Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
259 Kejutan dari Refald


__ADS_3

Semua orang hanya diam dan menunggu interupsi selanjutnya dari Fey mengenai sidang yang nggak jelas ini. Tidak ada yang berani buka suara kecuali Fey yang memintanya.


“Karena kalian sudah berbahagia dengan pasangan kalian masing-masing, aku harap kalian bisa saling mengucapkan selamat atas kehidupan kalian bersama dengan orang yang kalian cintai. Dimulai darimu, mbak Kun.” Fey menatap mbak Kun agar dia mau melakukan apa yang baru saja Fey interupsikan.


“Selamat untuk kalian berdua. Semoga pernikahan kalian langgeng selamanya,” ujar mbak Kun dengan ekspresi datar sedatar permukaan air kolam.


“Terimakasih,” balas, pak Po tak kalah tenang. “Selamat juga untuk pernikahanmu dengan Arka, semoga kalian cepat menyusul kami punya anak.”


“Terimakasih, mulai sekarang jangan sampai ada kecanggungan lagi diantara kita. Awas jika kau tidak mau bertegur sapa denganku. Akan kucongkel matamu itu.”


“Kau yang selalu menghindariku. Akan aku patahkan kakimu kalau kau sampai menghindar dariku lagi.”


“Aku tidak butuh kaki! Patahkan saja kalau bisa!” seru mbak Kun.


"Aku juga tidak butuh mata, congkel saja kalau kau bisa!”


Pak Po dan mbak kun malah saling debat dan membuat heran pasangan mereka masing-masing. Baru saja baikan, mereka mulai bertengkar lagi.


“Hei kalian berdua! Berhenti berdebat atau aku musnahkan kalian semua!” ancam Refald untuk menghentikan adu mulut antara mbak Kun dan pak Po. Seketika pasukan dedemit Refald itupun diam dan menundukkan kepalanya. Refald sangat menyeramkan kalau sedang marah. “Aku tidak akan memberi toleransi lagi jika melihat kalian berdebat seperti ini. Kalian adalah pasukan dedemitku, jangan ada ketegangan atau kecanggungan diantara kita semua, setuju!”


“Setuju, Pangeran!” jawab pak Po dan mbak Kun kompak.


“Ayo, sayang, kita buat anak seperti pak Po,” ajak mbak Kun pada Arka tiba-tiba dan tanpa permisi, keduanya pun hilang meninggalkan semua yang ada disini.


“Apa? Memangnya mereka bisa buat anak? Bagaimana caranya?” tanya Fey bingung. Ia menatap suaminya dan Refald hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.


“Ayo Di, kau juga butuh istirahat.” Pak Po pun langsung menghilang begitu saja sama seperti mbak Kun dan Arka.


Kini, hanya tinggal Refald dan Fey saja. Keduanya terbengong-bengong melihat sidang cinta yang tidak karuan itu. Daripada disebut sidang, momen tadi lebih pantas disebut debat dan pengakuan.


“Apa-apaan mereka itu? Aku akan beri mereka pelajaran! Main tinggal saja!” geram Refald sambil memukul-mukul kepalan tangannya sendiri.


“Sudah biarkan saja, ada bagusnya mereka pergi, yang penting semua masalahnya sudah beres. Kau dengar tadi? Tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka dan mereka sendiri juga sepakat bakal hidup bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Sekarang ayo kembali, bukankah sebentar lagi kau dan pak Po akan segera pergi bertapa? Ini demi putra kita, kan?”


Refald memeluk mesra istrinya di tengah hutan belantara. “Ehm, ini demi kebaikan kita semua. rasanya berat jika harus meninggalkanmu sendirian setelah dibuat kesal oleh dua dedemitku itu. Ingin sekali aku mencincang mereka.”


“Mereka adalah pasukan terkuatmu. Syukurlah sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Oh iya ... kau sungguh tidak tahu apakah mbak Kun dan Arka bisa punya anak?”


“Ini hal yang baru, Honey. Kau tahu sendiri, pasukanku baru bisa menikah setelah aku menikah denganmu. Pak Po bisa punya anak karena ia sempat menjadi manusia kala itu, tapi mbak Kun dan Arka sama-sama berasal dari dunia yang sama. Aku tidak tahu bagaimana proses mereka membuat anak. Apakah sama dengan kita atau tidak. Haruskah aku mencari tahu?”


“Kau ini? Apa kau tidak malu mengintip pasukanmu saat ... saat ....” Fey tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


“Saat apa, Honey?” Refald malah menggoda Fey.


