Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 287 Aksi Rey


__ADS_3

Rey dan Rhea tak bisa berkutik lagi melihat Refald berjalan mendekat kearahnya. Tatapan matanya yang tajam membuat takut Rhea. Bukan hanya raja dan ratunya yang marah, pasti kedua orangtua Rhea serta paman dan bibinya bakal ikut marah juga kalau sampai mereka tahu bahwa ia bolos sekolah. Refleks, Rhea mundur dan bersembunyi di balik punggung Rey sambil terus menundukkan kepalanya.


“Sekarang bagaimana? Raja dan Ratu pasti sangat marah pada kita?” bisik Rhea dari balik punggung Rey.


“Kau jangan khawatir, percayakan saja pada suamimu ini.” Rey berkata seperti itu untuk menenangkan Rhea yang gemetar ketakutan. Bahkan tangan istri ghaibnya ini sampai basah berkeringat. Mungkin karena ini pertama kalinya Rhea bolos sekolah tanpa alasan yang pasti dan bukannya pulang ke rumah malah kelayapan kemana-mana.


“Siapa yang mengajarimu bolos sekolah, ha?” tanya Refald setelah ia berdiri tegap dihadapan putranya.


“Paman Leo Ayah,” jawab Rey santai. Bisa-bisanya si kampret ini mengkambinghitamkan pamannya sendiri.


“Kenapa kau menyalahkan pamanmu? Meski adikku yang satu itu tidak beres, tapi ia tidak akan pernah menyesatkanmu!” nada suara Refald mulai meninggi. Refald agak sedikit tidak terima kalau Leo dijadikan kambing hitam putranya sendiri walaupun benar Leo yang mengajarkan.


“Karena paman Leo sangat keren saat memaksa bibi Shena bolos kuliah dan latihan hanya karena ingin mengajak bibi Shena berkencan. Lagipula aku tidak bolos sekolah Ayah, kami sudah minta izin pada wali kelas dan beliau mengizinkan kami untuk pulang lebih awal dari biasanya.” Rey mencoba menjelaskan.


Refald hanya bisa tepok jidat mendengar alasan gila dari putranya yang jadi ikutan nggak ada akhlak seperti Leo. Jelas-jelas Rey sengaja membuat alasan itu agar ia bisa bolos sekolah bersama Rhea.


Tiba-tiba dari arah belakang, Fey yang sudah geram daritadi menjewer telinga putranya dan memaksanya masuk ke dalam mobil volvo yang tadi dikendarai Rey. “Dasar berandal, beraninya kau bolos sekolah dan menyalahkan pamanmu, ha? Dasar kau ini si kadal buntung!” umpat Fey sambil menyeret putranya masuk ke dalam mobil.


“Aduh,” erang Rey. “Ibu ... sakit, aku tidak bolos Ibu, kami sudah minta izin. Sungguh!” Rey mencoba membela diri tapi Fey yang tahu kebenarannya tetap tidak bisa membenarkan tindakan putranya.


“Diam kau! Cepat masuk! Kau ini bikin malu orangtua saja. Tidak bisakah kau menunggu pulang sekolah kalau ingin berkencan, ha? Dasar buaya!”


“Ibu .... keadaan di sekolah tadi genting sekali, aku takut Rhea pingsan makanya aku bawa pulang? Aaaahh .... bisa tolong lepaskan telingaku, Bu? Bagaimana kalau sampai telingaku copot?” rengek Rey berusaha menahan rasa sakit.


“Ayahmu akan memasangkan lagi untukmu! Mau bawa pulang, ya? Apa ini rumahmu? Kau mau bawa pulang Rhea ke warung makan? Kau ini benar-benar harus dikasih pelajaran, di sekolah ada ruang UKS jika Rhea benar-benar sakit, dan kalau kau lapar juga ada kantin disana. Tak perlu sampai bolos sekolah untuk cari-cari alasan, mau jadi apa kau nanti, ha?” geram Fey pada putranya yang terus saja menyangkal.


“Bu ... harta ayah kan banyak, sampai tujuh turunannya pun tak akan habis meskipun aku tidak bekerja?”


“Dasar berandal, kau! Masih saja bisa menjawab, ha? Siapa yang bilang harta ayahmu bakal aku serahkan padamu! Dasar kadal buntung! Kau harus berusaha cari uang sendiri untuk menghidupi istrimu nanti! Makanya jangan sekali-kali kau blos sekolah lagi, kalau sampai ketahuan, akan aku cincang kau hidup-hidup!” ancam Fey dengan kesal, baru ia melepaskan jewerannya.


