
Leo memelototi seluruh teman-temannya agar tidak lagi melihatnya saat ia menyamarkan keberadaan Shena dengan duduk dibangku paling belakang. Tatapan mata Leo yang terlihat garang layaknya singa Leopard sedang kelaparan membuat teman-temannya yang lain jadi bergidik ngeri dan langsung bersikap wajar saat dosen killer mereka datang.
Dosen tersebut menyalakan LCD untuk memberikan materi mata kuliah perindustrian yang akan ia isi hari ini. Dosen tersebut ingin agar semua mahasiswanya mencatat semua slod yang ia berikan untuk persiapan kuis minggu depan.
“Hari ini akan saya tinggalkan materi ini di sini karena saya sedang ada urusan penting sehingga tidak bisa full menjelaskan materi kuliah yang saya berikan. Sebagai gantinya, kalian semua harus mencatat materi tersebut dengan tulisan tangan dan serapi mungkin. Minggu depan, akan saya adakan kuis dari materi yang kalian catat ini. Bagi mahasiswa yang tidak mau mencatat, maka siap-siap nilai mata kuliah kalian untuk semester ini adalah ‘D’. Apa kalian semua mengerti?” tanya dosen killer itu.
“Mengerti, Sir!” jawab semuanya serentak.
“Oke! Apa ada pertanyaan lain?” tanyanya lagi.
“Tidak, Sir!” jawab yang lainnya lagi dengan kompak.
“Baiklah, saya tinggal dulu kalau begitu. Dan kamu Leo, serahkan kembali slod-slod ini jika semua teman-teman kamu sudah selesai mencatat semuanya dan taruh di meja saya,” ujar dosen itu pada Leo yang mencoba bersikap sok tenang saat namanya disebut, sementara Shena hanya menundukkan kepalanya diantara kepala-kepala mahasiswa yang ada disekitarnya.
“Siap, Sir!” seru Leo sambil memelototi semua teman-temannya yang mencoba menatapnya lagi. “Apa, lu? Catet itu itu materi! Ngapain liatin sini!” tukas Leo sehingga teman-temannyapun lebih memilih konsentrasi pada slod materi yang diberikan.
Leo dan Shnea bernapas lega ketika dosen killer Leo keluar ruangan tanpa menaruh curiga pada keduanya. Semua teman-teman sekelas Leo langsung menghadap Leo lagi untuk menunjukkan aksi protes mereka karena Leo telah berani memasukkan wanita kedalam kelasnya.
“Oey, Leo! Ngapain lu ajak Shena kemari? Kau sudah menodai kelas ini. Lihat sekarang, kelas kita sudah tidak perjaka lagi!” canda salah satu temannya diikuti gelak tawa yang lainnya. Tiba-tiba saja ada yang berteriak lebay karena terlalu mendramatisir keadaan sehingga membuat heboh seisi kelas.
“Aaaaaarh, ada cewek! Ada makhluk langka di kelas ini! Lariiii!” teriak teman Leo yang terlalu hiperbola (berlebihan) sambil berakting keluar diikuti beberapa teman-teman seperguruannya yang sama-sama gila.
Shena sendiri hanya bisa melongo menatap aksi konyol semua teman-teman Leo. Baru kali ini gadis itu melihat langsung ada mahasiswa tidak waras seperti mereka itu. Sekarang, Shena mengerti kenapa banyak sekali wanita yang tidak berani datang kemari, selain profesi mereka sebagai monster. Ternyata, penghuni gedung ini sarap semua, otaknya nggak ada yang beres alias kongslet.
Melihat wajah shock Shena, Leo hanya tersenyum simpul. “Jangan hiraukan mereka, semua orang yang ada di sini memang kayak gitu. Jangankan kamu, dosen aja sering dikerjain sama mereka, kamu nggak usah kaget,” ujar Leo menenangkan Shena.
Suara Leo, membuat Shena tersadar dan kembali ke tujuan awalnya kenapa ia datang kemari. Gadis itu menuruti kata-kata Leo untuk tidak menghiraukan aksi gila teman-teman Leo yang ada dihadapannya. Ia harus konsentrasi pada alasan kenapa ia ada di tempat menyeramkan seperti ini.
“Ini.” Shena menyerahkan sebuah berkas pada Leo berisi data-data peserta yang mengikuti lomba dikelasnya. “Kau harus menandatangani ini supaya aku bisa mengambil nomer peserta teman-temanku.”
Leo mengambil berkas itu dan memeriksanya. “Kau tidak ikut lomba?” tanya Leo. Ia enggan menandatangani berkas itu jika Shena tidak menjawab pertanyaannya.