“Entahlah, terserah kau saja!” ujar Fey dan gadis itu nyelonong pergi meninggalkan Refald, tapi ia baru sadar kalau dirinya kini berada di tengah hutan. Semua terlihat sama. Ia tidak tahu mana jalan yang tepat agar bisa keluar dari tempat ini.


Saat ia berbalik badan menoleh kearah suaminya, Refald sudah tidak ada ditempatnya. Ia menghilang dan tinggallah Fey sendirian di tengah hutan.


“Refald!” panggil Fey dengan keras.

__ADS_1


Tidak ada sahutan. Fey jadi panik, masa iya Refald tega meninggalkannya sendirian disini.


“Disini, Honey, kau mencariku?” tiba-tiba saja Refald muncul di belakang punggng istrinya sambil memeluknya erat.


“Kemana saja kau! Aku pikir kau meninggalkanku sendirian.” Fey berbalik badan menatap suaminya.


“Maaf Honey, tadi aku menyiapkan sesuatu untukmu, habis kau terlihat kesal, makanya aku mencoba menghiburmu. Ayo, ikutlah denganku. Ada yang ingin aku tunjukkan padamu.” Refald menggenggam erat tangan istrinya dan menghilang pergi ke suatu tempat.


Rupanya, Refald membawa Fey kesebuah danau yang tidak terlalu luas tapi cukup menenangkan hati bila datang ke tempat yang sunyi. Letaknya ada diperbukitan dekat tempat tinggal Fey dan Refald saat ini.


Ada yang spesial di danau ini, bukan karena tempatnya yang kecil dan belum banyak dikenal orang, tetapi karena munculnya kawanan kunang-kunang beterbangan mengelilingi danau dan sekitarnya. Saking banyaknya, hewan-hewan bercahaya itu terlihat sangat menakjubkan. Suasana malam di danau ini bagaikan berada di negeri dongeng.


Ini adalah malam langka, sebab para binatang bercahaya itu tak setiap hari terbang seperti ini. Namun, Fey adalah salah satu orang yang sangat beruntung karena Refald bisa menunjukkan momen spesial ini pada istrinya.


Panorama alam ini berhasil membuat susana hati Fey yang tadinya badmood berubah jadi berbunga-bunga ketika melihat betapa indahnya pemandangan yang ada di tempat ini. Apalagi malam ini, bertepatan dengan malam bulan purnama.


“Kau suka?” Refald memeluk Fey dari belakang sambil memerhatikan kunang-kunang yang beterbangan disekitar mereka.


“Sangat suka. Ini sangat menakjubkan. Bagaimana kau bisa menemukan tempat seindah ini, Refald? Ini benar-benar indah. Aku tidak pernah melihat kunang-kunang sebanyak ini. Terimaksih, Suamiku. Terimakasih sudah membawaku kemari. Daebak.” Sebuah ciuman manis langsung mendarat di bibir Fey yang indah.


“Jangan beterimaksih Honey, sudah sewajarnya aku memberimu kebahagiaan yang pantas kau dapatkan. Pasti berat bagimu selalu membawa putra kita yang sekian hari semakin bertambah beratnya.” Refald memegang perut Fey dengan kedua tangannya. Refald juga tak henti-hentinya memberi kecupan manis dipipi Fey yang putih mulus itu. “Seandainya aku bisa, aku ingin menggantikanmu. Kau kesulitan duduk, kesulitan bergerak bahkan makanpun kadang kau sering mutah. Melihatmu seperti itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa, Honey. Apa yang aku lakukan ini, tak sebanding dengan apa yang sedang kau alami saat ini.”


Fey menutup mulut suaminya dengan jari telunjuknya. “Kau bawel sekali, semua wanita yang sudah bersuami, pasti mendambakan momen seperti ini Refald. Dengan mengandung buah hati kita, aku menjadi wanita yang sempurna karena bisa memberikan keturunan generasi penerusmu. Dikehamilanku yang sudah memasuki trimester akhir ini, aku memang tidak bisa tengkurap, tida bisa leluasa duduk ataupun begerak. Sangat begah bila harus kemana-mana. Namun, dibalik semua itu, apa kau tahu hal yang membuatku paling bahagia selama kehamilanku?” Fey diam sejenak dan memegang kedua tangan Refald ke bagian perut yang sedang ditendang-tendang Refald kecil.


“Wauww! Bergerak!” Seru Refald senang. Sebuah tendangan kuat tepat mengenai telapak tangan Refald.


