
Fey hanya menatap diam wajah suaminya yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi tanpa suara. Meski hati gadis itu sedang kacau balau, setidaknya ia merasa tenang ketika melihat wajah tampan kekasihnya, sekaligus suaminya di dunia lain.
“Aku tahu aku sangat tampan, Honey. Jangan melihatku seperti itu, aku bisa malu,” ujar Refald disela-sela pelariannya. Ia juga menertawai ucapannya sendiri.
“Aku tidak yakin urat malumu masih ada. Kau bahkan tidak terlihat malu sedikitpun.” ujar Fey yang keki mendengar jawaban Refald.
“Setidaknya saat bersamamu, apalagi kalau kau menatapku seperti itu, aku harus pura-pura malu supaya terlihat keren.”
Fey tersenyum, inilah Refaldku yang sesungguhnya. Dia sudah kembali menjadi Refald yang sok narsis. Batin Fey.
“Aku tidak bisa membiarkan diriku terlalu larut dalam kesedihan, Honey. Karena aku tahu, istri tercintaku ini akan sedih jika melihatku sedih,” ujar Refald yang bisa mendengar jeritan hati istrinya.
“Bisakah untuk sekali saja, kau tidak mendengar pikiranku? Sangat menjengkelkan sekali jika ada orang lain yang bisa membaca pikiranmu!”
Refald mendarat diatas pohon dan menurunkan Fey diatas sebuah dahan besar tepat keduanya berpijak. Refald mengunci tubuh istrinya yang bersandar dibatang pohon besar dengan rentangan kedua tangannya. Sepertinya adegan Edward-Bella saat berkencan di atas pohon menjadi ciri khas utama Refald dan Fey di kisah mereka ini.
“Aku bukan orang lain, aku adalah suamimu dan kita berdua sudah jadi satu. Meskipun aku tidak ingin mendengar apa yang kau pikirkan, secara otomatis tubuh ini tetap akan selalu bisa mendengarnya. Kau seperti magnet bagiku, kemanapun kau bergerak, tubuhku selalu refleks mengikutimu. Terlebih lagi, jiwa kita sudah bersatu padu, dimalam bulan baru berikutnya ... bersiaplah untuk melakukan penyatuan jiwa kita kembali.” Seringai nakal mulai ditunjukkan Refald pada Fey.
Fey agak bingung mendengar kalimat Refald yang terakhir. “Apa maksudmu penyatuan jiwa di bulan baru berikutnya?” tanya Fey.
“Meski kita batal menikah di dunia nyata, kau adalah istriku didunia lain. Aku berhak atas jiwamu, kita bisa melakukan adegan ulang malam pertama pernikahan kita waktu itu. Tepat disaat memasuki bulan baru di bulan depan.”
“Hah? Maksudmu ... kita akan pergi ke dunia lain lagi?”
“Ehm, hanya jiwa kita. Kau tidak mau?” tatapan mata Refald mulai menajam.
“Bukan begitu, aduh ... kenapa aku jadi gemetar, ya?” Fey tidak berani menatap mata Refald.
“Selama ini kita terlalu disibukkan dengan aktivitas kita di dunia nyata, sampai kau lupa bahwa setiap bulan baru, kita berdua bisa menyatukan jiwa kita bersama seperti malam pertama pernikahan kita di dunia lain.” Refald membelai lembut rambut kekasihnya.
__ADS_1
“Tunggu, kenapa aku merasa seolah kau sedang minta jatah?”
“Memang!” Refald tersenyum. “Aku gagal menjadi suamimu di dunia ini, masa iya aku gagal juga menjadi suamimu di dunia lain? Aku minta jatahku! Kau milikku! Persiapkan jiwamu dari sekarang, Honey. Aku akan meminta pasukan dedemitku untuk menyiapkan tempat yang indah untuk kita.” Refald tersenyum bahagia.
Fey hanya menunduk sambil mengusap-usap pelan kepalanya dengan tangan. “Matilah aku, batal atau tidak pernikahan kami, sepertinya tidak ada bedanya bagi Refald. Aku tetap menjadi istrinya, dan suamiku ini sedang minta jatah, yang benar saja?” gumam Fey pada dirinya sendiri yang langsung disambut tawa riang Refald.
“Honey,” panggil Refald.
“Apa!” jawab Fey sewot.
Lagi-lagi Refald tersenyum melihat reaksi istrinya. “Lihatlah di sana!” Refald menunjuk sebuah tempat dengan tangan kirinya. Fey pun mengikuti arah petunjuk Refald dan betapa terkejutnya Fey melihat apa yang ada di depan matanya.
