
Rhea membawa Rey ke goa tempat ia tinggal sebelumnya. Goa ini adalah tempat teraman dimana para iblis jahat tidak akan bisa menembus goa ini karena sudah diberi pelindung oleh Refald sewaktu dulu ia bertapa. Goa ini juga merupakan tempat kelahiran Rhea. Jika ada iblis jahat memaksa masuk ke dalam goa ini, maka sosoknya akan lenyap seketika. Hanya pasukan Refald dan orang tertentu saja yang boleh memasuki goa ini, itupun atas seizin Refald terlebih dulu. Intinya, tak sembarang orang bisa memasuki goa ini.
“Ayah, Ibu ... apa kalian ada di dalam?” teriak Rhea, tapi tidak ada sahutan. Sepertinya, pak Po dan Divani pergi entah kemana.
Gadis cantik itu meletakkan tubuh suaminya di atas tempat tidurnya. Ini kali kedua Rhea memasukkan laki-laki ke dalam kamarnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa laki-laki pertama yang memasuki kamarnya adalah suaminya sendiri, pangeran pujaan hatinya yang selama ini sangat ia impikan. Sayangnya, sang pangeran masih belum mengeluarkan pesona yang sesungguhnya sehingga untuk saat ini, Rhealah yang harus melindungi pangeran ini.
Rhea bergegas mengambil kotak P3k yang selalu ia simpan. Kotak yang berisi perlengkapan obat-obatan ini sering Rhea gunakan untuk menolong binatang-binatang di hutan yang terluka. Hutan ini bagaikan rumah Rhea dan seluruh penghuninya ia anggap sebagai kerabat. Itulah kenapa saat pertama kali bertemu Rey, buaya dan singa yang mengincar nyawa pangerannya ini tak bisa menyerang Rhea karena mereka juga menganggap gadis yang dikenal sebagai si cantik dari goa hantu itu bagian dari mereka.
Melihat tangan Rey yang terluka karena bertaruh nyawa melindunginya, tanpa terasa air mata Rhea mengalir. Sungguh ia tak menduga bahwa orang yang ia cintai bakal bertindak nekat seperti ini.
“Kenapa anda melakukan semua itu, Pangeran? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada anda? Apa yang harus saya lakukan?” gumam Rey sambil menangis.
Sekelebat bayangan darah Rey yang mengucur mengenai tangannya tadi, membuat Rhea masih shock hingga sekarang. Apalagi saat membersihkan tangannya dari darah Rey, Rhea benar-benar merasa bersalah pada suaminya ini.
Tetesan air mata Rhea tak sengaja mengenai tangan Rey sehingga membuat sang pangeran terjaga dan ia pun tertegun saat melihat wanita yang dicintainya menangis dihadapannya.
“Kenapa kau menangis, hm? Aku masih hidup,” ujar Rey terus menatap wajah Rhea yang menunduk sambil membalut lukanya dengan perban.
“Tidak apa-apa, hanya ingin menangis saja.” Rhea masih belum bisa menatap wajah Rey yang sejak tadi tak berkedip melihatnya. Bukannya apa-apa, ia hanya malu kerena ketahuan menangisinya.
Setelah selesai memerban tangan Rey, Rhea mengemasi kotak P3k-nya dan mengembalikan kotak tersebut ke tempat semula. Gadis cantik itu hendak pergi keluar tapi sebuah pelukan hangat tiba-tiba saja merengkuh tubuhnya. Rey mencegah langkah Rhea dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rhea.
“Mau pergi kemana? Ada banyak sekali hal yang harus kita bicarakan,” bisik Rey lembut di telinga Rhea.
Rhea hanya diam membisu menatap lurus ke depan dengan segudang perasaan yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
“Kau ... tidak mau bicara padaku?” tanya Rey, ia membalikkan tubuh Rhea supaya menghadapnya dan Rey bisa menatap wajah cantik istrinya.
“Apa yang harus saya katakan? Luka di tangan ini membuat saya semakin bersalah pada anda Pangeran, anda bisa saja kehilangan nyawa seandaianya raja dan ratu tidak datang tepat waktu.” Air mata Rhea kembali mengalir.
