
Bila Refald kini bahagia dengan berita tumbuhnya buah hati mereka dirahim Fey, maka lain halnya dengan pak Po yang menggunakan waktu sebaik mungkin untuk bersama dengan Di selagi ia berada disini. Mereka berdua sedang menikmati hangatnya sinar matahari di sore hari.
Keadaan telah kembali seperti semula, Di memang tidak bisa melihat lagi, tapi ia masih bisa merasakan hawa keberadaan suaminya. Bahkan Di juga bisa berpelukan dan berpegangan tangan dengan pak Po. Keduanya sedang duduk bersanding bersama. Meski ia tak bisa melihat pemandangan indah di sore hari, istri pak Po itu tetap terlihat bahagia.
“Apa kau menyesal?” tanya pak Po membuka suara.
“Sama sekali tidak, sejak awal inilah kehidupan kita yang sesungguhnya. Bisa menjadi istrimu saja adalah anugerah terindah dalam hidupku. Aku tidak perlu melihat dunia. Cukup melihatmu saja, itu sudah lebih dari cukup untukku.”
“Maafkan aku Di, aku tidak bisa membahagiakanmu layaknya seorang istri pada umumnya. Kedua dunia kita juga berbeda, tapi pangeran Refald membuat tak ada bedanya untuk kita. Ini sungguh luar biasa. Bagiku, pangeran adalah segalanya. Aku sangat berterimakasih kau sudah mau mengerti posisiku.”
“Aku memang tidak begitu paham kenapa kau begitu setia dengan pangeran Refald. Tapi beberapa hari hidup bersama dengan mereka, aku bisa mengerti. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan melakukan hal sama seperti yang kau lakukan. Dimataku, kau adalah prajurit luar biasa yang selalu setia melindungi rajanya. Memiliki pasukan sepertimu, pasti hal yang membanggakan bagi pangeran Refald.”
“Kau benar, entah kenapa aku lebih suka menjadi pasukannya daripada menjadi manusia meskipun itu sangat tidak adil untukmu. Maafkan aku Di, aku sungguh minta maaf.”
“Kau tidak perlu minta maaf, sungguh aku sangat mengerti. Tidak apa-apa bagiku, lagipula kita masih bisa bersama, itu adalah hal yang menakjubkan. Orang-orang tidak akan percaya kalau aku menikah dengan setan.” Di tersenyum mendegar ucapannya sendiri yang mengatai suaminya setan.
“Kau berani mengatai suamimu setan?”
“Lalu apa? Dedemit?”
“Terserahlah, suka-suka kau saja. Aku memang setan, setan yang amat sangat tampan. Aku harap kau tidak menyesal karena telah menikah dengan setan tampan sepertiku.”
“Tidak ada yang aku sesali, kau jangan khawatir. Bila kau tidak ada, aku tetap akan menjalani aktivitasku seperti biasanya. Aku juga bisa menjaga diriku sendiri lebih baik dari wanita lainnya. Aku juga bisa bela diri, aku sangat kuat, bukan?”
“Ehm, kau wanita tangguh seperti putri Fey. Bahkan kau jauh lebih kuat darinya untuk ukuran manusia spesial sepertimu. Jika terjadi sesuatu, panggil saja namaku, aku akan langsung datang untukmu.”
“Ehm, pasti.” Di mengangguk pelan.
Pak Po memeluk tubuh istrinya dengan erat, keduanya bercumbu mesra di tengah matahari perlahan mulai terbenam. Langit cakrawala membentang luas menambah indah panorama alam yang ada di desa ini. Apalagi suasana romantis sedang menyelimuti pasangan beda dunia.
Bagi manusia yang memiliki indra ke-6, pasti bisa memaklumi betapa sweetnya Di dan pak Po ketika berduaan di Gazebo. Lain halnya dengan manusia biasa, Di pasti dianggap gila jika melihat wanita cantik itu tertawa dan berbicara sendiri.
Fey menatap pemandangan romantis itu sambil tersenyum dari balik jendela kamarnya yang ada dilantai 2. Apa yang dikatakan suaminya memang benar. Meski pak Po bukan lagi manusia, ia tetap bisa bahagia dengan istrinya.
Dari kejauhan, Fey melihat Riska dan Nouval datang kerumah mereka. Pak Po dan Di pun menyambut kedatangan mereka walau yang bisa mereka lihat hanyalah Di saja. Sebagai manusia biasa yang tak punya kelebihan apapun, tentu saja Nouval dan Riska tidak bisa melihat sosok pak Po yang kini telah menjadi makhluk astral tak kasat mata.
