
Kabar tentang pernikahan putrinya yang akan digelar sebentar lagi membuat pak Po dan Di segera bergegas kembali ke goa dimana ia meninggalkan putri semata wayangnya di sana bersama dengan para rekan dedemitnya yang lain. Ucapan selamat dari semua rekan-rekannya membuat pak Po sedikit bingung bercampur senang.
Bingung, karena dia sama sekali tidak menyangka kalau pernikahan putrinya bakal dilangsungkan secepat ini. Senang, karena sebentar lagi ia akan menjadi besan dari raja dan ratunya sendiri. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi pak Po. Namun, pak Po juga ingin tahu apa alasan dibalik dipercepatnya pernikahan putrinya dengan putra raja yang dihormati dan diagung-agungkan pak Po. Ia pun langsung menemui putrinya begitu tiba di goa yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga kecilnya.
“Apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa menikah dengan pangeran secepat ini? Apa kalian sudah bertemu? Apa kalian saling jatuh cinta sehingga kalian memutuskan mempercepat pernikahan kalian?” tanya pak Po tidak sabar mendengar penjelasan putrinya begitu ia sampai di kamar Rhea yang sejak tadi termenung sambil terus menangis.
Melihat seperti apa wajah putrinya yang sembab tanpa sebab, membuat Pak Po jadi heran. Harusnya Rhea bahagia karena akan menikah dengan putra raja, tapi kenapa gadis mungilnya ini malah menangis seperti itu? Bahkan Rhea langsung memeluk ayahnya dan menangis tersedu-sedu.
“Maafkan aku, Ayah. Aku ... tidak tahu kalau bakal jadi seperti ini,” isak Rhea karena terlalu merasa bersalah pada ayahnya.
Sejak tadi, Rhea termenung karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada ayahnya bahwa dirinya tidak bisa menikah dengan pangeran impiannya, melaikan menikah dengan orang asing yang tidak ia kenal. Padahal orang asing itulah sang pangeran idaman Rhea. Namun sepertinya, sedang terjadi miscomunication disini.
“Kau tidak perlu minta maaf, gadis nakal! Cepat atau lambat, kau pasti memang harus menikah dengan pangeran. Kau tahu? Raja dan ratu yang sebentar lagi akan menjadi mertuamu juga menikah di usiamu sekarang ini. Dan sekarang, giliran putranya yang menikah.” Pak Po tersenyum mengenang bagaimana acara pernikahan ghaib yang dilakukan Refald dan Fey dulu.
Mendengar ucapan ayahnya, tangis Rhea bukannya mereda malah semakin menjadi-jadi. Suara tangsian Rhea benar-benar memekikkan telinga siapapun yang mendengarnya. Ada rasa bersalah, sedih, kecewa, kesal, dan juga tidak terima, bercampuraduk jadi satu. Itulah yang dirasakan Rhea sekarang, tapi ia bingung bagaiamana cara mengungkapkannya pada ayahnya yang bloon ini.
Divani yang mendengar betapa histerisnya suara tangisan putrinya juga langsung bergegas masuk ke dalam kamar Rhea untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi disini.
“Ada apa ini?” tanya Divani. Ia terkejut melihat Rhea langsung berlari memeluknya. “Kenapa, Sayang? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” Di yang sudah sama seperti pak Po jadi bingung sendiri melihat sikap putrinya yang tiba-tiba menangis seperti orang sedang kerasukan setan.
Karena sudah menjadi dedemit seperti suaminya, Di yang dulu buta, kini bisa melihat meski kini ia sudah bukan manusia biasa lagi.
Rhea berusaha menenangkan dirinya dipelukan ibunya. Meski ia dan kedua orangtuanya berbeda dunia, tapi Rhea masih bisa merasakan kasih sayang orangtua layaknya keluarga lengkap lainnya. Hal itu karena Rhea bisa melihat makhluk astral dan sedikit memiliki kekuatan supranatural warisan dari ayahnya, pak Po. Walau pada dasarnya Rhea adalah anak yatim piatu, hal itu tidak berlaku lagi Rhea. Sebab, ia masih bisa melihat jiwa kedua orangtuanya yang kini sudah menjadi pasukan dedemit Refald dan Fey bahkan hidup bersam dengan kedua orang tua Rhea layaknya keluarga normal lainnya.
