
Untuk kedua kalinya, Leo muncul ke tempat relokasi dimana beberapa penduduk desa sekitar yang terkena dampak gempa dan beberapa temannya mengungsi sementara sampai kondisi desa mereka sudah bisa dipastikan aman. Para mahasiswa ini juga belum bisa kembali kerumah mereka masing-masing karena kendaraan yang mengangkut mereka semua tidak bisa masuk akibat ditutupnya akses jalan sementara sampai semua jasad korban bencana alam selesai dievakuasi.
Selain itu, juga mengantisipasi agar tidak banyak orang-orang yang datang untuk menyaksikan reruntuhan akibat gempa. Sebab, idak menuntut kemungkinan, banjir susulan bisa saja datang mengingat curah hujan masih saja tinggi. Karena itulah polisi membatasi pengunjung samapi wilayah yang rawan gempa berstatus aman.
Dengan gaya sama seperti saat pertama kali Leo dan Shena datang mengikuti ospek, Leo menggendong Shena yang sedang pingsan dan membawanya ke ruang kesehatan agar Shena segera mendapat perawatan. Semua mata memandang heran Leo dan Shena karena mereka berdua selalu saja datang dengan adegan yang sama, yaitu Shena digendong Leo dalam keadaan pingsan.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua? Kenapa kalau datang selalu saja beradegan gendong-gendongan? Bikin iri aja!” komentar salah satu mahasiswa yang bernama Brandon.
“Kau benar, ini kedua kalinya Leo datang belakangan dengan menggendong wanita. Apa yang sudah dilakukan si kampret itu.” yang lainnya juga ikut berkomentar.
“Oey, Leo!” teriak Brandon begitu Leo melewati gerombolan teman-temannya. “Kau apakan cewek itu? Jangan bilang kau sudah setor kecebong padanya! Anak orang kau bikin pingsan! Nggak takut digorok orangtuanya kau, ha?” kata-kata Brandon langsung disambut tawa riang oleh teman-temannya.
“Diam kau, bengek! Akan aku robek mulutmu itu jika bicara yang bukan-bukan lagi! Aku tidak sebrengsek dirimu!” gertak Leo sambil terus memandang lurus ke depan.
“Wah, itu anak garang juga! Kalau begitu, aku mau cari mangsa juga, ah! Siapa tahu ada yang mau menerima donor kecebongku, adaow! Kenapa kau menjitakku, ha?” bentak brandon pada seseorang yang menjitak kepalanya, dan orang itu adalah Roy.
“Jaga bicaramu! Ini bukan kampus. Ini wilayah orang lain dan kita semua sedang dalam masalah sekarang, sempat-sempatnya kau berpikiran seperti itu! Apa kau ingin kena azab, ha?” cetus Roy yang sejak tadi hanya berdiri diam mengamati kedatangan Leo dan Shena dalam gendongannya.
Apa yang dikatakan Roy memang benar, dimanapun kita berada harus selalu bisa menjaga sikap kesopanan dan juga nilai moral sekalipun itu hanya bercanda, apalagi dalam situasi darurat dan menyedihkan seperti ini.
Roy berjalan mengikuti Leo dari belakang begitu juga dengan Laura yang langsung berlari menyongsong kedatangan Leo dan Shena dengan raut wajah penuh cemas.
__ADS_1
“Apa yang terjadi pada Shena? Kau apakan dia?” tanya Laura langsung.
“Untuk kesekian kalinya, aku menyelamatkannya.” Leo meletakkan Shena diatas kasur dan menatap wajah gadis itu lekat-lekat.
Shena tidak mungkin mengingat kejadian yang terjadi selama kami berada di dunia lain, untuk sementara, aku akan menjauh darinya. Batin Leo dan langsung pergi meninggalkan Shena tanpa suara.
“Ada apa dengan Leo?” tanya Laura pada Roy yang juga heran dengan sikap sahabatnya.
“Aku juga tidak tahu, tapi aku akan mencari tahu.” Roy pun pergi keluar ruangan menyusul Leo. Sedangkan Laura hanya mengerutkan dahi memandang aneh dua orang yang berjalan didepannya.
