
Aku terkejut mendengar Refald tiba-tiba saja bicara seperti itu. Entah kenapa aku merasa lucu dengan cara Refald bercanda denganku.
“Kau sedang melucu?” aku tertawa menatap wajah Refald. “Oke, ini sangat lucu. Disaat seperti ini, kau masih bisa mengajakku bercanda.” Aku masih tertawa saat Refald serius menatapku sehingga tawaku mereda dengan sendirinya. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku agak canggung juga ditatap begitu.
“Aku tidak sedang bercanda, Honey. Aku serius, kita berdua ... harus menikah sekarang juga, jika tidak ... maka ... kau dan aku benar-benar akan mati.” Suara Refald terdengar syahdu dan menggetarkan jiwa. Bukan karena suaranya yang merdu, tapi karena makna di balik apa yang diucapkannya padaku.
Sungguh ini kejutan yang sempurna. Bagaimana tidak? Beberapa waktu yang lalu, aku sedang berdiri diambang kematian yang tak pernah bisa kubayangkan sebelumnya. Setelah aku sadar, Refald meyakinkanku bahwa aku masih hidup dan baik-baik saja, seolah kematian yang baru saja kuhadapi tidak pernah terjadi, tapi sekarang, Refald menakutiku lagi dengan sebuah pernyataan kematian yang menyatakan bahwa jika kami tidak segera menikah, maka kami berdua akan mati. Ini benar-benar tidak lucu, sangat sangat tidak lucu.
Sekali lagi aku meyakinkan diriku sendiri bahwa apa yang dikatakan Refald memang tidak pernah salah. Dia tidak akan berbohong atau salah bicara. Jika Refald sudah berkata seperti itu artinya memang benar, kami berdua harus menikah.
“Jelaskan padaku, kenapa kita harus menikah sekarang juga dan kenapa kita akan mati jika tidak melakukannya? Ada apa ini?” tanyaku sambil terus menatap wajah Refald.
“Kita tidak punya banyak waktu Honey, kita menikah dulu baru akan aku jelaskan semua alasannya. Dan juga ... pernikahan kita berbeda dengan pernikahan orang lain pada umumnya. Kau harus bertemu dengan seseorang sebelum acara pernikahan kita dimulai, ayo! Ikutlah denganku.” Refald berdiri tanpa memalingkan pandangannya dariku. Aku pun mengikuti pergerakan tubuhnya.
Tanpa permisi, Refald menggendongku dan berjalan keluar. Aku baru sadar bahwa saat ini kami berada di sebuah goa. Namun, ini bukanlah goa yang sama seperti yang pernah kami temui saat berteduh di hutan. Goa ini jauh lebih lembab, gelap dan juga lebih luas. Tapi anehnya, setiap Refald melangkahkan kakinya menyusuri jalan, secercah cahaya mirip lilin langsung menyala dengan sendirinya disetiap dinding goa yang kami lewati. Tempat ini benar-benar ajaib.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam digendongan Refald sambil terus melihat tunanganku ini yang sebentar lagi akan menjadi suamiku. Dia terus menerus memandang lurus ke depan tanpa menoleh padaku sedikitpun, seolah ada banyak sekali hal yang sedang ia pikirkan. Aku sadar, mungkin Refald juga jauh lebih tertekan dari pada aku terlepas dari semua hal gila yang baru saja kami alami bahkan sampai mempertaruhkan nyawa kami berdua.
__ADS_1
Ini pertama kalinya aku melihat Refald memasang wajah terlalu serius seperti itu, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang agar bisa membuatnya kembali tersenyum padaku. Aku sangat merindukan senyum Refald, karena dengan melihat senyumannya, aku merasa semua masalah yang aku hadapi jadi ringan.
“Re ... ehm, Sayang. Kau marah padaku?” tanyaku untuk memecah kesunyian sekaligus untuk mencari tahu apakah dia marah padaku atau tidak. Sejujurnya aku juga sangat takut kalau Refald benar-benar marah padaku.
“Tidak, Honey. Aku marah, tapi bukan padamu, melainkan pada diriku sendiri.” Refald berhenti di sebuah pintu. Perlahan, dia menurunkanku dan aku berdiri disebelahnya. Refald menggenggam erat tanganku sambil berkata,“Maafkan aku Honey, demi bisa menyelamatkan nyawa kita berdua, aku telah membuat perjanjian yang memaksamu untuk menikah denganku meski aku tahu, kau belum siap. Aku juga tidak menyangka bakal secepat ini, tapi tidak ada pilihan lain lagi. Mau tidak mau, setuju tidak setuju, suka atau tidak suka, kau harus menikah denganku saat ini juga.” Suara Refald bergetar, dia pasti merasa bersalah padaku karena harus mengambil keputusan serumit ini tanpa minta persetujuanku terlebih dulu.
