
Beberapa bulan telah berlalu. Kini usia kandungan Fey sudah mencapai bulan ke-8. Sesuai apa yang diinginkan Fey, ia akan melahirkan di rumah neneknya dimana dulu almarhum ibu Fey dilahirkan. Kekuatan Refald juga sudah kembali dan mereka mulai bersiap berangkat ke tempat tujuan Fey.
“Kau yakin akan bertapa disana?” tanya Fey begitu keduanya sudah siap pulang ke Indonesia.
“Ehm, tempat itu adalah yang terdekat dengan rumah nenek. Setidaknya aku masih bisa menjagamu meski aku tak bisa bersamamu. Cuma 3 hari saja, Honey. Aku harus memastikan sesuatu.” Refald menggenggam erat tangan Fey.
“Aku senang kau meminta Di menemaniku disana. Dia juga pasti sangat kesepian dan butuh teman ngobrol. Selain itu, pak Po bisa tenang tanpa perlu khawatir lagi saat mengawalmu.”
“Bukan itu alasannya, Honey.” wajah Refald kembali serius. “Di, harus melahirkan di goa tempatku bertapa. Masalahnya adalah ....” Refald tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Putri pak Po dan Di ... akan menjadi gadis penjaga goa itu. Disitulah jiwa pak Po dan Di tinggal setelah mereka meninggal.” Feylah yang melanjutkan kalimat suaminya karena ia sekarang juga bisa membaca pikiran, sama seperti Refald.
“Pak Po dan Di akan membesarkan putri mereka disana. Tapi, kita akan segera kembali ke Swiss begitu kau sudah melahirkan dan putra kita berusia 40 hari.”
“Kenapa kita tidak membesarkan putri pak Po dan Di juga, Refald? Bukankah kelak, dia akan menjadi menantu kita?” usul Fey. “Masa iya seorang Anak manusia harus dibesarkan di dalam goa? Ini sudah zaman modern. Bukan zaman batu atau perunggu lagi?”
“Honey, putri pak Po tidak bisa kita bawa ke tengah-tengah masyarakat sebelum dia benar-benar siap. Karena dia akan memiliki kekuatan sama seperti ayahnya. Dia harus hidup dan bersatu dengan alam agar bisa mengontrol kekuatannya, karena dia adalah seorang wanita. Tapi kau jangan kahwatir, putri pak Po tetap akan mendapatkan pendidikan layaknya manusia biasa di desa nenek.
“Aku memilih tempat itu, karena hanya disitulah masyarakatnya bisa mengerti satu sama lain. Mereka tidak akan pernah melakukan perundungan atau pembullyan terhadap putri pak Po meski ia harus tinggal di dalam goa bersama orang tuanya yang sudah berbeda dunia. Namun, jika kita membawanya, masalah akan selalu menimpanya seiring dengan pertumbuhannya dan bertambahnya kekuatan yang dia miliki. Itu akan sulit baginya beradaptasi dengan orang-orang dari dunia luar. Kau paham maksudku, kan?”
“Lalu putra kita? Bukankah dia juga akan mewarisi kekuatanmu? Seperti sekarang ini? Apa dia juga harus tinggal dihutan?”
“Saat Refald kecil ini lahir, ia tidak punya kekuatan apa-apa. Kekuatannya baru akan terbuka, saat dia jatuh cinta Honey, sama sepertiku yang jatuh cinta padamu. Aku baru menyadari kekuatanku saat aku benar-benar mencintaimu. Kau sudah melihat sebagian ingatanku, kan? Itu juga yang jadi salah satu alasan kenapa kita tidak bisa membawa putri pak Po bersama dengan kita. Putra kita lah yang nantinya akan membawa menantu kita ke rumah. Sampai saat itu tiba, mereka harus tinggal terpisah. Sama seperti kau yang meninggalkanku selama bertahun-tahun lamanya.”
“Aku sungguh tidak bisa mengerti takdir ini. Tapi aku akan sangat menantikan hari itu tiba. Sepertinya menarik. Semoga apa yang kau katakan itu benar-benar terjadi nanti.” Fey mengelus lembut perutnya yang sudah membesar.
