
Tak pernah terbayangkan dibenak Shena bahwa ia bakal jatuh cinta pada Leo. Hatinya benar-benar lega saat Leo memeluknya dan menciumnya dengan mesra seperti yang baru saja Leo lakukan padanya. Entah kenapa, Shena bisa merasakan betapa besarnya cinta Leo untuknya sampai ia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Saat dirinya dikuasai makhluk astral tak kasat mata, Ada sebuah kekuatan yang selama ini tidak pernah Shena rasakan pada siapapun. Kekuatan rasa itu mendorong Shena untuk melawan apa yang diinginkan iblis yang merasukinya. Shena benar-benar tidak ingin Leo terluka. Karena itulah sebisa mungkin, Shena berusaha melawan untuk melindungi Leo.
"Shena, kau bisa dengar aku?" tanya Leo masih cemas karena takut Shena tak sadarkan diri lagi.
Sambil mengusap sisa air matanya, Shena melepaskan pelukannya dari Leo. "Ehm, aku tidak apa-apa, ujar Shena lirih. Gadis itu masih belum mau menatap wajah Leo, dan ia semakin shock saat melihat tiba-tiba saja ada darah ditangannya.
Wajahnya seketika menegang. Darah itu bukan darahnya, tapi darah Leo. Shena langsung mengangkat kepalanya dan melihat Leo tersenyum manis padanya sebelum akhirnya Leo ambruk dipelukan Shena.
"Syukurlah kau baik-baik saja," ujar Leo dan ia pun tak sadarkan diri.
"Tidak! Leo! Leo! Leo!" teriak Shena sambil menangis histeris apalagi setelah tahu, punggung Leo terluka akibat cakaran tangannya saat Shena sedang kerasukan. "Bagaimana ini? Leo bangun!" isak Shena panik sendiri sambil menepuk-nepuk tubuh Leo.
Refald yang mengetahui seperti apa kondisi Leo saat ini, segera berdiri dan bergerak cepat ke dekat mobil Volvo miliknya yang tadi dibawa oleh, Fey. Dengan pelan, Refald meletakkan tubuh istrinya yang lemah disamping bangku kemudi. Refald masuk ke dalam mobil dan melaju kencang ke arah Leo dan Shena berada.
"Tunggu disini, Honey. Aku akan membawa Leo kemari."
Fey pun mengangguk dan hanya menatap diam kepergian Refald.
"Kita harus mengobati lukanya Nona," ujar Refald yang berdiri disamping Shena. Tanpa banyak bicara, Refald langsung mengambil alih Leo dari dekapan Shena dan menggendongnya.
"Maaf Tuan, siapa anda? Mau dibawa kemana Leo?" tanya Shena bingung.
"Aku kakaknya, ayo bantu aku menopang Leo." Refald pura-pura tidak kuat menggendong Leo di depan Shena.
Gadis itupun percaya dan membatu Refald dari belakangnya. Walaupun dalam hati, ia masih sedikit ragu, tapi tidak ada pilihan lain lagi. Ingatan Shena tentang Refald dan Fey memang sudah dihapus Refald, wajar kalau saat ini, Shena tidak mengenali keduanya. Tidak ada yang bisa Shena lakukan karena cuma Refald yang bisa membantu menolong Leo mengingat mereka saat ini sedang berada di hutan dan tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka ditempat ini.
Setelah memastikan Leo dan Shena masuk ke dalam mobil, Refald pun mulai menyalakan mesin dan membawa mereka semua keluar dari sini.
"Tunggu Refald, bagaimana dengan Nura? Masa kita ninggalin dia sendirian?" tanya Fey yang masih dijaga mbak Kun. Sementara pasukan dedemit Refald yang lain masih sibuk membereskan kekacauan yang sudah mereka buat di sini. Tentu saja Shena tidak bisa melihat apa yang sudah Fey lihat.
"Akan ada yang datang menjemputnya, lihat itu?" Refald menunjuk sebuah kendaraan mobil Jeep canvas putih yang sudah diketahui Fey siapa pemiliknya.
Saat kedua mobil kece itu berpapasan, Refald membuka kaca mobilnya sambil berkata, "Kutitipkan Nura padamu, Eric. Rawat dia baik-baik."
"Oke!" Jawab Eric. Keduanya melanjutkan laju mobil mereka masing-masing.
__ADS_1
"Eric?" Tanya Fey hampir menjerit. "Tapi ... bagaimana bisa?" Fey semakin heran dan juga bingung karena Eric tiba-tiba saja ada disini.
"Aku yang menyuruhnya kemari tepat setelah aku berangkat ke Korea, sepertinya ia datang terlambat. Mungkin terjebak macet." Refald asal menjawab karena ada Shena dibelakangnya yang sejak tadi diam sambil menopang kepala Leo.
