Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 235 Ungkapan Perpisahan


__ADS_3

Di dalam rumah, pak Po mulai merasakan ada sesuatu hal yang bakal terjadi di wilayah ini. Cuaca yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba berubah aneh dengan datangnya angin kencang melanda seluruh perkampungan tempat tinggal pak Po. Karena hari sudah gelap, suasana jadi terasa lebih mencekam. Beberapa pintu jendela mendadak terbuka sendiri akibat kencangnya tiupan angin yang melanda kawasan ini. Hembusan angin pun masuk ke dalam kediaman pak Po dan Di tanpa permisi.


Dengan cepat, Di kembali menutup semua pintu dan jendela rumahnya yang terbuka rapat-rapat lalu menguncinya. Ia hanya bingung dengan perubahan cuaca aneh ini. Di juga mengamati suaminya yang sejak tadi hanya berdiri diam menatap ke suatu arah dengan pandangan kosong.


“Kenapa ada angin kencang tiba-tiba? Apa mungkin akan terjadi badai ditempat ini?” tanya Di memecah kesunyian.


Anehnya, pak Po masih diam dan enggan menanggapi pertanyaan istrinya. Pikiran pak Po masih berkutat dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Dia perlu menguatkan hati untuk menghadapi semuanya walau Refald sudah menjanjikan hal yang baik untuknya dan Di. Namun tetap saja, rasanya benar-benar menyakitkan karena pak Po tak bsia memilih hal yang sudah ditawarkan Refald padanya. Dia tetap akan mengambil keputusan yang mungkin akan menyakitinya dan juga menyakiti istrinya.


Sedangkan Di sendiri juga mulai merasa aneh pada suaminya, walaupun ia tidak tahu masalah apa yang menimpa, tapi Di tetap mengajak bicara pak Po entah suaminya itu mau dengar atau tidak tentang apa yang dikatakannya.


“Sejak tak ada pangeran dan putri, rumah ini jadi sepi. Serasa ada yang hilang, apa mungkin aku sudah mulai terbiasa dengan mereka makanya begitu keduanya tidak ada, suasananya jadi aneh. Apa kau tahu kemana perginya mereka? Ini sudah malam, tapi mereka berdua masih belum kembali juga. Aditya dan Riska juga sudah pergi untuk memulai kehidupan baru mereka. Syukurlah, akhirnya keduanya bisa hidup bahagia. Sekarang, cuma tinggal kita berdua saja di rumah ini, rasanya sepi sekali tanpa mereka semua.” Di berjalan pelan mendekati pak Po yang masih diam karena sedang memikirkan sesuatu yang berat untuk ia ungkapkan.


“Ada apa, Suamiku? Kenapa dari tadi kau hanya diam saja? Apa terjadi sesuatu? Katakan padaku?” tanya Di memberanikan diri berharap pak Po mau terbuka padanya.


Pak Po menatap mata indah istrinya yang terlihat mengkhawatirkannya. Bagaimanapun juga, Di harus tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini. “Mungkin ini adalah takdir.” Pak Po memulai pembicaraan. Sepertinya, mantan pasukan Refald ini sudah mengambil sebuah keputusan besar yang tak dapat ia sembunyikan dari istrinya. “Ini mungkin sudah ditakdirkan sebelumnya. Kau dan aku ... memiliki takdir yang tidak bisa diubah bahkan saat pertama kali kita bertemu.” Mata pak Po mulai berkaca-kaca mengamati wajah istrinya yang berdiri diam didepannya.


“Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapanmu itu. Takdir seperti apa yang kau maksud?” tanya Di sambil terus menatap suaminya.


Pak Po duduk disebuah kursi dekat jendela rumahnya yang menghadap langsung halaman samping rumah pak Po. “Kemarilah, Di. Duduklah dipangkuanku,” pinta pak Po dan Di pun melakukan apapun yang diminta suaminya.

__ADS_1


Di duduk dipangkuan pak Po dan terus menatapnya, tapi pak Po malah melihat lurus ke depan dan memikirkan sesuatu. Di sendiri jadi heran, sebenarnya apa yang terjadi sehingga pak Po harus bertingkah aneh seperti ini.


“Di ... apa kau tahu, alasan kenapa aku jatuh cinta padamu?” tanya pak Po sambil mengenang kembali pertemuan pertama keduanya.


Di mencoba mengingat-ingat kenangan keduanya saat pertama kali mereka bertemu. “Karena aku memberikan seluruh bunga marigold yang kau butuhkan secara gratis,” tebak Di.


“Bukan, meski kau tak memberikannya, aku bisa mengambilnya tanpa sepengetahuanmu. Lagipula, kau tidak bisa melihat waktu itu, walaupun aku memetik setangkai marigold dari ladangmu, kau tidak akan pernah tahu.”


“Tapi ... bukankah itu yang kau katakan pada Putri Fey, alasan kenapa kau memilihku menjadi pengantinmu.”


“Aku berbohong padanya. Aku memilihmu menjadi pengantinku ... karena cuma kaulah satu-satunya manusia yang bisa menyentuhku dan merasakan hawa keberadaanku layaknya manusia normal pada umumnya meski aku adalah makhluk astral tak kasat mata. Kau memang tidak bisa melihat dunia yang fana ini, tapi kau bisa melihat keberadaanku yang tak akan bisa dilihat siapapun kecuali orang-orang tertentu seperti pangeran Refald.”


“Mungkin ... aku adalah salah satu orang-orang tertentu itu. Karena itulah aku bisa menyentuh dan merasakan hawa keberadaanmu.”