“Kau ini aneh sekali, kau jauh lebih kuat dariku tapi kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ayah dan ibuku sudah ada di lokasi jauh sebelum aku datang kesana. Mereka hanya menunggu momen yang tepat untuk menyelamatkan kita jika memang kita berdua dalam bahaya. Kenapa kau jadi merasa bersalah padaku, padahal jelas-jelas ini adalah permainan mereka. Akulah yang marasa bersalah padamu. Selama 16 tahun terakhir kita tidak pernah bertemu dan aku ... tidak bisa membayangkan betapa sulitnya hidup yang kau jalani ini sendirian. Sedangkan aku ....” Rey tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Anda bersenang-senang dan menikmati hidup disana bersama dengan banyak gadis-gadis cantik.” Rhea yang melanjutkan.
“Tapi tidak ada wanita manapun yang secantik dirimu,” tambah Rey masih menatap mata indah Rhea.
“Apakah kalimat itu yang sering anda katakan pada setiap wanita yang dekat dengan anda?”
“Tidak, ini kali pertama aku memuji kecantikan seseorang. Wanita-wanita lain di luar sana mungkin terlihat cantik karena polesan make up, tapi tidak denganmu. Kecantikanmu ini, begitu alami dan sangat kontras dengan alam. Tanpa make up, kau sudah sangat cantik.” Rey membelai lembut pipi Rhea.
“Dasar tukang gombal.”
“Aku rasa, kau sudah sering mendengar gombalan seperti ini, iya kan? Berapa banyak pria yang sudah menyatakan cinta padamu?” sorotan mata Rey yang tadinya lembut dan penuh cinta, kini berubah menjadi posesif.
“Tidak ada pria manapun yang berani menggombali saya seperti anda Pangeran, sebab saya tidak pernah membiarkan mereka semua mendekati saya. Jika mereka nekat melakukannya, paling tidak mereka harus ikhlas jika mengalami patah tulang.”
“Benarkah?” tanya Rey curiga.
Melihat betapa cantiknya Rhea dan banyaknya laki-laki yang tergila-gila padanya, rasanya tidak mungkin jika wanita yang dicintainya ini tak pernah disentuh pria manapun selain dirinya.
“Sungguh, andalah orang pertama yang ....” Rhea berhenti bicara karena Rey terus menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. “Sebaiknya kita cari kemachoan mana yang rusak, aku akan mengobatinya.” Rhea bermaksud mengalihkan pembicaraan.
Seketika suasana hati Rey langsung badmood mendengar ucapan Rhea. Runtuh sudah nuansa romantis yang baru saja tercipta.
“Sungguh kau tidak tahu apa itu macho?” mata Rey memelototi Rhea.
Rey berpikir sejenak untuk mencari tahu maksud pertanyaan Rey, sejujurnya ia mengira macho adalah bagian tubuh Rey, tapi ia tidak tahu yang mana.
__ADS_1
Melihat ekspresi Rhea yang tampak kebingungan, Rey akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Rey membuka kancing kemejanya satu-persatu dan menanggalkan kaos dalamnya hingga dada bidang Rey dan ototnya yang kekar terlihat menggiurkan dimata Rhea.
“A-apa yang anda lakukan, Pangeran? Kenapa anda melepas baju anda?”
“Untuk memberitahumu apa macho itu.”
“Hah? Apa dada anda terasa sakit? Yang mana? Kiri atau kanan?” Rhea langsung panik dan menatap dalam-dalam dada Rey untuk memastikan apakah ada luka dalam disana. Sebab, dada Rey terlihat mulus dan baik-baik saja, entah dalamnya luka juga atau tidak.
“Kenapa kau jadi menanyakan dadaku?”
“Bukankah ... anda mengatakan ingin menunjukkan apa itu macho? Dan yang saya lihat adalah dada bidang anda.” Rhea merasa malu sendiri saat mengatakan hal itu pada Rey.
“Kau pikir macho itu adalah dada bidang ini?” pekik Rey tak percaya, Rhea masih belum mengerti juga. Rey menggigit bibirnya sendiri karena gemas sekali pada Rhea. “Apa yang harus aku lakukan padamu, hm? Haruskah kita melakukannya sekarang?” tanya Rey sambil melangkah maju ke arah Rhea.
