
Hari ini ketua panita ospek memberikan pengumuman bahwa semua mahasiswa diperbolehkan kembali ke kampus karena jalan yang tadinya rusak sudah diperbaiki dan juga sudah bisa dilewati. Semua mahasiswa termasuk Leo dan Shena mulai bersiap-siap mengemasi barang-barang mereka yang tersisa dan masih bisa dibawa.
Sudah waktunya para mahasiswa ini kembali ke kampus dan melakukan rutinitas kuliah mereka disemester pertama setelah mengalami banyak hal di tempat ini. Namun, sedikit banyak mereka juga punya pelajaran berarti dari bencana yang melanda tempat mereka melakukan ospek.
Ditempat yang berbeda, Refald juga mulai bersiap-siap berangkat ke Korea. Fey membantu Refald mengemasi semua hal yang dibutuhkan kekasihnya selama berada di Korea.
“Rasanya aneh sekali kalau kau tidak ikut bersamaku. Aku sudah terbiasa didekatmu,” ujar Refald saat mengancingkan bajunya. Ia memerhatikan Fey yang sibuk merapikan pakaian yang akan dikenakan Refald.
“Kau sudah sering keluar negeri tanpaku waktu kita kuliah dulu. Lagipula, kau selalu muncul kapan saja dan dimana saja seperti jelangkung setiap kali kita tidak bertemu. Aku tidak merasakan ada yang berbeda meski kau dan aku terpisah sementara, karena perjalananmu ini hanya formalitas saja. Sesampainya di Korea, jika kau tidak melakukan apa-apa kau menghilang dan datang kemari. Apanya yang berpisah lama?” gumam Fey, dan Refald hanya tersenyum.
“Kau sudah seperti istriku yang sesungguhnya,” ujar Refald sambil memeluk Fey dari belakang, tak lupa sebuah kecupan manis mendarat dipipi ranum Fey. “Aku harap ini adalah penundaan pernikahan kita yang terakhir. Aku tidak mau menunda pernikahan kita lagi. Dan jangan lupa ... persiapkan jiwamu untuk bulan depan.”
“Aku juga tidak mau menunda lagi, tapi ini adalah perintah dari leluhur kita, lagipula aku mendapatkan hadiah yang luar biasa. Mampirlah ke Jepang dan tanyakan apakah Ayah sudah siap berangkat bersama kita ke Swiss?”
“Aku yakin Ayah jauh lebih siap dari yang kau duga. Aku bisa merasakan ia lebih bahagia.” Refald mengecup lembut bibir Fey dengan penuh cinta. “Kita akan menjaga Ayah di Swiss sampai hari pernikahan kita tiba 3 tahun ke depan. Aku juga akan menemui Leo dan menghapus ingatannya.”
“Kau mau menghapus ingatan Leo sekarang?” tanya Fey sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Refald.
“Tidak sekarang, hari ini aku hanya akan memberitahunya sekaligus memberikan hadiah kecil untuknya dan Shena sebelum kuhapus ingatan keduanya. Aku pergi sekarang, Honey. Pak Po dan mbak Kun akan mengawasi dan menjagamu selama aku tidak ada.”
“Memangnya apa yang terjadi jika ingatan Leo dan Shena tidak kau hapus?” tanya Fey penasaran.
Refald memegang pinggang Fey dan mendekatkan tubuh istrinya itu lekat dengan tubuhnya. Ia menatap wajah Fey dengan tatapan penuh makna.
“Aku tidak mau dilangkahi Leo. Jika aku tidak menghapus ingatan si playboy itu, dalam sebulan Leo dan Shena akan menikah, sementara aku dan kau baru bisa menikah 3 tahun lagi. Sebagai anggota keluarga tertua, aku tidak mau dilangkahi adik-adikku. Kau dan aku, harus menikah lebih dulu, baru Xiaonai dan Wei wei, setelah itu Leo dan Shena disusul Zaya dan calon suaminya. Itulah urutan yang sudah kuprediksikan. Apa kau paham, Honey?”
