Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 81 Gadis Berkepala Batu


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, aku berniat langsung menuju kamar Yua dan teman-temanku yang lainnya. Namun, Refald mencegahku dan memaksaku untuk memeriksakan kondisiku terlebih dulu baru dia mengizinkanku menemui teman-temanku.


Saat pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa kakiku sudah tidak apa-apa, beberapa hari ke depan pasti aku sudah bisa berjalan seperti sediakala. Aku sendiri juga merasa kalau kakiku sudah tidak terlalu sakit seperti sebelumnya.


Kamipun keluar dari ruang pemeriksaan dan aku langsung bergegas keruangan Yua dirawat. Aku sudah terlalu senang karena bisa bertemu dengan Yua lagi. Aku berharap teman-temanku yang lain juga ada di kamar Yua sehingga aku bisa memeluk mereka bersamaan. Namun, harapanku pupus setelah membuka kamar Yua dan tidak mendapati seorangpun didalamnya.


“Ke mana Yua? Kenapa tidak ada orang?” tanyaku heran.


“Kau yakin ini kamar Yua?” tanya Refald yang sedari tadi setia menemaniku.


Aku mengamati nomor kamar Yua yang bertuliskan 212, “Benar, ini adalah nomor dan ruang yang diberitahukan suster tadi. Tapi ... kenapa tidak ada orang? Apakah Yua sudah keluar dari rumah sakit?” tanyaku bingung.


“Entahlah,” jawab Refald santai.


“Apa kau bisa meminta bantuan pasukanmu untuk mencarikan Yua untukku.” Aku mencoba membujuk Refald untuk memanfaatkan pasukannya.


“Itu menyalahi aturan, Honey.” Refald menolak secara halus.


“Menyalahi apanya? Aku hanya meminta bantuan mereka saja? Salahnya di mana?” aku kecewa karena Refald menolak membantuku.


“Kau harus menjadi istriku dulu supaya mereka mau membantu apapun yang kau inginkan. Itulah aturannya, kita belum menikah, jadi kau tidak bisa memanfaatkan mereka untuk kepentinganmu. Mereka juga tidak bisa diperintah oleh sembarang orang, kecuali yang berkaitan denganku,” terang Refald.


“Aturan macam apa itu? bilang saja kalau tidak mau membantu.” Aku mendengus kesal meninggalkan Refald dan berniat mencari Yua dengan kemampuanku sendiri.


“Aku sudah menawarkanmu untuk segera menikah denganku, kau sendiri yang tidak mau.” Dengan cepat Refald bisa menyusul langkahku.


“Tanpa bantuan dedemitmupun aku bisa mencari keberadaan Yua sendiri. Kau pikir aku tidak bisa?” aku berjalan lebih cepat mendahului Refald.


“Dasar tukang ngambek!” teriak Refald dari belakang dan aku tidak peduli lagi dengannya.


Tiba-tiba saja aku mendengar ada suara keributan di ujung koridor rumah sakit. Aku berjalan menuju ke arah sumber suara keributan itu, dan betapa terkejutnya aku setelah tahu kalau Yua sedang berdebat dengan Via di depan kamar seseorang yang langsung bisa kutebak kamar siapa itu.


Itu pasti kamar Epank, dan mereka berdua pasti sedang bertengkar karena memperebutkan Epank.

__ADS_1


“Pergi kau darisini?” usir Via sambil mendorong tubuh Yua yang langsung kutahan dari belakang supaya Yua tidak terjatuh.


Yua tersentak saat tahu bahwa yang menahan tubuhnya adalah aku. Seketika ia langsung berbalik badan dan memelukku dengan erat. “Fey!” teriaknya, “Kau kembali? Benarkah ini kau?” Yua melepaskan pelukannya sambil mengamatiku, ia terlihat seolah belum percaya kalau aku dan Refald masih hidup.


“Ini aku Yua, kau tidak mengenali sahabatmu sendiri?” tanyaku yang di susul dengan pelukan dari Yua lagi. Saking kuatnya aku hampir saja jatuh ke belakang, untungnya Refald langsung menahan pinggangku. Yua yang menatap Refald jadi kikuk akan sikapnya yang terlalu berlebihan saat memelukku.


“Maaf, aku tidak bisa menahan diri karena terlalu senang akhirnya kalian berdua bisa selamat dan kembali dalam keadaan hidup. Sungguh aku sangat bahagia,” ucap Yua sambil melepas pelukannya padaku. Ia terlihat meneteskan air mata.


Aku terharu mendengar kata-kata Yua, tapi perlakuan Via pada temanku ini aku tidak bisa menerimanya. Aku melangkah tepat dihadapan wajah Via dan menamparnya dengan keras.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Via. Gadis itu terkejut dan langsung mengangkat tangannya untuk balik menamparku.