Sebentar lagi, Fey akan melahirkan dan secara otomatis ia juga akan menjadi seorang ibu. Sungguh hal yang tidak pernah Fey duga sebelumnya. Rasanya, waktu berjalan begitu sangat cepat. Sepertinya, baru kemarin ia bertemu dengan Refald, menikah dengannya, dan kini ia akan menjadi ibu untuk buah hati mereka. Hati Fey berbunga-bunga meski ada sedikit rasa takut karena ini adalah pengalaman pertama ia melahirkan. Sakitnya seperti apa, Fey tidak berani membayangkannya. Yang bisa ia lakukan adalah bersiap-siap menghadapi persalinannya supaya nanti bisa berjalan dengan lancar.
Refald sendiri tersenyum menatap istrinya. Fey terlihat begitu menyayangi putra pertama mereka yang masih berada dalam perutnya itu. Ia sendiri juga tidak menyangka kalau sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Refald mencium kening Fey dan bersama-sama mengelus perut buncit istrinya dengan lembut seolah mencurahkan kasih sayang begitu besar pada buah hati mereka yang akan segera lahir kedunia.
Beberapa jam telah berlalu. Akhirnya Refald dan Fey kembali pulang kerumah neneknya. Tentu saja kedatangan mereka disambut bahagia oleh semua orang-orang terdekat Fey dan Refald. Semua persiapan yang dibutuhkan Fey saat persalinannya nanti juga sudah disiapkan neneknya dengan sempurna tanpa ada kekurangan. Teman-teman Fey juga memberikan ucapan meski mereka belum sempat betemu langsung karena kesibukan masing-masing, tapi mereka sudah membuat janji temu di akhir pekan.
“Akhirnya kita sampai juga di rumah,” ujar Fey menghirup udara segar dikamarnya setelah selesai bercuap-cuap dengan neneknya. Refald menaruh barang-barangnya dan merapikan beberapa pakaian yang bisa dikenakan.
“Kau lelah?” Refald memeluk Fey dari belakang.
“Tidak juga, karena tadi di pesawat aku sudah tidur ber jam-jam. Aku hanya merindukan kamar ini. Nenek bilang, dulu ini adalah kamar tidur ibu sewaktu belum menikah dengan ayah.”
“Sekarang kamar ini menjadi kamar kita.” Refald mencium lembut pipi istrinya dan sangat menyukai perut buncit Fey. Ia tak henti-hentinya mengelus perut istrinya.
__ADS_1
“Kapan kau akan mulai bertapa?” Fey berbalik badan menghadap Refald.
“Setelah Di dan pak Po datang kemari. Saat ini mereka masih dalam perjalanan kesini.” Refald ingin mencium bibir Fey tapi tidak jadi karena terdengar suara nenek memanggil mereka.
“Refald, Fey! Kalian berdua, makanlah dulu,” teriak nenek dari lantai bawah.
Pasangan suami istri itu hanya saling lempar senyum karena adegan sweetnya harus sedikit tertunda mengingat mereka tidak tinggal berduaan saja di rumah ini. “Kami akan makan setelah istirahat sebentar Nek,” sahut Fey diikuti tawa Refald.
“Ya sudah kalau begitu, Nenek akan pergi dengan Rio. Mia daritadi mencarimu. Temui dia kalau lelah kalian sudah hilang. Jangan lupa makan dulu sebelum pergi,” seru nenek Fey lagi yang sudah siap untuk pergi.
“Baik Nek.” Fey balas berteriak dan tidak lama terdengar suara mobil menjauh dari pekarangan. “Pergi kemana mereka?” gumam Fey tanpa sadar bahwa sejak tadi Refald terus memandanginya.
“Mau jalan-jalan denganku?” tanya Refald dengan suara yang menggoda.
“Perutku sudah seperti ini, aku begah kemana-mana. Anakmu tak mau berhenti bergerak sejak tadi, apa dia ingin keluar sekarang?” tanya Fey asal bicara. Ia geli geli gimana gitu karena buah hatinya dengan Refald ini menendang-nendang perutnya.
Refald tertawa melihat ekspresi Fey yang terlihat lucu. “Mana mungkin? Ini belum waktunya. Dia hanya sedang aktif di dalam karena dia senang sebentar lagi akan bertemu dengan kita.”
“Benar juga, ya.” Fey tersenyum sambil merasakan pergerakan si Refald kecil dalam perutnya.
“Ayo kita makan dulu, kau tidak boleh telat makan.” Refald menggendong tubuh Fey dengan hati-hati lalu berjalan keluar dari kamarnya.
