Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 60 Munculnya makhluk astral


__ADS_3

“A-apa itu tadi?” tanyaku ketakutan dan terkejut melihat sekelebat bayangan yang aku yakini itu adalah hantu yang paling terkenal dan fenomenal di negara ini, yaitu ‘kuntilanak’.


Refald menatap wajahku yang pucat karena ketakutan, “Ada apa, Honey? Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti itu?”


“I ... itu ....” aku berusaha menguasai diri agar tidak terlalu takut supaya aku bisa menjelaskan apa yang aku lihat pada Refald. Bisa jadi, ini hanya halusinasiku saja. “Aku yakin aku tadi melihat sesuatu,” ucapku pada Refald dengan nada gemetar karena terlalu syok.


“Melihat apa?” Refald berubah sangat waspada.


“Aku yakin ... meski sebenarnya aku tahu kau tidak akan percaya dengan ucapanku.” aku menelan salivaku untuk memberanikan diri mengucap nama populer dari sosok mengerikan yang baru saja aku lihat. “Aku sungguh sangat yakin sekali, kalau sosok tadi, adalah sosok kuntilanak.” aku gemetar mengucap kata ‘kuntilanak’.


Mengatakan satu kata itu saja sudah membuatku gemetar seperti ini. Apalagi aku sudah melihatnya, yaitu sosok makhluk yang berbaju putih dan berambut hitam panjang yang selalu bergentayangan di tempat-tempat sepi dengan ciri khas tawanya sehingga siapapun yang mendengarnya akan ketakutan setengah mati. Seperti yang terjadi padaku saat ini. Bayangannya benar-benar membuatku takut.


"Tenanglah, Honey. Mungkin itu hanya imajinasimu saja." Refald berusaha menenangkanku.


Aku hanya diam dengan kondisi tubuh masih gemetar dan ketakutan.


Aku sungguh tidak habis pikir, kenapa makhluk-makhluk astral itu selalu muncul seperti ini? Apa ada hubungannya dengan kata sandi itu? Tapi aku tidak mengucapkan kata sandi apapun selama berada di dalam hutan ini. Kenapa bisa begini? Dan kenapa juga aku harus melihat mereka lagi di saat seperti ini?


“Kau tidak apa-apa, Honey?” sepertinya Refald bisa membaca kecemasanku, ia langsung menoleh ke belakang dan mengamati semua tempat yang ada di sekitar kami.


Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, sebab aku sendiri juga masih bingung dan ketakutan. Hutan ini sungguh gelap dan menakutkan persis seperti apa yang dikatakan Refald tadi sore.


"Apa ini maksud ucapanmu tadi?" tanyaku lirih. "Itulah kenapa kau ingin kita cepat-cepat pergi dari hutan ini tadi? Apa kau sudah tahu?" nadaku suaraku terdengar gemetar.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Sudahlah, jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu. Kau kelelahan, makanya mudah sekali berkhayal yang bukan-bukan di tempat gelap seperti ini."


Lagi-lagi aku diam. Apa yang dikatakan Refald itu benar. Hari sudah mulai gelap memang, jadi wajar kalau tiba-tiba suasana menjadi sangat mencekam dan menyeramkan. Apalagi saat ini kami hanya berdua saja, kami berada di tengah hutan yang lebat dan sangat gelap.

__ADS_1


“Akan kunyalakan api unggun dulu untuk penerangan agar kau tidak takut lagi, Honey. Ada aku di sini, jangan takut oke,” ujar Refald setelah memastikan bahwa aku sudah mulai bisa mengendalikan diri lagi. "Tidak ada apa-apa disekitar sini."


Aku hanya bisa mengangguk pelan mendengar kata-kata Refald. Jantungku masih saja berdetak kencang, entah kenapa aku merasakan ada firasat yang buruk di sini. Tapi aku tidak ingin membuat Refald khawatir. Aku sangat tidak yakin bakal bisa melewati malam ini dengan tenang. Jadi, aku akan berusaha keras untuk mengalihkan rasa ketakutanku.


Aku memutuskan mengamati Refald yang sedang sibuk membuat perapian, dan lagi-lagi, tanpa sengaja aku melihat sosok seperti kuyang melayang di udara. Spontan saja aku langsung berteriak ketakutan. Ini yang ke dua kalinya aku melihat makhluk mengerikan itu lagi.


“Fey!” Refald sangat terkejut mendengar teriakanku dan langsung berlari ke arahku yang tertunduk dan menelungkupkan kepalaku diantara lutut dan kedua lenganku. “Ada apa lagi? Kenapa berteriak seperti itu?” Refald langsung memelukku.


Aku bergidik ngeri membayangkan kembali makhluk mengerikan seperti kuyang yang baru saja muncul dihadapanku.


Bagaimana tidak ngeri? Makhluk yang merupakan siluman berwujud kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit dan anggota badan yang dapat terbang itu bergentayangan di tengah-tengah hutan lebat seperti ini.


Harusnya makhluk semacam ini hanya ada di daerah Kalimantan, kenapa ada di sini? Apa ada bayi atau wanita melahirkan yang sedang dia incar. Sungguh menakutkan sekali makhluk tadi. Hiiiii .... menakutkan sekali!


