
Shena keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Refald yang juga baru saja keluar dari kamar Leo. Gadis itu langsung berlari menyongsong Refald untuk menanyakan bagaimana keadaan Leo saat ini.
Seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Shena, Refald langsung memberitahu informasi kondisi terkini Leo.
"Dia baik-baik saja, saat ini ia sedang dalam pemulihan, untung lukanya tidak terlalu dalam. Dia hanya kehilangan banyak darah, tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Bocah tengik itu baik-baik saja. Dia sangat kuat lebih dari yang kau bayangkan. Kau tidak perlu khawatir. Aku juga memberikan tambahan darah padanya sehingga semua aman terkendali."
"Darah? Tapi ... di tempat ini ...."
"Tadi anak buahku datang mengantarkan kantong darah dari rumah sakit terdekat yang ada disekitar wilayah ini. Aku kira kau sudah tahu karena ia baru saja pulang?" Refald terpaksa harus menggunakan panggung sandiwara sebagai dokter untuk menutupi siapa Refald sebenarnya.
Padahal tidak ada siapapun yang datang kemari. Refald mengobati Leo dengan menggunakan kekuatannya. Alasan kenapa ia tidak membawa Leo kerumah sakit, karena luka Leo bukanlah luka biasa, dan Refald tidak mungkin menjelaskan kepada dokter dirumah sakit kalau Leo habis diserang iblis yang merasuki Shena. Bisa-bisa Refald dikira orang gila. Karena tidak banyak orang yang percaya hal semacam itu. Apalagi di dunia medis.
Sementara dari kejauhan, Fey hanya menahan senyum melihat akting Refald sama sekali tidak meyakinkan untuk berperan sebagai dokter.
"Dasar payah, dan ia sama sekali tidak cocok menjadi aktor," gumam Fey. Ia langsung mendapat lirikan tajam dari mata Refald yang bisa mendengar gerutuannya.
Menyadari kalau Refald sedang menatapnya, Fey langsung buang muka.
"Mungkin aku sedang ada di kamar mandi tadi," ujar Shena percaya saja pada Refald. "Bolehkah aku melihatnya sekarang?" tanya Shena berharap diizinkan.
"Kau yakin tidak apa-apa? Kau tidak merasakan sesuatu yang aneh ditubuhmu?" Refald heran karena Shena terlihat baik-baik saja tidak seperti sebelumnya.
Saat makhluk astral merasuki tubuh Shena dan berhasil dikeluarkan, maka secara spontan, tubuh Shena akan lemas tak berdaya seperti waktu itu. Namun kali ini berbeda, Shena hanya mengalami shock ringan dan ia tidak terlihat lemah sama sekali. Dan itu aneh sekali untuk manusia biasa seperti Shena.
"Aku baik-baik saja, Kak. Terimakasih," jawab Shena lirih.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Refald mengizinkan Shena menemani Leo yang masih tertidur pulas. Tentu saja atas perintahnya, sebab begitu Refald menyembuhkan kembali luka Leo, cowok itu langsung sadar. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Refald menyuruh Leo untuk pura-pura tidur saja.
"Baiklah, masuklah! Aku pergi dulu, panggil saja istriku jika kau butuh sesuatu." Refald berjalan mendekati istrinya, setelah mendapat anggukan bahagia dari Shena. "Kau ikut denganku Honey," ajak Refald.
"Tunggu dulu, aku mau ada di sini sebentar."
Refald mengernyitkan alisnya melihat istri tercintanya lebih memilih duduk di sofa sambil membuka sebuah kaset CD daripada menuruti ajakannya.
Sedangkan Shena langsung masuk ke dalam kamar dan mendapati Leo terbaring lemah diatas kasur dengan dibalut perban disekujur tubuh bagian atasnya. Shena hanya bisa mengatupkan kedua tangannya diwajahnya. Ia sama sekali tidak menyangka Leo bisa jadi seperti ini.
Perlahan, gadis itu duduk disamping Leo sambil mencoba menggenggam erat tangan Leo. Bulir air mata mulai jatuh membasahi tangan besar orang yang sudah berkali-kali menyelamatkan nyawanya bahkan sampai rela berkorban nyawa.
"Dasar bodoh, kenapa kau tidak melawanku saat aku kerasukan, kau itu gengster ... kenapa jadi seperti ini?" isak Shena.
Bayangan saat Leo terus berusaha menyadarkan Shena terngiang jelas diingatan gadis itu. Shena terus saja menangis kala ingat betapa sadisnya iblis yang merasukinya sehingga berkali-kali melukai Leo dan cowok ini sama sekali tidak melawan. Leo tahu jika sampai ia menyakiti Shena yang sedang kalap, pasti saat Shena sadar ia akan tetap merasakan sakit dan Leo tidak mau itu terjadi pada Shena. Karena itulah, Leo lebih memilih terluka daripada Shena yang kesakitan.
"Jangan menangis lagi," erang Leo. "Aku sudah tidak apa-apa." Suara Leo langsung membuat Shena tertegun.