Rey tidak bisa melawan lagi, ia mengusap-ngusap telinganya yang merah padam dan panas akibat jeweran dari ibunya. Wajahnya merengut karena tidak menyangka ibunya bakal bersikap seperti itu padanya, dihadapan Rhea lagi. Rey benar-benar kehilangan muka coolnya.


“Ayo, Rhea. Kita pulang,” ajak Refald pada Rhea yang masih saja panik dan diam menunduk. Ia tidak berani menyela ataupun membantu suaminya dari cengkeraman tangan ibunya. Rhea jadi merasa bersalah pada Rey karena tidak bisa melakukan apa-apa.


“Baik Raja,” gumam Rhea lirih.


“Raja?” Refald balik badan dan manatap Rhea. “Aku adalah mertuamu sekarang, panggil aku ayah,” pinta Refald.


“Saya tidak berani Raja. Ayah dan bibi bisa marah ....”


“Tidak akan ada yang memarahimu, justru aku akan menghukummu jika kau masih memanggilku raja, padahal kau adalah menantuku sekarang. Ayo, masuk!”


“Ba-baik, A-ayah.” Rhea agak sedikit canggung memanggil rajanya dengan sebutan ‘ayah’. Tapi ia harus menuruti apa yang diperintahkan ayah mertuanya kalau tidak ingin mendapat hukuman.

__ADS_1


Rhea masuk dijok belakang bersama dengan Rey yang dongkol akut akibat jeweran keras dari ibunya. Sementara Refald duduk dibangku kemudi dimana sudah ada Fey disampingnya. Refald menyalakan mesin mobil dan melesat meninggalkan warung bakso itu tanpa peduli dengan banyaknya pasang mata yang memandang heran keluarga unik Refald.


Bagaimana tidak unik? Wajah kedua orang tua Rey yaitu Refald dan Fey, sama sekali tak terlihat kalau mereka berdua telah memiliki putra dan menantu seusia Rey dan Rhea. Awalnya semua orang mengira bahwa Fey dan Refald adalah saudara dari Rey atau Rhea. Tapi setelah mendengar perdebatan mereka, semua mulut orang yang ada disini hanya bisa melongo tak percaya. Wajah awet muda Fey dan Refald benar-benar membuat semua orang tercengang.


“Masih muda sudah sudah punya anak sebesar itu? Memangnya mereka menikah diusia berapa?” gumam semua orang tanpa ada yang bisa menjawabnya.


Sementara di dalam mobil, Rhea memerhatikan suaminya. Sedetikpun, Rhea tidak mau berpaling menatap Rey.


“Jangan menatapku seperti itu, suasana hatiku sedang buruk sekarang,” ujar Rey sambil melihat sekeliling jalan.


Rhea mengerti perasaan Rey. Sebagai gantinya ia menggenggam erat tangan suaminya agar tidak badmood lagi. Ternyata berhasil, seketika Rey tersenyum dan baru mau menatap Rhea.


“Pangeran, bukankah kita tadi belum membayar baksonya? Itulah sebabnya, pemilik warung menatap kita dengan tatapan aneh seperti itu,” bisik Rhea pelan.


“Bukan, Sayang. Ayah sudah membayarnya sejak pertama kali kita duduk di warung itu sekaligus membayar biaya kerugian akibat kekacauan yang disebabkan ibuku. Sebenarnya, yang orang-orang tadi lihat adalah wajah ayah dan ibuku yang tak terlihat tua. Padahal mereka berdua sudah punya anak dan menantu. Mereka berdua lebih pantasmenjadi kaka kita daripada orag tua kita,” Rey malah berghibah ria dengan Rhea sambil tersenyum.


Awalnya, Rhea ikut tersenyum mendengar Rey berkata seperti itu. Mungkin bagi Rey itu lucu, tapi bagi Rhea, Refald dan Fey adalah manusia langka paling luar biasa yang pernah ia temui di dunia ini. Bahkan Edward Antonie Masson Cullen dan Isabella Swan pun kalah dengan raja dan ratu dedemit ini.


“Lalu ... bagaimana ini? Apa kita akan mendapat hukuman?” Rhea mulai khawatir lagi.


