Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 227 Fey vs Refald


__ADS_3

Keesokan paginya, dua pasangan sejoli pak Po dan istrinya terlihat begitu bahagia. Mereka berdua lengket seperti perangko seolah tak bisa terpisahkan lagi. Kedua wajah mereka memancarkan kebahagian sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya. Bahkan pak Po tak segan-segan sering mengajak Di masuk kedalam kamar untuk melanjutkan ritual mereka semalam. Dan itu tidak terjadi 1 kali, tetapi berkali-kali dalam sehari. Benar-benar luar biasa. Leo dan Shena saja sampai kalah dengan pak Po yang sudah mengetahui bagaimana melakukan ritual ehem-ehemnya.


Refald dan Fey hanya bisa melongo menatap keduanya yang begitu mesra melebihi mereka sendiri. Sedangkan Aditya dan Riska, mereka malah jadi salting sendiri melihat tingkah pak Po yang kini sedang menikmati masa-masa indah pernikahannya dengan Divani.


“Aku tidak percaya ini, bagaimana bisa pak Po berubah jadi 180 derajat begitu?” wajah Refald jadi dongkol akut karena merasa tersaingi.


“Biarkan saja mereka, saat ini pak Po sedang menikmati enaknya jadi pengantin baru. Sekarang, kau harus menepati janjimu padaku!” ujar Fey yang duduk di dekat Refald.


“Janji?” tanya Refald tidak mengerti apa maksud istrinya.


“Berikan semua uangmu padaku!” ucap Fey cepat.


“Kau sedang merampok suamimu sendiri, Honey? Aku cuma bawa black card. Kita harus pergi keluar kota kalau ingin mengambil uang. Tapi masalahnya ... kita tidak bisa keluar dari sini.”


“Ada ATM satu-satunya didekat sini, Tuan. Baru dibangun beberapa minggu yang lalu. Mungkin anda bisa gunakan itu.” Riska membantu memberitahu.


“Oh, syukurlah kalau begitu. Kita beruntung, Honey. Ayo kita ambil uang seperti yang kau inginkan.” Refald bangun dari kursinya dan menggandeng tangan Fey keluar. Sebelum mencapai pintu keluar, Refald berbalik badan dan bicara pada Aditya dan Riska. “Tolong katakan pada pak Po kalau ia sudah keluar kamar bahwa kami pergi sebentar. Setelah itu, ia harus menemui kami di ladang yang ada di ujung jalan ini, ada yang ingin aku tunjukkan padanya.” Refald menitipkan pesan pada Riska dan juga Aditya agar disampaikan kepada pak Po nanti.


“Baik, Tuan. Nanti akan kami sampaikan. Ehm ... tapi bolehkah anda membantu kami berdua malam ini? Kami harus menemui ....”


“Oke!” Refaldpun mengerti meski Aditya belum mengatakannya. “Kita akan bahas lagi itu nanti, bye.” Refald melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan rumah pak Po.


“Apa tuan itu tahu apa yang akan kita lakukan nanti malam?” tanya Aditya.


“Sepertinya begitu ....” Riska menatap dua orang yang mengendarai mobil canvasnya keluar melalui pintu gerbang rumah ini. Selama berada disini beberapa hari, wanita itu merasa aman dan kembali bersemangat menjalani kehidupannya yang sempat kelam karena telah salah memilih pasangan hidup.


Hidup itu memang tidak adil, tapi itulah takdir. Dan Riska harus menelan pil pahit kehidupan akibat menjadi korban perceraian kedua orangtuanya. Hidupnya mulai berubah kacau saat ibunya menikah dengan orang lain yang juga hampir saja merenggut kesuciannya kala itu, walau akhirnya, Adityalah yang berhasil merenggutnya. Namun, Keduanya tidak bisa menikah karena banyaknya hal yang menghalangi hubungan keduanya. Bahkan sampai detik ini, mereka juga sulit sekali bersama meski saling mencintai.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Aditya membuyarkan lamunan Riska.


“Aku tidak yakin, sepertinya dia tidak akan mau melepaskan aku dengan mudah.” Riska menatap takut orang yang dicintainya ini.


“Karena itulah kita meminta bantuan tuan Refald. Kalau aku sendiri, tidak akan bisa menghadapi suamimu yang kejam itu.”


“Apa tidak apa-apa kita melibatkan dia? Bagaimana kalau mereka kena masalah karena ikut campur urusan kita?” Riska terlihat sangat khawatir. Ia tahu betul seperti apa suaminya. Orang itu bisa menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan walaupun harus mengorbankan nyawa orang.


