
Pernyataan Martha yang mengatakan bahwa Fey adalah ratunya dedemit karena berteman dengan para makhluk astral tak kasat mata, sukses membuat heboh semua orang yang ada disini. Berita itu langsung mengundang pro dan kontra antara percaya dan tidak percaya. Banyak yang beranggapan tidak mungkin seorang wanita secantik Fey bisa berteman dengan makhluk halus.
Namun, Martha terus meyakinkan semua orang agar percaya dengan kata-katanya dan untuk mengetahui apakah yang dikatakan Martha itu benar atau tidak, semua orang meminta Martha mengeluarkan bukti seperti yang ia ucapkan sebelumnya. Dan tanpa menunggu waktu lama, Marthapun mengambil tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang bernama ‘flashdisk’.
Martha meminta seseorang untuk mengeluarkan LCD dengan layar tancap berukuran besar ala persiapan menonton bioskop transtv. Sebenarnya, inilah rencana yang disiapkan Martha untuk menjatuhkan Fey dan memisahkannya dari Refald dengan membongkar siapa Fey sesungguhnya dihadapan semua orang. Ia yakin, semuanya pasti terkejut dan lebih memilih menjauh dari Fey bila mereka tahu siapakah Fey sebenarnya begitu juga dengan Refald. Itulah yang ada dipikiran Martha tapa tahu fakta aslinya.
“Oey, Refald!” seru Nura. “Apa kau hanya diam berdiri saja menyaksikan wanita gila itu merusak citra istrimu?” Nura terlihat kesal dan emosi begitu juga dengan teman-teman Fey yang lainnya. Sedangkan Refald dan Fey sendiri malah tenang-tenang saja dan terkesan menikmati susana ini.
“Wanita yang kalian sebut nenek sihir itu sudah susah payah menyiapkan semua ini. Sayang kalau aku merusaknya begitu saja. Kalian harus menghargai usahanya, pertunjukannya pasti seru sekali,” ujar Refald sambil bergeser posisi memeluk Fey dari belakang. Ia malah beromantis ria dengan Fey tanpa peduli pandangan mata semua orang yang menatap bingung ke arahnya. “Kau sudah siap melihat pertunjukannya, Honey?” bisik Refald dengan suara yang menggoda. Ia mengecup pelan pipi istrinya sambil terus tersenyum senang.
“Sejujurnya aku penasaran apa yang kau lakukan pada flashdisk itu?” Fey pun ikut berbisik agar yang lain tidak mendengar pembicaraan mereka. Sayangnya, kemesraan yang terjalin antara Refald dan Fey sukses membuat iri semua mata yang memandang kearah dua sejoli itu.
“Tidak banyak, Honey. Aku hanya melakukan apa yang juga kau lakukan. Cuma ... sedikit memodifikasi saja,” Refald bergelandot manja dibahu Fey sehingga semuanya jadi gigit jari melihat betapa sweet-nya Refald kali ini.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya video cctv yang dikatakan Martha telah siap diputar. Semuanya terlihat harap-harap cemas menatap layar tancap di depan mata. Dalam hati mereka semua bertanya-tanya, apakah yang dikatakan Martha itu benar atau tidak. Beberapa diantaranya malah sampai ada yang menutup wajah mereka dan hanya berani mengintip dari balik jari jemari saking tegangnya.
Detik demi detik telah berlalu sejak video itu diputar dan betapa terkejutnya semua orang setelah tahu isi dari video tersebut. Bukannya rekaman cctv seperti yang digembar-gemborkan Martha, tapi isinya malah video tentang siapakah Martha sebenarnya.
Dari video itu terlihat jelas bahwa Martha ternyata bukan berasal dari keluarga berada seperti yang ia pamerkan di medsos selama ini. Wanita itu hanya memiliki rumah sederhana berukuran kecil yang ada disebuah gang perkampungan. Yang lebih mengejutkan lagi dari video itu adalah aktivitas Martha sehari-hari. Rupanya, Martha selalu mengajak para pria hidung belang kerumahnya secara bergantian dari pagi hingga malam. Dari situ, semua orang jadi tahu apa pekerjaan Martha selama ini. Si nenek sihir itu merupakan salah satu wanita malam yang suka melayani nafsu bejaat para pria hidung belang.
