
Refald memejamkan mata untuk memanggil pasukannya supaya datang kemari. Tanpa menunggu lama, mereka semua yang namanya dipanggil oleh Refald langsung berdiri di sisi kami masing-masing. Meski bukan yang pertama kali, tetap saja aku terkejut melihat kedatangan mereka yang secara tiba-tiba itu sehingga membuatku semakin mempererat peganganku pada Refald.
Dasar hantu gak ada akhlak, permisi dulu kek kalau mau datang, kan aku bisa siap-siap. Rutukku dalam hati dan Refald hanya tersenyum melirikku tanpa suara karena mendengar gerutuanku.
“Ada apa, Pangeran? Kenapa kalian berada di ruang mayat? Sudah bosan hidupkah?” pak Po mulai bersikap menjengkelkan.
“Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu, pak Po. Cari tahu apa yang sedang terjadi di sana dan informasikan segera padaku,” perintah Refald pada pasukannya.
“Baik, Pangeran.” Pak Po pun menghilang dan dalam sekejap mata, ia pun sudah berdiri di depan suster Sista dan dokter Raska.
“Apa kau tidak bisa mendengar apa yang ada dipikiran suster itu?” tanyaku pada Refald.
“Dia dirasuki oleh arwah ibunya sendiri. Honey, aku bukan Edward yang bisa membaca pikiran setiap orang. Sudah kukatakan padamu, aku harus punya kontak fisik dengan orang yang ingin aku dengarkan pikirannya.”
“Kontak fisik?” tanyaku masih tidak mengerti.
“Iya, paling tidak aku harus menyentuh tangan orang yang ingin aku dengarkan pikirannya. Itupun jika aku ingin. Satu-satunya pikiran orang yang ingin aku ketahui hanyalah pikiranmu seorang, aku sama sekali tidak tertarik mendengar pikiran orang lain kecuali pikiranmu. Jadi, jangan coba-coba macam-macam denganku. Aku akan langsung tahu jika kau memikirkan orang lain selain aku.”
__ADS_1
“Wah! Daebak! Disaat seperti ini kau masih bisa mengancamku? Tidakkah kau lihat di depan mata kita sedang terjadi proses pembunuhan dan kau masih saja sempat-sempatnya bicara seperti itu? Huh, aku tidak tahu lagi harus berkata apa? Sebaiknya cepat lakukan sesuatu! Mau sampai kapan kita hanya diam saja di sini?” suaraku mulai meninggi sehingga terdengar oleh suster itu. Dia celingak-celinguk mencari-cari sumber suaraku. Sementara Refald langsung membekap mulutku dan memelukku seketika karena aku mulai gemetar ketakutan.
Aku terlalu ceroboh! Bodohnya aku. Bagaimana ini? Aku merutuk diriku sendiri dalam dekapan Refald.
Tumben Refald tidak berkomentar tentang apa yang aku pikirkan. Ia hanya diam dan penuh waspada menatap gerak-gerik suster Sista.
Suster itu tahu lokasi kami bersembunyi dan melepaskan cengkeraman tangannya dari dokter Raska, lalu berjalan mendekat ke arah kami. Dokter itu pun beringsut mundur, sepertinya ia tidak kuat berdiri dan hanya bisa bersandar di sebuah tiang sambil mengumpulkan kekuatannya kembali agar bisa lari dari tempat ini selagi suster Sista yang sedang kerasukan itu lengah karena menyadari keberadaan kami.
Dengan kekuatan yang dimiliki suster Sista akibat kerasukan ibunya, Dia mendobrak pintu ruang jenazah sehingga aku dan Refald terpaksa harus berlari menjauh agar tidak tertimpa daun pintu yang terpental mengarah pada kami. Refald melindungiku dengan menampik daun pintu tersebut hingga hancur berkeping-keping tepat sebelum benda panjang dan keras itu jatuh mengenaiku.
Tak berhenti sampai disitu, suster Sista juga langsung menyerangku tapi Refald menghalaunya hanya dengan menggunakan satu tangannya dan membuat suster Sista terhempas ke belakang sampai menabrak dinding dan menimbulkan bunyi‘brak’ saking kerasnya benturan. Sementara tangan Refald yang satunya memelukku dengan erat untuk menenangkanku agar aku tidak ketakutan. Sedangkan aku sendiri, hanya bisa shock dan bergidik ngeri melihat semua kejadian mengerikan ini.
