Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
Episode 97 Kekuatan yang Hilang


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini? Semedi?” tanyaku dari balik punggung Refald.


Refald mengangguk. “Ehm, bagaimana kau bisa tahu? Apa mbak Kun yang memberitahumu?” Refald turun dari batu besar itu dan berjalan menghampiriku.


“Aku hanya menebak, tidak banyak yang dibicarakan mbak Kun denganku. Sepertinya dia sangat mematuhimu.” Aku lumayan kesal dengan Refald karena bukan dia yang datang menemuiku.


“Sepertinya kau sudah terbiasa dengannya, kau tidak takut lagi.”


“Wajahnya begitu cantik, bagaimana bisa aku takut padanya. Aku saja iri melihat betapa cantiknya dia.” Kekesalanku jadi semakin bertambah karena Refald lebih memilih membahas anak buahnya daripada meredam kekesalanku.



Tunggu, ada yang aneh dengan Refald. Jelas-jelas harusnya dia tahu kalau aku sedang kesal padanya. Sepanjang perjalanan aku selalu merutukinya. Kenapa ia tidak membela diri dan menjelaskan agar kekesalanku padanya hilang? Kenapa ia malah mengalihkan pembicaraan? Jangan-jangan dia ... pikiranku kalut memikirkan bahwa saat ini, Refald tidak menggunakan kekuatannya lagi. Lebih tepatnya, kekuatannya hilang seperti yang ku duga.


Tanpa peringatan Refald langsung mendaratkan bibirnya di bibirku sehingga membuatku terkejut.


“Bagiku, kaulah wanita tercantik yang pernah aku lihat. Tidak ada alasan bagimu untuk iri dengan siapapun. Kau mengerti?” Refald menatap tajam mataku sehingga membuatku jadi gugup.


Ternyata aku salah, Refald selalu tahu apa yang aku pikirkan. Tapi, tetap saja aku merasa ada yang aneh, batinku.


Entah kenapa perasaan kesalku mendadak hilang jika sudah bersama dengan Refald. Rasa aman, senang dan tenang selalu menyelimutiku setiap ada Refald di sisiku. “Bagaimana denganmu? Kau berhutang penjelasan padaku. Mbak Kun bilang kau akan menjelaskan semua yang terjadi ini,” desakku.


“Ayo kita segera pergi dari sini. Jangan sampai penjahat itu menemukan kita.”Refald masih belum mau menjelaskan.


Aku paham dan berjalan kedepannya lalu merangkul leher Refald.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Refald bingung dengan sikapku.


“Sudah jelas, kan? Bukankah kau akan menggendongku seperti biasanya agar kita bisa cepat keluar dari hutan ini? Masa kau sudah lupa?” aku mengingatkan Refald. Dia hanya diam menatapku.

__ADS_1


“Honey, kali ini aku tidak bisa menggendongmu.” Refald memegang kedua tanganku yang ada dilehernya dan menggenggamnya erat. “Tapi aku bisa menggenggam tanganmu, seperti ini.” Refald menunjukkan tangannya yang sudah menggandeng tanganku dan menuntunku berjalan menyusuri tepian sungai.


“Hah? Apa maksudnya ini? Kenapa kau tidak berlari saja? Bukankah kau itu kuat? Kecepatan berlarimu bisa mempercepat kita sampai keluar hutan."


“Aku ingin berduaan denganmu lebih lama.” Aku tahu dia sedang berusaha mengelak. Lagi-lagi aku mengira bahwa dugaanku tentang kekuatan Refald yang hilang itu benar.


“Kita selalu berduaan dimana-mana. Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku. Katakan ada apa? Jangan bilang kalau kekuatanmu hilang lagi?” tebakku.


Refald hanya diam seolah sedang memikirkan sesuatu.


“Honey, saat ini kita sedang dalam bahaya besar. Dugaanmu benar, aku kehilangan kekuatanku karena terlalu marah ketika kau diculik para penjahat itu. Aku tahu mereka juga melukaimu. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa saat itu. Beruntung pasukanku masih bisa melindungi kita. Hanya saja, mereka baru akan muncul setelah petang datang. Sekarang, sudah hampir pagi dan sebelum penjahat itu menemukan kita, kita harus segera pergi dari sini. Apa kau mengerti?” tanya Refald dengan ekspresi serius seolah dia sedang mengetahui sesuatu yang buruk.


“Ada apa ini Refald? Sepertinya mereka memang sengaja menculikku dan itu semua karena mereka menginginkan sesuatu darimu. Siapa mereka? Kenapa mereka mengincarmu? Apa yang sudah kau lakukan?” tanyaku cemas sekaligus penasaran. Bukan karena kekuatan Refald yang hilang, tapi karena aku mencemaskan keselamatan tunanganku yang tiba-tiba saja diincar oleh para komplotan penjahat berbahaya.


“Pasti soal flashdisk yang kita temukan di hutan waktu itu. Kau jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa padaku. Kita akan baik-baik saja begitu keluar dari sini.”


