mungkin sudah tertawa terbahak-bahak disana. “Ehm, dia kerabat saya, anggap saja begitu. Saya datang kesini hanya untuk memberitahu sesuatu kalau orang yang anda panggil sebagai Ezi, sebenarnya ... dia ....”


“Kenapa dia? Apa terjadi sesuatu? Sudah lama juga saya tidak melihatnya.” Di memotong kalimat Fey karena merasa cemas. Hal itu karena ia sangat merindukan kekasihnya yang sudah lama tidak ada kabar.


“Itulah yang ingin saya sampaikan, Nona. Sebenarnya ... pak, ehm maksudku ... Ezi ... sudah tiada sejak lama. Sosok yang selama ini selalu ada untuk anda, sebenarnya adalah makhluk astral tak kasat mata.” Fey memerhatikan wajah Rosalinda Di yang terlihat tenang saat Fey memberitahu kebenaran soal pak Po padanya.


Diluar dugaan, kekasih pak Po itu sama sekali tidak terkejut atau pun shock. Padahal, Fey sudah bersiap-siap untuk menenangkan dan menguatkan hati jika sampai Di jadi histeris setelah mendengar kekasihnya ternyata berbeda dunia dengannya. Namun sepertinya, hal itu tidak akan pernah terjadi, sebab Di malah tersenyum simpul mendengar fakta yang diberitahukan Fey padanya.


Tentu saja ekspresi Di membuat Fey mengernyitkan alisnya. “Jangan bilang, anda sudah tahu, kalau pak ... maksudku, Ezi ....” Fey berusaha menebak.


“Saya tahu, Nona ....”

__ADS_1


“Nyonya Refald Dilagara,” ralat Fey dengan cepat karena status Fey kini bukanlah single lagi, tetapi sudah bersuami.


“Maaf, Nyonya Refald. Saya tidak tahu kalau anda sudah menikah.”


“Tidak apa-apa, kami juga baru saja menikah kemarin.”


“Oh, selamat untuk pernikahan kalian, semoga kalian bahagia.”


“Terimakasih, jadi ... anda ....”


“Benar, saya sudah tahu. Pasti anda adalah Putri yang sering dibicarakan Ezi pada saya. Dan suami anda adalah pangerannya.”


“Hah? Tapi pak Po ... ehm maksudku, Ezi bilang anda tidak tahu kalau dia sebenarnya ....”


“Dia memang tidak bilang kalau dia sudah tiada sejak lama, tapi dia memberitahu saya bahwa dia adalah seorang pengawal setia pangeran dan putrinya. Awalnya saya bingung, dizaman modern seperti ini ada seorang pangeran dan putri hidup dikalangan rakyat jelata tanpa harus selalu dijaga oleh pengawalnya. Setahu saya, Pangeran dan Putri hanya ada di Inggris dan beberapa negara tertentu saja yang keberadaannya juga dikawal ketat dan tidak diperbolehkan keluar istana sembarangan. Belum lagi sejuta peraturan yang harus ditaati oleh seorang pangeran dan putri raja. Tapi berbeda dengan pangeran dan putri yang Ezi kawal, mereka bebas melakukan apa saja dan pergi kemanapun mereka mau tanpa terikat aturan dan hidup bebas layaknya rakyat jelata tanpa takut apapun. Hal itu membuat saya berpikir, pasti ada sesuatu yang berbeda disini. Sampai akhirnya saya menyadari, bahwa Ezi ... bukanlah manusia.”


“Kapan itu terjadi?” tanya Fey sambil menatap tajam kekasih pak Po. Sebenarnya, ia terkesima mendengar penjelasan panjang lebar dari wanita yang duduk tenang dihadapannya. Namun, ia harus tetap tenang untuk mempelajari situasi.


“Entahlah, saya tidak begitu ingat kapan persisnya saya mengetahui siapa Ezi. Yang jelas pada saat itu, saya benar-benar terkejut, tapi saya... tidak bisa menghindarinya. Berkali-kali Ezi menyelamatkan nyawa saya dari orang-orang yang berbuat jahat pada saya. Ia selalu melindungi dan menjaga saya, cuma Ezi satu-satunya sosok yang saya miliki sekarang, dan saya ... sangat mencintainya. Tidak peduli siapapun dia ... saya tetap mencintainya.”


Fey tersenyum lega mendengar kata-kata Rosalinda Di, seorang wanita tunanetra berparas cantik dan juga berhati baik itu ternyata sangat mencintai pak Po. Meskipun ia tahu pak Po bukan manusia, cinta Di pada makhluk astral pasukan suaminya, tak pernah pudar. Dari pembicaraan ini, Fey akhirnya mengerti ending dari kisah cinta beda dunia ini.


“Baiklah, sepertinya kecemasan saya terlalu berlebihan. Saya sangat menyukai anda Nona, mungkin kedengarannya aneh, tapi dari lubuk hati saya yang terdalam, anda adalah wanita yang paling pantas menjadi pendamping pak Po.”