Sebenarnya aku ingin sekali berteriak, tapi suaraku tersangkut ditenggorokan saking paniknya. Refald mengalihkan tubuhku untuk bersembunyi di belakang tubuhnya dan siap sedia menghadapi amukan mbak Sun yang merasuki tubuh putrinya sendiri. Tiba-tiba saja, mbak Kun dan pak Po pun berdiri di samping kanan dan kiri Refald bersiap untuk melindungi pangerannya.
Secepat kilat suster Sista yang sedang kesurupan itu pun berlari untuk menyerang Refald sekali lagi, tapi kali ini suster tersebut dihalau oleh anak buah Refald sendiri, yaitu pak Po dan juga Mbak Kun. Mereka berdua menghalangi langkah Suster itu agar tidak bisa mendekati kami.
Ini pertama kalinya bagiku, aku menyaksikan secara langsung adegan para hantu berkelahi. Aku kira adegan seperti ini hanya ada di cerita atau di film-film, nyatanya aku bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
__ADS_1
“Lepaskan aku!” teriak suster Sista dalam keadaan marah yang amat sangat. Kedua lengan suster tersebut dicengkeram kuat oleh mbak Kun dan Pak Po. Satu hal yang baru kusadari dari pasukan Refald soal pak Po. Meski namanya pak Po, tapi ia sudah tidak lagi memakai seragam kebesarannya. Pak Po malah memakai setelan jaz hitam ala manusia pada umumnya.
Sepertinya pak Po habis berkencan, dia lupa memakai seragam kebesaran pocongnya saat muncul di tempat ini. Apa Refald menyadarinya, ya? Batinku, antara takut dan juga geli.
Refald melangkah maju dan menarik tangan suster Sista agar tubuhnya keluar dari arwah Mbak Sun.
“Apa yang kau lakukan?” teriak mbak Sun semakin marah. Ia tidak terima Refald membantu raga putrinya keluar dari jiwanya. Ia berusaha memberontak dan hendak menyerang Refald lagi, tapi mbak Sun kalah kuat dengan para pasukan Refald yang terlihat kece badai itu.
Refald meletakkan tubuh suster Sista yang langsung tak sadarkan diri di lantai tanpa menghiraukan amukan mbak Sun. Wajah suster itu kembali berubah seperti dirinya sendiri, tidak ada guratan atau warna hitam di bibir dan matanya. Hanya wajahnya saja yang masih terlihat pucat. Refald pun berdiri membelakangiku untuk melindungiku sekaligus menenangkanku. Sedangkan aku sendiri hanya bisa menatap iba suster Sista dan mengamati dokter Raska. Aku yakin dia juga sama shocknya sepertiku.
“Apa yang kau lakukan mbak, Sun?” tanya Refald sambil menatap tajam mbak Sun, suamiku ini terlihat menahan emosi agar tidak bertindak gegabah. “Kenapa kau menggiring putrimu untuk membunuh orang? Itu melanggar aturan duniamu dan juga dunia kami? Kau tahu konsekuensi apa yang akan kau terima jika kau melakukan itu? Dendam yang kau bawa mati tidak akan menyelesaikan semuanya. Kembalilah ke alammu dan ikhlaskan semua yang terjadi padamu! Biarkan putrimu bahagia! Dan mengenai orang yang menyakitimu, akan aku pastikan, ia mendapatkan ganjaran setimpal atas perbuatannya padamu,” ucap Refald dan langsung disambut tawa menyeramkan dari mbak Sun.
“Bukan aku yang menginginkan untuk membunuh pria itu, tapi putrikulah yang memintaku untuk merasukinya agar ia bisa membunuh putra dari orang yang membunuhku!” teriak mbak Sun dengan suara khas menakutkan setiap orang yang mendengarnya.
“Apa?” aku dan Refald sama-sama terkejut. Aku tidak menyangka, perbuatan baik yang kulakukan ternyata berbuah petaka. Seketika tubuhku lemas, tapi Refald berusaha menahanku supaya aku tetap kuat berdiri dan tidak terlihat lemah di depan mbak Sun.
****
__ADS_1
seru gak? hehe ...