Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 36 Kejutan 2


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan di sini? Orang luar dilarang masuk kemari!” tanyaku setelah aku berdiri di depan Refald.


“Ada dua alasan kenapa aku masih bisa diizinkan datang kemari. Pertama, karena aku adalah tunanganmu, meski saat ini kau masih belum bisa mengakuinya. Kedua...” Refald mengeluarkan sebuah kartu didompetnya. Ia menunjukkan kartu itu padaku. “Aku punya ini!”


“Apa itu?” tanyaku penasaran.


“Ini adalah kartu anggota club pecinta alam tingkat internasional. Aku mempunyai jam terbang tinggi di sini. Terakhir sebelum aku datang ke sini bulan kemarin, aku baru menyelesaian pendakianku di puncak gunung Mount Everest bersama sepuluh anggota tim pendaki profesional lainnya!” ia mulai narsis membanggakan kartunya.


Tanpa sadar, mulutku menganga mendengar Refald adalah seorang pendaki profesional. Ternyata, dia sering hiking juga! Bila dibandingkan denganku yang amatiran, aku kalah sangat jauh dengannya.


Aku ingat Eric pernah mengatakan kalau Refald pernah naik gunung bersamanya. Tapi tidak pernah kusangka ia bisa sejauh ini. Bisa mendaki gunung tertinggi didunia adalah impian semua para pecinta alam. Tidak semua orang bisa melakukannya. Tapi Refald bisa, itu artinya Refald bukan orang biasa. Ia pendaki kelas kakap.


Jika semua orang di sini sampai mengetahuinya, ia tidak hanya jadi idola kaum hawa, kaum adam pun bakal ngefans juga sama dia. Terutama para pecinta hiking. Artis papan atas sungguhan saja bisa kalah tenar dengannya. Aku tidak bisa membayangkan jika itu benar terjadi.


Refald tersenyum puas melihat ekspresiku. Ia membantu mengatupkan daguku dengan tangannya.


“Masih terlalu dini untuk terpesona padaku. Kau akan semakin jatuh cinta padaku jika kau mengetahui siapa aku sebenarnya. Ayo kita ke sana! Aku bawa makanan banyak untuk kalian semua!” ucapnya sambil berlalu mendahuluiku.


Aku tidak percaya ini. Bagaimana bisa ... dia ...


“Waktunya makan malam! Aku membawa banyak makanan untuk kalian semua yang ada di sini!” teriaknya.


Semua mata tertuju pada Refald, banyak yang penasaran dengan kebaikan hati Refald yang tiba-tiba. Tapi juga tidak sedikit yang menyukai kedatangannya karena ia membawa banyak sekali makanan tanpa harus membayar alias gratis.


Dari kejauhan aku melihat beberapa orang datang membawa banyak bungkusan merah berisi nasi kotak. Orang-orang itu sepertinya adalah kurir makanan yang dipesan langsung oleh Refald.


Begitu makanan sampai, semua anggota pecinta alam bersorak sorai. Mereka sangat senang dengan kebaikan hati Refald yang mau memesankan makanan untuk mereka semua. Padahal, mereka belum mengenal betul siapa Refald. Refald membagi semua nasi kotak itu ke setiap anggota yang ada disini tanpa ada yang terlewatkan.


Sebenarnya, aku masih belum percaya dengan semua pemandangan baru ini. Sekali lagi, Refald mengejutkanku. Dalam sekejap Refald datang dan meramaikan suasana. Ia mudah sekali akrab dan bergaul dengan mereka semua. Tidak sepertiku yang butuh waktu hitungan bulan untuk bisa lebih dekat dengan sesama anggota diorganisasiku termasuk para seniorku.


Dalam hati, aku mengaguminya. Refald memang keren.


Refald memanggilku dan menyuruhnya datang berkumpul dengannya. Awalnya aku menolak tapi ia langsung menghampiriku dan menggamit lenganku agar mengikutinya berbaur dengan yang lainnya. Mau tidak mau, terpaksa aku menuruti kemauannya.


Kami semua duduk di depan api unggun sambil menikmati makanan yang dibawakan Refald untuk kami. Refald menyodorkan salah satu nasi kotak padaku dan menyuruhku untuk memakannya.


Di depan semua orang, ia menunjukkan perhatian yang terlalu berlebihan menurutku. Sehingga kami berdua langsung menjadi pusat perhatian mengalahkan rating couple hits lainnya.


