
Melihat istrinya yang tiba-tiba saja menjadi agresif seperti itu, tentu saja membuat Refald sedikit terkejut. Ini pertama kalinya ia melihat Fey bisa berbuat mesum padanya. Namun, tak dapat dipungkiri kalau Refaldpun senang sekali jika istrinya yang polos ini ketularan sifatnya. Saat ini, Refald memang hanya bisa menatap Fey dengan kilatan mata penuh cinta. Wanita yang kini sah menjadi istrinya, terlihat luar biasa. Fey yang sekarang, bukanlah Fey yang dulu, rapuh dan sedikit cengeng. Istrinya itu terlihat dewasa dan juga bertalenta.
Bahkan Refald merasa, Fey berkembang jauh lebih kuat darinya dan juga lebih keren terlepas dari apa yang sudah berhasil gadis itu lakukan terhadap salah satu pasukan dedemitnya untuk membuat mantan makhluk astral itu bahagia bersama pasangannya.
Ada perubahan besar yang terjadi sejak Refald dan Fey menjalin hubungan di usia remaja hingga keduanya resmi menikah. Dari segala hal yang dilakukan Fey seiring dengan bertambahnya usia, Semakin jatuh cintalah Refald pada sosok wanita yang kini mencoba membuatnya terangsang dengan sentuhan tangannya yang mungil.
“Tunggu, Honey! Apa yang kau lakukan?” tanya Refald saat Fey mencoba membuka resleting celananya.
“Apalagi? Transfer tenaga dalam untukmulah. Kau bilang, jika kita bercinta ... ehm, maka tenaga kita akan semakin bertambah,” ujar Fey sambil terus melanjutkan aktivitasnya duduk diatas perut kotak-kotak suaminya sambil menanggalkan satu persatu pakaian Refald.
Mendengar jawaban Fey, Refald jadi tersenyum girang. Tidak hanya bertambah keren, istrinya ini juga sudah mulai berani blak-blakan didepannya. “Honey, ternyata kau sudah bukan wanita lemah lagi sekarang, kau bisa liat juga rupanya,” ujar Refald sambil menatap genit wajah Fey yang bergerak aktif diatasnya. “Baiklah, lakukan apapun yang ingin kau lalukan, Honey. Aku pasrah padamu.” lagi-lagi Refald memamerkan senyuman manisnya sehingga membuat Fey jadi merasa malu sendiri.
“Tutup matamu! Aku tidak ingin kau melihatku seperti itu, malu tahu!”
Sejujurnya, Fey tidak ingin bersikap seperti ini, rasanya ia bukan Fey yang biasanya. Tapi, Refald sedang membutuhkan tenaga darinya, jadi mau tidak mau Feylah yang harus lebih dulu memulai melakukan ritual maju mundur cantik menggantikan suaminya.
“Tidak mau!” jawab Refald cepat. “Aku sangat ingin melihat wajah mesum istriku,” goda Refald.
“Siapa yang mesum?” Fey tidak terima karena wanita baik-baik sepertinya dibilang ‘mesum’, oleh suaminya sendiri pula.
“Kau!” tandas Refald. “Aku alim sekarang. Karena aku pasrah padamu,” goda Refald lagi.
“Kalau saja kau tidak kehilangan banyak kekuatan, aku tidak akan melakukan ini! Anggap saja ini yang pertama dan terakhir!” Fey buang muka untuk menyembunyikan rasa malunya dari Refald.
“Kalau begitu, aku lebih memilih kehilangan banyak kekuatanku agar kau mau melakukan seperti ini terus untukku.”
“Sudah, diam dan tutup mata saja! Cepat! Jika tidak, aku tidak mau melakukannya!” ancam Fey.
“Tidak mau! Sudah aku bilang, aku ingin melihat wajah mesum istriku saat dia beraksi diatasku!”
“Refald, bisakah kau berhenti berkata begitu, sungguh aku merasa aneh dan malu sendiri.”
“Honey, aku suamimu. Kita sudah melakukannya berkali-kali. Harusnya kau sudah tidak malu lagi. Ini akan menjadi rutinitas kita sehari-hari, karena inilah yang kita tunggu-tunggu selama ini.” Refald tersenyum mendengar ucapannya sendiri. Ia mencoba bangun dan mendekatkan wajahnya didepan istrinya. Lekat dan sangat dekat. “Lakukan proses transfer tenaga untukku, kita nikmati bersama-sama, kau ...adalah istriku, tidak perlu malu lagi pada suamiku sendiri.” Refaldpun mencium mesra bibir Fey, mengisapnya lembut sambil membantu istrinya melepaskan satu persatu pakaiannya.