“Tendangan dari Refald kecil ini membuatku benar-benar merasa sangat bahagia, Refald. Dia seolah mengerti apa yang aku rasakan dan yang kita bicarakan. Itu adalah hal paling bahagia dalam hidupku. Putra kita aktif sekali, aku tidak tahu bagaimana caraku menunjukkan padamu betapa bahagianya aku saat ini. Terimakasih, Suamiku.” Fey mengamati perutnya sambil menatap suaminya yang masih betah bersimpuh didepannya.


Perlahan Refald bangun berdiri dan lagi-lagi, ia mencium mesra bibir Fey. “Sekarang ganti kau yang bawel. Akulah yang harus berterimakasih padamu Honey, kehadiranmu membuat hidupku jadi sempurna.” Refald melanjutkan ciuman mautnya di tengah-tengah hamparan kunang-kunang yang menari-nari seolah ikut bahagia melihat lautan cinta yang sedang membara menyelimuti Fey dan juga Refald.


Tepat tengah malam, Fey dan Refald tiba di kamar mereka. Dengan pelan dan hati-hati, Refald membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.


“Kau lelah?” tanya Refald sambil mengusap pelan pipi merah merona istrinya.


“Bantu aku bangun lagi,” pinta Fey.


“Kau mau kemana?” tanya Refald.


“Suda jelas, kan? Pak Po menjadikanku hadiah taruhan untukmu, kau bilang kalau aku tidak melaksanakan hadiahmu, maka kau akan mati. Aku tidak mau itu terjadi.”


“Kau, benar. tapi kenapa harus bangun dari tempat tidur? Kau cukup berbaring saja, biar aku yang beraksi.”


“Mana bisa begitu? Aku tidak bisa memasak sambil tidur, bodoh! Lagian di dapur tidak ada tempat tidur, bagaimana bisa kau menyuruhku masak sambil berbaring?”


“Siapa yang menyuruhmu memasak, Honey?” pekik Refald.


“Kau bilang kau ingin nutrisi sebanyak-banyaknya dariku.”


Refald menutup mukanya dengan satu tangan. “Kau salah paham lagi, Honey. Nutrisi yang aku inginkan bukan berasal dari makanan yang kau masak. Nutrisi yang aku maksud adalah ini ...” Refald mencium bibir Fey dengan lembut, mengisapnya secara bergantian. Cukup lama juga Refald melakukannya sampai Fey kehabisan napas.

__ADS_1


Dalam diam, Refald membantu melepas pakaian yang dikenakan Fey satu persatu lalu mengajaknya melakukan ritual maju mundur cantik di malam yang syahdu. Fey sendiri tidak bisa menolak karena itu adalah hadiah Refald sebagai pemenang taruhan.


****


Keesokan paginya, Fey sedang duduk santai dengan Di di depan televisi setelah semalam suami-suami mereka pergi berpamitan untuk bertapa. Awalnya, Refald hanya meminta pak Po mengawalnya saja dan kembali pulang untuk menjaga Fey dan istrinya, tapi pak Po menolak dan lebih memilih mengikuti apa yang Refald lakukan. Yaitu bertapa bersamanya di goa yang nantinya akan menjadi tempat tinggalnya dan Di. Refald sendiri tidak bisa melarang keinginan pasukan dedemitnya itu.


Fey sangat menikmati camilan yang dimasak mbok Min, penjaga rumah neneknya yang sudah bertahun-tahun bekerja disini. Kebetulan, hari ini Nenek Fey juga sedang tidak ada di rumah karena harus menghadiri beberapa acara di balai desa dan beberapa tempat lainnya.


Jadi, Fey bersantai ria dengan Di. Ia mengamati Di yang sedang serius merajut syal dengan menggunakan bola rajut. Fey takjub melihat betapa terampilnya Di saat merajut syal berwarna-warni seperti pelangi tersebut. Tangannya begitu cepat memainkan jarum-jarum rajutan padahal Di tidak bisa melihat.


“Di ... apa itu boleh untukku?” tanya Fey. Matanya tak henti-hentinya mengamati pergerakan tangan istri pak Po itu.


“Tentu Putri, saya sengaja membuatkan syal ini untuk anda. Cuaca disini sangat dingin ditambah sebentar lagi anda melahirkan. Saya harap, saya bisa menyelesaikan rajutan ini sebelum pangeran kecil datang kedunia ini.” Divani tersenyum dan melanjutkan perkerjaanya merajut syal.


“Benarkah? Kau membuatnya untukku? Aku kira kau membuatkannya untuk pak Po.”


“Tidak Putri, saya sengaja membuat syal ini untuk anda. Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana cara berterimakasih pada anda atas apa yang sudah anda dan pangeran Refald lakukan pada saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah membuatkan syal ini dengan ketulusan hati saya dan berharap anda mau menerimanya. Tidak disangka anda menginginkannya bahkan sebelum syalnya jadi. Saya sungguh senang, Putri.”