“Pak Po?” Di bingung mendengar nama pak Po.


“Maksud saya ... Ezi, kami biasa memanggilnya pak Po. Jangan meminta saya menjelaskan apa arti dari nama itu karena anda tidak akan tahu. Di negara anda ini tidak ada makhluk seperti pak Po.” Fey bangkit dari kursinya dan hendak pergi.


“Tunggu, Nyoya Refald. Boleh saya bertanya satu hal pada anda?” Di ikut berdiri untuk mencegah kepergian Fey.


“Iya, silahkan!”


Fey berkaca-kaca dan hampir menangis mendengar ucapan Rosalinda Di yang rela mati agar bisa bersama dengan pak Po. Jika wanita ini tiada, maka keduanya memang bisa bersama. Tapi Fey yakin, Refald dan pak Po tidak akan setuju kalau Di memilih mengakhiri hidupnya yang berharga hanya demi bisa bersama dengan pak Po. Dua pria itu tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya, mati untuknya. Karena itu Fey harus mencari cara lain dan sebuah ide terlintas dikepalanya.


“Tidak ada yang tidak mungkin, Nona. Anda tidak harus mati sekarang, karena hidup anda sangatlah berharga. Kalian berdua masih bisa menikah meskipun dunia kalian berbeda.”


“Benarkah?” mata Di langsung berbinar-binar. “Anda yakin saya tidak perlu mati? Tapi bagaimana caranya?”


“Caranya mudah.” Fey memancarkan kilatan mata elangnya yang menawan. “Kita hanya perlu bermain drama.” Istri Refald itu tersenyum manis semanis madu.


****


Setelah berbincang-bincang dengan kekasih pak Po. Fey keluar dari tempat mereka berbicara dan berjalan pelan menuju ke tempat Refald yang sejak tadi menunggunya. Ditengah jalan, tiba-tiba saja ada beberapa laki-laki bule menghadang jalannya dan mengajak Fey berkenalan secara langsung.


“Halo, Nona. Bolehkah aku berkenalan dengan wanita secantik dirimu?” ujar laki-laki bule itu sambil mengulurkan tangan kanannya.


Fey memerhatikan Refald yang sedang menatap tajam ke arah pria bule itu. “Maaf, Mr. Saya sudah bersuami, dan laki-laki tampan yang berdiri dibelakang anda, adalah suami saya.” Fey menunjuk Refald dengan dagunya.


Pria bule itupun berbalik badan menatap pria yang dimaksud Fey sebagai suaminya. Seketika nyalinya pun langsung ciut setelah melihat Refald yang jauh lebih gagah dan tampan berdiri menatapnya. Dengan cepat, Refald berjalan lalu berdiri diantara Fey dan pria bule yang berani mengajak Fey berkenalan.


“Kita pergi dari sini, Honey.” Refald memeluk Fey dan mencium keningnya untuk memperlihatkan pada para pria-pria bule disini bahwa Fey adalah wanitanya dan siapapun tidak akan bisa merebut istri cantiknya darinya.


“Ayo, aku juga sudah selesai di sini. Aku ingin pulang.” Fey pun membalas kecupan Refald dibibirnya sehingga menambah panaslah pria bule yang melihat adegan mesra keduanya.


Refald tersenyum senang, ia langsung merangkul bahu istrinya dan mengajaknya pergi meninggalkan para pria bule yang berdiri dibelakang mereka. Semuanya, hanya bisa gigit jari menyaksikan kepergian Fey dan Refald.


“Apa yang akan kau lakukan, Honey?” tanya Refald saat istrinya masuk ke dalam mobil sportnya. Kini keduanya sudah kembali ke Indonesia.


“Kita pulang kerumah nenek dulu, sejak menikah denganmu aku belum bertemu dengan Nenek.” Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Fey malah memintanya mengantar kerumah neneknya.

__ADS_1


Tanpa bicara lagi, Refaldpun menuruti keinginan istrinya. Ia sendiri juga bingung karena tak bisa lagi mendengar apa yang dipikirkan istrinya. Sepertinya Fey tahu cara kapan ia diperbolehkan mendengar pikirannya dan kapan ia tidak boleh mendengarnya.


“Honey, sebenarnya ... apa yang sedang kau lakukan?” tanya Refald sekali lagi sambil fokus menyetir.


Hari ini Fey memintanya untuk pergi berkendara kerumah neneknya karena ia bosan kalau harus langsung clang cling clang cling saja. Sesekali Fey ingin menghirup udara segar dijalanan.


“Apanya? Aku tidak melakukan apa-apa? Memangnya apa yang aku lakukan?” Fey malah balik bertanya sambil menikmati pemandangan sekitarnya.