“Lalu bagaimana lagi? Cuma disinilah kita akan aman. Jika kita berada ditempat lain, pasti anak buah suamimu itu sudah membunuh kita dari kemarin-kemarin.”


“Kau benar. selama kita didalam rumah ini, tak ada seorang pun yang datang mencari kita. Tapi tetap saja ... hatiku tidak tenang.”

__ADS_1


Aditya memegang lembut tangan Riska agar wanita itu tidak khawatir lagi. “Begitu suamimu menanda tangani surat perceraian kalian, kita akan pergi dari tempat ini dan tinggal di luar negeri. Aku akan menikahimu dan kita berdua akan hidup bahagia disana. Lupakan semua hal yang terjadi disini dan Ayo kita memulai kehidupan yang baru. Tuan Refald adalah orang yang luar biasa, meski kita tidak tahu seluk beluk siapa tuan Refald sebenarnya, aku percaya tidak akan ada seorangpun yang bisa menyakitinya. Aku yakin kau juga sependapat denganku. Jadi, jangan cemas lagi, oke!” tanya Aditya dan berharap kekasihnya ini setuju dengan rencananya.


Apa yang dikatakan Aditya memang benar adanya. Orang yang dipanggil pak Po dengan sebutan ‘pangeran’ bukanlah orang sembarangan. Ada sejuta misteri yang ada dalam diri seorang Refald dan yang tahu tentu saja hanya orang-orang terdekatnya saja.


“Baiklah, kemanapun kau pergi, aku akan ikut denganmu dan melupakan semua kejadian yang ada disini lalu membangun kehidupan baru bersamamu.”


Aditya memeluk kekasihnya dengan erat. Saat ini mereka memang tidak bisa beromantis ria seperti pasangan lainnya yang ada di rumah ini. Namun, Aditya berjanji, begitu keduanya resmi menikah, maka ia akan selalu membahagiakan Riska. Karena gara-gara dia juga, hidup wanita yang dia cintai jadi seperti ini. Seandainya saja dulu dia bisa menjaga kesucian kekasihnya ini, mungkin hal ini tak perlu dialami Riska.


***


Refald dan Fey sampai di depan sebuah bank kecil dimana depan kantor bank tersebut terdapat mesin ATM. Ia memarkir mobilnya di parkiran sambil mengamati keadaan sekitar yang lumayan sepi juga, tidak seperti bank-bank ditempat lain yang selalu ramai orang.


“Berapa yang kau butuhkan, Honey?” tanya Refald.


“Sebanyak yang bisa kau ambil, Suamiku? Ingat, aku mau membaginya keseluruh penduduk desa yang ada disini.”


Refald hanya tersenyum menatap wajah istrinya. “Kau perampok kelas kakap rupanya!” ujar Refald sambil berlalu pergi.


“Itu bayaranku karena sudah mentransfer banyak energi padamu,” seru Fey tak mau kalah.


“Oke-oke! Semuanya milikmu sekarang!” teriak Refald dari kejauhan.


Fey hanya tersenyum menatap wajah orang yang melihatnya. “Dia suamiku,” terang Fey supaya semua orang yang melihatnya tidak jadi salah paham dan untungnya mereka langsung mengerti maksud ucapan Fey yang ia katakan pada Refald tadi.


Sambil menunggu Refald, Fey mengamati sekeliling area parkir dan melihat pemandangan yang membuatnya kesal. Seorang petugas kebersihan sedang membersikan sampah diarea parkir dimana ada sebuah mobil sedan, sedang parkir di depan petugas kebersihan tersebut. Tapi orang yang ada di dalam mobil itu benar-benar keterlaluan. Ia terus saja membuang sampah dan kotoran yang ada di dalam mobilnya tepat di tempat yang baru saja dibersihkan petugas parkir itu.


Tentu saja petugas tersebut harus bolak-balik membersihkannya. Fey sangat geram melihat tingkah laku pemilik mobil yang tidak mau menghargai jerih payah orang lain. Istri Rafald itu berjalan cepat ke arah petugas kebersihan dan menggantikannya membersihkan sampah berserakan yang ada disekitar area mobil sedan itu akibat ulah pemilik mobilnya sendiri.


Begitu sampah terkumpul, Fey langsung memasukkan sampah yang ia bersihkan tadi kedalam mobil sedan itu. Tentu saja pemilik mobil langsung marah dan hendak membuka pintu mobilnya, tapi Fey langsung menendang pintu mobil yang setengah terbuka dengan kuat sehingga terdengar bunyi, brakk!


