
Tak bisa digambarkan dengan kata-kata betapa bahagianya Fey saat ini karena untuk kesekian kalinya, Refald menunjukkan betapa besar rasa cinta Refald untuknya. Tak pernah terbayangkan dalam benak gadis itu bahwa dirinya bakal memiliki suami luar biasa yang mungkin hanya ada satu-satunya di dunia nyata. Kebanyakan orang seperti Refald adanya cuma di dunia novel fantasi dan hanya ada dalam film-film saja. Namun, Fey benar-benar beruntung bisa mencintai dan dicintai oleh makhluk Tuhan paling langka di bumi ini, bahkan kini mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
Refald masih menggendong Fey dipunggungnya dan membawa istrinya terbang mengitari indahnya hamparan padang bunga yang bertuliskan puisi sebagai bentuk gambarana isi hatinya. Ia telalu senang karena kini wanita yang amat sangat dicintainya ini telah sah menjadi istrinya. Kini, ia dan Fey bisa hidup bahagia selamanya.
“Pangeranku, bawa aku ke taman itu. Aku ingin berada di tengah-tengah keindahan bunga-bunga mekar yang ada disana,” bisik Fey dengan lembut di telinga Refald.
“Siap tuan Putri.” Refald pun tersenyum senang dan menuruti apa yang diinginkan istrinya.
Secepat kilat, ia melesat terbang ketengah-tengah taman bunga berwarna warni yang bermekaran di tengah hamparan padang bunga. Begitu Refald menurukan istrinya, Fey langsung berlari kesana kesini sambil memetik bunga kesukaannya, yaitu bunga lili, bunga kesukaan ibunya, Nadeshiko.
Hembusan angin sepoi-sepoi menerjang Fey seolah merasakan ada hawa keberadaan jiwa ibunya yang turut berbahagia di hari pernikahannya dengan Refald. Bayangan wajah cantik Nadeshiko menghiasi langit dan ia tersenyum senang melihat putrinya kini telah sah menjadi istri dari seorang Refald. Laki-laki yang memang ibunya pilihkan untuknya.
“Terimakasih, ibu ... karena sudah melahirkanku ke dunia ini. Tunggu kami dikehidupan selanjutnya, dan aku sangat berharap bisa kembali menjadi putri kalian lagi,” gumam Fey sambil menatap langit yang dihiasi wajah cantik ibunya. Ditangannya, ada segenggam bunga lili indah seindah wajah ibunya yang berseri karena melihat putrinya sudah hidup bahagia.
Refald berjalan pelan dan berdiri di samping istrinya. Ia menggenggam tangan Fey dengan mesra sambil berkata, “Lusa kita akan ke Swiss, Honey. Sudah saatnya kita membawa ayah kembali.”
Kata-kata Refald langsung membuat wajah Fey yang tadinya tersenyum bahagia seketika menjadi tegang. “Kapan aku bisa bertemu dengan ayah lagi?” mata Fey mulai berbinar menatap wajah suaminya yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
“Secepatnya setelah kita ... punya anak.” Refald mengecup lembut kening istrinya.
Wajah Fey langsung berubah merah seperti tomat, belum juga ada sehari semalam ia menikah dengan Refald, tapi suaminya itu sudah membicarakan soal anak. Namun, tak dapat dipungkiri, Fey sendiri juga ingin sekali segera memiliki momongan. Pasti seru sekali punya Refald kecil dalam gendongannya.
“Pangeranku, Suamiku ... kau bilang, kau akan memberitahuku siapa wanita yang akan dinikahi pak Po? Aku sudah memenuhi syaratmu. Sekarang beritahu aku, siapa gadis itu?”Fey mulai mengalihkan pembicaraan.
Refald hanya diam tak bersuara seolah sedang memikirkan sesuatu. Tanpa dinyana-nyana, dengan cepat Refald mengangkat tubuh istrinya dan menghilang ke tempat yang tidak asing lagi bagi Fey. Tempat ini adalah kamar pengantinnya yang lain. Kali ini kamarnya berbeda, agak lebih gelap dari yang sebelumnya dan dihiasi dengan banyak balon berwarna warni.