“Beraninya, kau!” teriaknya sambil mengayunkan tangannya ke arahku yang langsung bisa kutahan dengan kuat sebelum tangan kotornya itu menyentuh kulitku. Via semakin marah dan emosi saat aku berhasil menahan tangannya.


“Lepaskan tanganku!” bentaknya.


“Kenapa aku harus minta maaf pada wanita murahan sepertinya!” Via masih saja nyolot.


“Apa? Kau bilang apa? Murahan? Kau jauh lebih menjijikkan bila dibandingkan dengan Yua! Dasar siluman rubah tidak tahu diri!” aku mencengkeram erat tangan Via yang telah membuatku kesal karena dia berani mengatai temanku murahan.


“Kau bilang apa?” Via semakin marah mendengar ucapanku dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeramanku.


Via mau mengomel tapi pintu kamar keburu di buka oleh seseorang yang tidak lain adalah Epank.


“Kenapa kalian berisik sekali? Tidak bisakah kalian membiarkanku menikmati waktu istirahatku?” teriak Epank yang berdiri memakai tongkat dikedua lengannya dengan kaki kanan dibalut perban.


Epank pun terkejut saat melihatku, ia juga sangat terkejut begitu tahu tanganku sedang menahan tangan Via yang berusaha menyerangku.


“Apa yang sedang kalian berdua lakukan?” tanya Epank masih kaget melihat ketegangan diantara kami.


Via hendak berlari menyongsong Epank tapi aku masih menahan tangannya sehingga ia tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


“Lepaskan aku! Kenapa kau masih saja menahanku!” teriaknya sambil meronta-ronta.


“Sudah ku bilang mita maaf dulu pada Yua! Baru aku akan melepaskan tanganmu!” geramku.


“Tidak akan!” via masih bersikukuh pada pendiriannya.


“Kalau begitu aku tidak akan melepaskanmu!” aku pun juga tetap pada pendirianku.


“Kalian berdua! Hentikan!” pinta Epank. Dia menatap kami dengan marah lalu berganti arah melihat Yua yang berdiri tidak jauh dibelakangku. Dengan pincang dibantu tongkat penyangga tubuh, Epank menghampiri Yua dan menggamit lengannya. Yua tampak terkejut dengan sikap Epank yang tiba-tiba saja menariknya masuk ke dalam ruangan.


“Hai, Refald, senang bisa melihatmu lagi, tolong urus pacarmu dan orang gila ini, ada yang ingin aku bicarakan dengan Yua berdua saja,” ucap Epank yang langsung disusul dengan anggukan Refald.


Aku sangat puas melihat muka merah Via karena marah mendengar dirinya disebut gila oleh mantan pacarnya sendiri.


“Syukurin! Dasar nenek sihir,” gumamku dan aku langsung melepaskan cengkeramanku.


Via berlari menghalangi langkah Epank sebelum ia menutup pintu ruangannya tanpa memedulikan ocehanku.


“Sayang, tunggu dulu, kita harus bicara, kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini,” teriak Via sambil meneteskan air mata rubahnya. Namun Epank tidak memedulikan rengekan Via dan tetap menutup pintu ruangannya dengan paksa.


“Sayang!” teriak Via lagi sambil menggedor-gedor pintu ruangan Epank. “Buka pintunya! Kita harus bicara!”


“Dia sudah tidak ingin bicara padamu! Kenapa kau masih saja memaksakan diri! Sekarang kita tahu siapa yang murahan di sini!” ledekku.


Via berhenti menggedor pintu dan berbalik badan menghadapku dengan tatapan ingin membunuh. “Semua ini gara-gara kamu Fey, liat saja, aku akan buat perhitungan denganmu! Akan aku buat kau menangis darah atas apa yang pernah kau lakukan padaku.” Ancamnya, tapi aku sama sekali tak gentar sedikitpun dengan ancamannya. Sebaliknya, aku malah menantikan hal apa yang akan dilakukan Nyi blorong ini padaku.


“Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Kau itu manusia yang tarlalu berambisi, egois dan suka menang sediri. Sifatmulah yang menghancurkan dirimu sendiri! Bukan aku ... sebelum semuanya terlambat, aku peringatkan padamu, berubahlah! Dan jadilah gadis yang baik, oke!” aku menatap tajam wajah Via yang marah.


“Simpan kata-kata kotormu itu dariku! Dan tunggu saja pembalasan dendamku!” Via pergi meninggalkan aku dan Refald.


“Dasar kepala batu,” gumamku dengan kesal.


****

__ADS_1


__ADS_2