
Ayahku masih terpaku menatap wajah cantik istrinya yang tak pernah berubah walau hampir satu dekade sudah berlalu. Ayahku memang orang yang tidak suka banyak bicara, ia jarang sekali menunjukkan ekspresinya, tapi aku tahu, ayahku sangat mencintai ibuku lebih dari apapun.
Diantara kami bertiga, Ayahlah yang paling terpukul atas kepergian ibu untuk selamanya. Ia begitu menderita tapi tidak pernah sekalipun ia perlihatkan pada kami. Ayah selalu bersikap tegar didepanku dan juga Sakura sampai aku salah paham pada Ayah mengenai sikapnya yang terlihat biasa saat ibu meninggal.
Namun kini aku tahu, dibalik sikap tegarnya, ayahku menyimpan sejuta kerinduan yang mendalam pada ibu. Itulah kenapa sampai saat ini, ayah tidak pernah mau menikah lagi, sebab bagi ayahku, tak akan ada yang bisa menggantikan posisi ibu dihatinya.
Ayah tidak pernah bisa melupakan ibuku walau ibu sudah tak lagi bersama dengan ayah. Disetiap sudut kamar ayah, hanya ada foto-foto ibuku dan beberapa kenangan indah mereka. Foto saat ibu hamil, foto saat Sakura dan aku lahir, semua itu masih terpasang rapi diruangan ayah dan tak ada yang berubah.
Hingga detik ini, saat ayah kembali bertemu dengan ibuku, perasan cinta ayahku yang begitu dalam pada ibu, kembali bisa kurasakan. Mereka berdua saling berhadapan dan ibu langsung merengkuh tubuh ayah. Sama halnya seperti Sakura, raga ayahku dan jiwa ibu tak bisa bersentuhan. Itu karena mereka berdua berbeda dunia.
“Maafkan aku suamiku, Sayang. Kau hidup menderita sendirian. Maafkan aku juga yang harus membuatmu jadi seperti ini. Tidak ada lagi yang bisa aku katakan padamu selain kata maaf.”
Aku tak bisa membendung air mataku lagi kali ini. Tanpa ku sadari, pipiku sudah penuh dengan buliran air mata. Bahkan akupun jadi sesenggukan. Kisah cinta mereka begitu indah, tetapi sayangnya harus berakhir karena maut memisahkan mereka.
Ingin rasanya mempersatukan mereka kembali, tapi itu sangatlah tidak mungkin. Dunia ibu dan ayahku sudah berbeda. Mereka tidak bisa lagi bersatu, momen ini adalah pertemuan terakhir bagi mereka.
“Jangan menangis, Honey. Ini sudah menjadi takdir yang harus mereka hadapi bersama. Meski kini mereka berada di dunia yang berbeda, tetapi hati dan cinta mereka tetap bersama dalam satu jiwa. Kau pasti juga bisa merasakannya,” ujar Refald menenangkanku.
Kata-kata Rafald membuatku semakin mengeratkan genggaman tanganku padanya, aku menyandarkan kepalaku di bahu Refald sambil merekam momen indah antara ayah dan ibuku dalam ingatanku.
“Aku mencintaimu, Nadeshiko. Tunggulah aku disana, kita akan bisa bersama kembali jika saatnya sudah tiba,” ucap ayah pada ibuku yang langsung dibalas senyuman manis darinya.
Ibu juga menyapa ayah dan ibu Refald yang kini telah menjadi mertuaku meski belum resmi di dunia ini. “Terimakasih, Mr dan Mrs. Dilagara, kalian berdua bersedia menerima putri keduaku sebagai menantu kalian. Mohon terus bimbinglah dia dan bersabarlah menghadapi sifat keras kepalanya. Walaupun begitu, hatinya sangat baik dan juga rapuh, dan aku sangat menyayangi kedua putriku. Sebagai ibunya, hanya itu yang bisa kukatakan pada kalian berdua.”
__ADS_1
“Jangan khawatirkan putrimu Mrs. Kinomoto. Kamilah yang memilihnya, karena hanya Shiyuri yang pantas mendampingi putra kami satu-satunya. Kamilah yang harusnya berterimakasih pada kalian berdua karena bersedia memercayakan putrimu pada kami. Semoga anda tenang di alam sana dan tak lagi mengkhawatirkan kedua putri cantikmu ini," ucap ibu mertuaku, Hellena. Aku yakin ibu mertuaku yang cantik itu juga berkaca-kaca.