“Nggak! Aku nggak punya alasan apapun untuk ikut lomba itu,” jawab Shena seenaknya.
“Hadiahnya, menggiurkan sekali loh, sayang sekali kamu dan Laura nggak ikut lomba ini. Siapa tahu kalian menang.”
“Aku tidak ingin lama-lama di sini, tanda tangani saja karena aku masih punya banyak urusan!” cetus Shena yang memang enggan berlama-lama dengan Leo apalagi bicara dengannya.
Sambil tersenyum penuh makna yang mencurigakan, Leopun menandatangani berkas tersebut. “Aku antar kau keluar, jika kau sendirian. Kau bisa habis dimakan hidup-hidup oleh mereka.”
Shena memerhatikan seluruh teman-teman Leo yang memang terlihat sangar-sangar dan mengerikan. Mustahil bagi Shena bisa melewati orang-orang seperti mereka dengan aman. Tidak ada pilihan lain lagi selain menerima tawaran Leo mengantarnya keluar dari gedung ini sehingga Shena menyetujui usulan Leo. Keduanya pun berjalan beriringan dan disambut ledekan tajam dari semua teman-teman Leo.
“Cieeee, yang lagi jalan beduaan, awas tangannya-tangannya ... tolong dikondisikan,” celetuk salah satu teman Leo. Padahal jelas-jelas Leo dan Shena hanya berjalan beriringan tanpa bersentuhan.
__ADS_1
“Woy mau kemana, woy! Nggak lihat lagi ada jam kuliah apa? Main jalan beduaan aje! Awas ada setan lho!” protes salah satu teman Leo.
“Yang jadi setannya itu kan elu, kalau mereka bodo amat yang penting pergi kencan, ya nggak bro?” celetuk yang lainnya dan langsung disambut tawa teman-temannya. Leopun hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju dengan teman-teman gilanya.
“Mau dong diajak kencan juga!” protes teman Leo yang lain.
“Jangan! Ntar lu jadi obat nyamuk di sana!” cegah yang lainnya.
“Yaaa, sudah kalau gitu ... nanti kalau pulang jangan malam-malam ya, kata nenek itu berbahaya!”
“Itu kan kata nenek elu, kalau kata neneknya mereka ‘enggak bahaya kok’! Hahaha.” gelak tawa seisi kelas terdengar ramai dan hingar bingar seiring dengan celetukan serta ledekan yang sengaja ditujukan pada Leo dan Shena.
Tidak bisa dibayangkan lagi seperti apa wajah Shena saat ini. Ingin rasanya Shena menggampar semua mulut para oncom dan cecunguk di kelas ini, tapi ia tidak ingin cari masalah atau gara-gara dengan para monster-monster sangar tersebut. Secepatnya, ia harus pergi keluar dari sini dan tidak mau datang kemari lagi apapun yang terjadi.
Kalau saja ia tidak butuh benget dengan Leo, pasti Shena enggan datang ketempat yang penghuninya pada senewen semua.
“Dasar aneh! Gila! Nggak ada otak! Mereka semua pantas masuk rumah sakit jiwa daripada harus menjadi mahasiswa!” gerutu Shena dan Leo hanya tersenyum geli mendengar gerutuan wanita yang berjalan disampingnya.
“Sudah sampai, aku hanya bisa mengantarmu di sini saja!” ujar Leo sambil menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangani tanpa Shena tahu bahwa Leo, telah mengubah nama peserta lomba dari yang tadinya tidak ada nama Shena, sekarang menjadi ada. Shena sendiri langsung menerima berkas itu dan membawanya pergi dari tempat ini secepatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Leo.
“Bersiap-siaplah untuk malam ini, Sayang.” Leo menyunggingkan senyumnya menatap punggung Shena yang berlalu pergi menjauh dari gedung ini. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. “Halo, Roy ... kau sudah berhasil? ... ehm, bagus. Sekarang tinggal giliranku!” Leo menutup sambungannya dan kembali ke kelas.
***
Sampai akhirnya, tibalah giliran nama Shena dipanggil ke atas panggung untuk menunjukkan performa selanjutnya. Tentu saja Shena terkejut mendengar namanya disebut-sebut, begitu juga dengan teman-temannya. Gadis itu bingung karena merasa tidak pernah ikut daftar acara pentas seni yang digelar malam ini.
“Shena, kau ikut juga? Kenapa kau tidak bilang?” tanya Laura dan juga teman-temannya yang lain.
