Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 68 Di Balik Semua Misteri


__ADS_3

“Airnya segar sekali, Honey ... kemarilah! Bergabunglah denganku.” Teriaknya setelah Refald muncul kepermukaan air.


Aku masih cemberut menyaksikan Refald yang bersenang-senang di dalam air setelah ia berhasil mengerjaiku habis-habisan sehingga aku terlihat seperti orang bodoh. Melihatku tidak bereaksi sama sekali, Refald memutuskan ke luar dari air dan menghampiriku.


Tubuhnya yang basah kuyub membuat Refald terlihat semakin seksi saja. Cowok itu jongkok didepanku yang masih duduk santai sambil mengamatinya.


“Ada apa Honey, kau marah?” Refald tersenyum saat mengatakan itu.


“Kau puas, sekarang?”


Refald masih saja tersenyum, sambil membelai pipiku ia berkata, “Kau sungguh sangat menggemaskan jika ketakutan, Honey. Tapi, bagaimana bisa kau berpikiran aku akan membelah bulanmu yang sangat aku jaga sebelum waktunya tiba? Itu bukanlah aku, jika dengan rasa kesal saja bisa menghilangkan kekuatanku, apalagi jika aku melakukan hal gila yang melebihi binatang, bisa-bisa aku kehilangan seluruh kekuatanku. Itu sangat tidak mungkin bisa kulakukan. Kau mengerti, Honey? Jangan lupa aku keturunan Raja, dan aku juga seorang pangeran di dunia lain. Etika dan moral sudah ditanamkan dalam diriku, meski terkadang aku kelepasan bila bersamamu.” Lagi-lagi Refald menunjukkan senyumannya yang menawan.


Entah mengapa aku langsung tersihir oleh kata-kata Refald, senyumnya yang begitu indah membuatku luluh sehingga aku tidak bisa marah lagi padanya.


“Kau sudah selesai mandinya? Ayo kita berangkat lagi.” aku berdiri dan bersiap-siap untuk berangkat, jika di sini lebih lama bersama Refald aku takut akulah yang akan tergoda.


“Kau tidak ingin mandi dulu? Airnya sangat menyegarkan sekali.” Refald juga ikut berdiri.


“Tidak! Aku akan mandi di rumah jika sudah sampai nanti.”


“Kenapa tidak sekarang saja? Kita bisa mandi sama-sama.”


“Kau mulai lagi?”


Refald tertawa dan ia langsung mendaratkan ciuman manisnya di bibirku sehingga lagi-lagi, aku terkejut atas sikapnya yang dadakan ini.


“Aku hanya bercanda, Honey, tunggu di sini, aku ganti baju dulu.”


“Apa? Ganti apa? Kau kan tidak punya baju ganti?”


“Lihatlah di sana!” Refald menunjuk ke suatu tempat dan aku pun mengikuti arah yang dimaksud Refald.


Betapa terkejutnya aku setelah tahu apa yang aku lihat saat ini, tiba-tiba di atas batu besar, ada satu set pakaian milikku dan juga milik Refald lengkap dengan berbagai makanan, bahkan jaket tebal dan juga sepatu pun juga ada.


Aku terpana melihat semua barang-barang itu tiba-tiba saja ada di sini.

__ADS_1


“Apa aku tidak salah lihat?” beberapa kali aku mengusap-ngusap mataku berusaha memercayai hal ajaib ini. “Apa ini salah satu ulah pasukan dedemitmu?”


Refald hanya mengangguk, “Benar, ini ulah mereka. Tapi karena ini adalah siang hari, untuk sementara mereka tidak bisa menampakkan diri didepanku.”


“Maksudmu, mereka hanya akan terlihat saat malam hari?”


Refald mengangguk lagi, dan langsung menggendongku tanpa izin menuju batu besar itu. Aku hanya melongo menyaksikan aksi Refald yang selalu tak bisa ditebak.


“Ambillah makanan yang kau suka setelah itu kita pergi dari sini. Setelah kita ke luar dari hutan ini, jangan pernah ceritakan hal ini kepada siapapun termasuk Ayah, Nenek dan juga teman-temanmu.”


Aku mengangguk senang. Aku merasa Refald seperti memiliki lampu ajaib yang bisa menyuruh jinnya mengabulkan semua permintaannya. Bersama Refald aku seolah seperti berada di negeri dongeng. Untuk sesaat aku lupa kalau kami sedang tersesat di hutan dan banyak sekali orang-orang yang sedang mencari kami.


***


Hari sudah semakin siang, kami berjalan menyusuri kawasan hutan yang sangat lebat. Sesekali aku menikmati perjalananku bersama Refald. Kakiku yang terkilir juga mulai berangsur sembuh. Namun, Refald masih saja menggendongku, padahal aku ingin sekali berjalan sendiri sambil menikmati momen kebersamaan kami sebelum kami kembali ke dunia nyata kami.


Saat kami sedang fokus menyusuri jalan, tanpa sengaja mataku tertuju pada sebuah tas hitam kecil yang ada di tengah semak-semak. Aku penasaran sehingga meminta Refald menghentikan lajunya.


“Ada apa Honey? Apa ada masalah?”