“Kau luar biasa Di, tapi kau tidak perlu berterimakasih. Aku salut padamu, pak Po sangat beruntung memilikimu disisinya, begitu juga dengan putraku kelak. Aku yakin, putrimu pasti sangat mirip denganmu. Kau tahu? Kau adalah orang yang spesial. Kau memang tidak bisa melihat tapi syal rajutanmu ini benar-benar bagus dan rapi. Bagaimana bisa kau melakukannya? Aku saja belum tentu bisa seperti ini.”


“Entahlah Putri, saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Saya bahkan tidak tahu seperti apa hasil rajutan syal yang saya buat ini.”


“Sangat bagus, sungguh ... aku menyukainya. Kau bisa membuat syal pelangi seindah ini. Bentuknya sama seperti selendang pelangi yang kupunya. Aku sangat menyukainya, cepat selesaikan! Aku sudah tidak sabar ingin memakainya.” Fey sangat senang dan terlihat bersemangat.


“Baik, Putri. Terimakasih karena sudah menyukai syal buatan saya, saya akan segera menyelesaikannya.”


“Ehm, makanlah ini juga. Kau harus banyak makan karena kau juga sedang hamil.” Fey menyuapi Di dengan kue yang ada ditangannya.


Saat sedang asyik mengobrol dengan Divani, tiba-tiba pandangan mata Fey teralih pada berita di televisi yang memberitahukan bahwa ada kejadian langka, dialami oleh sejumlah pria. Lebih tepatnya adalah kelainan yang diderita beberapa orang yang tiba-tiba saja dinyatakan posiitif hamil. Tentu saja berita ini langsung menghebohkan dunia jagad maya. Seorang pria bisa hamil, adalah suatu hal yang mustahil terjadi bahkan tidak akan pernah bisa terjadi. Namun, kenyataannya, apa yang dialami sejumlah pria itu mematahkan kemustahilan tersebut.


Dalam ilmu reproduksi, laki-laki tidak bisa dinyatakan hamil karena sistem reproduksinya sangat berbeda dengan wanita. Namun, dalam kasus tertentu yang biasa disebut dengan istilah hermaprodit, kehamilan itu bisa saja terjadi. Sebab Hermaprodit atau interseks adalah kelainan dimana seseorang, diduga memiliki dua alat kelamin yang ambigu. Tidak jelas apakah dia wanita atau pria. Orang yang terlahir sebagai interseks atau hermaprodit memang bisa hamil walau secara fisik ia betubuh laki-laki.


Seperti yang dialami oleh ketujuh pria yang tidak lain adalah para pria hidung belang yang semalam hendak berniat jahat pada Divani. Secara bilogis para pria itu dinyatakan sebagai orang yang termasuk dalam golongan interseks. Namun dalam istilah mistis, rupanya kutukan yang diberikan iblis Arka itu sudah mulai bekerja.


Keanehan yang dialami ketujuh pria itu cepat sekali terungkap karena mereka semua dinyatakan hamil 3 bulan saat melakukan pemeriksaan setelah mengeluh kesakitan dibagian perut. Tak terbayangkan betapa syok dan kagetnya mereka setelah mengetahui bahwa kutukan yang diberikan Arka benar-benar terjadi dan ini baru permulaan. Masih banyak hal mistis lain yang harus mereka alami akibat dari kutukan itu.


Fey yang melihat berita menggemparkan itu langsung tertegun. Seketika Ia meinggalkan Di dalam kebingungan dan berjalan cepat memasuki kamarnya. Fey mengunci pintu kamar itu rapat-rapat. Ia memejamkan mata dan memanggil mbak Kun. Dalam sekejap, pasukan dedemit suaminya itupun muncul dihadapannya.


“Ada apa Putri? Kenapa anda gelisah sekali?” tanya mbak Kun begitu tiba di kamar istri pangerannya.


“Apa yang terjadi, mbak Kun? Kenapa para pria hidung belang itu bisa hamil? Apa yang suamimu lakukan padanya? Dan kenapa Refald tidak memberitahuku?” tanya Fey.


Mbak Kun hanya menunduk sembari menunggu Fey kembali tenang baru dia mau menjelaskan semua yang ia ketahui dari suaminya.


BERSAMBUNG


****


waaauwww lanjutannya gimana ya .. tunggu episode berikutnya .. ini murni halu lho ya ... fantasi misteri hehe ..

__ADS_1


__ADS_2