Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 93 Rembang Petang (Twilight)


__ADS_3

“Kita harus segera pergi dari sini, ada hal yang lebih penting sekarang. Akan aku jelaskan padamu di jalan.” Tanpa peringatan, Refald menggendongku dan berlari melesat kencang agar kami bisa cepat sampai di mobil volvonya.


Dalam hitungan detik, kami pun sampai di mobil Refald yang masih terparkir rapi ditempatnya. Refald menurunkanku dan membukakan pintu mobil untukku tanpa bicara sepatah katapun. Setelah itu, ia berputar cepat dan masuk ke dalam mobil sambil menyalakan mesinnya. Raut wajah Refald terlihat tegang sekaligus membuatku bingung dengan gelagatnya yang tampak tak biasa.


“Refald tolong jelaskan padaku, ada apa ini? Jangan membuatku takut?” Aku berharap Refald mau bicara dan menjelaskan semua ini.


“Peganglah yang erat, Honey. Aku akan ngebut,” ujar Refald sambil meningkatkan kecepatan laju mobilnya. Aku pun mengikuti perintahnya dan berpegang erat pada gagang yang ada di atas kepalaku meski Refald tak langsung menjawab pertanyaanku. “Bayangan hitam itu, adalah suatu pertanda buruk. Mereka adalah makhluk astral pembawa pesan buruk kepada siapa saja yang melihatnya.” Refald mengatakannya dengan nada penuh amarah. “Aku tidak menyangka, salah satu dari mereka berani menghampirimu. Padahal jelas-jelas mereka tahu kalau kau adalah pengantinku. Siapapun yang berusaha mengganggumu, berarti berurusan denganku dan para pasukanku.”


“Maksudmu, orang yang melihat bayangan hitam itu berarti akan mati?” aku mencoba menerka.


“Lebih tepatnya akan mengalami hal buruk entah itu kecelakaan atau hal-hal buruk lainnya, yang jelas bukanlah hal yang baik. Namun, tidak harus berujung dengan kematian. Kebanyakan adalah peristiwa kecelakaan, atau tindakan kriminalitas yang akan menimpa seseorang itu, tapi tidak pasti juga. Kau bilang, kau sudah melihatnya tadi pagi bersama Yua. Itu artinya, Yua sekarang ... juga sedang dalam bahaya.” Kata-kata Refald langsung mengejutkanku.


“Apa?” aku langsung shock sampai mulutku menganga tanpa sadar. “Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi pada Yua?” tanyaku panik dan hampir saja menangis membayangkan akan ada hal buruk yang menimpa Yua.


“Tenanglah, Honey. Makanya aku harus segera menemukan, Yua. Sekarang pasukanku sedang mencari-cari keberadaannya. Semoga saja, kita tidak datang terlambat.” Refald masih saja fokus menyetir.


Saking paniknya, aku tidak sadar bahwa kecepatan mobil Refald kini sudah mencapai maksimum. Aku merasa, kami berdua seolah sedang terbang di udara bukan berada di dalam mobil lagi.


“Tidak mungkin, kenapa harus Yua? Apakah aku ...”


“Jangan mulai lagi.” Refald memotong kata-kataku. “Semua yang terjadi tidak ada sangkut pautnya denganmu. Ini adalah takdir yang harus dialami Yua, dan kita masih bisa menyelamatkannya.” Aku tahu Refald pasti berusaha menenangkanku dengan berkata seperti itu. Sebab, aku tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang menimpa Yua saat ini, dan aku sangat mencemaskan keadaannya.


“Apa kau tahu apa yang sedang terjadi padanya?” tanyaku pada Refald untuk mengurangi rasa penasaranku.


“Sedikit, karena aku bisa membaca pikiran Via.”

__ADS_1


“Via?” Aku terkejut Refald mengungkit nama Via. “Apa maksudmu? Jangan-jangan Via lah yang mencelakai, Yua. Kenapa kau tidak bilang lebih awal, tadi? Apa kita perlu lapor polisi?”


“Tidak! Jangan dulu.” Refald langsung melarangku.


“Kenapa?” tanyaku setengah berteriak karena usulku ditolak Refald mentah-mentah. Padahal, aku sudah panik setengah mati mencemaskan keadaan sahabatku, Yua.


“Honey, pikiran seseorang itu relatif. Aku tidak bisa memastikan setiap pikiran orang yang akan melakukan sesuatu karena bisa saja, dalam hitungan detik pikiran itu bisa berubah-ubah. Namun, begitu pikiran itu sudah dipastikan, baru aku bisa mengambil tindakan. Dan itupun terjadi sedetik sebelum orang itu mematenkan apa yang akan ia lakukan. Bayangkan saja, dalam sedetik Via memutuskan untuk mencelakai Yua sedangkan posisi kita saat ini tidak ada di dekat Yua, kau paham maksudku, kan? Tidak mungkin kita 24 jam harus mengawasi Yua, yang ada dia malah akan merasa risih denganku atau pasukanku. Lagipula, kita tidak punya bukti nyata tentang apa yang dilakukan Via pada Yua.”


Apa yang dikatakan Refald memang benar. Tidak akan ada yang percaya dengan kekuatan Refald saat ini. Apalagi ini adalah zaman modern yang tidak banyak orang mau memercayai hal-hal ghaib seperti Refald saat ini. Hal semacam ini hanya ada di cerita atau film saja, sama sekali tidak ada di dunia nyata. Para polisi dan yang lainnya pasti akan menganggap aku gila jika aku menceritakan yang sebenarnya tentang kekuatan yang dimiliki Refald.