Sudah lama juga ia tidak jalan-jalan bersama Refald seperti ini. Apalagi sejak ia menikah. Refald hanya mengajaknya clang cling saja kesana kemari seperti jin dalam teko. Dalam sekejab, ia bisa berada dimanapun tanpa harus menempuh perjalanan jauh.


“Kalau begitu ... kenapa aku tidak bisa membaca pikiranmu, bahkan aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang.”


Fey terkejut suaminya bicara seperti itu. “Apa ... maksudmu tidak bisa membaca pikiranku?”


“Bukan tidak bisa, terkadang aku bisa membaca pikiranmu, tapi kadang juga tidak bisa, seperti sekarang ini. Beberapa waktu lalu aku bisa mendengar pikiranmu, tapi setelah itu tidak bisa lagi.”


“Tunggu! Maksudmu, kau bisa membaca pikiranku jika aku menginginkannya, tapi kau tidak bisa membaca pikiranku jika aku tidak mengizinkannya, begitu?”


“Sepertinya begitu, huh ... kau punya kekuatanku sekarang. Semakin sering kita bercinta, semakin kuat kekuatan yang kau punya, Honey. Begitu juga denganku. Sekarang aku tahu inilah hadiah yang diberikan leluhur kita 3 tahun yang lalu, saat ditepi danau waktu itu. Kau ingat?”


“Apa?” Fey benar-benar terkejut kali ini.” Aku memiliki kekuatanmu?”


“Kau mau mengetesnya?” tantang Refald.


“Tidak, nanti saja. Aku ingin bertemu dengan Nenek dulu.” Meski ini sulit dipercaya, tapi Fey sangat senang jika memang benar ia memiki sedikit kekuatan suaminya. Gadis itu memalingkan wajahnya dari Refald untuk menyembunyikan rasa bahagianya.


Yes! Akhirnya Refald tidak bisa membaca pikiranku, kini aku bebas memikirkan apa yang aku suka, jerit Fey dalam hati.


“Meski aku tidak selalu bisa membaca pikiranmu, Honey. Aku akan selalu mengawasimu, awas saja kalau kau sampai memikirkan laki-laki lain selain suamimu!” ancam Refald.


“Apa cuma itu yang kau pikirkan tentang aku? Kalau aku niat berpaling darimu, sudah kulakukan dari dulu, kenapa harus menunggu sekarang? Dasar menyebalkan!” Fey kesal karena Refald selalu saja cemburu untuk hal yang tidak pernah dan tidak akan bisa ia lakukan.


“Itu karena aku punya istri yang luar biasa mengagumkan. Kau mungkin tidak tahu, aku benar-benar kesal melihat tatapan para laki-laki lain setiap kali mereka melihatmu dimanapun kau berada. Ingin rasanya aku membunuh mereka semua karena telah berani melihatmu bahkan berpikiran ingin memilikimu. Aku tidak bisa terima itu.” Refald memukul-mukul kemudi mobilnya untuk melampiaskan kekesalannya.


“Hal itu juga berlaku untukmu! Kau tidak tahu betapa kesalnya aku setiap kali ada wanita lain yang mencoba mencari perhatianmu. Aku sadar, kau memang luar biasa tampan, wajar jika semua kaum hawa tertarik padamu. Itu artinya mereka semua normal, tapi aku tidak pernah mengancammu seperti yang kau lakukan padaku. Kau tahu kenapa? Karena aku tahu kau sangat mencintaiku melebihi apapun. Harusnya kau juga tahu bahwa hanya kaulah satu-satunya pria yang aku cintai didunia ini, tidak ada yang lain.”


Tanpa Fey duga, Refald menepikan mobilnya dipinggir jalan dan langsung mencium istrinya dengan mesra.


“Refald, apa yang kau lakukan? Kau sudah, gila? Ini di tempat umum, bagaimana kalau ada yang melihat kita?” tanya Fey berusaha melepaskan pelukan Refald.


“Aku tidak peduli!” Refald langsung menyerang Fey lagi.


“Hentikan! Kita hampir sampai di rumah nenek, aku akan melayanimu setelah aku bicara dengan nenekku. Aku janji, jangan lakukan disini! Malu, tahu!” Fey jadi manyun melihat sikap nggak ada akhlak Refald.


“Kau janji, Honey?” Refald menatap tajam mata istrinya.


“Janji!” Fey mengangkat tangannya membentuk huruf V agar Refald percaya padanya.


Gila saja? Masa iya Refald mengajaknya melakukan ritual maju mundur cantik dipinggir jalan begini? Apalagi Fey baru sadar kalau tempat ini adalah tempat pertama kali Fey bertemu dengan Refald. Sebuah tempat yang menjadi kenangan dimana Refald mencipratinya dengan genangan air kala itu dan ia langsung dikejar-kejar banteng. Kenangan manis dan menegangkan itu, akan selamnya teringat dalam benak Fey dan Refald.


BERSAMBUNG


***


Maaf kalau episodenya panjang banget ya ... nanti aku up lagi ...



__ADS_1


__ADS_2