
Keesokan paginya, Laura tersadar dari pingsannya dan mendapati dirinya sudah ada di sebuah ruangan seperti kamar pribadi seseorang. Hal pertama yang gadis itu lihat adalah sebuah bingkai foto seseorang yang sangat ia kenal baik selama ini. Foto berukuran besar yang terpasang di dinding ruangan itu tersenyum memandang kearahnya dan entah kenapa Laura langsung jadi ilfeel melihatnya.
Tidak salah lagi, bila dilihat dari foto, laki-laki itu adalah pemilik kamar ini, siapa lagi kalau bukan Roy. Kekasihnya sendiri yang sebentar lagi bakal jadi mantan.
“Kau sudah sadar?” tanya seseorang yang berdiri di depan jendela kamar.
Laura langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Ia sangat terkejut karena Roy ada di sini juga. Dengan senyum tanpa rasa bersalah, cowok itu maju melangkah mendekati Laura dan duduk disamping kekasihnya. Roy hendak mengusap pipi kekasihnya tetapi dengan cepat, Laura menepis tangan itu dengan kasar seolah tidak ingin disentuh oleh Roy.
“Ada apa, Ra?” tanya Roy heran tiba-tiba saja kekasihnya itu jadi jutek padanya dan tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum di wajah Laura. Sebaliknya, gadis itu malah menatap marah Roy.
“Kita putus!” cetus Laura dan ia pun segera bangun dari tempat tidur. Laura berjalan cepat dan hendak menuju pintu keluar tapi langkahnya dihadang oleh Roy tepat sebelum gadis itu menyentuh gagang pintu.
“Kenapa?” tanya Roy tak kalah tandas. Sepertinya ia tidak terima jika diputus seorang wanita apalagi secara tiba-tiba. Sebab, biasanya dialah yang memutus hubungan, dan untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya ia diputus seseorang.
“Hentikan sandiwaramu, Roy! Aku sudah tahu semuanya. Mulai sekarang, diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Tinggalkan aku dan jangan pernah kau temui aku lagi! Minggir!” seru Laura sambil menahan perasaannya yang benar-benar terluka. Ia tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi dari ini.
“Kau pikir kau bisa lepas dariku begitu saja? Huh, dengarkan aku baik-baik, Laura Sayang. Selama belum ada kata putus dariku, maka kau tidak bisa minta putus!”
“Oh iya!” Laura melotot menatap wajah Roy. “Itu kan menurutmu! Bagiku ... kau dan aku ... sudah berakhir, finish, the end, selesai!” geram Laura.
Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Roy menyingkir dari depan pintu agar ia bisa lewat, tapi Roy dengan sigap menangkap kedua tangan Laura dan ganti mendorong tubuh lemah gadis itu hingga membentur daun pintu. Roy mengunci kedua tangan Laura dengan kedua tangannya agar gadis itu tidak bisa bergerak.
“Kau tidak tahu, Ra! Sahabatmu Shena, sekarang sudah berada dalam genggaman Leo. Jika kau bersikukuh minta putus dariku, maka ....” Roy sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Apa yang akan kalian lakukan pada, Shena?” teriak Laura menggelegar. Gadis itu sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. “Berani menyentuh Shena, akan aku pastikan kalian berdua mendapat balasan yang setimpal. Aku tidak main-main dengan ucapanku!” gertak Laura. Dalam hati ia bersumpah jika sampai terjadi sesuatu pada sahabatnya maka ia berjanji akan membuat Roy dan Leo membayar perbuatannya.
Roy sendiri hanya tersenyum getir mendengar nada ancaman kekasihnya sendiri. Baru kali ini ada wanita yang berani mengancamnya. Tapi bukan Roy namanya kalau ia jadi ciut hanya karena gertakan dari seorang wanita.