__ADS_1
Shena masih belum percaya kalau Leo sudah sadar, apalagi secepat ini. Tadinya Shena pikir Leo bakal lama sadarnya melihat seberapa parah lukanya.
"Kau sudah sadar?" tanya Shena. Spontan ia melepaskan genggamannya. Buru-buru ia mengusap sisa air mata yang mengalir membasahi pipi lembut Shena.
"Kau membasahi tanganku dengan air matamu, bagaimana aku tidak sadar?" Leo berusaha bangun dan bersandar di dinding ranjangnya. Cowok itu tersenyum senang menatap Shena.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Shena mulai sedikit takut dengan tatapan mata Leo.
Leo tidak menjawab pertanyaan Shena. Ia memberi kode dengan mengayunkan salah satu tangannya supaya Shena mau mendekat ke arahnya. Tanpa curiga, Shena pun mengikuti arahan Leo untuk mendekatinya.
Begitu wajah keduanya dekat, Leo berkata, "Aku sudah tidak mau menahannya lagi, malam ini ... biarkan aku mencintaimu dengan sepenuh hati ... untuk selamanya." Leo langsung mencium bibir Shena dan mengisapnya lembut sehingga membuat mata gadis itu terbelalak karena terkejut mendapat serangan dadakan dari Leo.
Namun tak dapat dipungkiri, dalam hati sanubari Shena, ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Leo saat ini. Shena pun membalas ciuman maut Leo. Mereka berdua saling mengisap bibir masing-masing dengan mesra sehingga suasana syahdu menyelimuti dua insan yang sedang gencar memadu kasih.
Keduanya akhirnya saling mencurahkan perasaan cinta mereka di tengah alunan lagu yang sengaja Fey putar di luar ruangan untuk menambah kesan romantis yang terjadi diantara Leo dan Shena. Refald hanya bengong menatap ulah istrinya seakan tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar Leo.
"Untuk apa lagu itu?" tanya Refald yang berdiri dibelakang Fey.
"Lagunya cocok untuk mereka berdua," ujar Fey sambil tersenyum senang.
"Kenapa judulnya 'goodbye'?" cetus Refald.
Senyum mengembang di wajah Fey langsung hilang begitu mendengar pertanyaan Refald.
Sejujurnya, Fey menyukai aura cinta diantara Leo dan Shena sehingga ia sedikit tidak rela jika cinta yang baru bersemi diantara mereka berdua harus dihapus semua dan hanya meninggalkan kenangan indah diingatan Fey sendiri. Leo dan Shena, tidak akan pernah mengingat lagi momen indah nan romantis mereka setelah ingatan mereka dihapus oleh Refald.
Refald yang tadinya keki dengan ulah jail istrinya jadi trenyuh juga melihat wajah murung Fey. Tanpa peringatan, Refald menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar yang bersebalahan dengan kamar Leo dan Shena.
Refald membaringkan tubuh Fey diatas ranjang dengan pelan lalu mencium kening istrinya dengan mesra. Cahaya sinar mentari yang mulai tenggelam membuat suasana antara Refald dan Fey tak kalah romantis dari Shena dan Leo disebelah. Refald mendaratkan bibirnya di bibir Fey dengan penuh cinta yang membara, keduanya saling mengisap lembut bibir pasangan mereka masing-masing. Fey mulai terhanyut dalam gelora cinta Refald. Ia bahkan sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya sendiri.
"Hentikan, Refald. Kekuatanmu bisa hilang jika kita melakukannya sekarang." Fey mulai tersengal-sengal saat Refald menghentikan ciumannya. Refald mencium mesra kening Fey dan bangun dari atas tubuh istrinya.
Karena waktu sudah memasuki rembang petang, Refald menyalakan lilin disekitar ruangan.
"Kenapa kau tidak menyalakan lampu saja? Malah menyalakan lilin," protes Fey.
"Memangnya cuma Leo dan Shena saja yang bisa romantis? Aku juga bisa." Refald melirik Fey dengan tatapan mencurigakan.
"Kau tidak kembali ke Korea?" tanya Fey heran.
"Aku sedang menunggu kedatangan calon suami Zaya di vilanya yang ada di negara ini. Aku sudah meninggalkan pesan sebelum aku datang kemari. Jadi, aku tinggal menunggunya. Dengan kata lain, aku punya banyak waktu bermain denganmu." Refald kembali duduk disebelah istrinya dan menciumnya lagi dengan mesra disaksikan oleh cahaya lilin yang menari-nari seolah ikut bahagia merasakan aura cinta Fey dan Refald.
***
__ADS_1
Sementara di kamar sebelah juga ada adegan tak kalah hot dari kamar yang ada disampingnya. Shena mengakhiri ciumannya dan mundur menjauh dari Leo. Gadis itu hanya menunduk tanpa berani menatap wajah Leo. Ia juga merasa ada yang aneh dengan semua ini.