Saat ini, tidak ada yang bisa aku katakan padanya. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana menyikapi situasi ini. Untuk menikah diusiaku yang baru menginjak 18 tahun sangatlah aneh bagiku, sebab aku harus mengorbankan masa mudaku dan cita-citaku yang berharga. Pernikahan seperti apa yang akan kami jalani nanti, aku juga tidak tahu. Namun, satu hal yang harus aku percayai sekarang, apapun yang Refald lakukan sekarang, semua demi kebaikanku.
Sebuah pintu yang ada di hadapan kami, perlahan terbuka bersamaan dengan cahaya terang yang menyinari kami berdua. Untuk sesaat, aku mencoba berdaptasi dengan sinar cahaya itu agar aku bisa melihat apa saja yang ada di dalam. Aku juga penasaran, siapa orang yang harus aku temui sebelum kami ... menikah.
Begitu pintu terbuka lebar, Refald menggandeng tanganku masuk ke dalam ruangan itu. Aku sangat terkejut karena ternyata kami memasuki sebuah istana megah yang ada di dalam goa.
“Refald, kita ada di mana?” bisikku pelan pada Refald sambil memerhatikan sekeliling.
“Pesta pernikahan kita,” jawab Refald pelan juga. Kami berdua berjalan lurus menyusuri karpet merah yang tergelar panjang di depan kami. Entah kenapa, hatiku bergetar mendengar jawaban singkat Refald.
Samar-samar, aku melihat ada singgasana luar biasa besar nan elegan yang terbuat dari lapisan emas dan berlian. Selain itu, disekeliling kami juga banyak sekali pengawal serta dayang-dayang istana yang berjajar rapi ditempatnya. Mulutku tak henti-hentinya menganga melihat keajaiban yang tak terkira ini.
__ADS_1
Seperti inikah istana model zaman dahulu? Megah, mewah dan juga luar bisa menakjubkan. Pakaian istana mereka juga berbeda dengan apa yang aku bayangkan selama ini. Mereka memakai pakaian yang terbuat dari sutera, dan juga tak memperlihatkan bagian tubuh mereka. Kebanyakan para dayang wanita rambutnya disanggul layaknya pengantin jawa pada umunya. Sedangkan pengawal pria memakai baju seragam khas kerajaan lengkap dan hanya memakai ikat kepala yang terbuat dari emas kerajaan. Mereka semua juga bersenjatakan tombak beserta pelindung yang terbuat dari baja. Sedangkan paras mereka, tidak ada yang tidak menawan, semuanya sempurna, cantik dan tampan.
“Selamat datang di istanaku, cucuku!” sapa seseorang yang berdiri di atas singgasana kerajaan.
Aku menatap ke arah kakek itu yang juga terus menatap kami bergantian. Sepertinya, dia adalah raja di istana ini. Aku bisa melihat dari pakaiannya yang lebih tebal dan bagus daripada yang lainnya. Hanya saja, dia tidak memakai mahkota.
Laki-laki itu berjalan gontai ke arah kami yang berdiri tegak menghadap ke arahnya. Aku menelan salivaku ketika raja itu semakin dekat dengan kami.
Apakah orang ini adalah kakek Refald? Batinku.
“Kakek,” sapa Refald yang langsung bersimpuh di depan orang yang dipanggilnya kakek. Awalnya aku terkejut dengan tindakan Refald yang tiba-tiba seperti itu, tapi aku pun mengikuti gerakannya.
Raja itu memegang salah satu pundak kami dan menyuruh kami kembali bangkit berdiri. “Bangunlah cucuku, senang bisa bertemu lagi denganmu, dan kau ... pengantin cucuku.” Raja itu beralih menatapku. “Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung.”
Sulit digambarkan bagaimana perasaanku saat ini, rasa takjub, takut, penasaran, gemetar dan juga senang, semua tercampur menjadi satu dan aku tidak bisa mencerna situasi yang aku alami. Ada di mana aku, dan siapa orang ini? Akankah aku dan Refald benar-benar menikah di tempat seperti ini? Semua pertanyaan itu terus terngiang dikepalaku tanpa berani
meminta jawabannya.
__ADS_1
****