
Aku menunggu jawaban dari mbak Kun, beberapa detik berlalu dan kami hanya saling diam. Aku menatap punggung sosok makhluk putih itu dengan perasaan yang tak menentu.
“Ada yang menunggu kita di hilir sungai, dan aku harus memberikan barang yang dititipkan pangeran Refald padaku.” Mbak Kun kembali mendekat ke arahku lalu menjulurkan satu tangan kanannya dibalik lengan bajunya, tepat didepanku.
Aku mendekat dan mencari-cari tangan mbak Kun yang tersembunyi dibalik kain putih yang dikenakannya. Dan betapa terkejutnya aku setelah tahu bahwa ada sebuah flashdisk ditangannya. Aku segera mengambilnya dan mengamati flashdisk itu. Benda inilah yang dicari-cari oleh penjaga perhutani.
“Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu. Jika fajar tiba, aku tidak bisa lagi menjagamu.”
“Siapa yang menungguku di hilir kalau bukan Refald?” aku masih penasaran sekaligus khawatir soal orang yang aku cintai itu. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya saat ini. Apakah ia berhasil meloloskan diri atau tidak?
“Sekelompok orang yang sudah dihubungi pangeran Refald sebelumnya. Aku harus membawamu kesana dengan selamat sebelum fajar tiba, ayo!” mbak Kun kembali melayang lagi.
Aku pun mengikuti mbak Kun dengan perasaan campur aduk tak karuan, jadi aku beranikan diri bertanya pada mbak Kun. “Kapan Refald memerintahkan hal itu padamu? Bukankah dia sedang kehilangan kekuatannya?” aku semakin tidak mengerti dengan peraturan yang ada di dunia Refald soal kekuatannya.
“Meskipun pangeran Refald kehilangan kekuatannya, tugas kami adalah melindunginya. Dia masih bisa berkomunikasi dengan kami disiang hari meski kami tidak bisa menampakkan diri kami didepannya sampai petang tiba. Dan kami akan menghilang disaat fajar. Bisa anda percepat langkah anda? Saya hanya punya waktu satu jam sebelum saya benar-benar menghilang.”
Aku mulai memahami penjelasan dari mbak Kun, ku percepat langkahku demi bisa mengejarnya. Kali ini aku tidak lagi bersuara. Aku hanya fokus pada pesan yang disampaikan oleh Refald karena aku sudah mulai menangkap inti pesannya. Flashdisk yang ada di tanganku ini, harus segera kuserahkan pada pihak berwajib supaya penjaga perhutani dan komplotannya segera ditangkap. Mereka semua harus mendapat hukuman yang setimpal atas semua perbuatan yang sudah mereka lakukan.
Semoga aku tidak terlambat dan Refald baik-baik saja. Satu hal yang mengganjal pikiranku saat ini, siapa orang yang dihubungi Refald? Dan bagaimana cara Refald menghubungi orang ini? Sebab, aku tidak melihatnya membawa ponsel. Batinku.
Setengah jam kemudian, akhirnya aku sampai di hilir sungai dengan selamat dan tanpa kendala apapun berkat panduan dari mbak Kun. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum mbak Kun benar-benar menghilang. Aku melihat cahaya bulan yang begitu terang memantul di permukaan air sungai.
Tempat yang indah sebenarnya, tapi berhubung situasiku saat ini dalam masa genting, aku tidak bisa menikmati keindahan alam yang ada di tempat ini. Terlebih lagi, tidak ada Refald di sisiku.
__ADS_1
“Dimana orang yang dimaksud Refald, Mbak?” tanyaku pada sosok putih nan cantik ini. Dia melayang-layang memutariku sambil mengamati sekitarku.
“Fey!” panggil seseorang dari balik punggungku.
Spontan aku langsung menoleh ke arah suara itu dan mendapati beberapa orang berdiri dibelakangku. Mereka juga bersenjata. Aku memastikan penglihatanku mengenai siapa orang-orang itu dan bagaimana bisa mereka mengetahui namaku.
“Siapa mereka?” tanyaku pada mbak Kun dengan suara lirih.
Belum sempat mbak Kun menjawab pertanyaanku, laki-laki paruh baya berseragam hitam ala polisi SWAT langsung datang memelukku. Tentu saja aku kaget setengah mati karena tiba-tiba saja aku dipeluk oleh orang asing yang tak kukenal sebelumnya.
Aku memberi kode pada mbak Kun untuk bertanya siapa orang ini, tapi sosok putih itu bukannya menjawab malah senyam-senyum sendiri tanpa arti.
“Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu,” ujar pria paruh baya yang sedang memelukku. “Kau sudah besar, dan juga sangat cantik. Pantas saja si brengsek itu ngotot datang ke sini mencarimu,” ujar pria itu sambil melepaskan pelukannya dariku dan terus tersenyum padaku.
Sedangkan aku masih bingung tentang siapa orang ini, karena aku merasa tidak pernah bertemu dengan orang ini. Dan siapa yang dimaksud dengan si brengsek? Apakah itu Refald?
Aku sempat melihat mbak Kun tertawa cekikikan melihat ekspresiku. Ingin rasanya aku menghantam sandal ke mukanya tapi itu jelas tidak akan berguna. Karena mbak Kun selalu tembus pandang jika dilempari benda apapun.
“Kau lupa padaku?” tanya orang itu, dahinya sedikit berkerut karena terkejut. Tapi pria itu langsung bisa menguasai situasi. “Ahhhh, tetu saja kau tidak mengenaliku. Karena sudah hampir satu dekade lamanya kita tidak betemu, dan aku pun juga semakin bertambah tua. Wajar jika kau tidak mengingatku. Aku kira si brengsek itu bisa menjagamu dengan baik. Tidak kusangka dia malah membuatmu dalam situasi berbahaya seperti ini. Akan aku cincang dia jika sudah kembali, nanti.”
Aku semakin yakin sekarang, si berengsek yang sedang pria ini bicarakan adalah Refald. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa hubungannya orang ini dengan Refald? Siapa orang ini? Apa dia ... pikiranku sudah lari kemana-mana.
“Sir,” sapaku pada pria paruh baya yang berdiri di depanku.
__ADS_1
“Panggil aku, Ayah! Aku, ayahmu juga!”
Aku tersentak sampai terhuyung ke belakang karena terkejut, aku tidak menyangka bahwa orang yang baru saja memelukku ini adalah ayah Refald, calon mertuaku sendiri, dan aku baru saja sadar.
Sejujurnya aku sangat malu sekali, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana bisa aku tidak mengenali wajah calon mertuaku sendiri. Aku bahkan lupa siapa namanya.
Bagaimana ini? Kenapa kami malah bertemu disituasi rumit seperti ini? Aku kalud dengan pikiranku sendiri sementara mbak Kun semakin terang-terangan menertawai ekspresiku.
“Kau tidak apa-apa, Fey?” tanya ayah mertuaku.
“I-iya, Sir, maksudku ... Ayah, a-aku baik-baik saja. Maaf kalau aku tidak mengenali anda sebelumnya,” ucapku dengan gugup.
“Hahahaha ...” ayah Refald malah tertawa. “Tidak apa-apa. Syukurlah kau baik-baik saja. “Oh iya, apa kau membawa flasdisknya?”
Aku langsung tersadar sekaligus heran mendengar ayah mertuaku tiba-tiba saja menanyakan soal flashdisk. Mungkin saja orang yang dimaksud mbak Kun tadi adalah ayah Refald sendiri, jadi aku langsung menyerahkan flashdisk yang ada ditangan kananku pada ayah mertuaku.
“Bagaimana dengan Refald, Ayah? Kami sepakat untuk bertemu lagi di sini satu jam lagi.” Aku mencoba memberitahu situasi kami kepada ayah mertuaku, tapi eskpresinya tidak terlalu senang mendengar apa yang aku katakan.
“Sebaiknya, kita tinggalkan dulu tempat ini. Aku rasa, Refald tidak akan datang kemari.”
“Apa?” aku terkejut, rasa khawatir dan cemas kembali menyerangku. Aku yakin sesuatu yang buruk sedang menimpa Refald saat ini. Aku mencari-cari sosok mbak Kun tapi sepertinya ia sudah tidak ada lagi di sini. Sosok putih itu sudah menghilang karena fajar sebentar lagi datang.
“Apa yang terjadi pada Refald, Ayah? Dia baik-baik saja, kan? Dia janji padaku kalau dia bakal menemuiku di sini. Aku akan menunggunya, aku yakin dia akan datang. Refald tidak pernah melanggar janjinya.” Aku tahu yang aku katakan ini terlalu memaksakan diri.
__ADS_1
“Fey, tenanglah, Refald baik-baik saja, jangan khawatir oke. Percayalah padaku. Ayo! Ikutlah denganku. Akan aku jelaskan semuanya.” Ayah mertuaku merangkulku dan menuntunku menjauh dari sungai dan pergi ke tempat aman yang sudah pasukan ayah mertuaku siapkan sebelumnya.
****