Ibuku memeluk ibu Refald yang ajaibnya, mereka bisa saling berpelukan seperti manusia biasa. Pemandangan itu tentu saja sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada Sakura dan ayahku. Ibu mertuaku, bisa menyentuh jiwa ibuku.
“Refald, bagaimana bisa? Ibumu ... memeluk langsung ibuku ....”
Refald tak langsung menjawab karena ia sedang memejamkan mata dan berkosentrasi penuh pada kekuatannya. “Kau pun juga bisa memeluk ibumu, Honey. Karena kau dan ibuku berbeda dan istimewa," jawab Refald lirih.
Untuk pertama kalinya aku melihat ada peluh memenuhi wajah Refald. “Kau tidak apa-apa, Sayang?” tanyaku mulai khawatir. Sebab, sebelumnya Refald tidak pernah berkeringat sekalipun ia berlari dengan sangat kencang.
“Ehm, aku tidak apa-apa, Honey,” jawab Refald sambil terus menatap ke depan.
“Peluklah ibumu Honey, selagi masih ada waktu.” Bukannya menjawab pertanyaanku, Refald malah mengalihkan pembicaraan.
Ibuku menghampiriku dan langsung memelukku dengan sangat erat. “Terimakasih Sayang, kau memberiku kesempatan yang paling berharga sepanjang kehadiranku dalam dunia ini. Kau adalah berkah bagiku, selamat tinggal dan semoga kau terus bahagia bersama Refald.”Ibu benar-benar memelukku.
Sebuah pelukan ibu yang amat sangat aku rindukan dari dulu. Kini, aku bisa merasakan hangatnya pelukan ibuku kembali. Benar apa yang dikatakan Refald. Aku benar-benar bisa memeluk jiwa ibuku.
“Apa, ibu sudah harus pergi?” tanyaku sedikit kecewa.
"Ehm, ibu tidak bisa lama-lama di sini. Lihatlah suamimu, ia sudah banyak menggunakan seluruh kekuatannya sampai seperti itu. Kau beruntung memiliki suami sehebat Refald, Sayang. Kalian berdua adalah pasangan yang paling serasi. Dan Kau Refald.” Ibu beralih menatap Refald. “Aku serahkan Shiyuri padamu. Jaga dia baik-baik dan juga ... bolehkah aku minta satu hal padamu sebelum aku benar-benar pergi dari sini?” tanya ibu penuh harap pada Refald.
__ADS_1
“Katakan, Ibu? Akan aku lakukan apapun yang Ibu minta, sebagai hadiah pernikahan Fey denganku.”
“Bertahanlah sebentar lagi, dan tolong bawa aku dan suamiku ke atas, ada yang ingin kukatakan berdua dengannya. Maaf jika permintaanku ini akan menguras semua tenagamu, tapi aku ingin mengatakan sesuatu padanya sebelum aku pergi dan ini sangatlah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun.”
“Baik, Ibu.” Refald langsung memejamkan matanya dan seketika ibuku menghilang dari hadapan kami semua begitu juga dengan ayahku.
“Aku sangat menyayangimu Shiyuri dan juga kau Sakura." Terdengar suara merdu ibuku yang menggema disetiap sudut ruangan. "Doaku, akan selalu bersama dengan kalian. berbahagialah untuk selamanya, karena kasih sayangku akan selalu hidup dihati kalian berdua. Selamat tinggal semuanya, dan terimakasih untukmu Refald.” Suara indah ibuku langsung menghilang, tetapi ayahku masih belum juga kembali. Beberapa saat kemudian, semua orang kembali bergerak dan semua terlihat seperti semula.
Aku dan Sakura juga berpura-pura bersikap biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, aku sangat terkejut karena tiba-tiba saja, Refald terjatuh dan genggaman tangannya terlepas dariku. Aku hanya terkejut menatap Refald mendadak pingsan.
Syukurlah pak Po dan mbak Kun bertindak cepat menahan tubuh Refald dan meletakkannya pelan-pelan di tanah tanpa kentara agar tubuh pangeran mereka tidak terluka.
“Refald!” seruku.
BERSAMBUNG
***
terus dukung like, vote dan komentarnya ya .. terimakasih ..
sambil menunggu up selanjutnya baca juga karya terbaruku ya ...kisah cinta Sanha dan Zariya
__ADS_1