
“Otousan, jangan mengajak bercanda? Ini sama sekali tidak lucu,”ujarku bingung.
“Ayah tidak bercanda, Shiyuri. Refald memang tunanganmu, bukan Eric.”
“Tapi kenapa Eric marah saat aku mengatakan bahwa aku ingin memutuskan pertunangan ini dan mencintai orang lain?”
“Wajar saja kalau aku marah!” teriak Eric. “Kau hampir saja mengkhianati sahabat yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Tapi syukurlah, ternyata itu cuma salah paham. Bagaimana bisa kau mengira bahwa aku adalah tunanganmu, sedangkan jelas-jelas Refaldlah yang selama ini berada disisimu.”
Ku akui aku sedikit malu karena sudah salah menduga siapa tunanganku. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menerima semua ini. “Tidak mungkin Refald adalah tunanganku.” aku mundur selangkah untuk menyakinkan diriku sendiri.
Aku beralih menatap ayahku berharap bahwa semua ini tidak benar. “Otousan! Ini tidak mungkin, bukan? Refald bukanlah tunanganku. Dia datang ke sini untuk mencari ...” tiba-tiba aku teringat kata-kata Refald dulu. "Dia bilang bahwa ia datang ke sini untuk mencari seseorang yang juga belum pernah ia tahu sebelumnya. Dan orang itu adalah ...."
“Aku datang ke sini untuk mencari tunanganku, Fey ... dan orang itu adalah ... kau sendiri,” ucap Refald dengan sayu.
Aku terperangah mendengar ucapan Refald.
Jadi selama ini ... aku mencintai orang yang aku benci? Aku masih belum bisa memercayai ini semua. Aku harap ini hanyalah mimpi. Aku sangat membenci tunanganku! Dia meninggalkan aku disaat aku membutuhkannya. Dan kini dia datang disaat aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Ia memasuki kehidupanku sebagai orang lain dan mempermainkan perasaanku.
Refald mencoba mendekatiku, tapi aku berusaha menghindar darinya. Dia mengulurkan tangannya untuk meraihku, tapi aku langsung menepisnya dengan kasar. Aku tidak ingin melihatnya saat ini. Sulit bagiku untuk memutuskan apakah aku harus bahagia atau sedih dengan semua yang terjadi ini.
Rasa ini begitu sangat menyakitkan dari pada rasa patah hati yang kurasakan sebelumnya. Aku merasa telah dijadikan bahan lelucon oleh tunanganku sendiri.
“Shiyuri! Kau baik-baik saja, Sayang!” tanya ayah yang sudah mulai khawatir padaku.
“Tidak, Ayah! Aku sedang tidak baik-baik saja!”
“Shiyuri, Ayah tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua selama ini, tapi kau harus mendengarkan penjelasan dari ayah dulu sebelum benar benar mengambil keputusan!”
__ADS_1
Aku menatap ayahku, saat ini akal sehatku sedang tidak berfungsi. Aku terlalu shock dengan kenyataan ini, aku terduduk lunglai dikursi yang ada dibelakangku, aku memejamkan mata, dan berusaha menjernihkan pikiranku yang saat ini sedang kacau balau.
Ayah mendekatiku dan duduk disebelahku, ia memelukku dan mengusap lembut kepalaku. Pelukan ayah harusnya bisa membuatku tenang sekarang, Tapi entah kenapa amarahku masih juga belum bisa mereda.
“Dengarkan baik-baik penjelasan ayah ini. Ayah tahu tidak mudah bagimu mengetahui kebenarannya. Tapi, ayah harap kau bisa menerima semua yang sudah terjadi pada kita.”
Aku membalas pelukan ayah berusaha menguasai diri dan mencoba mendengarkan penjelasan dari ayahku.
“Setahun setelah kepergianmu dari Jepang, keluarga Refald menelepon ayah untuk menceritakan segalanya. Ayah Refald tidak tahu menahu apa yang terjadi pada keluarga kita disaat mereka pergi meninggalkan Jepang tanpa memberitahu kita sebelumnya. Mereka juga kesulitan waktu itu. Keluarga Refald bermasalah dengan pemerintahan Jepang sehingga mereka semua dideportasi dan izin tinggal di Jepang dicabut sampai kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. Segala akses mereka dengan dunia luar yang berhubungan dengan rakyat Jepang juga diputus. Kau bisa bayangkan sendiri bagaimana perasaan Refald dan keluarganya yang harus dipaksa meninggalkan Jepang tanpa bisa memberitahu kita.”
Aku tercengang mendengar penjelasan singkat dari ayah. Perlahan aku melepaskan pelukannya. Dan menatap ayahku yang juga menatapku.
“Kita tidak pernah tahu apa yang dialami keluarga Refald karena terlalu terhanyut dengan kesedihan kita masing-masing setelah ditinggal mendiang ibumu untuk selamanya. Kepergian ibumu yang begitu mendadak membuat kita buta bahwa tidak hanya kita saja yang mengalami kesulitan. Orang lain juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih menderita dibandingkan kita.
"Bagaimanapun juga, Refald dan keluarganya tidak bersalah atas apa yang telah menimpa keluarga kita. Semua ini adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan. Jadi, kau tidak bisa menyalahkan tunanganmu yang tidak bisa berada disisimu saat kau membutuhkannya. Karena dia juga berharap kau ada disisinya saat dia juga membutuhkanmu, tapi kalian berdua, sama-sama tidak bisa melakukan itu."