Martha tertegun hingga tak bisa bergerak saking terkejutnya melihat video itu diputar dan disaksikan semua orang. Mereka semua langsung bergunjing tentang Martha dan aktivitasnya yang tenyata ... Martha, bukanlah wanita baik-baik seperti yang ia pamerkan selama ini. Niat hati ingin mempermalukan Fey malah dirinya sendiri yang menanggung malu lebih dari apa yang ia bayangkan.
“Wah, si Martha ... gila, ya?” ujar semua orang hampir bersamaan.
“Nggak nyangka, gitu? Kelihatannya aja alim, rupanya dia serigala berbulu domba! Sangat berbahaya! Orang kayak dia mana pantas mengharapkan Refald. Fey seribu kali lipat lebih baik dibandingkan dengannya. Dasar penyihir!” tambah yang lainnya.
“Woy, Martha! 100 ribu, dapat berapa jam nih? Mau dong ... kasih diskon!” goda para pria-pria nakal dibelakang.
“5 jam dong, satu jam 20k,” ledek yang lainnya di susul dengan canda tawa dari kelompok pria nakal yang ada di belakang.
Martha yang mendengar olok-olokan itu hanya menjatuhkan diri ke lantai karena lemas tak berdaya. Ia terlalu shock karena rahasianya yang ia simpan rapat-rapat selama ini telah terbongkar dan diketahui seluruh teman-teman SMA-nya. Air mata buayanyapun mengalir deras. Menyesal sekarangpun juga tiada guna karena semuanya sudah terlanjur tahu siapa dia sebenarnya.
“Wah, daebak! Pantas saja kalian berdua anteng-anteng saja, ternyata ini rahasianya, ha? Sejak kapan kalian tahu siapa nenek sihir itu sebenarnya?” tanya Yua pada Refald dan Fey yang tersenyum senang melihat kehebohan di depan mata mereka.
“Sejak dulu,” jawab Refald cepat. “Tapi istri tercintaku ini melarangku membuka kedok si nenek sihir itu.”
“Oh, iya? Kenapa kau melarang Refald membuka kedok Martha, Fey?” Yua mulai menginterogasi sahabatnya.
__ADS_1
“Karena saat itu, dia tidak membuat ulah atau cari gara-gara dengan kita, jadi aku biarkan saja. Tidak kusangka ia mulai berulah dengan kita sekarang, ya sudah ... dia sendiri yang mulai.”
“Wuah, kalian berdua keren pakek banget! Diam-diam membahayakan!” ujar Nura sambil mengangkat kedua jempolnya pada Refald dan Fey. Eric yang sebenarnya sudah tahu sejak awal juga ikut tersenyum.
“Jangan terlalu senang dulu, video itu masih ada lanjutannya,” ujar Refald.
Dari tadi Refald masih betah memeluk Fey dari belakang tanpa mau melepaskannya. Semakin panas dan irilah para kaum hawa menyaksikan adegan romantisme ala Refald dan Fey. Mereka berdua sangat lengket bak perangko.
Apa yang dikatakan suami Fey itu memang benar, videonya tak berhenti sampai disitu. Martha tidak hanya menanggung malu sendiri. Dua temannya, Evi dan Vike ternyata lebih parah lagi, video itu memperlihatkan Vike yang selingkuh dari suaminya karena terlalu sering ditinggal pergi keluar kota. Begitu juga dengan Evi yang mencari pria idaman lain karena laki-laki yang dinikahinya lebih pantas menjadi ayahnya daripada suaminya.
Semakin heboh dan histerislah semua orang yang menyaksikan kebenaran dari Martha and the gengnya. Vike dan Evi lansung berlari ke depan layar dan mencabut kabel listrik itu sebelum kebobrokan-kebobrokan mereka yang lainnya terbongkar juga disini. Namun, dengan kekuatan Refald, layar LCD yang sempat mati akibat terputusnya kabel, secara ajaib kembali menyala dengan sendirinya dan melanjutkan pemutaran video yang sempat tertunda akibat kabelnya diputus Vike dan Evi.