Fey tidak bersuara, ia sangat mengerti maksud Refald. Semua anggota keluarga suaminya ini memang punya takdir kisah cinta mereka masing-masing. Dan anehnya, kisah mereka juga sangat unik dan punya kesan tersendiri. Fey beruntung bisa menjadi salah satu bagian dari anggota keluarga besar Refald yang benar-benar luar biasa.
“Baiklah, sudah waktunya kau berangkat, antarkan aku ke rumah Nura. Hari ini aku akan mengajaknya pergi ke sana.” Fey mengambil tasnya dan siap berangkat diantar Refald kerumah salah satu sahabatnya.
“Ajak pak Po dan mbak Kun juga. Hati-hati, Honey. Ingat ... jangan sentuh apapun di sana. Bilang pada Nura untuk mengucapkan apa yang menjadi keinginannya terutama cintanya pada Eric supaya mereka berdua bisa bersatu selamanya. Jangan biarkan Nura menyentuh apapun. Jika tidak ....”
“Iya, iya ... aku paham, kau bawel sekali. Aku mengerti, jadi jangan khawatir.” Fey langsung mendapat ciuman manis lagi dari Refald.
***
Leo sedang berkumpul dengan teman-temannya setelah sarapan pagi. Mereka semua sedang membahas apa saja yang akan mereka lakukan di kampus begitu mereka sampai disana. Kebanyakan dari para kaum adam itu berencana untuk mencari pacar mengingat difakultasnya hampir tidak ada satupun kaum hawa yang bisa dibuat cuci mata. Kalaupun ada, pasti penampilannya tak jauh beda dengan gaya mereka. Untuk penyemangat mereka saat menimba ilmu, para kaum Adam tersebut sepakat bersama mencari mangsa difakultas lain dimana kaum hawanya lebih banyak yang aduhai dan kece badai.
“Woy, Leo. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Shena? Apa kalian sudah resmi pacaran? Kami selalu penasaran apa saja yang kalian lakukan sampai Shena selalu pingsan digendonganmu. Benarkah tidak terjadi sesuatu?” tanya Brandon disela-sela obrolan asyik mereka.
“Terjadi sesuatu atau tidak, cuma aku saja yang boleh tahu!” ujar Leo dengan santai sambil meminum sodanya.
“Aku heran, kenapa kau tidak langsung saja menjadikannya pacarmu kalau kau suka dia? Aku sarankan sebaiknya kau cepat tembak Shena sebelum keduluan orang lain.”
“Kenapa kau berkata seperti itu? Apa maksudmu keduluan orang lain?” alis mata Leo mengerut mendengar perkataan temannya.
__ADS_1
“Aku sempat dengar dari salah satu temanku di jurusan Sains, akan ada cowok yang mau nembak Shena pagi ini. Cowok itu juga kebetulan satu jurusan dengan Shena.”
“Apaaa?” teriak Leo menggelegar dan mengagetkan semua orang. Ia langsung berdiri cepat dan matanya langsung berubah merah menyala. Leo juga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Napasnya naik turun dengan cepat menahan amarah.
“Oey! Telinga gue sakit tahu! Gila lu pagi-pagi main teriak-teriak gitu? Kesetanan darimana lu?” protes salah satu teman Leo yang duduk disebelahnya.
Tak menggubris ocehan temannya yang seperti petasan renteng, Leo pergi meninggalkan semua teman-temannya dengan sejuta tanduk yang muncul dikepalanya.
“Kenapa dengannya? Memangnya apa yang kau katakan pada Leo? Kenapa dia semarah itu?” tanya teman Leo yang lain pada Brandon.
“Wuaaah! Sepertinya si macan Leopard bakalan ngamuk dan memborbardir seseorang karena berani melewati garis teritorialnya.”
“Kau ini bicara apa, sih? Aku sama sekali tidak mengerti bahasamu. Kau belajar bahasa planet darimana?” cetus teman Brandon.
“Dari hongkong! Ayo kita ikuti saja, Leo! Kapan lagi kita dapat tontonan gratis dan hiburan langka seperti ini? Pasti seru!” ajak Brandon dan tentu saja langsung disusul anggukan kepala seluruh teman-temannya.