Pak Po dan Divani juga menjaga Rhea dengan baik. Meski ada banyak sekali iblis jahat yang mengincar nyawa Rhea untuk dijadikan persembahan, berkat perlindungan Refald dan Fey, makhluk jahat itu tidak bisa mendekati Rhea hingga sekarang. Ditambah lagi, mbak Kun dan Arka juga sangat menyayangi Rhea layaknya putri mereka juga. Bila pak Po dan Di mendapat tugas dari Refald, mereka berdualah yang bergantian menjaga Rhea hingga putri semata wayang pak Po beranjak remaja seperti sekarang ini bahkan mbak Kunlah yang membantu Rhea mengontrol kekuatannya agar jika suatu hari nanti calon suaminya dalam bahaya, Rhea bisa melindunginya seperti Fey yang juga bisa melindungi Refald..
Kini, masa-masa kecil Rhea sudah berlalu dan sudah saatnyalah Rhea harus menghadapi takdir ini. masih dalam pelukan Divani, Rhea berusaha keras untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ayah, Ibu ... aku ... memang akan menikah ... tapi ... bukan dengan pangeran, melainkan dengan orang asing yang tidak aku kenal. Itulah yang dikatakan Raja Refald dan ratu Fey!” lagi-lagi, Rhea menangis kencang sejadi-jadinya. Tubuhnya bahkan langsung terkulai lemah dihadapan Divani.
Tentu saja pak Po dan Di langsung terkejut tak karuan. Mereka saling pandang dan tidak mengerti maksud dari ucapan putrinya.
“Apa maksudmu kau menikah dengan orang asing? Kau adalah calon istri pangeran? Bagaimana bisa kau menikah dengan orang lain selain dengan pangeran?” tanya pak Po tak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Itu ... itu ... karena ... selendang pemberian ratu, tanpa sengaja aku ikatkan pada pria asing itu, Ayah! Sungguh aku tidak tahu kalau akibatnya bakal jadi seperti ini. Aku hanya ingin menolong menghentikan pendarahannya. Aku sudah janji pada ratu akan menolong siapa saja yang mengalami kesulitan di hutan ini tanpa pandang bulu. Tapi ... ” lagi-lagi, Rhea menangis lagi. Kali ini jauh lebih kencang dari sebelumnya. Ia tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.
Bagai disambar petir, mulut pak Po dan Divani hanya bisa melongo. Ia langsung menghilang begitu saja untuk menemui Refald dan Fey dikediamannya. Kebetulan saat itu, Fey sedang memantau persiapan pernikahan ghaib Rhea dan pria asing yang tidak lain adalah putranya sendiri. Sedangkan Divani tak bisa berkata apa-apa, yang bisa dilakukan ibu satu anak itu hanyalah menenangkan putrinya agar tidak menangis lagi.
“Putri!” sapa pak Po yang muncul tiba-tiba di belakang Fey sehingga membuat istri Refald itu terkejut.
“Astaga, pak Po! Kau hampir membuatku mati jantungan! Kenapa kau tiba-tiba saja muncul seperti itu, ha?” bentak Fey.
“Maafkan saya Ratu, tapi ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Ratu?” ujar pak Po sambil menundukkan kepalanya.
“Soal pernikahan putrimu?” tebak Fey.
“Benar, Ratu.”
“Pernikahan Rhea tidak bisa dibatalkan atau diganggu gugat lagi pak Po. Ini sudah takdir yang harus ia jalani, kau tidak bisa menghalangi mereka menikah.”
__ADS_1
“Tapi Ratu ... saya dengar Rhea melakukan kesalahan sehingga putri saya tidak bisa menikah dengan pangeran. Benarkah itu, Ratu?” tanya pak Po. Ada nada kesedihan di dalamnya.
Fey yang memahami bahwa pak Po juga salah paham, jadi terobsesi untuk mengerjai ayah dan anak ini sekaligus. Ia tidak bisa membayangkan betapa terkejutnya mereka nanti jika pria asing yang sedang pak Po bicarakan adalah putranya sendiri.
“Itu benar. Pernikahan mereka akan dilangsungkan sebentar lagi. Jadi bersiaplah!” Fey hendak beranjak pergi, tapi dihalau oleh pak Po dengan bergerak cepat berdiri tepat di hadapan Fey.
“Tunggu, Ratu. Bolehkah saya melihat calon menantu saya? Apakah dia ... paling tidak ... 11 12 dengan pangeran? Sebab, Rhea bilang ia sama sekali tidak mengenal pria asing yang akan dinikahinya. Setidaknya, izinkan saya untuk melihat siapakah pria asing itu. Saya janji, saya tidak akan mengganggunya, hanya ingin tahu saja.”