Awalnya, Di terkejut kenapa tiba-tiba Riska jadi tidak bisa melihat, tapi ia mulai memahami situasi. Riska berpikir, pak Po telah tiada sehingga membuat Di menjadi seperti ini karena terlalu sedih ditinggal pa Po. Apalagi mereka berdua baru saja menikah. Pasti Di sangat berduka bila harus hidup sendiri. Kebersamaan keduanya begitu singkat, padat, dan tidak jelas. Tak bisa dijabarkan seperti apa perasaan Di saat ini. Itulah spekulasi yang ada dalam pikiran Riska. Padahal, kisah yang sebenarnya tidak seperti itu.
“Hai Di, bagaimana kabarmu?” sapa Riska saat melihat Di datang ke arahnya. Meski Di tidak bisa melihat, ia bisa berjalan layaknya manusia normal pada umumnya bahkan tanpa menggunakan tongkat.
“Hai Riska, aku baik. Kau sendiri bagaimana?” Di balik bertanya.
“Bagaimana kau tahu kalau ini aku?” tanya Riska heran.
__ADS_1
“Aku hafal suaramu. Tentu saja aku tahu,” jawab Di sambil tersenyum. “Siapa laki-laki yang ada disampingmu? Dia bukan Aditya, kan?” pertanyaan Di langsung membuat Riska terpana. Di tidak bisa melihat tapi ia tahu kalau ada orang lain yang datang bersamanya, bahkan Di juga tahu kalau laki-laki yang bersamanya bukanlah Aditya.
“Wuah, aku tidak percaya kalau kau ini tunanetra, Bagaimana kau bisa tahu kalau aku datang bersama laki-laki lain selain Aditya?”
“Karena bau parfumnya berbeda. Itu bau khas parfum pria. Jarang ada wanita memakai parfum pria kecuali orang-orang tertentu seperti sesama kerabat atau pasangan suami istri. Aku hanya menebak saja tadi, karena memang kemungkinan besar dilihat dari bau parfumnya, orang yang datang bersamamu adalah pria. Pafum Aditya bukan seperti ini, jadi pasti orang lain.” Di menjelaskan dengan detail alasan kenapa ia bisa menebak dengan benar dengan siapa Riska datang.
Riska dan Nouval saling pandang karena tidak tahu harus berkata apa. Sepertinya, Di belum tahu apa-apa soal Aditya dan apa yang kini terjadi padanya.
“Di, jangan bahas Aditya di depan mereka. Nanti aku jelaskan, kau mengerti?” bisik pak Po yang tentunya hanya Di saja yang bisa mendengar bisikan suaminya.
Di mengangguk pelan sehingga membuat Riska dan Nouval jadi semakin bingung kenapa Riska malah tiba-tiba mengangguk. Mereka berdua sama-sama menoleh kebelakang untuk memastikan apakah dibelakang mereka ada orang lain lagi, tapi nyatanya tidak ada sipapun di teras ini selain mereka bertiga. Karena hari sudah mulai gelap, tiba-tiba suasana rumah berubah jadi mencekam.
Tentu saja suasananya jadi angker, ada setan pak Po disekeliling mereka, wajar bagi tubuh manusia secara spontan merespons hawa keberadaan makhluk tak kasat mata meski mereka tidak bisa melihatnya langsung. Sebab, kedua dunia yang berbeda ini memang saling berdampingan walau tak banyak orang yang percaya bahwa dunia lain itu ada.
“Apa yang membawamu kesini Riska?” tanya Fey yang berjalan beriringan dengan Refald. Ia mencoba memecah ketegangan yang terjadi diantara Di dan yang lainnya terlebih pak Po benar-benar merusak suasana. “Ayo, masuklah! Kau juga Di, hari sudah hampir gelap, sebaiknya kita masuk dan berbicara di dalam,” ajak Fey dengan tenang. Sementara Refald hanya mentap wajah Fey tanpa henti dan terkesan cuek pada siapapun, termasuk pada Riska dan Nouval.
Mereka semua, kini sudah ada di ruang tamu. Riska menyampaikan maksud kedatangannnya kemari. Tapi ia agak sedikit merasa aneh dengan Refald yang sejak tadi tak pernah berpaling dari wajah istrinya. Entah apa yang merasuki Refald sehingga ia jadi seperti itu.
“Apa ... Tuan Refald, baik-baik saja, Nyonya?” tanya Riska agar rasa penasarannya sedikit berkurang.