“Aku hanya tidak ingin kau kelelahan, kalau kau jalan sendiri, satu jam kemudian baru sampai di bawah. Mulai sekarang akulah yang bertugas menggendongmu naik turun tangga.”
“Refald, menurutmu kenapa aku tetap memilih kamar lantai dua daripada kamar di lantai dasar? Aku memang sengaja ingin naik turun tangga untuk melatih otot-ototku agar tidak kaku saat proses persalinan. Jika kau memperlakukanku seperti ini, aku tidak tahu bagaimana jadinya proses persalinanku nanti karena otot-ototku tak pernah kulemaskan? Biarkan aku jalan sendiri, ini juga demi kebaikanku.” Fey menatap tajam suaminya. Apa yang dikatakan Fey memang ada benarnya juga. Hamil tua memang harus lebih sering bergerak paling tidak, otot tubuh tidak menjadi kaku.
“Tapi, Honey ... tangga itu berbahaya .... terutama untuk ibu hamil sepertimu.”
“Tidak untukku! Aku berbeda, kerena aku adalah istrimu, istri dari seorang raja dedemit. Tangga seperti ini bukanlah apa-apa untukku. Turunkan aku, akan aku perlihatkan padamu. Cepat!” bentak Fey dan Refald menurunkan kembali istrinya.
Feypun langsung melesat turun ke bawah layaknya wanita biasa yang tidak sedang hamil tua. Sedangkan Refald hanya menyaksikan gerakan istrinya dengan takjub. Refald lupa kalau Fey yang sekarang, punya kekuatan sama sepertinya. Bahkan Fey juga bisa bergerak dengan cepat seperti gerakan Refald.
“Sampai kapan kau berdiri disana, Refald? Aku hanya butuh satu menit untuk sampai di bawah sini. Bukan satu jam seperti yang kau bilang,”seru Fey dari bawah dan Refald langsung melompat turun tanpa peringatan. Ia juga mendarat tepat disamping Fey berdiri.
“Dan aku hanya butuh satu detik untuk sampai padamu, Honey.” Refald menyeringai lalu dengan gerakan kilat ia mencium istrinya dengan mesra dan Feypun membalas ciuman suaminya.
***
Sore harinya, Di tiba di kediaman nenek Refald ditemani oleh pak Po. Tentu saja yang bisa melihat sosok pak Po hanya Fey dan Refald saja, sedangkan yang lainnya menganggap Di datang sendirian. Agar tidak terlihat aneh, Refald membantu membawakan barang-barang Divani ke kamar yang sudah disediakan mbok Min selaku penjaga rumah ini. Letaknya ada di lantai dasar yang kebetulan berseberangan dengan kamar nenek Fey.
__ADS_1
Sebelumnya, Fey meminta izin pada neneknya agar memperbolehkan Di tinggal sementara di rumah ini sampai persiapan yang Refald lakukan selesai. Sebagai langkah awal, suaminya itu akan bertapa di dalam goa yang nantinya menjadi tempat tinggal pak Po dan Di sementara saat mereka membesarkan putri semata wayangnya yang kini masih berada dalam perut Divani.
Untungnya, nenek Fey memberikan izin walau ia masih bingung kenapa wanita yang bernama Di harus tinggal disini tanpa suaminya. Berhubung nenek Fey adalah orang yang cuek dan tidak suka ikut campur urusan orang lain, ia tidak mempermasalahkan semua itu.
“Terimakasih, Nek. Karena sudah mengizinkan Di tinggal disini.” Fey memeluk neneknya dengan erat.
“Apa dia juga akan melahirkan disini?” tanya nenek Fey sehingga membuat gadis itu tidak bisa menjawab karena ia tidak tahu harus berkata apa. Ia melirik Refald untuk meminta bantuan menjawab pertanyaan neneknya.
“Suaminya akan menjemputnya begitu urusannya selesai, Nek. Saat ini, ia sangat sibuk makanya meminta bantuan kami untuk menemani istrinya. Sebab Di tidak punya siapa-siapa selain kami. Lagipula, Fey jadi ada teman ngobrol sesama bumil jika aku tidak ada,” ujar Refald dan terus menatap pak Po yang berdiri menunduk di samping Di.
