Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 202


__ADS_3

“Rosalinda Divani? Siapa dia? Aku tidak pernah mendengar nama itu, apa aku pernah melihatnya?” tanya Fey yang masih berada didekapan Refald.


“Kau akan bertemu dengannya, Honey. Aku akan mengajakmu bulan madu di tempat dimana kekasih pak Po itu tinggal. Kau akan tahu siapa dan seperti apa wanita itu.” Refald kembali menyapu bersih bibir ranum istrinya sehingga untuk kesekian kalinya Fey merasa gugup dan terkejut.


Dan untuk kesekian kalinya pula, suaminya itu minta jatah lagi padanya. Keduanya ber in the hoi ria melakukan adegan maju mundur cantik selama kurang lebih setengah jam diatas kasur. Refald tak hanya memiliki kekuatan supranatural yang tidak akan bisa dimiliki manusia lainnya, tetapi ia juga punya keperkasaan diatas rata-rata. Untung saja Fey kuat melayaninya, jika tidak mungkin gadis itu sudah pingsan menghadapi keganasan Refald.


“Kau kuat sekali, Refald? Dasar pangeran mesum,” protes Fey saat Refald sudah selesai mentransfer kecebongnya ke dalam lubang goa milik istrinya.


“Kau jauh lebih kuat dariku, Honey. Kau sanggup melayaniku berapa kalipun aku menginginkannya. Aku harap akan tumbuh Refald kecil dalam rahim ini secepatnya.” Refald mengelus pelan perut Fey.


“Ehm, aku merasa ada yang berbeda setelah kita melakukan hubungan intim ini,” aku Fey.


“Apa yang kau rasakan, Honey?” Refald masih memainkan rambut istrinya yang tergerai sambil menopang salah satu tangannya diatas kepalanya. Keduanya hanya berbalut dalam satu selimut tanpa memakai sehelai benangpun di tubuh mereka.


“Entahlah, aku tidak bisa menggambarkannya, rasanya aku semakin bertenaga. Aku tidak tahu pastinya, pokoknya seperti itu.” Fey tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Refald tentang perubahan yang terjadi pada tubuhnya.


Sama halnya seperti Refald yang matanya bisa berubah setelah melakukan malam pertama dengan Fey, begitu pula yang terjadi dalam tubuh gadis itu, ada perubahan besar setelah mereka bersatu. Tanpa Fey sadari, kekuatan Refald telah tersalur melalui penyatuan tubuh keduanya.


Untuk sesaat, Refald hanya diam dan tidak merespons apa yang dikatakan istrinya sampai ia akhirnya memahami sesuatu, tapi Refald tidak ingin memberitahu Fey sekarang sebelum ia memastikanya sendiri apa yang sudah Refald lihat dan ia ketahui. Sebagai gantinya, Refald malah menggoda istrinya.


“Honey, kau sudah tidak virgin lagi sekarang. Wajar kalau kau merasa ada yang berubah ditubuhmu. Sebentar lagi, tubuh indahmu ini juga akan terus mengalamai perubahan-perubahan lain jika Refald kecil sudah mulai tumbuh di dalam sini.” Sekali lagi, Refald mengelus lembut perut rata Fey sehingga membuat gadis itu jadi terangsang kembali. Sentuhan-sentuhan Refald benar-benar membuat Fey geli.


Refald hanya tersenyum melihat bahasa tubuh istrinya yang menggeliat manja di dekapannya. Ia pun menggunakan kesempatan emas itu untuk melancarkan aksi jail Refald, yaitu melakukan ronde maju mundur cantik untuk kesekian kalinya. Fey pun tak bisa menolak dan malah dengan senang hati meladeni suaminya. Sepertinya, ini akan jadi rutinitas mereka sehari-hari sampai Refald kecil tumbuh dirahimnya.