“Abaikan saja dia, Refald sedang dalam mode jatuh cinta, makanya dia tidak bsia berhenti memandangiku, ada hal yang membuatnya bahagia. Aku sendiri risih sebenarnya, karena ditatap seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Dia sedang bahagia dan dia juga baik-baik saja, jangan khawatirkan makhluk aneh yang satu ini,” terang Fey dan Refald hanya tersenyum menatapnya tanpa bicara. “Katakan padaku, apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Fey mengabaikan Refald lalu beralih melihat Riska dan Nouval yang duduk berdampingan.
Meski tidak begitu paham apa maksud ucapan Fey, Riska berusaha mengerti karena ia sendiri tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Ia hanya ingin menyampaikan tujuannya datang kemari setelah apa yang terjadi sebelumnya.
“Wuah, selamat untuk kalian berdua, semoga pernikahan kalian kali ini jadi samawa. Sungguh aku turut senang,” ujar Fey sambil membaca undangan pernikahan Riska dan Nouval.
“Terimakasih Nyonya, saya harap kalian semua bisa datang sebagai tamu VIP kami. Berkat kalian kami bisa bersatu kembali. Tapi Sayang, pak Po tidak ada disini. Padahal saya ingin dia juga datang bersama Di.” ekpsresi wajah Riska terlihat sedih, tapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya.
“Oey, aku apsti akan datang juga, kau jangan khawatir,” protes pak Po yang sejak tadi berdiri dibelakang Di. Fey langsung melirik tajam pak Po agar dia tidak banyak bicara.
Diam kau pak Po! Atau aku sumpal mulutmu! Itulah arti tatapan istri Refald pada pak Po.
“Tentu, kami pasti akan datang.” Fey tersenyum menatap Riska dan Nouval setelah memastikan pak Po tidak protes lagi.
“Nyonya Refald, apa anda tidak merasakan ada sesuatu? Sepertinya, hawanya sedikit menyeramkan dari terakhir kali saya berada disini. Bulu kuduk saya bahkan sampai berdiri.” Riska memegangi tengkuk lehernya dan bergidik ngeri begitu juga dengan Nouval.
Karena Fey sudah terbiasa dengan para makhluk astral yang ada disekitarnya sejak menjalin hubungan dengan Refald bertahun-tahun silam lamanya, Feypun tidak merasakan perbedaan suasana seperti yang dirasakan Riska. Ada atau tidak ada makhluk astral disekelilingnya, bagi Fey sama saja.
Kalau dulu, ia memang takut seperti halnya Riska sekarang, tapi kini ia sudah terbiasa dan sudah tidak takut lagi karena Fey adalah permaisuri dari Rajanya dedemit. Sangat lucu sekali bila seorang Fey, sang ratu dari pasukan dedemit masih saja merasa takut pada pasukan suaminya sendiri.
Namun, Fey juga tidak bisa mengelak. Riska bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi tentang keberadaan makhuk astral yang ada disekitarnya. Fey yakin, pasti keberadaan pak Po lah yang menciptakan suasana angker dirumah ini.
“Mungkin penunggu rumah ini berkeliaran disekitar kita. Abaikan saja, toh mereka tidak mengganggu kita, dan kita juga tidak mengganggu mereka.” Fey mencoba bersikap santai agar Riska tidak merasa takut lagi.
__ADS_1
Meski Nouval pernah dirasuki iblis jahat, tapi Refald telah berhasil membuat Nouval kembali menjadi manusia normal lagi dan tidak bsia melihat makhluk-makhuk dari dunia lain serta menghapus sebagian ingatan tentang itu. Itulah alasan kenapa Nouval sejak tadi juga memilih diam. Selain itu, ia juga tidak mengenal siapa orang-orang yang ada di hadapannya. Ia hanya mengantar Riska saja dan menyimak obrolan mereka.
“Apa maksud anda ... rumah ini ada hantunya?” tanya Riska mulai bergidik ngeri. Rumah sebesar dan sebagus ini ternyata berhantu.
“Bukankah disetiap rumah, memang selalu ada penunggunya? Entah itu hantu atau bukan.”
“Ehm, saya pernah mendengar hal itu, tapi baru kali ini saya merasakan hawa angker seperti ini dirumah ini. Padahal ketika saya tinggal disini, saya tidak merasakan apapun.” Riska mengamati lagi Refald yang tidak bergerak menatap Fey sejak tadi. “Apakah ... tuan Refald benar-benar kerasukan?” entah kenapa Riska spontan berkata begitu.