“Tidak?” Shena mengangkat kedua tangannya kerena masih shock juga. “Aku tidak pernah ikut daftar jadi peserta? Bagaimana bisa namaku ada di ....” Shena tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia mulai sadar akan sesuatu. Pasti Leolah yang menuliskan namanya saat ia meminta tanda tangannya tadi pagi. “Kurang ajar si Leo! Ini kerjaan dia!” geram Shena sambul memukul-mukul tangannya.
“Apa?” Laura dan yang lainnya terkejut. “Bagaimana bisa?”
“Dia pasti menuliskan namaku saat aku meminta tanda tangannya tadi, aku juga bodoh sekali! Kenapa tadi tidak memeriksanya? Bagaimana ini?” raut wajah Shena terlihat panik, dan Laura berusaha menenangkannya.
“Tampil saja! Siapa tahu kaulah yang bisa memenangkan acara pentas seni malam ini! Lakukan itu demi kami!” bujuk Laura.
Sebenarnya, ia tahu bakat alami yang terpendam dalam diri Shena, sebab selama ini cuma dialah satu-satunya orang yang dekat dengan Shena. Tidak ada yang tidak diketahui Laura tentang Shena, termasuk suara Shena yang merdu saat ia sedang bernyanyi dikamar mandi atau pada saat santai bersamanya. Jika semua orang mendengar suara Shena, Laura yakin sekali sahabatnyalah yang memenangkan pentas seni ini.
“Tapi, Ra ....”
“Sampai kapan kau mau menyembunyikan bakat alami terpendammu! Mungkin sudah saatnya kau menunjukkan kepada semua orang siapa kau sebenarnya melalui si brengsek Leo itu. Kalau kau tidak tampil Leo akan semakin melakukan hal gila lagi yang lebih dari ini untuk mempermalukanmu. Kita tidak tahu apa yang sedang ia recanakan, tapi aku rasa tidak ada salahnya kau naik keatas panggung untuk menunjukkan taring dan gigimu padanya. Jangan takut Shena, kau pasti bisa!” Laura berusaha menyemangati Shena.
Laura pikir, Leo ingin menjatuhkan Shena di atas panggung karena cuma Shenalah satu-satunya wanita yang tidak menyukainya. Padahal kenyataannya bukan seperti itu, Leo hanya memancing Shena agar naik ke atas panggung untuk melancarkan aksi Leo pada Shena. Dan sepertinya rencana cowok itu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya.
__ADS_1
Dengan memantapkan hati dan tekat yang kuat, Shena ingin menunjukkan bahwa ia tidak takut dengan Leo ataupun intimidasinya yang selama ini meneror pikiran gadis itu. Shena melangkahkan kakinya naik ke atas panggung dan mulai menunjukkan performanya di depan semua orang.
Tentu saja penampilan Shena langsung memukau setiap orang yang melihatnya, siapa sangka gadis sederhana biasa dan bukan berasal dari keluarga berada bisa menyanyi dengan merdu bahkan tariannya pun mengalahkan tarian semua orang yang ada di sini. Shena terlihat bukan seperti penari amatiran, tetapi ia lebih cenderung sebagai seorang penari profesional.
Bahkan Leo sendiri terkesima dan takjub akan bakat yang dimiliki Shena. Tidak salah jika ia memang tertarik pada sosok Shena yang penuh dengan aura mengagumkan. Shena adalah gadis misterius pertama yang membuat Leo merasakan apa itu cinta. Jiwanya selalu bergetar hebat jika ada di dekat Shena, karena itulah Leo bertekad melakukan segala macam cara untuk menjadikan Shena miliknya terlepas dari siapa Shena sesungguhnya. Shena adalah wanita yang selama ini Leo cari-cari. Wanita yang membuatnya pindah lagi ke tempat ini. Tempat yang dulu pernah membuatnya hampir kehilangan nyawa.
Tepuk tangan meriah, menggema diseluruh tempat diarea terbuka yang berada disebuah lapangan kampus utama. Mereka semua bersorak sorai atas penampilan terbaik yang diberikan Shena malam ini. Dalam sekejap saja, gadis itu langsung mendapat julukan sebagai ‘Ratu Panggung’.
Melihat penampilan Shena yang begitu menakjubkan. Leo mulai mengubah sedikit rencananya yang harusnya ia ikut naik ke panggung begitu Shena berada di atas panggung juga. Tapi sepertinya, ia harus bersabar menunggu sampai pengumuman pemenang dilangsungkan.