“Jika kau tidak mau, aku bisa menyuapimu!” kata-kata itu terdengar romantis, tapi terdapat nada ancaman didalamnya.


“Terima kasih. Aku bisa makan sendiri!” daripada Refald yang menyuapiku, lebih baik menuruti ancamannya.


Salah satu senior yang memerhatikan kami bertanya, apa hubungannya Refald denganku. Karena sejak tadi, Refald hanya menatapku dan menempel padaku bak perangko lengket.


Benar juga, kebanyakan yang ada di sini adalah para alumni, dan hanya ada satu atau dua orang senior saja di sekolah kami. Wajar kalau tidak banyak yang tahu apa hubunganku dengan Refald.


Karena tidak ada yang mau menjawabnya, maka Refald sendiri yang menjelaskan. Aku mau buka suara tapi Refald menahanku.


“Aku adalah tunangannya!” semuanya langsung terkejut, termasuk juga aku. Bahkan sebagian dari mereka ada yang sampai tersedak.


“Apa?” Tanya salah satu senior yang aku lupa namanya. “Kalian sudah bertunangan? Tapi.... aku tidak pernah melihat Fey bersama seseorang? Apalagi memakai cincin tunangan sejak ia tergabung dalam organisasi ini!”


"Aku juga tidak pernah dengar kalau gadis pendiam ini pacaran?" komentar yang lainnya.


"Bagaimana bisa dia bertunangan sementara pacar saja ia tidak punya?" tambah yang lain.


"Padahal aku sudah memasukkan dia ke daftar target pacarku. Tapi ternyata ia sudah bertunangan. Mana tunangannya tampan lagi. Aku kalah telak," ucap seseorang yang tidak kuketahui namanya dengan nada sedih seolah patah hati.


"Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo ... (Aku mundur pelan-pelan karena aku sadar siapa aku....)!" seseorang yang lain menyanyikan lagu itu untuk temannya yang patah hati tersebut.


Ia menyanyikan lagunya dengan penuh ekspresi dan mengusap usap punggung temannya agar temannya itu sabar dan sadar dengan kondisinya. Tapi, yang lebih parah adalah suara orang itu terdengar menyakitkan telinga alias tidak enak didengar.


"Berhentilah bernyanyi, bodoh!" teriak Yoshi sambil menjitak kepala temannya yang lagi asyik bernyanyi. "Kau membuat telinga kami jadi rusak!"


Orang yang bernyanyi itu pun langsung diam. Sedangkan yang lainnya menahan tertawa melihat tingkah konyol para rekannya yang kelewat lebay.


Refald mengeluarkan kalung yang ternyata itu adalah cincin pertunangan kami yang pernah kuberikan pada kakakku supaya ia mengembalikan cincin itu jika suatu saat ia bertemu dengan Refald. Aku sama sekali tidak menyangka kalau cincin itu sudah ada padanya.

__ADS_1


Jadi selama ini, ia selalu membawanya? Dan aku tidak pernah tahu?


Refald mengaitkan kedua cincin itu pada kalungnya dan menunjukkannya pada semua orang yang ada di sini sebagai bukti bahwa kami memang sudah bertunangan sejak kami masih kecil.


“Sementara ini, aku yang membawakannya, karena dia takut menghilangkannya!” Refald menjelaskan dan menatapku sambil mengedipkan salah satu matanya.


Aku tahu Refald berbohong. Kenyataannya adalah aku sengaja mengembalikan cincin itu padanya. Meskipun tidak secara langsung.


Tapi aku juga tidak bisa membantahnya untuk mengatakan yang sebenarnya. Bisa gawat kalau sampai mereka semua tahu siapa aku. Bahkan mereka pasti akan berbalik menuduhku yang bukan-bukan jika aku sampai membuka mulut dan mengatakan bahwa Refald sedang berbohong.


Sepertinya, jalan terbaik untuk saat ini adalah diam saja. Dan ikuti permainan Refald.


Anehnya, semua langsung percaya dengan pernyataan Refald tanpa berkomentar apa-apa. Sepertinya mereka cepat mengerti dan paham mengenai hubungan kami.


Harusnya aku kesal mendengar kebohongan Refald yang terlihat natural ini. Tapi, entah kenapa aku malah merasa terhibur.


Aku membiarkan Refald melakukan apa saja yang ia mau untuk meladeni beberapa pertanyaan dari para senior yang masih penasaran dengan hubungan kami. Anehnya Refald sama sekali tidak membanggakan siapa dia sebenarnya di depan para seniorku kalau dia adalah seorang pendaki kelas internasional seperti yang ia lakukan padaku.