Setelah keduanya membersihkan diri, Refald dan Fey keluar dari kamar pengantin dan langsung menemui beberapa tamu undangan yang sudah semalaman berpesta dihari pernikahan mereka. Melihat raut wajah Refald yang bercahaya, semua orang tahu bahwa ia sudah berhasil belah duren dengan Fey. Semua teman-teman pasangan pengantin baru ini meledek dan menggoda Fey dan Refald sampai Fey benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.


“Lihat mukamu, merah padam seperti semangka!” Ledek Yua yang datang bersama dengan suaminya, Epank.

__ADS_1


“Jangan menggodanya, Yua. Lihatlah, muka teman kita ini jadi semakin semerah tomat.”


“Nenek menitipkan ini untukmu, ia tidak bisa datang ke pesta ini karena merasa usianya sudah tak layak lagi mengikuti pesta. Sebagai gantinya, ia memberikan ini untukmu.” Rio, sepupu Fey yang juga suami dari sahabatnya Mia, memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon pada Fey. Gadis itu membuka kotak tersebut dan betapa terkejutnya Fey setelah tahu apa isi kotak itu. “I-ini ....” Fey terperangah dengan hadiah yang diberikan neneknya.


Kotak kecil itu ternyata berisi kalung liontin berbentuk hati milik almarhum ibunya sendiri. Dalam liontin tersebut, terdapat foto Fey dan kakaknya sewaktu keduanya masih kecil. Rupanya disaat pemakaman meninggalnya ibu Fey, neneknya sengaja menyimpan kalung itu dan akan memberikannya kepada Fey tepat dihari pernikahannya, seperti sekarang ini.


Sebenarnya, kalung liontin itu merupakan pemberian nenek Fey yang diberikan secaralangsung kepada Nadeshikosaat ia masoh remaja dulu, dan sekarang diturunkan ke Fey sebagai hadiah terkhir yang bisa ibunya berikan untuk putri kesayangannya. Kalung liontin terseut adalah hadiah pernikahan terindah yang pernah Fey terima di hari istimewanya ini.


“Kami akan menemuinya nanti,” ujar Refald sambil memeluk erat istrinya agar tidak terlalu laut dalam emosi. Fey ingin mengasi dipelukan Refald tapi ia tidak ingin melihat teman-temannya ikut sedih juga. Kerena itu ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah keluar.


“Oey, Fey!” seru seseorang tiba-tiba dari balik punggung teman-temannya. Tentu saja kedatangan Nura membuat yang lainnya jadi terkejut.


Tadinya semua teman-teman Nura mengira tidak bisa datang dengan alasan tidak punya gandengan, tapi nyatanya gadis sableng itu bisa datang juga kemari.


“Nura! Kau datang!” Fey melepas pelukan suaminya dan berlari pelan menuju sahabatnya. Kalau diingat-ingat, sudah lama juga Fey tidak melihat Nura sejak kejadian di desa waktu itu.Tapi ia sangat senangsalah satu sahabatnya bersedia datang juga kemari. “Aku senang kau mau datang! Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” gadis itu langsung memeluk sahabatnya.


“Selamat atas pernikahanmu dengan Refald. Akhirnya kalian menikah juga. Lihatlah dirimu! Kau sudah berubah drastis begitu menikah dengan pangeranmu!” Nura melepas pelukan sahabatnya dan memerhatikan tubuh Fey mulai dari atas hingga bawah.


Nura tidak langsung menjawab pertanyaan Fey. Sebaliknya, ia malah membisikkan sesuatu yang membuat Fey ingin menjitak kepala sahabatnya saat itu juga. “Berapa ronde yang yang sudah kau mainkan dengan Refald? Kau kesedikit kendor sekarang, tidak singset lagi seperti sebelumnya,” bisik Nura sambil tertawa dan Fey langsung menganga lebar tak percaya Nira bisa berkata seperti itu padanya.