Mobil itupun menutup kembali. Sedangkan sang pemilik takut juga melihat api kemarahan Fey.


“Berani keluar dari mobilmu! Akan aku patahkan tulang-tulangmu! Dasar orang tak tau diri! Pergi dari sini dan buanglah sampah pada tempatnya? Kau pikir orang ini pembantumu, apa? Kau tidak bisa memperlakukan orang seenak jidatmu. Kalau sampai aku melihatmu melakukan hal itu lagi pada orang lain, akan aku buat kau memakan semua sampah yang kau buang tepat diaat itu juga!” ancam Fey dan orang itupun menyalakan mesin mobilnya lalu melesat pergi meninggalkan area parkir bersama dengan sampah yang dikembalikan Fey padanya.


“Ada apa, Honey?” tanya Refald yang tiba-tiba saja muncul dari balik punggung Fey. “Kenapa wajahmu kesal begitu?” tanya Refald lagi.


Fey mengembalikan sapu ke petugas kebersihan sebelum menjawab pertanyaan Refald. “Maaf, ya Pak, dan terimakasih. Selamat bertugas.” Fey tersenyum dan petugas itupun pergi meninggalkan Refald dan Fey tanpa suara.


Pria paruh baya itu langsung kagum pada Refald yang berdiri disamping Fey. Refald memelototi pemilik mobil sedan tadi agar tidak macam-macam dengan wanitanya. Karena itulah sopir mobil sedan itu ketakutan dan langsung melesat pergi. Fey sendiri tidak tahu kalau yang membuat takut sopir mobil sedan tersebut bukanlah dirinya, melainkan Refald yang sudah berdiri dibelakangnya sejak tadi.

__ADS_1


“Siapa orang itu?” Refald mulai menginterogasi istrinya.


“Siapa yang kau maksud? Pemilik mobil sedan tadi atau petugas kebersihan itu?”


“Petugas kebersihan,” jawab Refald cepat.


“Orang yang masuk dalam daftar pembagian uangmu. Aku tadi memberi pelajaran pada orang sombong yang tidak mau menghargai orang lain. Orang itu sengaja mengerjai bapak-bapak petugas kebersihan tadi, dengan terus-terusan membuang sampah sembarangan. Aku benar-benar kesal, makanya ....”


Refald mencium mesra bibir istrinya supaya berhenti bicara. “Oke, aku tahu. Ayo pergi,” Refald menggandeng tangan Fey yang langsung terkejut karena Refald tiba-tiba bersikap seperti itu seolah ia tahu segalanya. Walaupun memang sudah sepatutnya Refald mengetahui semuanya karena ia bukan manusia biasa.


“Mana uangnya?” Fey melihat Refald tidak membawa apa-apa.


“Kau ini mata duitan, sekali!” Refald merangkul bahu istrinya tapi Fey menolaknya dan menepis tangan itu. “Ada apa? Kau tidak mau aku peluk?” tanya Refald sedikit kecewa karena Fey menolak pelukannya.


“Ada uang, kau aku sayang! Nggak ada uang, kau aku tendang!” Fey berjalan cepat mendahului Refald yang terperangah mendengar ucapan istrinya.


Tanpa pikir panjang, Refald langsung menggendong istrinya dari belakang sehingga gadis itu berteriak karena terkejut digendong tiba-tiba oleh suaminya sendiri.


“Darimana kau belajar kata-kata mutiara itu, Honey? Kau mau aku makan sekarang, ha?” seru Refald.


“Refald! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” pinta Fey dan meronta-ronta minta diturunkan dari gendongan suaminya.


Tentu saja Refald tidak menggubris teriakannya. Suami Fey langsung memasukkan istrinya ke dalam mobil lalu menutup pintunya dengan keras. Dan dengan gerakan super cepat pula, Refald sudah duduk dibangku kemudi. Ia menyalakan mesin mobilnya untuk membawa Fey pergi melesat ke suatu tempat dimana Fey tidak akan pernah berani berkata seperti itu lagi padanya.


“Kita mau kemana? Pelankan sedikit laju mobilnya!” seru Fey sambil berpegangan erat. Refald mengendarai mobilnya seperti orang yang sedang kesurupan.


“Ketempat dimana kau bakal menjadi jinak lagi dalam sekejap!” ujar Refald sambil menyeringai nakal.


“Hah?” kali ini ganti wajah Fey yang melongo menatap Refald.


Sepertinya aku sudah membangunkan vampir yang sedang tidur, batin Fey sambil menatap tajam jalanan yang ada didepannya.


BERSAMBUNG


****



__ADS_1


__ADS_2