Sudah dapat dipastikan siapa pemenang lomba pentas seni malam ini. Siapa lagi kalau bukan si Ratu Panggung baru yang manjadi diva dadakan di malam ini menggantikan diva-diva kampus lainnya, dia adalah Shena dengan tampilan terbaiknya.
Tebakan Leo tentang siapa pemenang pentas seni malam ini memang tepat. Juara pertama diraih oleh Shena yang ternyata memiliki performa yang sempurna. Tidak ada yang menyangka, bahkan sebagian besar malah tidak percaya, seorang Shena langsung berubah menjadi ratu panggung di acara ini. Namun, seberapa kuat orang-orang yang tidak suka pada Shena itu menyangkal, faktanya Shena memang yang terbaik diantara para peserta lainnya.
Saat penyerahan piala, itu adalah momen yang digunakan Leo untuk menyatakan cinta pada Shena. Tak kalah dengan gadis yang dicintainya, Leo juga memiliki suara khas yang merdu dan membuat siapapun meleleh saat mendengar suaranya. Dengan gaya keren ala khas Leo. Ia naik ke atas panggung sambil menyanyikan lagu ‘can you be my girl’ yang maknanya, Leo ingin Shena menjadi kekasihnya di depan semua orang. Tentu saja hal itu membuat Shena terkejut dan shock berat atas apa yang dilakukan Leo di depan semua orang.
Ini adalah hal gila yang dilakukan Leo untuknya, bagaimana bisa Leo menyatakan cinta seperti itu dihadapan semua orang dan disaksikan para dosen diseluruh kampus ini. Shena bingung harus bagaimana, ia ingin sekali kabur dari sini karena tak kuasa menahan rasa malu yang begitu besar. Namun, langkah kaki Shena tak bisa digerakkan saking terkejutnya melihat aksi nekat Leo.
Saat ini, Shena benar-benar membenci Leo terlepas dari apa yang pernah ia lakukan terhadap mantan-mantannya termasuk pada almarhum sahabatnya, Sasa. Sungguh Shena tidak menyukai Leo sama sekali setelah ingatannya dihapus oleh Refald. Biarpun semua wanita tergila-gila pada Leo, tapi tidak dengan Shena. Dimatanya, Leo hanyalah seorang buaya darat dan playboy kelas kakap yang bisanya gonta ganti wanita sesuka hati. Tidak mungkin Shena mau menerima cinta dari seorang laki-laki yang bahkan jadi penyebab kematian sahabatnya sendiri.
Karena nasi sudah menjadi bubur, Shenapun tidak bisa menghindar lagi. Ia harus memberikan jawaban dari pernyataan cinta Leo padanya. Perlahan, ia maju ke depan menghadap Leo yang berdiri dengan senyuman manis didepannya.
“I can't be your girlfried, sorry!” ujar Shena dan berlari kencang menuruni panggung. Gadis itupun langsung menghilang entah kemana.
Sementara Leo hanya tertegun tak percaya karena ia telah ditolak mentah-mentah oleh wanita yang amat dicintainya di depan banyak orang pula. Kejadian ini merupakan hal yang benar-benar membuat Leo seolah sedang dihantam batu besar di atas kepalanya. Bagaimana bisa Shena berani menolaknya sementara prinsip Leo adalah tidak suka ditolak.
“Kau lihat saja, Shena. Hari ini kau boleh menolakku! Tapi tidak lama lagi, kau akan menerimaku tanpa bisa menolakku lagi!” gumam Leo dengan kilatan kemarahan yang begitu besar. Ia pun turun dari atas panggung dan pergi begitu saja tanpa peduli dengan jutaan pasang mata yang menatap tajam kearahnya.
Tidak ada yang berani mendekati Leo saat ini jika ia sedang dalam mode marah. Sebab, siapapun pasti bakal kena imbasnya kalau sampai membangunkan singa Leopard yang sedang kelaparan.
BERSAMBUNG
***
Yang nunggu pernikahan Refald dan Fey sabar ya ... episode selanjutnya masuk ke acara pernikahan mereka, silahkan yang sudah mendapat undangan bisa langsung bersiap-siap datang ke acara Refald. Oh iya, yang mau sama pak Po kayaknya banyak, nanti biar pak Po sendiri yang memilih siapa pasangannya. Aku sih oke-oke aja. Hehehehe ...
Kalau gak ada halangan aku lanjutin part selanjutnya, sementara ini lanjut ke Sanha dulu.
Love you all ... oh satu lagi. Terimakasih yang sudah mau naikin rate-nya Refald aku terhura. Dan juga terimakasih yang udah mau ngasih hadiah kopi dan hatinya ... love you forever.
__ADS_1