“Kau akan segera tahu siapa dia di acara pernikahan putrimu sebentar lagi. Bersabarlah, dia sedang aku pingit dan tidak kuperbolehkan bertemu dengan siapapun. Oh iya, Refald sendirilah yang akan menikahkan putrimu. Jadi kau jangan khawatir. Saat ini, mungkin Refald sedang bersiap-siap.”
“Tapi Ratu ... bagaimana kalau pria asing itu ... tidak memperlakukan Rhea dengan baik? Tidak ada yang tahu seluk beluk keluarga pria asing itu seperti apa.”
“Putrimu bukanlah wanita lemah pak Po, dia mewarisi kekuatanmu. Justru aku yang khawatir pada calon menantumu itu, karena dia hanyalah manusia biasa. Tidak ada yang perlu kau cemaskan.”
“Itulah yang saya khawatirkan saat ini, Ratu. Bagaimana kalau pria asing itu tahu kalau istrinya bukanlah manusia biasa. Ia pasti akan ketakutan dan meninggalkan putriku yang malang. Di dunia nyata, mana ada manusia yang mau berbesan dan punya mertua setan?”
Mendengar kalimat pak Po, Fey ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Tapi apa daya, ia harus tetap melanjutkan sandiwara cinta antara Rey dan Rhea ini sampai mereka berdua menikah.
“Kau tidak perlu khawatir saol itu. Aku pastikan apa yang kau cemaskan tidak akan terjadi, sama seperti aku yang ternyata memiliki suami si manuisa super Refald. Apa aku meninggalkannya? Tidak, kan? Justru aku semakin mencintainya. Hal itu juga yang pasti bakal dilakukan menantumu. Jangan lebay begitu pak Po, aku ingin sekali menjitak kepalamu! Tidak ada adegan suami menindas istri ataupun sebaliknya, ini bukan sinetron atau drama ikan terbang, Aku sarankan kurangi menonton film semacam itu supaya otak mu tidak terkontaminasi, kau bukan emak-amak? Masa tontonanmu setiap hari cuma sinetron indosiar?”
“Darimana Ratu tahu?” tanya pak Po dengan wajah polosnya.
“Dari istrimu! Dasar kau ini!”
“Tapi ... Ratu ...” Pak Po masih saja merengek seperti anak kecil yang tak dituruti keinginannya oleh ibunya.
“Tidakkah Ratu tahu bagaimana perasaan saya sebelum datang kemari?” pak Po malah curhat. “Saya begitu senang karena akan segera memiliki menantu luar biasa seperti pangeran. Namun, rasa senang itu kini musnah sudah. Bagaimana bisa anda berkata bahwa saya tak perlu khawatir?”Pak Po mulai menangis pilu.
Fey hanya bisa tersenyum dan mencoba menenangkan pak Po. Bisa-bisajya pak Po menangis seperti itu.
“Dengarkan aku pak Po, tidak peduli siapapun yang menjadi suami putrimu, aku dan Refald tetap menjadi keluargamu. Aku juga akan selalu melindungi putrimu seperti putriku sendiri. Pria biasa yang bakal menjadi menantumu ini juga istimewa, hanya saja masih belum terlihat. Yang terpenting adalah, ia jatuh cinta pada putrimu. Tidak ada hal yang lebih indah selain jatuh cinta, bukan? Kau sendiri juga pernah merasakannya saat kau jatuh cinta pada Divani. Apa kau ingat? Kau meminta kami untuk menikahkanmu dengannya?”
“Anda benar, Ratu. Apa yang harus saya lakukan sekarang?” ujar pak Po dengan ekspresi menyedihkan.
“Ayah macam apa kau ini, ha? Bersedih dihari penting putrimu. Rhea mungkin merasa bersalah padamu karena telah membuatmu seperti ini. Harusnya sebagai orangtua kau wajib menyemangatinya. Jika kau bersedih, itu akan membuat Rhea semakin frustasi. Apa itu yang kau inginkan?”
“Tidak Ratu, saya mengerti sekarang. Maafkan atas kelancangan saya dan terimaksih atas segalanya. Kalau begitu, saya permisi.” Pak Po pun langsung menghilang dari hadapan Fey dan betapa terkejutnya Fey saat melihat Refald sudah berdiri dihadapanya menggantikan pak Po sambil melipat tangan didadanya.
Ekspresi Refald saat ini sulit sekali dijabarkan. Ia hanya menatap tajam istrinya yang sedang nyengir kuda. Fey yakin, Refald pasti sudah mendengar pembicaraannya dengan pak Po karena ternyata raja dedemit itu sudah berada di belakang pak Po sejak tadi tanpa diketahui oleh pak Po ataupun Fey sendiri.