“Apa yang terjadi? Kenapa videonya masih menyala?” tanya Vike panik, jelas-jelas ia sudah memutus kabel listriknya tapi layar itu masih saja memperlihatkan videonya.
Evi pun tak kalah panik, ia bergegas mencari flashdisk milik Martha yang tetancap di laptop lalu mencabut paksa flashdisk tersebut. Anehnya, lagi-lagi video itu tetap memutar apa yang terjadi dalam keseharian Vike dan Evi yang ternyata mereka bertiga tidak pantas disebut sebagai wanita baik-baik. Mereka lebih pantas mendapat julukan sebagai siluman rubah.
“Huuuuu, muka cantik! Tapi hati kalian busuk,” teriak semua orang mulai mencemooh Vike dan Evi.
“Dasar nggak punya malu kalian? Jangan-jangan kalian ingin merebut suami-suami kita, ya? Pakai acara nuduh suami Mia dan Yua selingkuh lagi? Dasar cewek matre, nggak tahu diri! Masih hidup aja untung!” tambah yang lainnya penuh emosi.
Pasalnya, di video itu juga memperlihatkan bagaimana Vike sempat dilabrak oleh anak dari selingkuhannya. Dan tanpa merasa bersalah Vike malah menampar anak itu di depan umum.
“Eh, kau mau kemana?” tanya Fey.
“Mau jambak rambutnya si nyai ronggeng itulah! Sebel banget aku Fey, bisa-bisanya dia menampar anak selingkuhannya? Jadi gegundik aja bangga banget dia! Dasar Kuyang!” umpat Nura.
“Kau jangan ikut campur, Nura. Diam dan lihat saja! Atau aku ikat kau disini bersama Eric,” ancam Fey dan Nura pun terpaksa menuruti sahabatnya walau dalam hati ia masih ikutan geram juga.
Dalam sekejap, suasana kembali menjadi heboh dan tak terkendali. Caci maki dan cemoohan langsung mereka lontarkan pada Martha, Vike dan juga Evi. Hukum sosial ternyata jauh lebih kejam daripada hukum karma. Mereka langsung dapat lemparan sandal dan semua barang yang mereka pegang baik itu gelas atau berupa makanan yang ada di tempat ini. Mereka semua tidak menyangka, teman SMA mereka beralih profesi menjadi perusak rumah tangga orang lain. Sebuah profesi yang paling dibenci oleh semua istri yang ada di dunia ini.
“Kau itu wanita! Bagaimana bisa kau memperlakukan wanita lain seperti itu? Dimana hati nurani kalian, ha? Apa sudah kau jual? Kalian bertiga benar-benar tidak punya harga diri!” teriak para kaum hawa itu penuh emosi. Suara bising keramaian berisi umpatan menggema di ruangan ini.
Kerena sudah terlanjur malu kebobrokannya telah terbongkar, ketiga wanita yang terdiri dari Martha, Vike dan Evi itupun berinisiatif melarikan diri dari pesta reuni kali ini. Sayangnya, belum sampai mereka bertiga mencapai pintu keluar, seorang laki-laki tampan ber jas hitam datang menghadang ketiganya.
“Mau lari kemana kalian, ha?” tanya seseorang itu dengan tatapan tajam setajam silet. Semua mata juga langsung tertuju pada orang yang baru saja datang tersebut.
“Siapa kau? Minggir!” bentak Vike.
__ADS_1
“Tidak semudah itu. Kalian masih punya urusan denganku? Beraninya kalian mengkambinghitamkan istriku berselingkuh dengan pangeranku? Mau cari mati, ha?” bentak orang itu yang tidak lain adalah pak Po yang sudah berubah menjadi manusia.
“Ezi!” teriak Divani yang bisa mendengar suara suaminya. Tanpa pikir panjang, wanita cantik yang digosipkan menjadi selingkuhan Refald itupun berlari ke arah Ezi lalu memeluknya dengan erat. “Kau datang juga?” ujarnya senang. Divani terus memeluk Ezi dengan erat karena terlalu merindukan suaminya sama seperti Fey yang merindukan Refald.