Aku menangis di depan ayahku mengingat masa-masa sulit itu. Aku teringat kata-kata Refald dulu, saat ia baru saja hadir dalam hidupku. Ia menginginkan aku untuk menerima semua takdir ini, karena bukan hanya aku saja yang tersakiti, tetapi juga orang-orang yang ada disekelilingku. Mereka jauh lebih tersiksa daripada aku, apalagi penderitaan mereka bertambah setelah aku memutuskan untuk lari dari kenyataan.
Tapi yang kulakukan malah sebaliknya, aku terus terusan menghindar dan terlarut dalam kesedihan seorang diri tanpa bisa menerima kenyataan yang terjadi dalam hidupku. Sampai akhirnya Refald datang dan membantuku bangkit dari kesedihanku tanpa tahu bahwa dia juga jauh lebih menderita dan tersiksa dibandingkan dengan diriku.
Aku sungguh merasa bersalah saat ini. Tapi, lagi-lagi aku teringat kata-kata Refald yang melarangku untuk merasa bersalah atas apa yang menimpa orang lain jika orang itu terluka ataupun sedih. Semua yang terjadi sudah terjadi, tidak bisa diubah lagi. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada kehidupan kami selama ini.
Saat ini aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Kulihat arlojiku yang sudah menunjukkan pukul lima sore. “Otousan! Aku harus pergi sekarang. Ada kegiatan yang harus kulakukan! Kita akan bicara lagi nanti begitu kegiatanku selesai!”
“Tapi, ayah harus kembali malam ini!”
Aku sedikit kecewa karena ayah datang kemari hanya sebentar. Padahal aku berharap dia tetap berada di sini sampai aku selesai dengan kegiatanku.
__ADS_1
“Begini saja, pekan depan, ayah akan datang lagi bersama dengan kakakmu! Saat ini ia sedang ada ujian, jadi tidak bisa ikut kemari meski ia sangat merindukanmu! Ayah janji!”
Aku mengangguk. “Aku juga merindukannya, Ayah! Sampaikan itu padanya! Kita akan bertemu lagi pekan depan.”
Ayah memelukku untuk yang terakhir sebelum aku pergi dan ayah meninggalkan negara ini. “Jaga dirimu baik-baik, Sayang! Ayah harap, selama kegiatan yang kau lakukan, kau juga memikirkan baik-baik setelah semua yang terjadi. Apapun keputusanmu nanti, ayah akan tetap mendukungmu, tapi ayah minta ... jangan membenci tunanganmu!”
“Aku pergi, Ayah. Sampai ketemu lagi!” aku tidak menjawab pesan ayah, karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku berdiri dan bersiap melangkah pergi keluar rumah untuk langsung menuju lokasi dimana teman-temanku sudah menunggu.
Tapi Refald tiba-tiba memanggilku, sehingga langkahku terhenti tepat di depan pintu. “Fey! Dengarkan aku!” Refald berjalan mendekatiku dan menghadapkan tubuhku dihadapannya. Ia menatapku lekat-lekat yang masih belum berani melihatnya. “Kau harus tahu sesuatu!” ia memulai pembicaraan.
“Pertama kali kita bertemu, aku tidak tahu bahwa kau adalah tunanganku yang selama ini aku cari-cari. Sampai akhirnya kau mengatakan siapa dirimu yang sebenarnya saat kita berada di UKS waktu itu.”
“Itu karena kau mengancamku,” nadaku ketus.
“Iya, aku terpaksa melakukan itu karena aku ingin memastikan apakah kau orang yang aku cari atau bukan.”Refald terus menatapku dan melanjutkan kalimatnya.“Saat tahu bahwa kau adalah tunanganku! Aku ingin langsung memelukmu. Tapi aku mengurungkannya karena ternyata kau membenciku. Kau bisa menebak sendiri bagaimana perasaanku waktu itu, tapi aku lega karena kau belum tahu siapa aku, jadi kuputuskan untuk sementara merahasiakannya darimu sampai waktunya tiba. Dan aku rasa, inilah saatnya kau mengetahui semuanya! Karena itulah aku mengajak Mr. Kinomoto kemari, untuk membantuku menjelaskan ini semua padamu!”
“Aku pergi dulu! Aku sudah sangat terlambat!” aku melangkah pergi dan mengacuhkan penjelasan Refald. Tapi ia mencegahku dan menggenggam erat tanganku.
“Kenapa kau seperti ini? Bukankah kau mencintaiku?”
“Itu sebelum aku tahu kalau kau adalah tunanganku! Tapi sekarang berbeda. Aku tidak tahu lagi bagaimana perasaanku padamu. Aku butuh waktu untuk memahami semua ini, kita akan bicara lagi nanti jika kegiatanku ini sudah selesai. Jangan ikuti aku dan jangan coba-coba mengikuti kegiatanku! Hanya anggota pecinta alam saja yang diperbolehkan masuk ke lokasi. Orang luar dilarang masuk!”ancamku.
Aku pergi meninggalkan rumah nenekku dengan hati dan pikiran yang sangat kacau. Sementara ini, aku akan mengesampingkan dulu urusan pribadiku dan kembali fokus pada kegiatanku. Aku tidak ingin semuanya jadi berantakan hanya karena emosiku yang masih labil saat ini.
Aku menyalakan motor scoopyku dan melesat pergi begitu saja. Aku sempat memandang kaca spion motorku untuk melihat Refald yang berdiri resah melihat kepergianku.
Saat ini, aku tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap Refald. Aku butuh waktu untuk menata kembali hatiku yang sedang bergejolak setelah tahu kebenarannya.
__ADS_1
Apakah perasaanku padanya masih tetap sama, atau sudah berubah.
****