“Ehm, sepertinya begitu. Kau jangan takut, aku siap menerima hukuman apapun asal kau bersamaku.” Rey menggenggam erat tangan Rhea sambil tersenyum senang.


“Oey kalian berdua. Bisakah kalian diam? Kami bisa mendengar apa yang kalian bicarakan.” Fey menatap putra dan menantunya secara bergantian melalui kaca spion yang menggantung dihadapannya. “Dan kau berandal! Aku punya urusan denganmu. Awas kau!” geram Fey sehingga membuat Rhea semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam melihat ibu mertuanya marah sekali pada suaminya seolah ia sendiri juga kena.


Duduk dan tunggulah aku disini, anggap seperti rumah sendiri, aku ganti baju dulu, atau ... kau mau ikut aku ganti baju?” goda Rey tanpa malu didengar oleh Refald dan Fey yang ada dibelakangnya.


“Kau dan putramu benar-benar mirip,” guman Fey pada suaminya.


Sedangkan sang suami hanya diam menatap sikap putranya bagai cerminan dirinya yang dulu. “Ternyata aku dulu seperti itu, bahkan lebih parah.” Refald tersenyum pada Fey yang langsung meliriknya.


“Saya akan menunggu disini, Pangeran pergi saja.” Rhea tersenyum manis pada Rey.


Untuk sesaat, keduanya saling bertatapan mesra, sampai akhirnya Rey melepas genggaman tangannya ketika mendengar dehaman suara ibunya dan langsung berlari cepat ke lantai atas menuju kamar pribadi Rey untuk berganti pakaian. Sedangkan Refald langsung masuk kedalam tanpa berkata apa-apa. Fey sendiri ikut duduk di sebelah Rhea sehingga membuat gadis itu lagi-lagi merasa gugup.


“Rileks saja Rhea, mulai sekarang kau akan tinggal disini. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal di goa itu lagi. Tapi bukan berarti kau tidak boleh pergi kesana. Kau masih bisa kesana kapanpun kau mau, tapi sampai hari pernikahanmu dan Rey siap dilaksanakan di dunia ini, kau harus tetap tinggal disini bersama kami. Ini demi keamananmu. Kejadian sebulan lalu, bisa saja terulang kembali. Untunglah aku dan Refald datang tepat waktu.”


“Baik, Ra ....”


“Jangan panggil aku ratu,” Fey menyela. “Panggil aku ibu, kau adalah menantuku. Jangan sampai kau dihukum Refald jika dia tahu kau masih saja memanggil kami raja dan ratu. Begitu kekuatan Rey muncul sepenuhnya, kalian akan segera dinobatkan menjadi pangeran dan putri penerus kami. Sampai hari itu tiba, kalian harus selalu bersama-sama. Jangan sampai terpisah. Kau mengerti?”


“Mengerti, Ra ... ehm, maksud saya, Ibu.” Rhea benar-benar canggung sekarang, ia merasa dirinya tidak pantas memanggil ratu penyelamatnya dengan sebutan ‘ibu’. Sebab, Rhea tak sepadan dengan Rey. Apalah arti dirinya yang hanya putri dari pengawal setia rajanya. Tak terasa Rhea mulai menangis lagi.


Feypun menjulurkan tangan dan memeluk menantunya agar Rhea berhenti menangis. “Kau mungkin terkejut aku bersikap keras pada Rey. Ini adalah cara kami mendidiknya agar ia bisa menjadi suami yang baik untukmu. Aku tidak berharap ia seperti ayahnya. Asal ia bisa menjaga dan mencintaimu, juga bertanggung jawab penuh padamu, itu sudah membuatku lega.”

__ADS_1


Lagi-lagi, Rhea tidak menyangka, ratunya bakal bertindak sejauh ini demi dirinya. Semakin deraslah air mata Rhea karena terharu mendengar ucapan ibu mertuanya yang cantik dan baik hati ini. Tidak ada gadis manapun yang lebih beruntung dari Rhea karena memiliki mertua luar biasa seperti Fey dan Refald.


“Ibu ... tidak marah pada saya?” isak Rhea.