“Melakukan apa?” Rhea bergerak mundur menghindari jangkauan Rey.
“Katakan padaku, bagaimana tubuhku?”
Aduh, gawat! Kenapa ia menanyakan tubuhnya? Apa yang harus kau jawab? Batin Rhea gugup. Rhea terus melangkah mundur karena Rey juga terus saja maju mendekatinya.
“Kalau kau tidak mau menjawabku, maka aku akan menciummu. Sepertinya, kau sangat suka dengan ciumanku.”
“Hah?” Rhea terkejut dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. “Kenapa harus seperti itu?” tanya Rhea.
“Makanya, jawab pertanyaanku, bagaimana tubuhku?” Rey mengulangi pertanyaannya.
“Bagus!” jawab Rhea cepat.
“Apanya yang bagus?”
“Tubuh andalah, apalagi?”
“Sepertinya, aku harus mengatakan pada ayah supaya cepat menikahkan kita. Dengan begitu, aku bisa memberitahumu apa macho itu. Tidakkah kau tahu betapa inginnya aku memakanmu saat ini? Tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku ... sangat mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu, Rhea. Kau wanita pertama yang bisa membuatku gugup dan jantungku berdetak dengan kencang saat kita bersama.” Rey meraih tangan Rhea dan menempelkan tangan mungil itu di dadanya. “Kau bisa merasakannya?” tanya Rey sambil terus menatap manik mata Rhea.
Gadis itu hanya bisa menelan salivanya, karena ia pun juga merasakan hal yang sama, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya seperti yang Rey lakukan saat ini.
“Pangeran ....”
Rey langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir indah Rhea agar tidak jadi bicara. “Panggil aku dengan sebutan ‘Sayang’. Kau bukan budakku, kau adalah istriku. Jangan bersikap formal lagi padaku. Kau bisa memanggil raja dan ratumu dengan sebutan ‘ayah’ dan ‘ibu’. Kenapa kau tidak mau memanggil suamimu dengan sebutan ‘Sayang’?”
“Itu menyalahi aturan, Pangeran. Saya sadar diri dimana tempat dan posisi saya.”
“Kau masih belum mengerti juga? Tempatmu disini, dihatiku.” Rey tetap menggenggam erat tanga Rhea diatas dadanya.
“Saya tidak terbiasa ....” sebuah ciuman maut mendarat di bibir ranum Rhea.
“Kau harus terbiasa,” ujar Rey.
“Saya ....” lagi-lagi Rey mencium bibir Rhea. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
“Pangeran ....” satu ciuman lagi. Rey terus mencium Rhea dan tidak membiarkan gadis itu melanjutkan kalimatnya sampai Rhea tak lagi bersikap formal padanya.
“Sampai kapan a ... kau menciumku?”
“Bagus, begini lebih nyaman. Kau dan aku, saling mencintai sekarang. Kau milikku selamanya. Aku sangat senang.” Rey memeluk erat tubuh Rhea.
Semakin dag dig dug lah Rhea dibekap seperti itu, apalagi dada bidang Rey yang terbuka semakin membuat Rhea seperti kehilangan akal sehatnya. Ia juga sangat bahagia sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
“Pa ... emh, maksudku, suamiku Sayang ... mau ikut jalan-jalan denganku? Aku ingin menunjukkan banyak hal padamu seperti apa kehidupanku.”
Rey mengernyitkan keningnya. “Ini sudah hampir pagi, kau tidak lelah?”
“Kita bisa melihat matahari terbit juga nanti, ayo!”paksa Rhea sambil tersenyum.
“Tapi, aku tidak mau kau gendong lagi!” sergah Rey.
“Tidak, kita akan jalan kaki. Itupun jika pangeranku yang tampan ini tidak keberatan.”
Rey tersenyum mendengar Rhea memujinya tampan, meski kenyataannya memang iya. “Baiklah, ayo!”
Keduanya saling bergandengan tangan keluar dari goa. Bau pinus yang menyengat dan udara dingin di pegunungan yang segar membuat suasana hati Rey dan Rhea kembali fresh dan ceria. Ditambah lagi, kini keduanya sama-sama sedang menikmati indahnya jatuh cinta. Senyum kebahagiaan menghiasi wajah keduanya.