“Kau tidak sedang menghiburku.”


“Kenapa harus aku?”


“Ehm, Honey. Seluruh kekuatanku hilang dan aku jadi manusia normal seperti yang lainnya sekarang. Jadi, di siang hari, aku mengandalkanmu. Tapi malam hari, kau bisa mengandalkan aku. Sama seperti saat pertama kali kita bertemu, kau menyelamatkanku dari amukan sekumpulan banteng ganas itu, kau ingat. Saat itulah aku mulai tertarik padamu.”


Refald sungguh membuatku malu jika mengingat kejadian itu. “Aku membuang jaket limited editionmmu,” sindirku pada Refald dan berjalan pelan meninggalkan dia lebih dulu. Ia hanya tertawa mengingat kejadian waktu itu.


Refald berlari normal menyusulku dan kini kami berdua berjalan beriringan. Ia mengenggam erat tanganku. “Apa kau senang sekarang?” tanya Refald sambil memerhatikanku yang menatap lurus ke depan.


“Soal apa?” jawabku datar.


“Kau punya tunangan yang normal sekarang.”

__ADS_1


“Tidak, aku tidak senang. Aku lebih suka kau jadi Refald seperti Edward! Meski awalnya aku tidak bisa percaya, tapi jujur, aku mulai terbiasa dengan sisi lain kehidupanmu yang abnormal. Rasanya aneh jika sekarang aku harus menjalani kehidupan normalku lagi sembari menunggu kekuatanmu kembali.” Aku tidak tahu apakah nada suaraku terdengar sedih atau tidak, yang jelas aku malu sendiri mengakuinya. Aku melepas genggaman tangan Refald dan berjalan lebih dulu meninggalkan Refald di belakang.


Paling tidak, saat ini Refald tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan, ada hikmahnya juga kalau kekuatannya hilang, walaupun waktunya tidak pas, gumamku dalam hati.


“Apa yang sedang kau pikirkan? Kau kecewa padaku karena kekuatanku hilang? Kau membandingkanku lagi dengan Edward? Sepertinya kisah itu benar-benar meracuni otakmu, ya?” gerutu Refald dari belakang punggungku.


Aku tidak menggubris ocehan Refald dan terus berjalan didepannya. Refald sendiri terus membuntutiku dari belakang tanpa bicara lagi. Entah kenapa aku bahagia berjalan bersama dengan Refald meski ia bilang kami sedang dalam bahaya besar.


Baguslah, sekarang aku bisa berpikiran apapun yang aku mau, karena Refald sudah tidak bisa lagi mendengar pikiranku. Asyeeeek. Hihihi, bahuku naik turun karena aku senyam-senyum sendiri. Otakku kini bisa berpikiran apapun yang aku mau tanpa perlu khawatir Refald tahu.


“Kenapa kau senyam-senyum sendiri?” tanya Refald dari balik punggungku.


“Tidak apa-apa,” jawabku sewot.


Tiba-tiba saja, hujan deras turun, dan membasahi semua pakaianku. Refald langsung berlari menggandeng tanganku dan mengajakku berteduh di bawah pohon yang rindang, tapi tetap saja kami kehujanan. Refald memejamkan matanya seolah sedang berbicara pada sesuatu yang tidak aku tahu. “Sial!” umpatnya kemudian. Dia melihatku yang mulai kedinginan dan menanggalkan jaketnya lalu memakaikannya di bahuku agar aku merasa hangat.


“Bagaimana denganmu? Kau juga bisa sakit kalau basah kuyub seperti itu.


“Jangan khawatirkan aku, Honey. Aku punya fisik yang lebih kuat dibandingkan dirimu. Sini mendekatlah padaku, supaya tubuhmu serasa hangat.” Refald merengkuhku ke dalam dekapannya. “Maafkan aku karena sudah membuatmu terlibat dalam masalah ini. perhitunganku kurang matang. Sepertinya aku harus mengasah kemampuanku lebih bagus lagi supaya tidak melibatkanmu dalam bahaya,” gumamnya sambil mencium keningku.


Aku tidak begitu paham apa yang Refald katakan, jadi aku hanya diam. Dia terlihat sangat kesal sekarang.


“Apa yang akan kita lakukan? Hujannya deras sekali?” aku menengadah menatap wajah tunanganku yang entah kenapa jauh lebih tampan saat semua tubuhnya basah.



“Ada goa di sekitar sini, kita akan ke sana,” ujar Refald sambil mengamati sekeliling.


“Bagaimana kau bisa tahu? Bukankah kekuatanmu hilang?”

__ADS_1


“Ada yang memberitahuku, aku memang kehilangan kekuatanku, tapi mataku masih bisa melihat para dedemit itu di sini. Mereka memberitahu kita. Ayo, kita pergi dari sini,” Refald mengajakku berlari sambil menutupi kepalaku dengan jaketnya menuju goa agar kami bisa berteduh di sana.


*****


__ADS_2