“Aku tidak begitu paham dengan cara kerja kekuatanmu, tapi kurang lebih aku bisa mengerti sedikit. Lalu bagaimana sekarang? Apa kau sudah menemukan keberadaannya?” tanyaku dengan harap-harap cemas.


Refald tidak menjawab, sekilas aku melihatnya memejamkan mata untuk merasakan sesuatu yang tak dapat aku rasakan.


“Dia ada di dalam sebuah gudang. Sepertinya itu adalah sebuah pabrik kosong yang sudah lama ditinggalkan. Hari sudah semakin gelap, apapun yang akan aku lakukan nanti kau harus tetap berada disisiku, jangan pernah pergi dariku, kau mengerti!”


Refald melajukan mobilnya ke arah gudang sebuah pabrik yang ia maksud tadi.


Kami sampai ditempat itu tepat di saat twilight (rembang petang). Refald dan aku turun dari mobil dan mengamati sekeliling. Tempat ini sangat sepi dan tak berpenghuni. Sebenarnya tempat ini juga sangat menakutkan. Jika saja aku tidak ingat kalau ada Refald di sini, pasti aku sudah menjerit dan lari terbirit-birit.


“Ayo!” ajak Refald sambil memeriksa satu persatu setiap tempat yang kami lewati dengan mata tajamnya. Dan akupun mengekor dibelakangnya penuh harap-harap cemas.



Samar-samar, aku mendengar suara tangisan seseorang yang aku yakini itu pasti suara Yua. Kami berdua saling pandang dan langsung berlari ke arah sumber suara itu.

__ADS_1


Refald langsung menghancurkan sebuah pintu gudang hingga rusak parah hanya dengan menggunakan satu kakinya dan mengagetkan semua orang yang ada di dalamnya. Aku tercengang melihat betapa kerennya tunanganku saat ia menunjukkan kekuatannya didepanku. Namun, ini bukan saatnya mengagumi kekuatan Refald. Begitu gudang terbuka, aku langsung mencari sosok Yua yang ternyata sedang diikat disebuah kursi dan mulutnya disumpal dengan kain sehingga ia tidak bisa bicara. Yua terlihat sangat berantakan dan mengalami beberapa luka lebam diwajahnya, mungkin luka itu ia dapat dari orang-orang gila ini yang sudah berani menyakiti temanku.


Tanpa bicara, Refald langsung berlari menghajar semua orang-orang yang ada di dalam gudang itu tanpa ampun. Sedangkan aku, berlari ke arah Yua untuk membebaskan ikatannya.


“Yua! Kau tidak apa-apa?” tanyaku yang tiba-tiba saja menangis melihat kondisi Yua yang berantakan. Aku berusaha kuat dan cepat agar Yua bisa terbebas dari ikatan yang melilit di hampir semua tubuhnya. Yua juga menangis sekaligus senang saat melihatku datang. Aku membuang kain yang menyumpal Yua agar ia bisa kembali bicara.


“Fey! Syukurlah kau datang!” isak Yua sambil gemetar ketakutan karena terlalu shock dengan apa yang menimpanya saat ini.


Aku memeluk Yua untuk menenangkannya meski aku sendiri juga sangat terkejut melihat situasi yang mengerikan ini, tapi aku tidak boleh terbawa perasaan. Seperti yang sudah dikatakan Refald tadi bahwa ini sudah takdir yang harus kami terima.


Selagi Refald membereskan semua orang-orang yang sudah membuat Yua jadi begini, aku pun mencoba kembali membuka ikatan Yua sekaligus menenangkannya agar ia tidak panik lagi. “Sudah tidak apa-apa Yua. Ada Refald di sini. Kau aman sekarang, oke.”


Yua masih menangis tapi aku yakin ia juga lega melihat kedatangan kami. Apalagi sebagian besar orang-orang jahat yang menyakitinya itu sudah berhasil dikalahkan oleh Refald.


Setelah susah payah aku melepas tali yang mengikat tubuh Yua, akhirnya temanku bisa kembali berdiri tegak dan melemaskan tubuhnya. Namun, kesialan kami ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu. Tiba-tiba dari belakangku ada salah satu preman yang mencoba memukulku dengan parang. Yua berteriak sangat kencang karena ia yang melihat bagaimana parang itu melesat mengarah lurus padaku.


Aku pun berbalik badan dan menatap tajam parang yang melayang ke wajahku. Tidak ada waktu untuk shock ataupun terkejut karena sudah dipastikan dalam hitungan detik, benda tajam itu pasti sudah akan membelah kepalaku jadi dua. Entah kenapa tiba-tiba saja, aku merasa siap menghadapi kematian jika memang inilah takdir dari akhir hidupku.


Refald, apakah ini adalah takdirku? Karena sudah melihat pesan dari makhluk astral hitam itu? batinku sambil menatap tajam parang itu.



BERSAMBUNG


****

__ADS_1


Sekali lagi ini adalah dunia fantasi dari kehaluanku ... jika ada hal yang tidak masuk akal diceritakan di sini, itu murni karena temanya ada adalah dunia fantasi yang nggak mungkin ada di dunia nyata. semoga suka dengan fantasiku ya .. love you all


__ADS_2