“I-itu ... itu, kan ....” Fey tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia terlalu takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Bagaimana gadis itu tidak terkejut, di hadapan mereka, keduanya bisa dengan jelas melihat bekas bencana alam yang sudah berhasil meluluhlantakkan perkampungan setan rata dengan tanah. Kini, bekas bencana itu membentuk sebuah pola tulisan seperti crop circle 4 huruf yang apabila dirangkai menjadi sebuah nama dari huruf Z, O, Y, dan A menjadi kata ‘Zoya’. Pola tulisan itu terbuat dari bongkahan batu bercampur tanah serta bekas material sisa reruntuhan bangunan rumah-rumah yang ada di perkampungan setan.
“Wuah, daebak, sugoiiii, keren, indah banget,” ujar Fey.
“Alam pun berduka atas nama Zoya.” Refald mulai mengutarakan pendapatnya. “Tempat itu kini berubah nama menjadi tempat ‘cinta suci Zoya’. Kedepannya, takkan ada lagi Zoya dan Raghu yang lain, yang ada hanyalah kekuatan cinta. Setiap pasangan yang datang kesana dengan membawa cinta yang tulus, maka mereka akan bisa hidup bahagia selamanya.”
Fey agak terkejut mendengar penjelasan Refald, sebisa mungkin gadis itu mencerna sedikit demi sedikit arti dari ucapan suaminya. Fey benar-benar sangat bahagia begitu tahu maksud dari ucapan Refald mengenai tempat baru yang ia namakan ‘Cinta Suci Zoya’.
“Refald ... itu ... benar-benar luar biasa? Aku kira kaulah yang membuat tempat itu,” ujar Fey masih mengagumi lokasi bekas bencana yang bertuliskan nama ‘Zoya’ itu dengan mata berkaca-kaca.
“Bukan aku, tapi alam sendirilah yang membuatnya, mungkin perasaan Raghu telah tersampaikan. Bagaimana menurutmu?” Refald menatap wajah istrinya.
“Pantas saja, sejak tadi pagi kau sudah tak terlihat sedih lagi, kau juga sangat tenang saat melihat permasalahan yang terjadi diantara Eric dan Nura. Sekarang aku tahu alasannya.”
“Aku sudah mengajak Eric ke tempat ini, tadi. Tinggal giliranmu membawa Nura ke tempat itu setelah ia merasa tenang. Jika kau mengajak Nura kesitu, maka cinta mereka bisa bersatu begitu waktunya ti- ....”
__ADS_1
Belum sempat Refald selesai bicara, Fey langsung memeluk erat tubuh suaminya. “Terimakasih, Suamiku! Aku sangat mencintaimu, aku sungguh mencintaimu. Kau benar-benar sangat luar biasa,” ujar Fey sambil menangis dan tertawa bahagia.
Refald melepaskan pelukan istrinya dan menatap lembut wajahnya. “Kau menangis dan tertawa disaat bersamaan, Honey? Aku tidak suka air matamu keluar.” Refald mengusap bulir air mata yang membasahi pipi lembut Fey.
“Ini air mata bahagia, Suamiku. Kau pasti bisa merasakan betapa bahagianya aku saat ini. Aku bahkan sampai tidak tahu harus berkata apalagi ....”
Sebuah ciuman lembut mendarat mulus dibibir Fey. Refald mencium istrinya dengan mesra dan keduanya pun saling mencurahkan perasaan cinta mereka masing-masing dengan disaksikan alam sekitarnya. Kicauan burung-burung dan hembusan angin sepoi-sepoi, menambah syahdu suasana romantis keduanya.
“Jangan lupa bernapas Honey,” ujar Refald menyudahi ciumannya. “Kenapa kau selalu membuatku harus menyudahi ciumanku saat kau kehabisan napas.”
Fey menunduk karena malu. “Aku ... terlalu gugup,” jawab Fey jujur.
“Kita sudah sering melakukannya, kau tidak perlu gugup lagi.” Refald menyeringai mendengar jantung Fey berdetak terlalu kencang.
“Entahlah, setiap kali bersamamu aku memang selalu gugup. Harusnya aku sudah terbiasa, tapi nyatanya aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.”
Refald memeluk Fey dengan erat. “Tidak apa-apa, itu artinya kau memang sangat mencintaiku. Aku sangat senang hari ini. Bagaimana kalau kita melihat hal yang lebih menyenangkan lagi supaya rasa gugupmu hilang? Sepertinya sebentar lagi, aku harus beraksi kembali.”
“Ada kejutan lagi?” tanya Fey, entah kenapa hati Fey selalu bergetar setiap kali Refald mengajaknya ke suatu tempat.
Sesuatu pasti sedang terjadi, batin Fey sambil menatap seringai mencurigakan di wajah Refald.
BERSAMBUNG
***
Mulai kumat haluku ... itu murni halu ya .. jika ada yang sama seperti yang aku kisahkan berarti itu kebetulan ...
__ADS_1