Satu kelebihan yang dimiliki Divani. Meski ia tidak bisa melihat, Di bisa merasakan hawa keberadaan suaminya dan bisa langsung menghampirinya dimanapun suaminya itu berada tanpa takut salah sasaran. Bagi Divani, Pak Po bagaikan magnet yang menarik tubuh Di kearahnya.
“Maaf, aku telambat, Di. Ada yang harus aku lakukan.” Pak Po alias Ezi melepas pelukan istrinya dan menyuruh beberapa orang masuk ke dalam. “Mari silahkan masuk, Pak. Dan tangkap para tante-tante ini karena sudah mencemarkan nama baik atasan saya,” ujar pak Po pada beberapa orang yang ternyata adalah polisi setempat. Mereka langsung menangkap Martha, Evi ,dan Vike setelah menunjukkan surat penangkapan mereka.
“Ada apa ini? Lepaskan aku!” teriak Vike berontak karena tangannya diborgol paksa oleh petugas polisi tersebut.
“Ikutlah kami ke kantor polisi. Anda ditahan atas tuduhan pencemaran nama baik, semua bukti sudah mengarah pada anda dan kalian bertiga harus menjelaskan semuanya di kantor polisi. Kalian juga berhak menyewa pengacara jika kalian memerlukannya,” terang polisi itu dan membawa mereka bertiga keluar dari ruangan.
“Maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi disini, silahkan dilanjutkan pestanya,” ucap polis tesrebut dan beralih menatap Ezi. “Terimakasih atas kerjasamannya, Sir.” Polisi itu menjabat tangan Ezi.
“Terimakasih atas bantuannya, pak Polisi.” Ezipun membalas uluran tangan polisi tersebut dan mereka semua pamit undur diri.
Martha and the gengnya digelandang ka kantor polisi diikuti Via untuk dimintai keterangan. Tamat sudah riwayat para wanita-wanita sombong dan congkak itu. Mereka semua menuai apa yang sudah mereka tanam. Setiap orang yang menanam kebaikan, maka hasil yang dituai juga hal yang baik pula. Sebaliknya, jika orang tersebut menanam keburukan, maka yang dituai juga hal buruk seperti yang terjadi pada Martha and the gengnya.
Semua orang takjub akan ending dari peristiwa yang banyak menguras emosi ini. Sorak sorai dan tepuk tangan menghiasi isi ruangan. Mereka juga terpana akan ketampanan pak Po yang ternyata adalah suami Divani.
Dengan hadirnya pak Po dalam pesta ini, telah mematahkan gosip yang tidak jelas tentang Refald. Mereka semua yang tersisa di pesta ini, meminta maaf secara langsung pada Divani karena sempat menuduh yang bukan-bukan. Mereka juga meminta maaf pada Refald dan juga Fey karena menggosipkan mereka berdua.
Fey dan Refald memaafkan semua teman-temanya dan kembali melanjutkan pesta reuni mereka yang tertunda karena kini sang pengacau sudah berhasil disingkirkan. Ternyata, Refald juga sudah menyiapkan pesta kembang api besar-besaran mengalahkan acara tahun baruan. Pesta kembang api kali ini terus berhamburan diatas langit dengan suara bising selama kurang lebih satu jam lamanya.
Semua orang menikmati pesta kembang api yang dipersembahkan Refald malam ini. Kesempatan ini digunakan setiap pasangan untuk memadu kasih dengan orang yang mereka cintai masing-masing. Kapan lagi bisa menikmati suasana malam romatis ini setelah tadi sempat mengalami ketegangan akibat isu yang tidak benar.
“Kau suka pesta ini, Honey?” tanya Refald pada Fey yang sedang fokus melihat pesta kembang api.
“Sejak kapan kau menyiapkan semua ini, hm? Ini benar-benar menakjubkan.” Mata Fey tak pernah berkedip menyaksikan taburan bunga api yang merekah ruah diatas langit malam yang kelam.
“Sejak lama. Jauh sebelum aku pergi bertapa,” jawab Refald dan sebuah kecupan manis mendarat mulus di pipi lembut istrinya.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
visual pak Po