Kata-kata Refald yang manis semanis madu sukses melelehkan hati Fey sehingga ia pun mulai melakukan aksi naik turunnya diatas tubuh Refald. Keduanya saling melepaskan hasrat birahi mereka masing-masing. Saling memeluk dan memberikan sentuhan-sentuhan yang bisa membangkitkan gelora bercinta keduanya sampai mengeluarkan suara desahan-desahan yang merdu didengar bagi pasangan yang sedang bersenggama.
__ADS_1
Semakin lama keduanya bercinta, semakin cepat dan besar pula tenaga Refald kembali. Ditengah proses naik turunnya Fey diatas tubuhnya, Refald merasakan kekuatannya sedikit demi sedikit mulai pulih. Ia pun menikmati setiap hentakan yang dilakukan Fey diatas tubuhnya, pelan tapi pasti. Entah kenapa Refald jadi semakin terpesona dengan istrinya. Fey jadi terlihat seksi saat beraktivitas diatasnya.
Dengan gerakan cepat, Refaldpun membaringkan Fey diatas kasur dan langsung menindih tubuh istrinya dengan tubuhnya. Kilatan mata Refald semakin bersinar terang menandakan bahwa kekuatannya sudah kembali.
“Sekarang, giliranku Honey. Aku sudah, pulih.” Seringai menggoda mulai Refald perlihatkan pada istrinya yang bengong menatap betapa tampannya Refald kalau tenaganya sudah kembali seperti sedia kala.
Keduanya saling menikmati proses maju mundur cantik yang dilakukan Refald sampai akhirnya mereka saling mengalami pelepasan bersama-sama. Refald memeluk tubuh istrinya sampai proses transfer kecebong selesai dilakukan.
“Terimakasih Honey, kau sumber kekuatanku. Ayo kita membersihkan diri sambil melakukan ronde kedua. Kali ini aku yang beraksi!”
“Hah, tapi ... belum juga semenit, masa mau lagi?” protes Fey.
“Kekuatanku baru saja pulih dan aku semakin cepat pula ingin lagi.”
"Tapi kan ... masa tidak ada jeda? Tunggu 10 atau 20 menit kek, baru main lagi. Ini apa-apaan?" Fey terus saja protes, tapi Refald tidak menggubris ocehan istrinya.
Dengan gerakan secepat kilat, Refald menggendong tubuh Fey masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya supaya istrinya itu tidak melarikan diri. Selama satu jam lebih, keduanya berada di dalam kamar mandi menikmati masa-masa indah pemulihan tenaga dalam Refald. Suara air serta desahan keduanya, menyatu dalam derasnya air mengalir membasahi tubuh pasangan sejoli yang sedang asyik memadu kasih di keheningan malam sepi dan sunyi.
Fey dan Refald benar-benar menikmati suasana romantis tanpa peduli bahwa ada seseorang yang sedang menunggu dengan amat sangat cemas dilantai dasar. Orang itu berjalan mondar mandir kesana kemari sambil menggigiti jari jempolnya sendiri.
“Berhenti mondar-mandir, Suamiku. Aku bingung melihatmu seperti itu,” komentar Di yang sejak tadi memerhatikan gerak gerik suaminya.
“Di, ini pertama kalinya aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk pangeran Refald. Aku sangat khawatir dan mencemaskan keadaannya. Aku tahu, memang sudah ada Putri Fey disampingnya, tapi tetap saja aku tidak bisa tenang. Puluhan tahun aku berada di sisi Pangeran. Dan selalu ada setiap kali beliau membutuhkan. Rasanya sangat aneh kalau aku hanya diam disini sementara pangeran tergeletak tak sadarkan diri.”
“Sepertinya kekhawatiranmu itu terlalu berlebihan, Ezi. Aku rasa pangeranmu tidak selemah itu.”
“Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau tidak lihat? Tadi Pangeran pingsan begitu saja. Aku tidak bisa tenang sebelum melihatnya sadar.”
“Dia baik-baik saja,” ujar Di dengan santai. Pak Po pun langsung menatap tajam istrinya.
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya pak Po.