Tawa pak Po langsung meledak mendengar ucapan Riska yang mengira Refald kerasukan. Bagaimana bisa raja dari dedemit bisa kerasukan? Fey memejamkan melihat pak Po berani menertawai suaminya. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengambil sebuah vas bunga berukuran sedang yang ada dihadapannya dan melemparkannya pada pak Po.
Karena pak Po adalah makhluk astral, tentu saja vas itu hanya tembus pandang melewati wujudnya. Benda padat itu mendarat mulus di lantai dan langsung hancur berkeping-keping begitu benda berisi berbagai macam bunga itu membentur lantai dengan keras. Riska dan Nouval yang menyaksikan adegan Fey lansung terkejut, tapi tidak dengan Di. Istri pak Po itu terlihat tenang karena ia tahu suaminya benar-benar menjengkelkan. Wajar kalau Fey marah.
“Maafkan atas kelancangan saya,Nyonya. Saya tidak bermaksud membuat anda marah,” Riska jadi takut Fey tersinggung dengan ucapannya tadi.
“Aku tidak marah padamu Riska, tadi itu aku cuma mau tes saja. Sepertinya aku sedang melihat sekelebat bayangan makhluk menyebalkan. Tapi ternyata aku salah, mungkin hanya pikiranku saja. Maaf kalau tindakanku tadi membuat kalian terkejut.” Fey masih melirik pak Po dan suami Di itu langsung menghilang dari pandangan sebelum Fey benar-benar mengeluarkan tanduknya.
Riska dan Nouval hanya saling pandang sambil memaksakan diri tersenyum. Jelas-jelas, ekspresi wajah Fey benar-benar terlihat marah tapi ia berusaha menutupinya.
“Sayang, apa kau tidak merasa? Semua orang-orang yang ada di rumah itu aneh semua? Apa kau yakin mengenal mereka dengan baik? Kenapa aku tidak ingat apa-apa.” Tanya Nouval saat keduanya sudah berada diluar rumah pak Po. Keduanya tidak bisa berlama-lama dirumah itu. Rasanya seperti memasuki rumah hantu saja.
“Entahlah, aku juga tidak begitu ingat, setahuku ... nyonya Refald memang memiliki kemampuan khusus bisa melihat makhluk tak kasat mata. Apa mungkin yang ia lempar tadi adalah salah satu makhuk itu? Tapi kenapa dia jadi semarah itu? Dan yang lebih aneh lagi, orang yang mereka panggil pak Po juga menghilang tiba-tiba. Rasanya benar-benar aneh, tapi membanyangkannya juga membuatku ngeri sendiri. Sebaiknya, kita tidak perlu ikut campur urusan mereka.” Riska menggamit lengan Nouval yang bingungnya sudah nggak ketulungan. Rumah ini dan penghuninya penuh dengan misteri tak terpecahkan.
“Ya sudahlah, kita cari makan saja kalau begitu. Besok aku berencana menemui Aditya.”
“Kenapa kau mau menemuinya?” Riska terkejut mendengar rencana calon suaminya ini.
“Hanya ingin tahu kondisinya saja, aku dengar dia sakit.”
“Dia kehilangan ingatannya, masih hidup saja dia sudah beruntung. Kenapa kau jadi baik padanya? Jelas-jelas dia telah membuatku menderita.”
“Dia sudah mendapatkan hukumannya, dia divonis dengan hukuman seumur hidup dipenjara. Tidak bisakah kau memaafkannya. Jangan biarkan dendam merasuki hatimu. Kita akan segera memulai hidup baru, aku harap keluarga kita bisa bahagia selamanya tanpa ada beban lagi di pundak kita.” Nouval menatap wajah Riska begitu juga sebaliknya.
“Aku baru tahu, kalau kau ternyata adalah orang yang sangat baik. Maaf jika aku terlambat menyadarinya.”
“Kau tidak perlu minta maaf, mau menerimaku kembali menjadi suamimu saja aku sudah sangat senang. Tersenyumlah, masa iya calon pengantin mukanya kusut begitu?” Nouval dan Riska saling tertawa bersama. Kisah cina mereka akhirnya berakhir bahagia meski awalnya sempat dipenuhi dengan drama ikan terbang.
BERSAMBUNG
***
Hai hai semua ... boleh minta tolong sama kalian nggak? Kasih vote di Leo yang season 2 dong ... judulnya ‘playboy jatuh cinta 2 (kisah cinta Shena dan Leo)’. Terimakasih yang sudah mau dukung karyaku selama ini. love you all ...
__ADS_1