Refald berjalan ke arah benda hitam kecil yang tadi aku tunjukkan padanya lalu mengambil tas kecil itu dan memeriksanya. Ia menurunkanku lalu membuka isi tas hitam kecil itu. Setelah diperiksa, tidak ada apapun selain sebuah flashdisk kecil yang terselip dalam tas.


“Itu kan flashdisk? Kenapa benda itu ada di sini?” tanyaku heran.


Refald tidak langsung menyahut. Ia masih memeriksa bagian-bagian flashdisk itu dan juga memeriksa isi tas itu lagi. “Sepertinya ini sangatlah penting. Sebaiknya kita berikan ini ke pada pihak perhutani, siapa tahu dalam flashdisk ini berisi data-data penting.”


Aku mengangguk setuju. “Tapi itu milik siapa?”


“Kita akan tahu kalau kita bisa membuka flashdisk ini.” singkat Refald.


“Kenapa kau tidak menyuruh para pasukanmu untuk membukanya untukmu?” usulku.


“Mereka tidak bisa mengotak-atik benda milik sembarang orang yang tidak ada kaitannya denganku. Itu melanggar peraturan.”


“Apa? Para dedemitmu itu memiliki aturan? Seperti apa? Dan apa konsekuensinya jika mereka melanggar peraturan itu?” tanyaku dengan penuh semangat. Sepertinya aku terlalu antusias ingin tahu segala hal yang berhubungan dengan Refald terutama pasukan dedemit ajaibnya.

__ADS_1


“Jika mereka melanggar, maka ... mereka akan musnah.” tandas Refald sambil menatapku.


“Apa?” aku melongo mendengar jawaban Refald. “Sesadis itukah peraturan itu? dan siapa yang membuatnya? Kakek buyutmu?”


Refald hanya tersenyum. “Nanti kau akan tahu sendiri Honey, bukan kapasitasku yang menjelaskannya. Sudahlah, lupakan dulu soal ini. Sebaiknya kita pergi sekarang. Kau bawa tas hitam ini, aku akan berlari lagi sekencang mungkin. Pegangan yang erat, karena aku akan ngebut.” Refald menyerahkan tas hitam itu padaku.


Setelah mengikatkan tas hitam kecil itu dipinggangku, aku memeluk leher Refald yang langsung melesat pergi seperti angin.


“Refald Sayang ... bolehkah aku bertanya?” tanyaku disela-sela Refald berlari.


“Silahkan, Honey ... tanyakan apapun yang ingin kau tanyakan.”


“Waktu kemah kemarin, kau mengatakan kalau kami dalam bahaya? Tapi selama ada kau bersama kami, maka kami semua aman. Apa memang benar-benar ada yang ingin mencelakai kami?” aku memberanikan diri untuk menanyakan apa yang selama ini aku pendam pada Refald.


Aku merasa ada begitu banyak misteri yang belum bisa aku pecahkan sampai saat ini, termasuk bencana yang tiba-tiba terjadi di siang bolong kemarin, dan sekarang tiba-tiba saja ada tas hitam kecil yang kini melingkar erat di pinggangku. Kedua hal ini pasti ada hubungannya dan mungkin saja Refald tahu dari pasukan dedemitnya.


Entah siapa pemilik tas hitam yang kubawa ini. Semua terasa aneh, karena selama ada di hutan ini, kami belum pernah bertemu atau melihat siapapun di sini. Bahkan sepertinya tempat yang kami lewati saat ini, tidak seorangpun bisa menjamahnya. Hutan ini begitu lebat, tidak ada seorang pun yang bakal bisa sampai ke tempat ini karena lokasinya yang sangat terjal dan dipenuhi banyak tebing-tebing menjulang disekelilingnya. Jika bukan karena Refald yang memiliki kemampuan lebih dari manusia lainnya, mungkin kami sudah terjatuh ke dalam aliran sungai yang sangat deras akibat jalanan yang dipenuhi bebatuan terjal dan tinggi menjulang.


“Kau yakin sudah siap mendengar penjelasanku?” Refald malah balik bertanya padaku.


“Tentu saja,” jawabku memantapkan hati yang mungkin saja aku bakal syok mengetahui ada apa di balik ini semua. “Lubang hitam itu, bencana yang tiba-tiba datang dan juga tas hitam kecil ini. aku merasa ini adalah misteri yang aneh dan semuanya saling berkaitan,” ujarku masih sambil memeluk erat leher Refald yang melaju dengan pesat. “Aku yakin pasukan dedemitmu itu pasti sudah memberitahumu, makanya kau bisa datang secepat itu untuk menyelamatkanku saat aku terjatuh ke tebing.”


Refald tersenyum. Aku bisa melihat ia menyunggingkan senyumnya. “Instingmu jeli juga, Honey, memang ada banyak sekali hal misteri yang harus kau ketahui. Tapi, aku hanya akan menjelaskan garis besarnya saja, selebihnya suatu hari nanti akan ada yang menjelaskan padamu semua detailnya.”


“Siapa?”


“Kakekku.”


Deg ...


“Apa? Bukankah beliau sudah meninggal?” aku agak sedikit terkejut dan juga bingung.


Lagi-lagi Refald menyunggingkan senyumnya. “Kita akan segera bertemu lagi dengannya.” jelas Refald.


****

__ADS_1


__ADS_2