Baru kemarin Shena membenci Leo, tapi sekarang malah sebaliknya. Shena tidak tahu apakah perasaan yang dirasakannya saat ini adalah cinta atau hanya rasa bersalah karena sudah membuat Leo jadi seperti ini.
"Ada apa?" tanya Leo dan menyentuh dagu Shena supaya bisa menatap wajah cantiknya.
"Entahlah, aku merasa apa yang terjadi saat ini seperti mimpi. Kau dan aku ... hubungan kita ... ini jelas tidak mungkin terjadi."
"Kenapa?"
"Leo, duniamu ... dan juga duniaku sangat berbeda ... terutama strata kita. Aku yakin, hubungan kita ini tidak akan berhasil. Aku memang tidak tahu apapun tentangmu, latar belakang keluargamu dan lain sebagainya, aku sama sekali tidak tahu. Dan aku merasa ... kasta kita berbeda. Aku akui ... aku ... mulai menyukaimu, tapi jika harus berjalan bersamamu dan menghadapi badai yang menerjang hubungan kita terlepas dari dunia kita yang berbeda kasta ... aku tidak sanggup." Lagi-lagi, Shena menundukkan kepalanya. Sedangkan Leo hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dirasakan Shena saat ini.
"Kemarilah, kau terlalu lelah ... tidurlah didekapanku malam ini saja," pinta Leo dengan tenang.
"Bagaimana kalau aku semakin jatuh cinta padamu dan menginginkan lebih dari ini?" Shena terlihat sangat cemas dan juga bingung. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Apakah karena efek habis kerasukan makanya ia jadi baper begini?
Shena bahkan tidak mengerti apa sebutan situasi yang ia hadapi sekarang. Sebab, ini terlihat seperti cinta satu malam saja. Begitu mereka berdua kembali ke kampus, Shena tidak yakin hubungannya dengan Leo, bakal diterima oleh semua orang yang ada di kota metropolitan itu karena perbedaan kasta diantara keduanya.
"Duduklah di sampingku, Shena ... aku memang tidak tahu apa yang terjadi setelah malam ini. Yang jelas ... aku ingin menggunakan waktu yang tersisa untuk merasakan cinta ini bersamamu. Tidak Masalah jika sekarang kau jatuh cinta padaku. Tidak ada yang salah dengan rasa itu. Kau bisa memilikiku malam ini, seutuhnya, tidak peduli apa yang akan terjadi besok. Kau dan aku ... bisa saling memiliki, walaupun ini hanya mimpi." Leo menatap sendu mata Shena. Ia tahu kalau sebentar lagi, Refald pasti akan menghapus ingatannya dan Shena. Namun, ia percaya satu hal, cinta Shena padanya tidak akan pernah hilang meski jika gadis itu membenci dirinya lagi begitu ingatannya akan kebersamaan mereka saat ini telah dihapus permanen.
Begitu nanti Leo mulai jatuh cinta lagi pada Shena, maka saat itulah Leo akan melakukan segala macam cara untuk membuat Shena juga jatuh cinta padanya. Itulah janji yang ia ungkapkan dan sudah ia pesankan pada Roy untuk selalu mengingatkannya tentang siapa Shena.
Perlahan, Shena mendekat ke arah Leo dan mulai merebahkan kepalanya di dada Leo. Leo sendiri juga langsung memeluk erat Shena.
Apa yang dikatakan Leo saat ini memang benar, Shena butuh istirahat sebentar untuk menenangkan hati dan pikirannya agar lebih rileks dan tidak tegang lagi. Leo membaringkan tubuh gadis di sampingnya sambil memeluk mesra Shena.
"Dengarkan aku Shena, tidak peduli seberapa besar kau membenciku nanti ... aku tetap akan terus mencintaimu karena cuma kamulah satu-satunya wanita yang aku inginkan untuk mendampingiku sampai akhir hayatku. Tidak akan ada wanita lain selain dirimu." Leo mengecup kening Shena sampai gadis itu memejamkan matanya. Shena benar-benar terhanyut oleh kata-kata manis Leo.
Biarlah tetap seperti ini meskipun ini hanya mimpi, berada didekapan Leo adalah mimpi terindah dalam hidupku, batin Shena.
Leo sendiri juga tidak tahu, begitu ingatan Leo dihapus, maka ia akan kembali menjadi playboy yang memiliki segudang mantan. Dan tidak ada satupun dari semua mantan-mantannya yang bisa membuat Leo jatuh cinta. Alasan Leo memacari banyak wanita, hanya untuk menemukan wanita yang bisa menggetarkan hatinya dan wanita itu, tidak lain adalah Shena sendiri. Namun, untuk bisa sampai pada Shena tidaklah mudah. Leo harus melewati banyak hal yang harus ia hadapi, salah satunya yaitu dibenci wanita yang amat sangat ia cintai.
BERSAMBUNG
****
Part berikutnya langsung aku lompat ke waktu 3 tahun yang akan datang ya ... yaitu kedatangan Fey dan Refald setelah mereka pulang dari Swiss untuk melangsungkan pernikahannya yang tertunda.
__ADS_1