“Huh, selama kau ikuti permainanku, maka sahabatmu itu akan tetap utuh, aman dan nyaman. Kita akan benar-benar selesai jika aku sendiri yang memutuskannya. Kau tidak bisa mengakhiri apa yang baru saja aku mulai. Shena harus benar-benar menjadi milik Leo, baru kau akan kubebaskan!” ancam Roy. Matanya menatap tajam mata Laura.
__ADS_1
“Kau!” geram Laura seketika. Ingin rasanya gadis itu mencabik-cabik wajah orang yang sempat dicintainya ini. Tapi tangannya terkunci rapat oleh tangan Roy yang 10 kali lipat lebih kuat darinya. “Aku kira kau berbeda dengan sahabatmu yang laknaat itu! Ternyata kalian berdua sama brengseknya! Pantas saja kalian bisa sohiban!” bentak Laura tepat di wajah tampan Roy.
“Oh, iya! Kalau begitu bagus, aku sudah tidak perlu lagi menyembunyikan belangku di sini. Kau akan tetap berada dikamarku sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, jangan harap kau bisa keluar dari sini tanpa seizinku!” Roy hendak mencium Laura tapi gadis itu berusaha melawan.
“Apa yang kau lakukan, brengseek! Jangan dekati aku!” teriak Laura, tapi Roy tak menggubris teriakannya. Cowok itu terus mendekatkan wajahnya pada Laura.
Tiba-tiba saja momen menegangkan itu dirusak oleh bunyi ponsel Roy yang berdering, dan itu dari Leo. Roy terpaksa menghentikan aktivitasnya mengintimidasi Laura lalu berjalan menjauh membelakangi gadis itu untuk menerima panggilan dari Leo.
“Kau ada di mana?” tanya Leo dari seberang setelah Roy mengangkat panggilannya.
“Aku ada di rumah, kenapa?” Roy sengaja tidak memberitahu Leo dulu apa yang terjadi di sini. Sebab, Leo pasti marah jika ia tahu kalau Laura sudah mengetahui rencananya. Kerena itu Roy memilih merahasiakannya.
“Cepat bersiapah! Sekarang aku masih ada di salon menunggu Shena. Aku ingin kau mengambil gambar kami sebagus mungkin dan sebarkan dipapan pengumuman kampus. Ingat, kau harus membuatku terlihat tampan dan Shena harus terlihat cantik!” ujar Leo.
“Oke!” jawab Roy singkat dan menutup sambungan teleponnya. Ia berbalik badan dan mendapati Laura sudah tak ada lagi di kamarnya. Kekasihnya itu ternyata berhasil melarikan diri darinya.
Begitu Roy menjauh, Laura memang langsung menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari tempat yang ternyata bukan sebuah Vila, melainkan rumah Roy. Laura bergegas mencari jalan keluar secepat mungkin. Namun, penjagaan dirumah Roy ternyata ketat juga, ia tidak mungkin melarikan diri melewati pagar. Laura memutuskan mengambil jalan lain yaitu kembali memanjat dinding pagar yang ditumbuhi semak belukar sebagai pijakan tangan dan kakinya seperti yang dilakukannya semalam.
Untunglah, Laura lekas sampai ke tempat mobilnya terparkir. Ia pun bergegas masuk ke dalam mobil dan langsung menyalakan mesin. Laura melihat Roy sedang berlari ke arahnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu menancapkan gasnya dan pergi melesat begitu saja. Ia tidak peduli dengan teriakan Roy yang memanggil-manggil nama Laura.
Setelah memastikan Roy tidak mengejarnya lagi, Laura mulai bernapas lega karena sudah bisa lolos dari rumah Roy. Entah apa yang terjadi padanya jika ia terkurung di dalam sana.
Sementara Roy sendiri hanya tersenyum sinis menatap kepergian kekasihnya. “Kau boleh saja lari hari ini Ra, tapi tidak untuk hari berikutnya. Meskipun kau berhasil kabur, semuanya terlambat. Shena sudah bersama dengan Leo. Kau tidak akan bisa menghentikan mereka,” ujar Roy sambil berjalan pelan kembali kerumahnya.