“Dasar bengek kau! Kau mau cari mati, ha? Kau bilang apa tadi? Doer? Dasar nenek sihir! Cepat menkah sana!” geram Fey. Ia terus memukul pelan sahabatnya yang terus tertawa karena berhasil membuat Fey marah. “Diantara kita berempat, tinggal kau saja yang belum menikah! Lihat wajahmu sudah mulai keriput! Sebentar lagi kau bakal jadi nenek peot jika kau tidak segera mencari pasangan yang cocok untuk kau nikahi! Bengek!” Fey balas meledek Nura.


Kata-kata Fey seketika menyadarkan teman-temannya, Mia dan Yua. Tidak mungkin Nura datang kemari sendirian mengingat loaksi resepsi pernikahan Fey dan Refald sangat jauh dari tempat tinggal mereka. Nura terkenal dengan tukang mabuk perjalanan, makanya ia tidak pernah pergi kemana- mana apalagi sampai kelua pulau.


Pasti ada yang membawa Nura kemari, batin Mia, Yua dan Feuy hampir bersamaan.


“Kau datang dengan siapa?” tanya Refald yang berjalan ke arah Fey dan Nura berdiri seolah tahu apa yang ada dipikiiran istrinya dan juga teman-temannya. Sebenarnya, Refald sudah tahu dengan siapa Nura datang, tapi ia mencoba bersikap normal dihadapan teman-teman istrinya.

__ADS_1


“Denganku!” ucap seseorang yang berdiri dibelakang Nura. Orang yang memakai setelan jaz warna putih itu pelan-pelan menghampiri Refad dkk. “Selamat atas pernikahanmu, Refald. Dan juga, kau Fey. Semoga samawa untuk kalian berdua!”


Refald hanya tersenyum sambil memeluk erat sahabat karibnya yang sangat mengerti dan mengenalnya. Siapa lagi kalau bukan Eric.


“Terima kasih Eric,” ujar Refald senang. Bukan kerena kehadiran sahabat-sahabat terdekatnya, tetapi seprtinya Eric telah membuka hati untuk Nura.


“Jangan bilang ... kalian ....” Fey masih terperangah tak percaya, Eric datang berdua bersama Nura.


“Kami akan menikah menyusul kalian berdua!” Eric memotong kata-kata Fey sambil tersenym manis.


Mendengar hal itu, Mia dan Yua langsung bertepuk tangan dan bersorak sorai karena ikut senang. Akhirnya sahabtanya Nura yang paling katrok dan Norak bisa menikah juga. Tadinya, mereka semua khawatir Nura beneran tidak akan menikah selamanya. Tapi ternyata, dugaan mereka salah.


“Wah, selamat itu untuk kalian berdua,” seru Fey dan langsung memeluk kembali sahabatnya.


“Akhirnya si bodoh Nura, menikah juga!” Yua juga ikut berkomentar dan langsung disambut anggukan setuju dari Mia. Mereka ber delapan saling bersulang bersama atas kebahagian perjalanan cinta mereka masing-masing yang akhirnya berakhir bahagia.


Namun, ada sedikit pemandangan berbeda terlihat di wajah Refald. Bila yang lainnya tertawa bersama dan bahagia menikamti pesta pernikahannya dan Fey. Raut muka suami Fey itu tidak terlihat bahagia seperti yang lainnya. Fey yang menyadari ekspresi suaminya tidak seperti yang lainnya, mulai terlihat sedikit khawatir.


Apa yang sedang Refald pikirkan? Ada apa ini? Apa akan terjadi sesuatu lagi? Batin Fey dan tentu saja Refald bisa mendengar kekhawatiran istrinya.


Refald menatap wajah istrinya untuk menenangkannya dan mulai bersikap waspada. Ia memejamkan mata dan mulai memanggil, satu persatu pasukannya untuk bersiap-siap menghadapi sesuatu yang sebentar lagi akan terjadi.


“Honey, apapun yang terjadi ... tetaplah berdiri dibelakangku,” gumam Refald pelan agar teman-temannya dan seluruh tamu undangan tidak panik.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1




__ADS_2