“Apa jangan-jangan ... Shena dan Leo ... mereka ada hubungan spesial?” gumam Laura.
****
Seluruh keluarga juga mulai resah karena kabar berita tersebut membuat proses pernikahan Refald dan fey mengalami banyak kendala. Apalagi setelah akses jalan ditutup untuk sementara. Semakin resah dan gelisahlah mereka. Kemungkinan besar tamu undangan dan beberapa hal yang dibutuhkan saat pernikahan tidak akan bisa datang tepat waktu.
Alhasil keluarga sepakat untuk memindah lokasi pernikahan Fey dan Refald ke tempat yang lebih aman. Sayangnya, proses pemindahan itu juga membutuhkan waktu lama dan juga harus mengulang lagi dari awal.
“Apa yang terjadi? Ke mana saja kalian? Kenapa tidak memberi kabar?” tanya nenek Fey begitu melihat Refald dan Fey masuk ke dalam rumah. Kebetulan di dalam rumah juga ada ayah Fey dan kedua orang tua Refald.
“Kami baik-baik saja, Nek. Maaf sudah membuat kalian semua khawatir.” Refald dan Fey memandang ekspresi semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Senyum mengembang Refald langsung memudar melihat wajah-wajah tegang didepannya. Refald hanya bisa menunduk sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Fey. Hati cowok itu bergejolak saat mendengar semua pikiran keluarganya mengenai pernikahannya.
Seakan tahu apa yang dirasakan Refald dalam situasi yang tidak menyenangkan ini, Fey pun berusaha tersenyum sambil memantapkan hati yang sebenarnya sangat berat ia lakukan. Sebab, gadis itu tidak ingin Refald yang mengatakannya pada keluarga besar mereka, karena hal itu akan membuat Refald semakin terluka lebih dalam lagi. Fey tidak ingin Refald semain sedih. Maka dari itu, mau tidak mau, suka tidak suka, Feylah yang harus mengatakan semuanya didepan seluruh keluarga besarnya tentang keputusan yang sudah Fey pilih.
“Ayah, Ibu, Otousan, Nenek ... kami tahu ini akan mengejutkan kalian, tapi ... kami berdua sudah memutuskan ...,” Fey diam sejenak untuk menata hatinya, sementara Refald tak bisa lagi mengangkat kepalanya. “Kami berdua sepakat ... mengundur lagi pernikahan ini untuk yang kedua kalinya,” ujar Fey sambil menghembuskan napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca tapi ia berusaha untuk menahannya agar tidak tumpah keluar.
“Kami berdua ...,” Fey mencoba melanjutkan. “Tidak mungkin melangsungkan pernikahan sementara orang-orang diluar sana ... sedang dirundung kesedihan.”
“Kenapa harus ditunda? Kita bisa pindah lokasi, kami berencana akan menikahkan kalian di Swiss. Dengan begitu, kalian berdua bisa membangun bahtera rumah tangga disana.” Ibu Refald terkejut mendengar pernyataan Fey dan tetap ingin pernikahan keduanya dilangsungkan.
“Ibu, kita semua tidak bisa bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Tidak mudah bagi kami berdua mengambil keputusan penting yang sudah kita rencanakan sejak dulu. aku rasa, dalam hal ini akulah yang patut disalahkan. Harusnya kami sudah menikah 3 tahun lalu, tapi aku memaksa kalian untuk menunda pernikahan ini sampai aku lulus kuliah. Dan sekarang ... dengan sangat terpaksa, aku pun harus meminta pernikahan ini diundur lagi, paling tidak sampai kondisinya kembali baik seperti sedia kala dan aku rasa ... itu juga butuh waktu lama lagi.”
Fey tidak berani menatap wajah orang-orang yang ada didepannya. Ia pun siap menerima hukuman apapun dari mereka. Fey melirik genggaman tangan Refald yang semakin lama, semakin erat saja seolah enggan dilepaskan lagi.
“Refald,” panggil ibunya. “Kenapa kau hanya diam saja? Katakan sesuatu?” Ibu Refald heran kenapa putranya tidak bicara sepatah katapun.
BERSAMBUNG
***
Aku kasih bonus banyak episode hari ini. Ditunggu ya ...
__ADS_1