Yang dikatakan Roy memang benar, saat tiba dikosan Shena. Laura sudah tidak mendapati Shena dimanapun. Bahkan pintu kamarnya terbuka lebar dan terlihat berantakan, tiba-tiba saja sahabatnya itu hilang tanpa jejak. Laura sebenarnya panik, tapi ia tidak ingin berpikiran negatif dulu, bisa saja Shena sudah ada di kampus sekarang.
Laura berusaha menelepon Shena, tapi ternyata ponselnya ketinggalan, Laura bergegas pergi ke kampus untuk mencari Shena, tapi sebelum itu ia pulang dulu untuk membersihkan diri, sebab Laura terlihat sangat berantakan akibat pingsan semalam.
***
__ADS_1
Berganti setting ke tempat Refald dan Fey. Mereka berdua sudah tiba di rumah peninggalan orang tua Fey yang dulu sempat menjadi tempat tinggalnya sewaktu mengasingkan diri. Refald menggendong tubuh istrinya dan masuk ke dalam kamar. Hari masih sore dan dari atas rumah, sepasang suami istri itu menikmati pemandangan matahari terbenam di ufuk barat.
“Turunkan aku suamiku, aku harus bersiap-siap untuk malam nanti.” Fey menatap wajah tampan suaminya yang terkena sinar mentari di sore hari.
“Apa kita tidak bisa melakukannya, Honey. Aku sedang ingin ....” Refald mencoba menggoda Fey dengan senyumannya.
“Tidak bisa Suamiku Sayang, kau tahu apa tugasku setelah ini, kan? Jika kita melakukannya, kita juga harus melakukan ritual yang rumit lagi, aku tidak mau membuang-buang waktuku. Malam ini adalah malam menegangkan bagiku. Kau tahu betapa takutnya aku sekarang? Aku takut gagal!”
Refald menurunkan istrinya dan langsung memeluknya. “Aku tahu Honey, jangan takut. Aku akan selalu melindungimu. Kau memilikiku, jadi seharusnya tidak ada yang harus kau takuti.” Refald mengecup lembut kening Fey dan menatapnya mesra. “Baiklah, begini saja ... jika ritualnya selesai, maka ... kita ....” lagi-lagi Refald mencoba merayu istrinya dengan mengusap lembut kedua pipi Fey.
“Iya aku tahu, aku akan melayanimu sepuas yang kau mau, tapi setelah semuanya selesai dan pak Po sah menjadi suami Rosalinda Di.” Fey membalas senyuman suaminya.
“Kau istriku yang paling pengertian! Aku semakin jatuh cinta padamu!”
“Dan kau adalah pangeran termesum yang pernah kutemui, tapi aku senang karena pangeran mesum ini sudah menjadi suamiku!” Fey terkekeh mendengar kata-katanya sendiri.
Dan tentu saja Refald langsung memberikan ciuman mautnya pada Fey. “Beraninya kau mengatai suamimu sendiri mesum, Honey? Apa kau ingin aku memakanmu sekarang, ha?” tanpa menunggu jawaban dari Fey, Refald menyerang bibir istrinya dengan cepat.
Mereka berdua saling mencurahkan luapan api cinta dengan saling mengisap lembut bibir masing-masing disaksikan sinar matahari yang memandang malu pasangan dua sejoli ini.
BERSAMBUNG
***
Episode berikutnya tunggu ya ... masih proses ... agak horor dan tegang ... tapi tahulah ciri khasku ...sehoror apapun pasti nanti ujung-ujungnya ngakak. Aku sendiri nulisnya sambil bergidik ngeri ... jangan bosan menunggu ya ... meski menunggu itu menyakitkan .. cieee ...
Terimakasih atas dukungannya ... tetep like dan komentarnya dong ... love you all ...
__ADS_1