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berharap bahwa apa yang aku lihat itu cuma mimpi. Aku masih saja syok dan gemetar, bahkan saking takutnya, tak terasa air mataku sudah mengalir. Aku menangis di dekapan Refald.


“Tapi ... aku ... melihatnya, percayalah padaku, aku sungguh bisa melihatnya. Makhluk itu mengerikan sekali Refald, aku tidak bohong. Apa kita tidak bisa pergi dari sini? Tempat ini menakutkan sekali!” ucapku sambil menangis sesenggukan.


“Oke, aku percaya, tapi kita tidak bisa pergi dari sini. Akan lebih berbahaya jika kita keluar dari lingkaran api itu. Binatang buas bisa menyerang kita kapan saja. Sebaiknya kita di sini sampai fajar tiba, baru kita melanjutkan perjalanan lagi. Ada aku di sini, tidak akan ada siapapun yang bakal berani mengganggumu bahkan itu makhluk astral sekalipun. Tenanglah Honey, kau juga butuh istirahat. Sekarang tidurlah didekapanku, aku akan menjagamu.” Refald terus berupaya menenangkanku dan menghilangkan ketakutanku dengan memeluk erat tubuhku.


Kata-kata Refald sungguh membuatku nyaman. Aku pun langsung merasa aman berada dipelukannya.


Refald menyandarkanku dibatang pohon yang besar sambil masih mendekapku didadanya. Samar-samar aku mendengar Refald sedang berbisik sesuatu.


“Ehm ... kau bilang apa? Aku tidak dengar?” aku menengadah ke arah Refald yang baru saja menatap ke atas pohon. Aku pun mengikuti arah pandangannya dan tidak menemukan apapun selain rimbunan daun dan ranting pohon yang menutupi seluruh tempat ini.


“Oh, tidak apa-apa, aku hanya berusaha membuatmu tenang agar tidak ketakutan,” terang Refald sambil tersenyum.

__ADS_1


Entah mengapa aku merasa ada yang Refald sembunyikan dariku. Tapi aku tidak tahu apa itu. sejauh ini aku hanya bisa memercayai Refald lebih dari diriku sendiri. Berkat dia sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengatasi ketakutanku.


“Tidurlah Honey, aku akan berjaga-jaga.” Refald masih belum mau melepaskan pelukannya. Ia terlihat lebih waspada seolah-olah ia sedang menghadapi sesuatu yang tidak ku tahu.


“Kau juga perlu tidur, Refald.” Aku mulai mencemaskan keadaan Refald yang akhir-akhir ini kurang tidur gara-gara mengikuti kegiatanku. Di tambah dengan situasi seperti ini.


Aku yakin ia bahkan juga belum tidur sama sekali sampai detik ini. Namun sepertinya ia terlihat baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda ia kurang tidur atau kelelahan. Kalau orang biasa pasti sudah pingsan.


Aku jadi penasaran siapa sebenarnya Refald ini. Ia memiliki fisik yang sangat kuat. Dia seolah berbeda dengan manusia pada umumnya. Tapi Refald selalu menyangkal bahwa dia sama seperti yang lainnya.


Apa semua anggota klub pendaki kelas kakap seperti Refald memang mempunyai kekuatan fisik yang menakutkan? Atau jangan-jangan Refald punya kekuatan supranatural? Apa dia seorang indigo juga?


Batinku terus bergejolak mencari tahu siapa jati diri Refald yang sebenarnya. Ketakutanku yang begitu besar akan datangnya makhluk astral yang berkeliaran di sekelilingku, kini mendadak hilang dan langsung digantikan dengan rasa penasaranku yang amat sangat terhadap Refald.


Saat aku ingin bertanya mengenai siapa Refald yang sebenarnya, lagi-lagi aku melihat sosok makhluk yang paling menakutkan di negara ini. Makhluk itu bahkan terang-terangan memelototiku seolah mengancamku agar tidak bersuara.


Tubuhku langsung menegang dan kaku tanpa bisa bergerak, aku yakin Refald juga bisa menyadarinya, makhluk itu manatapku yang terpaku menatap balik sosok yang berbentuk guling berbalut kain kafan dengan tangan terikat dan wajah menyeramkan yang membelakangi Refald.


“Ada apa lagi, Honey?” Refald menggoyang-goyangkan tubuhku yang masih belum bisa berbicara karena gemetar ketakutan.


Perlahan, Refald memutar kepalanya ke belakang mengikuti arah tatapanku yang terpaku. Anehnya, Refald sama sekali tidak gemetar ketakutan sepertiku. Sebaliknya, ia malah terlihat marah dan geram.


Aku jadi bingung, apa Refald bisa melihat sosok itu atau tidak? Karena Refald tidak terlihat takut sama sekali. Bahkan terkesan makhluk itu yang terkejut.


Begitu pocong itu melihat wajah Refald, ia langsung menghilang. Aku jadi terkejut dan semakin penasaran.


Ada apa ini? Ke mana perginya pocong yang menakutkan tadi?

__ADS_1


****


__ADS_2