“Kenapa kau tidak memberitahu pak Po yang sebenarnya, Honey? Kau mengerjainya lagi?” Refald mulai menginterogasi.
“Aku berkata apa adanya raja Refald sayang. Tidak ada kebohongan. “
“Honey ... ah tidak! Ratuku ... apa yang harus aku lakukan padamu, hm?” Refald langsung mendekat ke arah Fey.
Semakin dekat dan terus mendekat sampai keduanya tidak memiliki sekat. Refald bertingkah seolah ingin segera mencium bibir istrnya yang menggemaskan itu. semakin hari, Fey tidak bertambah tua, malah sebaliknya istri tercitanya itu terlihat awet muda.
“Apa yang sedang kau lakukan? Banyak demit yang melihat kita,” seru Fey sambil mendorong paksa tubuh suaminya agar menjauh darinya.
__ADS_1
“Biarkan saja, mereka semua sudah tahu seperti apa kita berdua.” Refald menggenggam erat kedua tangan Fey.
“Mundur! Aku harus mengecek semua persiapan pernikahan putra kita apakah sudah siap apa belum.” Fey berusaha melawan suaminya, tapi Refald yang sudah sangat kuat tak bisa dilawan dengan mudah.
“Tidak perlu! Aku sudah mengeceknya barusan dan semuanya sudah siap!”
“Kalau begitu, lepaskan tanganku! Aku ingin bertemu Rey.”
“Tidak mau! Aku sudah bilang padamu, jangan pernah meninggalkanku barang sedetikpun. Tanggung sendiri akibatnya jika kau melanggar.”
“Refald!” seru Fey ingin sekali menjerit.
“Honey!” balas Refald dengan suara merdunya.
“Astaga! Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapimu sekarang.” Fey menatap Refald yang juga menatapnya.
“Kau sangat suka mengerjai orang dan mengobrak abrik perasaan mereka. Akupun sama, aku sangat suka menggodamu dan merayumu seperti ini. Kau tahu betapa inginnya aku memakanmu sekarang.” Refald membuka mulutnya hendak menggigit telinga Fey yang bergidik menjauh dari wajah suaminya. Refald sengaja menggiring Fey membentur dinding ruangan lalu mengurungnya dengan merentangkan kedua tangannya.
“Hentikan pembicaraan ini, biarkan aku pergi, aku ingin bertemu dengan putraku sebelum dia menikah.”
“Kita akan kesana bersama-sama setelah aku selesai disini.”
“Selesai apanya? Kau mau apa, sih? Masa mau ehem-ehem di tempat umum seperti ini?” Fey beneran jadi emosi.
“Kau ingin melakukannya? Baiklah, ayo kita lakukan?” Refald menyeringai.
“Hah? Kau sudah gila? Apa kau sedang kerasukan setan Leo, ha? Kenapa kau jadi mirip seperti dia?” teriak Fey.
Refald langsung meraih tubuh Fey ke dalam pelukannya, lalu dalam hitungan detik keduanya menghilang dari pandangan para dedemit yang hanya bisa bengong melihat tabiat raja dan ratu mereka yang bengek akut itu.
Rupanya, Refald membawa pergi Fey ke kamar mereka sendiri dan langsung mulai malancarkan aksinya bercinta dengan Fey di atas ranjang.
“Refald, hentikan! Bisa-bisanya kau melakukan ini disaat seperti ini? Apa kita tidak bisa melakukannya setelah selesai upacara pernikahan putramu?” kali ini Fey agak sedikit berontak.
“Kau sendiri yang minta ehem-ehem tadi. Jadi, kita lakukan sekarang!”
“Siapa yang minta, ha? Lepaskan aku! Aku mau menemui putraku!”
“Kau baru boleh menemuinya setelah kita selesai melakukan ritual. Setelah ini, kita harus mandi kembang bersama. Ayo, kita lakukan. Jangan berontak lagi. Semakin kau melawan maka aku akan main semakin lama. Jadi sebaiknya, kau pasrah saja, Honey. ” Refald tersenyum puas memandang wajah shock Fey.
Refaldpun memulai aksinya dan Fey tak bisa menolak lagi. Mau tidak mau, Fey menuruti apapun yang dilakukan Refald padanya.
BERSAMBUNG
****
Waduhhhhhhh??? hehe ... terus dukung like dan komentarnya dong ... biar makin semangat gitu ...
__ADS_1