Suara kicauan burung-burung dan binatang-binatang kecil disekitar hutan, terdengar merdu seolah mereka ikut merasakan kebahagiaan dua insan yang sedang sama-sama dimabuk asmara. Untuk sesaat Rey tertegun dan sempat menghentikan langkahnya saat semua binatang-binatang kecil di hutan bersuara. Rey memejamkan mata seolah mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
“Ada apa?” tanya Rhea yang heran karena melihat suaminya, tiba-tiba saja berhenti berjalan.
“Kau suka berendam di air terjun?” tanya Rey tiba-tiba sambil tersenyum.
“Bagaimana kau tahu?” Rhea langsung terkejut Rey mengetahui salah satu kebiasaannya.
“Burung-burung yang memberitahuku,” ujar Rey. “Kau mau berendam bersamaku?”
“Tapi ... bagaimana bisa burung-burung memberitahumu? Mereka kan tidak bisa bicara? Dasar pembual.”
“Ya sudah kalau tidak percaya, ayo kita berenda bersama. Air terjunnya ada disana, kan?” Rey langsung mengajak Rhea berlari cepat menuju air terjun yang dimaksudkan berada.
Dalam jarak 5 meter, Rey bisa melihat tebing kecil yang tidak terlalu tinggi. Di depan tebing itulah air terjun itu berada dan di bawah terbing itu juga mengalir sungai yang terbentuk seperti kolam besar dari dasar air terjun yang indah.
“Pa ... ehm, Rey! Apa yang kau lakukan? Kenapa berlari sekencang ini?” teriak Rhea.
“Ini pertama kalinya kau memanggil namaku, aku suka itu. Jangan banyak protes. Ikuti saja aku!” Rey balas berteriak sambil tertawa lepas.
Ini juga pertama kalinya Rhea melihat pangeran pujaan hatinya bisa tertawa seperti itu. Tadinya Rhea kira, Rey adalah orang yang jutek dan pemarah, tapi ternyata ia bisa tertawa lepas juga. Rey terlihat sangat bahagia. Suami Rhea itu berlari kencang sambil terus menggandeng tangan Rhea yang ikut berlari dibelakangnya. Tanpa memberi aba-aba, Rey menarik tangan istrinya dan mengajaknya melompat dari tebing.
Byuuuuuur!
Keduanya menceburkan diri ke dalam air yang segar dan dingin. Rhea yang terkejut berusaha keluar dari dasar air menuju permukaan dan langsung mencari-cari keberadaan suaminya. Sayangnya, sang suami tidak ada dimana-mana. Sontak Rhea jadi panik dan juga bingung.
“Pangeran! Suamiku! Sayang! Kau dimana?” teriak Rhea cemas. Suasana hutan sangat hening dan hanya terdengar suara derasnya air terjun yang mengalir dihadapannya.
Karena yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul juga, Rhea kembali masuk ke dalam air untuk mencari Rey. Gadis itu menyelam kesana kemari hingga kehabisan napas, tapi Rey tetap tidak bisa ia temukan.
Semakin paniklah Rhea. Berkali-kali ia muncul kepermukaan untuk mengambil napas dan menyelam lagi dan lagi mencari sosok Rey disetiap sudut sungai. Tetap saja ia tak menemukan Rey dimanapun.
“Reyyy!” teriak Rhea menggelegar hingga burung-burung yang tadinya bertengger di dahan pohon, langsung beterbangan ke udara. Rhea menangis sejadi-jadinya karena Rey tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.
Disaat Rhea sudah hampir putus asa, tiba-tiba dari belakang, ada sepasang tangan merengkuh tubuh Rhea dan memeluknya dengan erat. “Aku disini, Sayangku!” bisik Rey mesra.
Seketika wajah Rhea tertegun antara lega, senang dan juga kesal karena untuk sesaat, Rhea mengira kehilangan Rey.
BERSAMBUNG
***
Dilarang baper! Heheh ...
__ADS_1
Terus dukung aku dengan vote, komen, like dan ghiftnya ya ... supaya lebih semangat lagi nulisnya ....