“Karena orang yang kau cemaskan sedang berjalan kemari,” ujar Di lagi masih dengan nada santai.
“Apa?” Pak Po menatap istrinya yang memberikan kode supaya ia menoleh ke belakang.
__ADS_1
Dan benar saja, rupanya Refald dan Fey sedang berjalan menuruni tangga dan sedang menuju kearah mereka dengan raut wajah bahagia seolah dunia hanya milik Fey dan Refald saja. Tak terasa, sekarang sudah pukul 04.00 pagi.
Mata pak Po tak bisa berkedip melihat Refald sudah terlihat segar bugar seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal beberapa waktu lalu, pangerannya itu terbaring lemah tak berdaya. Namun sekarang, Refald benar-benar terlihat fresh dan matanya berubah semakin terang.
“Tutuplah mulutmu itu pa Po, kau bisa kemasukan lalat nanti,” ujar Refald sambil membantu mengatupkan mulut menganga mantan pasukan dedemitnya. Refald tersenyum geli melihat ekspresi pak Po alias Ezi saat melihatnya. “Aku tahu aku sangat tampan, kau tidak perlu melihatku seperti itu. Istrimu bisa salah paham padaku. Lagian aku juga tidak tertarik dengan siapapun kecuali istriku, Fey.” Refald mengedipkan salah satu matanya untuk menggoda pak Po. Ucapan dan perbuatannya, benar-benar berbeda.
“Ka-kalian ... habis darimana? Kenapa rambut kalian berdua basah kuyub, begitu?” tanya pak Po dengan wajah polosnya sehingga membuat Fey jadi salah tingkah.
“Kau tidak menyediakan handuk untuk kami, jadi setelah mandi, kami langsung memakai baju kami masing-masing,” terang Refald jujur apa adanya tanpa merasa malu.
“Ah, maaf Pangeran, hamba lupa. Bahkan hamba juga tidak sadar kalau sekarang saya sudah menjadi manusia.” Pak Po pun menunduk dihadapan Refald. Sedangkan Refald hanya tersenyum saja.
“Kenapa kau bicara seperti itu, pada pak Po?” bisik Fey. Ia berdiri disamping suaminya sambil mencubit sedikit lengan Refald.
“Biarkan saja, si bodoh ini sudah menikah. Harusnya ia tahu apa yang sudah kita lakukan diatas sana.” Refald balas berbisik mesra ditelinga istrinya.
“Bagaimana pak Po bisa tahu? Berciuman saja ia minta izin padamu, apalagi melakukan itu? Aku berani bertaruh pak Po pasti bakal bikin kita malu dihadapan Di.” Fey masih berbisik-bisik dengan suaminya membicarakan hal-hal intim apa saja yang harus dilakukan sepasang suami istri sementara pak Po dan Di memandang heran keduanya.
“Kau tenang saja, Honey. aku sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk pak Po. Setelah menyerahkan hadiah itu, ayo kita pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan rumah kosong ini sebagai hadiah utama dari kita. Sekaligus ....” Refald tidak melanjutkan kalimatnya. Ia maju ke arah pak Po dan menyerahkan sebuah kamera digital Cannon berukuran kecil pada pak Po. “Ambil ini pak Po. Lihatlah di dalam kamarmu bersama Di. Kalau bisa, langsung praktekkan semua gerakan yang ada dalam video itu. Kami akan pergi keluar sebentar supaya kau bisa leluasa melakukannya dengan istrimu.”
“Apa ini, Pangeran?” tanya pak Po menerima kamera itu dari Refald.
“Ilmu pengetahuan cara membuat anak. Praktekkan dengan baik dan nikmati saja prosesnya. Kami pergi dulu!” ujar Refald dan langsung menggandeng tangan Fey menuju pintu keluar.
Sejak tadi, Fey mati-matian menahan tawa melihat kejutan yang diberikan Refald untuk pak Po. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi pak Po saat melihat video itu.
“Semoga berhasil pak Po, bye!” teriak Fey sebelum ia dan suaminya menghilang dari balik pintu.
Pak Po dan Di saling pandang satu sama lain. Keduanya bingung dan sama sekali tidak mengerti apa maksud ucapan Refald sebenarnya, tapi karena rasa penasarannya terlalu tingggi, pak Po akhirnya menuruti apa yang diperintahkan pangerannya barusan. Ia dan Di, berjalan beriringan menuju kamar mereka untuk menyaksikan video tersebut.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1