“Kenapa aku harus marah padamu? Berandal itulah yang membuat ulah. Jangan menangis lagi, kau ini kirip sekali dengan ayahmu yang cengeng itu.” Fey berhasil mencairkan suasana sehingga membuat Rhea yang tadinya gugup dan tegang, tersenyum simpul membenarkan apa yang dikatakan Fey mengenai pak Po. “Untuk saat ini,” lanjut Fey lagi. “Rey mungkin belum bisa melakukan tugasnya sebagai suami yang sempurna karena kau jauh lebih kuat darinya. Aku sendiri tidak tahu kenapa kekuatannya munculnya lama, berbeda denganku dan Refald dulu. Aku harap, kau bisa memakluminya.”


“Ibu bicara apa? Sudah tugas istri selalu setia dan melindungi suaminya, seperti yang Ibu lakukan pada Ra ... maksud saya ... ayah.”


“Kau benar, Rey beruntung memilik istri sepertimu. Dan jangan bersikap formal lagi. Kita keluarga sekarang, kau juga jangan memanggil Rey dengan sebutan ‘pangeran’ lagi. Jika orang lain mendengarnya, kalian berdua bisa dianggap aneh.”


“Baik, Ibu.” Ada sejuta kebahagiaan di hati Rhea meski ia tidak yakin apakah bisa bersikap tidak formal pada keluarga raja dan ratunya termasuk pada pangerannya yang kini sudah menjadi suami ghaibnya.


Fey mengantar Rhea kekamarnya yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Kamar Rhea sangat lengkap dengan dominan warna biru muda, sangat cocok dengan kepribadian Rhea yang ceria. Semua baju dan buku-buku juga sudah Fey siapkan untuk keperluan menantunya selama ia tinggal disini. Fey juga memberikan fasilitas lengkap ala kamar tamu VVIP. Kamar Rhea lumayan luas dan megah. Ibu dari Rey itu memang sengaja membuat sedemikian rupa agar Rhea betah tinggal bersamanya.


***


Malam harinya setelah makan malam, Rhea bermaksud menemui Rey karena sejak tadi sore suaminya itu tidak mau bicara apa-apa padanya setelah keluar dari kamar seolah sedang ada yang ia pikirkan, tapi Rhea tidak tahu apa itu. Padahal tadinya, Rhea ingin sekali mengajak Rey jalan-jalan. Namun, Rey bilang kalau ia sedang sibuk dan menutup pintu kamarnya. Tentu saja Rhea bingung apakah ia melakukan kesalahan sehingga Rey bersikap cuek seperti itu padanya.


“Ada apa dengan, Rey? Perasaan tadi masih baik-baik saja?” itulah yang ada dipikiran Rhea tadi sore hingga detik ini. Ditambah lagi, Rey sama sekali tidak mau bicara dengannya.


Suasana rumah menjadi sepi seperti tidak ada orang sama sakali di rumah ini. Malam semakin larut, Rhea tidak bisa tidur dan ia ingin ngobrol sebentar dengan Rey. Berkali-kali ia mengetuk pintu kamar suaminya, tetapi tidak ada jawaban. Rhea memberanikan diri masuk begitu saja ke kamar Rey meski ia agak sedikit ragu. Namun, rasa penasaran Rhea begitu besar sehingga ia nekat saja masuk kedalam kamar Rey untuk mencari tahu apa yang menyebabkan suaminya tiba-tiba saja berubah sikap.


Saat pintu terbuka, ruang kamar Rey sangat gelap. Rhea mencari-cari sakelar di dinding untuk menyalakan lampu kamarnya, dan setelah berhasil menyala, ternyata tidak ada siapa-siapa di dalamnya.


“Kemana dia?” gumam Rhea mulai khawatir. Ia kembali kekamarnya dan memanggil bibinya.


“Kenapa kau memanggilku?” tanya mbak Kun yang tiba-tiba saja datang di belakang Rhea.


“Bibi, apa Bibi tahu dimana Rey sekarang? Ehm ... maksudku suamiku? Ah ... maksudku ... pangeran?” Rhea begitu panik sampai ia sendiri bingung harus menyebut apa Rey saat di depan mbak Kun yang sudah ia anggap sebagai bibinya sendiri.


“Tahu.” Mbak Kun tersenyum simpul penuh makna.


“Dimana dia?” seru Rhea. Ia sungguh sangat mengkhawatirkan Rey yang tiba-tiba saja hilang tanpa kabar setelah sempat mengacuhkannya tadi.


BERSAMBUNG


***


Ada yang bisa nebak Rey kira-kira pergi kemana ya ... hehehe ... pasti tahu.



__ADS_1


__ADS_2