Mungkin ia tidak ingin orang lain tahu siapa dia, dan cuma ingin pamer saja padaku. Karena selama ini, Refald hanya narsis didepanku. Sedangkan kalau di depan orang lain, ia cenderung dingin dan cuek. Padahal banyak sekali cewek-cewek yang mengejarnya.


Kenyataan bahwa cowok populer disekolahku ternyata adalah juga tunanganku, sangat membuatku stres. Saat pura-pura jadi pacarnya saja sudah membuat hidupku jadi sulit. Apalagi jadi tunangannya.


Aku mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh Ayah waktu itu. Mungkin benar Refald hanya mencintaiku, karena itu ia tidak tertarik dengan cewek manapun yang menyukainya. Ia berusaha hanya setia padaku. Tapi saat ini, aku masih belum bisa memutuskan bagaimana perasaanku padanya.


“Kapan kau akan pergi dari sini?” tanyaku ketika suasana mulai sepi dan semua orang pergi ke tenda mereka masing-masing. Hanya beberapa orang saja yang masih tinggal karena mendapat giliran jaga malam.


“Besok!”


“Apa? Maksudmu, kau mau bermalam di sini?”


Refald mengangguk. Ekspresinya sangat tenang sambil menatap api unggun di depan kami.


“Maaf! Jika mengganggu pembicaraan kalian! Refald.... apa kau mau tidur bersama di tenda kami?” tanya seniorku yang bernama Alex. Ia merupakan salah satu alumni berambut gondrong kribo ala vokalis Nidji yang bertugas sebagai pemimpin jaga malam selama berada di sini.


“Terima kasih tawarannya!” jawab Refald sambil tersenyum. ”Tapi aku akan tetap di sini bersama dengan yang lainnya untuk menemani dan membantu kalian berjaga.”


“Kau yakin?”


“Jangan menyelinap ke tenda Fey saat kami lengah ya....” goda Yoshi.


“Kami akan mengawasi kalian!” tambah senior yang lainnya.


“Tenang saja!” Refald berdiri sambil tersenyum. “Meski kami sudah bertunangan, kami tahu batasannya. Lagi pula masih terlalu cepat melakukan itu. Jika aku memang ingin melakukannya, aku akan memilih tempat yang lebih romantis dan sepi dari pada di sini!”


“Ciyeeeeee.... aku tidak sabar menunggu undangan dari kalian!”


“Berarti kalian berdua masih ting ting, ya?”


“Jangan lupa mengundang kami semua nanti!”


"Wahhh...sebentar lagi ada yang mau belah duren...WADAAUWWW! Siapa lagi yang jitak kepala, nih?"


"Aku! Dasar berisik!"


Yang lainnya jadi ikutan jitak kepala salah satu seniorku yang ternyata bernama Yuda.


Mukaku memerah mendengar komentar-komentar para seniorku yang sengaja menggoda kami akibat perkataan Refald yang agak intim itu.


“Sudahlah, jangan menggoda mereka, ada yang mukanya seperti tomat!” ucap Yoshi.


“Benar juga!” ucap Alex yang memerhatikanku, dan aku langsung berpaling dari pandangan semua seniorku. “Baiklah, kita sudahi saja dulu. Akan kutinggalkan sementara kalian di sini. Begitu selesai, kau ikutlah denganku. Kita akan mulai berkeliling sebentar,” ucapnya pada Refald.


“Sebaiknya kita berpencar dulu, biarkan saja mereka di sini menikmati malam indah berdua. Kenapa kau merusak acara mereka. Kapan lagi mereka bisa menikmati malam yang dingin ini bersama-sama. Lagipula, besok sudah tidak ada waktu untuk mereka berduaan,” ucap Yoshi. Sedangkan yang lainnya, masih saja iseng berusaha menggoda kami.


Mereka semua berdiri dan tertawa bersama sambil berlalu untuk berkeliling mengitari lokasi meninggalkan kami berdua. Aku diam menunduk menahan rasa maluku. Aku sendiri tidak tahu kenapa dengan wajahku. Apa benar semerah itu?


“Jangan dengarkan mereka! Mereka hanya menggoda kita!”

__ADS_1


“Ini salah siapa?”


Refald tertawa. “Baiklah ini salahku. Sebaiknya kau masuk ketendamu. Ini sudah malam. Besok banyak kegiatan yang harus kau lakukan. Kau harus banyak istirahat untuk menyimpan tenaga.”