***
Pagi ini, keadaan Shena sudah kembali berangsur baik, ia juga sudah bisa bergerak dan beraktivitas meski kakinya agak sedikit pincang. Shena tidak terlalu khawatir karena ada Laura yang selalu siap membantunya, meski kadang iya juga cepat hilang tiba-tiba kalau Roy memanggilnya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat untuk berbincang-bincang.
Shena memahami bagaimana perasaan Laura pada Roy, jadi ia pun berusaha tidak terlalu bergantung sepenuhnya pada Laura. Sebab, sahabatnya itu benar-benar sedang jatuh cinta. Sayangnya, hubungan Roy dan Laura hanya sebatas PDKT saja, sama sekali tidak ada perkembangan. Roy bahkan belum menyatakan perasaan cinta pada Laura. Sedangkan Laura sendiri tidak mau mengatakannya lebih dulu. Alhasil, hubungan keduanya tetap standby ditempat alias digantung atau yang lebih beken biasa disebut dengan HTS (Hubungan Tanpa Status).
Sejauh ini, menurut pengamatan Shena, Roy hanya PHP-in Laura saja, tapi ia tak berani mengatakannya pada sahabatnya itu. Sebab, Shena takut Laura marah dan salah paham padanya. Jadi, Shena lebih memilih diam dan mengamati saja.
Shena berjalan pelan dan hendak mengambil air. Laura sudah hilang dari tadi pagi, mungkin ia sedang sarapan bersama dengan Roy. Tiba-tiba, ditengah jalan ia dihadang oleh seorang laki-laki yang bernama Vincen, salah satu teman seangkatan Shena dijurusan yang sama dengannya.
“Shena,” ujar laki-laki itu saat menghadang jalan Shena dan berdiri didepannya. “Bisa kita bicara sebentar.”
“Iya, ada apa ya?” tanya Shena bingung.
“Ehm, sebenarnya ... aku pengen lebih kenal dekat sama kamu, soalnya ... aku suk ....” belum sempat Vincen menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat di pipi kanan cowok itu.
Buk!
Vincen terpental kesamping dan jatuh terjerembab akibat pukulan dadakan yang ternyata dilayangkan Leo padanya. Semua orang yang melihat kejadian itu langsung heboh melihat aksi Leo yang tiba-tiba saja memukul Vincen tanpa sebab.
“Nggak ada laki-laki manapun yang boleh suka sama Shena. Karena dia cuma milikku!” geram Leo dengan tatapan mata yang benar-benar menakutkan. Shena hendak mengomel tapi ia bergidik ngeri setelah melihat raut wajah Leo yang sangar. “Jika kau berani mendekati Shena lagi, akan aku pastikan kau tidak punya tangan dan kaki lagi. Kalian para laki-laki yang ada di sini ... jangan pernah dekati Shenaku! Camkan itu baik-baik!” Leo berbalik arah tanpa memandang wajah Shena dan pergi berlalu begitu saja masuk ke dalam hutan.
Shena hanya berdiri diam menatap kepergian Leo. Saking shocknya, ia sampai tidak bisa berkata-kata. Padahal, Shena ingin marah tadi, apa haknya melarang semua pria mendekatinya? Toh, Shena juga bukan siapa-siapa Leo. Namun, kemarahan Shena mendadak sirna begitu melihat raut wajah menakutkan Leo barusan. Leo terlihat kalap tapi ia berusaha menahannya agar amarahnya tidak sampai keluar. Karena itulah Leo tidak mau melihat wajah Shena.
Beberapa orang membantu Vincen berdiri, ia mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat pukulan dari Leo. Vincen memerhatikan Shena yang berdiri diam melihat Leo. Cowok itupun juga pergi begitu saja dengan perasaan campur aduk tak karuan, antara marah, sedih kecewa dan juga kesal akibat serangan dari Leo.
“Leo, awas kau!” gumamnya dalam hati.
Sementara di dalam hutan, Refald sudah menunggu Leo. Saat Leo memukul Vincen tadi, Refald muncul dari kejauhan dan memberi kode untuk mengajak Leo bertemu di dalam hutan. Itulah kenapa, Leo tidak jadi menghajar Vincen dan memilih pergi ke dalam hutan mengikuti Refald.
__ADS_1
“Ada apa?” ujar Leo masih dengan nada kesal.