"Maaf jika aku menyela pembicaraan kalian berdua, tapi kalau boleh tahu ... kalian ini siapa?" tanya Shena yang sejak tadi sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Refald dan Fey saling pandang satu sama lain. "Oh ... aku Refald, kakak Leo dan wanita cantik yang duduk di sampingku ini adalah istriku, Fey." Akhirnya Refald memperkenalkan diri lagi.
"Ah, maaf kalau tadi aku meragukan anda ...." Shena bingung harus memanggil apa.
"Panggil saja aku Refald,"
"Maaf, kak Refald. Senang bertemu dengan anda, dan juga istri anda, kak Fey. Aku Shena, teman seangkatan Leo." Shena jadi canggung sendiri memanggil saudara Leo dengan sebutan 'Kak'.
"Hallo, Shena. Senang juga bertemu denganmu." Fey memutar balik tubuhnya dan mengajak Shena berjabat tangan sebagai tanda awal perkenalan mereka.
Dengan senang hati, Shena pun bersedia berjabat tangan dengan wanita cantik istri dari kakak Leo. Sayangnya, perkenalan singkat mereka yang kedua ini, lagi-lagi hanya akan tinggal menjadi kenangan karena Refald akan segera menghapus kembali ingatan mereka.
Selama dalam perjalanan, Shena tak henti-hentinya berpikir apa yang membuat ia dan saudara Leo bisa sampai ada di tempat seperti ini. Gadis itu sama sekali tidak bisa mengingat apapun.
Refald membawa Shena dan Leo ke vila pamannya yang merupakan tempat istimewa Refald saat menyatakan cinta pada Fey tepat di malam bulan supermoon beberapa tahun silam.
"Kenapa kau memilih tempat ini?" tanya Fey saat mereka semua sampai di depan vila.
"Karena ini adalah tempat istimewa kita."
Refald membawa Leo masuk ke dalam dan menyembuhkan luka adiknya. Tentu saja hal itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Shena karena ia meminta gadis itu menunggu di luar kamar sementara Refald berkosentrasi pada penyembuhan luka Leo.
Hampir satu jam lamanya, Shena menunggu dengan harap-harap cemas di depan kamar Leo. Gadis itu hanya mondar mandir kesana kemari sambil memikirkan kondisi Leo.
"Shena," panggil Fey sambil membawa handuk dan satu set pakaian yang ia siapkan untuk Shena. Fey sendiri juga sudah rapi dan fresh setelah selesai membersihkan diri.
"Iya, Kak." Shena berhenti berjalan.
"Cepat bersihkan dirimu dan pakailah ini." Fey meminjamkan bajunya untuk dipakai Shena.
"Apa tidak apa-apa jika aku memakainya?" tanya Shena sedikit ragu.
__ADS_1
"Kenapa? Kau tidak suka?"
Shena langsung gugup. "Bukan begitu, orang sepertiku ... tidak pantas memakai pakaian sebagus ini."
"Apa yang kau bicarakan? Sudah masuklah ke kamar itu dan bersihkan dirimu," suruh Fey sambil tersenyum manis.
Shena jadi terharu, karena Fey adalah orang kedua yang memperlakukannya dengan baik setelah Laura tanpa memandang dari kasta mana Shena berasal.
"Terimakasih, Kak." Shena menerima pakaian itu, tapi sebelum ia membuka pintu kamar, Shena berbalik badan dan mencoba menanyakan sesuatu yang mengganjal perasaan Shena sejak tadi.
"Kakak, boleh aku bertanya?" tanya Shena.
"Silahkan," ujar Fey dengan tenang.
"Kenapa kak Refald tidak membawa Leo kerumah sakit saja? Maaf jika pertanyaanku lancang." Shena menatap nanar wajah Fey berharap ia mendapat jawaban yang tepat supaya ia tidak mati penasaran.
Sejenak Fey memang tidak langsung menjawab pertanyaan Shena. Ia malah tersenyum simpul dan salut atas keberanian yang dimiliki gadis itu.
"Jika dokternya ada di sini, untuk apa pergi ke rumah sakit?" Fey malah balik bertanya. Ia yakin Refald setuju mendengar alasan yang dikatakannya pada Shena.
"Apa? Maksud Kakak, kak Refald ...."
"Dia juga seorang dokter, jadi kau jangan khawatir, Leo akan segera sembuh jika Refald yang menanganinya." Fey memotong kalimat Shena yang terlihat shock.
Gadis itu hanya diam terpaku dan mencoba menguasai diri atas segala hal yang serba aneh dan kebetulan ini. Sepertinya memang tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Shena sendiri juga bingung dengan perasaannya sendiri.
Entah yang ia rasakan pada Leo apakah hanya perasaan sesaat atau bukan ia juga tidak tahu. Yang jelas saat ini, Shena ingin Leo selamat dan sehat kembali seperti sedia kala. Sebab, apa yang menimpa Leo semua adalah salahnya.
BERSAMBUNG
****
Lagi gabut dan juga gafok hehe ...
__ADS_1