Aku diam menatap Refald, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padanya.


“Untuk yang waktu itu ....” Refald menoleh kearahku saat aku mulai berbicara padanya. “Mungkin kau benar, pertemuan kita sepertinya sudah ditakdirkan. Tapi, aku masih belum memaafkanmu karena sudah banyak membohongiku.”


“Aku tahu, aku juga tidak minta kau memaafkanku saat ini. Tapi, aku hanya ingin kau mengizinkanku untuk selalu berada didekatmu. Karena aku tidak ingin meninggalkanmu lagi. Anggap saja ini penebusan kesalahanku dulu.”


Aku sedikit tersentuh mendengar ucapan Refald. Sebenarnya dia tidak sepenuhnya bersalah, tapi ia berniat menebus kesalahannya. Aku memerhatikan luka ditangannya yang masih dibalut dengan perban.


“Bagaimana dengan lukamu?”


Refald menatap tangannya. “Besok perbannya baru akan dibuka.”


“Apa benar lukanya bisa sembuh?”


“Kenapa? Kau khawatir punya tunangan yang cacat?”


“Jangan mulai lagi! Aku sedang tidak ingin bertengkar di sini.”


Refald menarik tanganku sampai aku berdiri. “Sebaiknya kau istirahat. Aku antar kau ke tenda.”


Aku melepas paksa tanganku dari genggamannya. “Aku bisa ke tendaku sendiri. Tidak perlu diantar!”


Sia-sia saja aku memberontak. Refald tetap menarik tanganku sampai di depan tenda.


“Sudah sampai! Masuklah!”


Aku sedikit marah karena sikapnya yang suka memaksa orang lain sesuai kehendaknya sendiri. Tapi itu memang sifat Refald, mau bagaimana lagi. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak apa yang diinginkan Refald.


Aku jadi ragu apakah aku akan masuk apa tidak. Aku menatap Refald yang juga masih terus menatapku.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” lama-lama aku risih juga dengan tatapannya.


“Kenapa? Kau ingin aku masuk juga?”


“Kau bisa dihajar habis-habisan oleh mereka jika kau berani melakukan itu!”


“Cepatlah masuk!” ia sama sekali tidak memedulikan ancamanku. “Aku akan tetap disisimu. Aku sudah janji padamu. Jangan khawatirkan aku. Aku akan tetap didekatmu. Panggil aku jika kau memerlukan sesuatu.”


Refald beranjak pergi meninggalkanku. Tapi aku refleks menggenggam lengan tangannya. Aku tersadar dan langsung melepaskan kembali lengan itu.


“Ada apa?” tanyanya agak khawatir padaku. “Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?”


Aku ragu lagi, “Sebenarnya ... ada banyak sekali hal-hal yang ingin kutanyakan padamu, tapi aku tidak tahu harus mulai darimana.”


Refald menatapku lembut dan meraih tanganku lalu menggenggamnya dengan erat. “Mulai sekarang, kita punya banyak waktu bersama. Kau bisa tanyakan apa saja padaku nanti, tapi tidak harus hari ini, oke? Malam ini kau harus istirahat.”


“Kau yakin?”


“Tentu saja. Mulai sekarang aku hanya ada untukmu. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu, apapun yang terjadi. Kalaupun takdir berusaha memisahkan kita kembali. Aku pasti bisa menemukanmu lagi.”


“Jangan sok romantis didepanku! Kau benar-benar membuatku ingin muntah!”


“Itu akan merepotkan kalau begitu!”


“Apa maksudmu?”


“Kalau kau muntah di sini. Mereka semua mengira kau sedang hamil!”


“Apa? Kau gila!” teriakku.


Refald tertawa keras. Aku hampir saja ingin menyumpal mulutnya dengan ranting pohon saking kesalnya.


Ia mundur melambaikan tangannya sambil berkata, “Selamat tidur! Semoga kau memimpikan aku, dah!” ia pergi berlalu begitu saja menuju kerumunan para alumni yang sedang berjaga.

__ADS_1


Aku kesal sekali dengan caranya bercanda denganku. Tapi aku juga sangat senang karena Refald mengatakan dia akan selalu ada untukku. Aku jadi bingung dengan perasaanku sendiri, apakah aku membencinya ataukah menyukainya? Dan sepertinya, rasa cintaku ini mengalahkan kebencianku padanya.


***


__ADS_2