“Huh, kau marah? Karena wanitamu digoda pria lain?” Refald tersenyum melihat wajah kesal adiknya.
“Aku akan membunuh siapapun yang mencoba merebut Shena dariku.” Leo menendang-nendang batang pohon yang ada didekatnya.
“Aksimu tadi sudah cukup membuat semuanya berpikir ulang jika ingin mendekati Shena. Kau tidak perlu khawatir lagi. Lagipula, Shena tidak tertarik pada pria manapun. Selama 3 tahun kedepan, ia hanya akan fokus pada kuliah dan aktivitas kesehariannya. Jangan coba-coba buat masalah di sini selagi aku tidak ada.”
“Kau mau pergi?” tanya Leo, rasa kesalnya sudah sedikit hilang.
“Ehm, tapi sebelum pergi aku ingin bertemu denganmu untuk memberitahumu banyak hal.”
“Kau mau pergi ke mana? Hal apa yang ingin kau beritahukan padaku?”
“Seminggu lagi, aku akan ke Swiss bersama Fey dan menetap di sana selama 3 tahun. Sebelum berangkat nanti, aku akan menghapus ingatanmu bersama Shena. Dengan begitu, kalian bisa fokus pada kehidupan masing-masing sampai saatnya tiba.” Refald menatap Leo untuk mengetahui seperti apa reaksinya. “Sepertinya kau sudah siap kehilangan ingatanmu?” goda Refald.
“Mau bagaimana lagi, aku memang tidak ingin mengganggu masa belajar Shena saat ia gencar ingin mewujudkan cita-citanya. Berada didekatnya, serasa ingin mengajaknya menikah saja. Lagipula, kau ingin bersenang-senang dulu sebelum menghabiskan waktu mudaku bersama dengan orang yang aku cintai.”
“Dasar playboy!” ledek Refald. “Baiklah, bila itu yang kau inginkan. Hari ini aku mau berangkat ke Korea untuk bertemu dengan calon suami Zaya. Sepertinya adik sepupumu yang jadi musuh bebuyutanmu itu akan bikin ulah dan menyulitkan kita. Gadis itu menggunakan kesempatan selama aku dan Fey bertapa di Swiss.”
“Kalian sungguh akan menetap di Swiss? tapi kalian belum resmi menikah?”
“Justru karena itulah, kami mempersiapkan segalanya agar tidak ada penundaan lagi, lokasi pernikahan kami aku serahkan padamu nanti. Buatkan pesta yang meriah untukku. Dan juga ... jaga Zaya, jangan biarkan dia bikin ulah yang bisa merugikan keluarga besar kita.”
“Gadis tengil itu tidak akan menyerah walau kau menghalanginya, berani taruhan ia pasti berencana melarikan diri lagi.”
“Huh, aku tahu. Kali ini, jangan cari dia jika dia kabur lagi, biarkan takdir yang menuliskan kisahnya dengan calon suaminya nanti.”
Leo menatap Refald dan mencoba memahami maksud kata-kata kakaknya. Ia pun mengerti dan manggut-manggut.
“Yah sudahlah, terserah kau saja! Aku harus kembali ke camp, sebentar lagi kami semua akan berangkat pulang.” Leo menoleh ke arah Refald tetapi kakaknya itu sudah tidak ada lagi di sini. Padahal, beberapa detik lalu kakaknya itu masih berdiri disampingnya. “Dasar jelangkung, seenaknya datang dan pergi gitu aja,” gumam Leo dan tiba-tiba saja terdengar suara Refald di udara.
“Aku punya hadiah kecil untukmu dan Shena. Nikmati perjalananmu! Begitu aku kembali dari Korea, aku akan menghapus ingatan kalian berdua. Selamat menikmati.” Suara Refald terdengar menggema di dalam hutan. Dan tentu saja, hanya Leo seorang yang bisa mendengarnya.
“Dasar manusia super langka, rencana apalagi yang sudah ia siapkan untukku! Refald menyebalkan sekali! Awas saja kalau sampai ia membuatku berhadapan dengan iblis lagi!” gerutu Leo.
BERSAMBUNG
****
Maaf up telat
__ADS_1