“Tempat ini ...” Fey tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena terlalu takjub dengan dekorasi kamarnya. Di dinding kamar bahkan ada hiasan berbentuk hati yang terbuat dari lampu hias.
Tanpa henti, Refald menyapu bersih wajah Fey dengan mesra dan keduanya saling mengisap bibir masing-masing. Kedua tangan Refald juga sangat aktif melucuti semua pakaian yang dikenakannya dan yang dikenakan istrinya dengan cepat secepat kilatan cahaya petir yang menyambar gelora cinta keduanya. Mereka berdua, saling bergumul dan berguling-guling diatas kasur pengantin.
Kali ini, Refald jauh lebih ganas dari sebelumnya. Ia sama sekali tak memberi jeda pada aktivitas birahinya untuk menciumi dan menikmati setiap inci bagian tubuh istrinya. Bahkan Fey pun sampai tak bisa berkata-kata. Ia sendiri terlalu larut dalam kenikmatan disetiap sentuhan tangan Refald yang menggerayangi seluruh bagian tubuhnya terutama di area yang paling sensitif sehingga gadis itu mendesah-desah manja.
Suaminya itu sangat suka sekali bermain di dua gundukan kecil diantara dada indah Fey sehingga gadis itu hanya bisa meggigit bibir saat Refald beraktivitas diatasnya. Kedua tangan terampil Refald sukses membuat Fey semakin bergairah melayani birahi Refald yang setiap detiknya semakin meningkat pesat.
Keduanya benar-benar ber-in the hoi ria diatas tempat tidur. Refald sangat pandai memainkan area sekitar mahkota milik Fey sebelum ia benar-benar menancapkan pedang kerisnya ke dalam mahkota tersebut. Refald sangat suka mendengar desahan-desahan manja istrinya. Ada sesansi tersendri yang bisa meningkatkan birahinya saat bercinta dengan Fey. Suara desahan itu juga semakin memicu hormon kelelakiannya untuk terus bersemangat dalam memacu pedangnya maju mundur cantik dalam mahkota berharga wanita yang kini sudah halal baginya.
__ADS_1
Hentakan-hentakan lembut, terus Refald mainkan sampai keduanya mengalami pelepasan bersama-sama. Refald terus melakukan gerakan maju mundur cantik secara berulang-ulang sampai membuat Fey jadi mabuk kepayang. Gadis itu serasa terbang diatas awan atas kenikmatan yang diberikan Refald untuknya. Cinta mereka berdua semakin bergelora tatkala puncak kenikmatanpun terjadi dan Refald mulai mengeluarkan benih kecebongnya ke dalam lubang goa Fey agar segera bisa diproses menjadi bibit yang nantinya bakal menjadi Refald kecil.
Napas keduanya tersengal-sengal menikmati proses alam tersebut. Refaldpun mencium mesra kening istrinya dan masih tetap bertahan diatas tubuh Fey sampai proses transfer kecebong itu selesai. Setelah itu, Refald berbaring disamping istrinya dengan hati dan perasaan lega bercampur rasa bahagia tak terkira.
“Kau curang, Refald,” protes Fey. “Kau bilang lakan memberitahuku siapa wanita yang akan dinikahi pak Po, tapi kau malah membawaku kesini dan mengajakku ....” belum sempat Fey melanjutkan kata-katanya, Refald langsung menyerangnya dengan ciuman mautnya. “Apa yang kau ...” lagi-lagi Fey dihadiahi ciuman memabukkan dari Refald. “Refald hentikan!” erang Fey, tapi Refald tidak mau menghentikan bibirnya yang terus mengisap-ngisap lembut bibir istrinya. Akhirnya gadis itu pun pasrah srah srah srah dan diam tanpa berkutik sampai Refald sendiri yang mengakhiri ciumannya.
Menit demi menitpun berlalu dan Refald menyudahi ciuman mematikannya setelah Fey tidak protes lagi atas aksinya.
“Nama wanita yang akan dinikahi pak Po kesayanganmu itu adalah ... Rosalinda Divani, dan biasa dipanggil dengan ‘Di’.” Refald menatap mesra wajah Fey yang hanya diam saat ia menyebutkan nama wanita yang akan menjadi istri pak Po.
BERSAMBUNG
****
maaf up nya telat ..
__ADS_1