“Ya sudah, terserah kalian saja. Oh iya ... ada pasar malam di desa tetangga. Ajak temanmu itu jalan-jalan kesana. Setidaknya untuk menghilangkan stresnya ditinggal suaminya bekerja. Lihat, wajahnya pucat begitu. Kelihatan sekali kalau dia tidak pernah jalan-jalan.” nenek Fey ternyata perhatian sekali dengan Di walaupun sedikit kasar.
Padahal nyatanya, Di tidak pernah sedetikpun ditinggal pak Po kecuali saat melaksanakan tugas dari Refald dan Fey. Satu hal yang tidak diberitahukan Fey pada semua orang yang ada disini kalau Divani adalah sorang tunanetra. Pak Po bertugas memberitahu segala hal yang ada disekitarnya seolah Di bisa melihat semuanya. Itu adalah permintaan dari pak Po sendiri dan Refald menyetujuinya.
“Baik, Nek. Nanti kami akan pergi kesana. Aku akan mengantar Di kekamarnya supaya ia bisa istirahat setelah menempuh perjalanan jauh." Fey menyuruh Di untuk istirahat karena nanti malam ia berencana akan mengajak Di pergi jalan-jalan ke pasar malam yang ada di desa tetangga atas saran dari neneknya.
***
Malam pun tiba, dan seperti rencana Fey sebelumnya. Setelah makan malam, Fey mengajak Di pergi kepasar malam. Setibanya disana, suasananya sudah sangat ramai pengunjung. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua bahkan kebanyakan para pengunjung ini datang beramai-ramai bersama keluarga. Mereka menikmati setiap wahana permainan yang ada di pasar ini. Di dan pak Po juga tak mau ketinggalan. Mereka langsung menuju tempat permainan tembak dimana ada banyak sekali boneka-boneka imut yang terpajang rapi sebagai hadiah bila sang pemain bisa memenangkan permainannya.
“Mereka antusias sekali, seperti anak kecil saja,” gumam Fey menatap betapa senangnya pak Po dan Di berbaur dengan semua orang yang ada disini.
Ternyata, apa yang pernah dikatakan Refald memang benar. Meski Di dan pak Po berbeda dunia, keduanya masih bisa tetap bahagia. Seperti sekarang ini walaupun hanya Fey dan Refald saja yang bisa melihat betapa senangnya pasangan beda dunia itu.
“Apa tidak apa-apa membiarkan Di yang sedang hamil muda itu bermain disitu sendirian?” tanya Fey agak cemas mengingat ini adalah tempat umum dan segala hal bisa saja terjadi.
Apalagi wajah bule Di sangat menawan sehingga banyak pria-pria yang ada disekitarnya, tertarik pada kecantikannya. Yang lebih menakjubkan lagi adalah, Di bisa menembak dengan jitu semua sasarannya sehingga hampir separuh boneka yang ada di tempat itu menjadi milik Di. Padahal, aslinya bukan Di yang menembak, melainkan pak Po. Sebagai setan, permainan seperti ini bukanlah apa-apa baginya.
“Dia tidak sendirian, Honey. Ada pak Po suaminya yang setia bersamanya seperti aku yang selalu ada untukmu.” Refald mulai mengeluarkan jurus gombalnya tapi Fey tidak menggubrisnya. Ia lebih fokus melihat Di dan pak Po yang sudah mengundang banyak perhatian orang karena permainannya.
“Bagi kita, Di memang tidak sendirian. Namun bagi orang lain, Di tetap seorang diri karena mereka tidak bisa melihat pak Po. Kau dengar isi kepala pria-pria hidung belang itu? Aku ingin sekali mencincang mereka semua.” Fey mengepalkan kepalanya karena geram mendengar kata-kata mesum setiap pria yang melihat Di.
“Sepertinya ... aku punya firasat buruk kalau kau sudah bicara seperti itu, Honey. Jangan buat kekacauan disini. Kita bereskan saja mereka diam-diam supaya tidak mengganggu kenyamanan yang lain.” Refald memukul-mukul kedua tangannya sendiri sambil melemaskan otot-otot tangan dan kakinya. “Ah ... sudah lama aku tidak berkelahi. Terakhir aku berkelahi dengan Leo dihari pernikahannya dulu, dan itu sudah lama sekali.”
Fey hanya melongo melihat suaminya jadi sangat antusias begitu.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
Nanti aku sambung lagi ... episodenya udah panjang banget soalnya.