“Aku mencintaimu Di, kau memberikan kebahagiaan yang dulu belum pernah aku rasakan semasa aku hidup. Aku sangat bahagia bersamamu. Bertemu denganmu adalah anugrah terindah dalam hidupku. Tapi sayangnya, cintaku ini hanya bisa keberikan dalam hatimu tanpa bisa mendampingimu, seperti manusia normal lainnya yang akan sehidup semati selamanya. Aku tak bisa ... selalu bersamamu dan menemanimu menjalani hari-hari indah dalam dunia ini. Hidupku ... tidak ditakdirkan seperti itu, Di ...” tanpa sadar air mata pak Po mengalir memikirkan bahwa dirinya dan wanita yang dia cintai ini tidak akan bisa bersama seperti yang selama ini mereka harapkan.


Melihat suaminya menangis, Di pun juga ikut menangis. Sebagai istri, ia tahu seperti apa posisi suaminya saat ini. Pak Po adalah salah satu pasukan Refald yang paling berharga. Seluruh hidupnya adalah pengabdian untuk pangerannya. Jika pak Po mengambil keputusan itu, maka Di tak bisa mencegah atau melarangnya. Rosalinda Divani, hanyalah sebagian kecil dalam hidup pak Po. Selamanya, pak Po akan selalu menjadi pasukan Refald.


Mereka berdua menangis bersama dalam diam untuk beberapa saat. Mecurahkan isi hati dan pikiran masing-masing, sampai akhirnya Di bisa mengutarakan isi hatinya yang terpendam.

__ADS_1


“Jika memang ini takdir kita ... maka ... aku akan menerimanya,” ujar Di terbata-bata. Masih ada isak tangis disana. “Walau terluka, aku akan mencoba bertahan sampai takdir itu sendiri yang menyatukan kita kembali, tidak masalah kalau dalam kehidupan ini, kita tidak ditakdirkan bersama. Aku berharap dikehidupan selanjutnya, kau dan aku ... bisa hidup bersama selamanya layaknya pasangan sejoli lainnya. Punya banyak anak, dan pastinya punya cucu juga. Kita akan menjalani hari tua bersama dan akan terus bersama-sama. Aku ... akan menantikan takdir itu untuk kita.” Air mata Di terus mengalir membasahi pipinya.


Saat ini, perasaan istri pak Po memang pedih, perih dan juga menyakitkan. Namun, sejak awal Di memang sudah menyiapkan diri bila hal ini terjadi. Sejak ia tahu bahwa pak Po dan dirinya berbeda dunia, sangat mustahil baginya untuk bisa bersama dengan pak Po. Jika kini keduanya bersama, itu adalah bonus terindah dalam hidup Di. Dan ia selalu siap kalau suatu hari harus berpisah dengan pak Po meski hal itu tidak ia inginkan. Istri pak Po itu sangat tahu, cepat atau lambat, ia dan suaminya bakal berpisah.


Dan sekarang, apa yang sudah Di persiapkan sejak awal bakal benar terjadi. Takdirnya bersama pak Po sudah ditentukan sejak awal. Dia dan suaminya, tak bisa bersama selamanya dikehidupan ini.


“Aku ... juga mencintaimu, Ezi. Sangat mencintaimu. Terimaksih sudah bersedia menjadi bagian dari hidupku, walau kebersamaan kita ini singkat, tapi aku sangat bahagia. Bagiku ... ini sudah lebih dari cukup. Akan aku simpan di lubuk hatiku yang terdalam cinta yang kau berikan untukku.” Di memeluk pak Po dengan erat, dan berusaha menerima takdirnya dengan lapang dada. Keduanya menangis bersama untuk saling menguatkan serta berusaha tegar menerima takdir yang menyakitkan ini.


“Jika terjadi sesuatu padaku setelah ini, jangan pernah melupakanku. Jangan terus-terusan bersedih karena aku. Tetaplah hidup bahagia walau aku tak bisa bersamamu. Ingatlah, cintaku untukmu akan selalu abadi selamanya tanpa batas. Walau nantinya kita berbeda dunia, aku masih bisa melihatmu, menatapmu dan tentunya mencintaimu ... jika kau tidak menjalani hidupmu dengan baik, maka selamanya aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Akan aku minta pangeran menyiksaku sehingga aku bisa merasakan kepedihanmu, kau mengerti?”


“Ehm, aku mengerti. Aku akan bahagia demi dirimu. Aku sangat tahu aku adalah wanita paling tegar dan kuat. Jangan khawatirkan aku dan tetaplah lakukan tugasmu dengan baik."


"Terimakasih, Di ... aku sangat beruntung bisa mencintai dan dicintai oleh wanita luar biasa sepertimu." Pak Po memeluk erat tubuh istrinya.


"Akupun sama. Tapi, memangnya apa yang akan terjadi? Apa ... ada yang bisa aku lakukan untukmu?” Di menatap wajah pak Po dengan penuh harap dan juga kekhawatiran yang amat sangat.


Jika dilihat dari ungkapan perpisahan mereka berdua yang mengharukan, pasti sesuatu yang buruk bakal terjadi setelah ini. Entah itu apa.


“Aku tidak yakin apakah kau mampu melakukannya. Namun, aku tidak punya pilhan lain. Di ... kau harus membantuku, lakukan apapun yang aku katakan. Percayalah, aku akan baik-baik saja.” pak Po bangun dari tempatnya, lalu mencium mesra istrinya seperti yang pernah diajarkan Refald padanya tentang bagaimana cara mencium wanita.

__ADS_1


BERSAMBUNG


****


__ADS_2