Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 54 Jatuh


__ADS_3

Tak pernah terbayang dalam benakku bahwa aku akan menghadapi kematian dengan cara seperti ini. aku teringat akan hal menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidupku, yaitu saat ibuku meninggal. Duniaku seketika menjadi sangat gelap tanpa ada secercah cahaya.


Saat itu, yang aku pikirkan hanyalah segera menyusul ibu pergi ke alam baka entah bagaimanapun caranya. Keinginan itu begitu kuat ingin segera kulakukan sampai aku menemukan buku diary ibuku. Dari situ aku mulai menemukan setitik cahaya terang yang menuntunku untuk mencari tahu lebih banyak seperti apa kehidupan ibuku di masa lalu. Diary itulah yang membawaku kemari.


Selama bertahun-tahun aku tinggal di tempat di mana ibuku dulu dilahirkan. Berusaha menjalani hari-hari seperti yang pernah dilalui ibu dimasa remajanya. Aku mulai terbiasa meski harus hidup sendirian. Selain nenek dan keluarga, tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya, darimana akau berasal dan mengapa aku memutuskan untuk tinggal di tempat asing sendirian. Aku terus saja menutup diri dan berniat menghilang lagi setelah aku menyelesaikan pendidikan SMA ku di sini.


Namun keinginan itu berubah semenjak Refald hadir dalam kehidupanku. Aku yang ingin mati setiap harinya secara perlahan mengubah keinginanku itu agar aku bisa terus hidup dan menikmati sisa waktuku yang akan kulalui bersama dengan orang-orang yang aku cintai, terutama saat bersama dengan Refald. Sayangnya, hari-hari yang kudambakan itu sepertinya tidak bisa terwujud, karena saat ini aku sedang menuju ke gerbang kematian.


Selama tubuhku terhempas disetiap detiknya, air mataku mengalir sederas air terjun yang mengalir di samping kananku. Sungguh indah aliran air terjun itu, meski warna airnya tidak lagi bening, namun tetap saja keindahannya terjaga. Derasnya air kecoklatan yang mengalir membuatku semakin ingin melihat semua ini bersama Refald. Meskipun itu hanya untuk sesaat, aku ingin sekali melihatnya, menatap wajahnya yang penuh dengan cinta saat menatapku. Aku ... ingin sekali melihat Refald untuk yang terakhir kali.


Tubuhku terus melayang turun tanpa ampun, mataku terpejam dan air mataku semakin deras keluar. Aku sadar bahwa keinginan terakhirku sebelum kematianku tidak akan pernah terwujud. Aku terjatuh memasuki semak-semak dan menerjang ranting-ranting pohon yang tumbuh lebat di sekitar area tebing. Ada banyak luka sabetan diwajahku akibat menerjang ranting-ranting pohon tersebut dan Braaaakkk!


Punggungku menghantam sebuah benda dengan sangat keras, dan aku langsung tahu benda apa yang menghantam punggungku. Tubuhku terayun-ayun di atas sebuah dahan pohon, kakiku terjepit diantara ranting-ranting pohon yang tumbuh tidak beraturan. Aku mengerang kesakitan.


“Auwww! Sakit sekali.” Aku mencoba bangun tapi aku kesulitan bergerak.


Tulang punggungku seakan patah akibat hantaman keras tadi. Untungnya, aku tidak kehilangan kesadaran. Aku masih bisa mengamati sekitarku yang kini penuh dengan pepohonan. Aku masuk kedalam rimbunan pohon yang tumbuh di sisi jurang. Pohonnya tidak berukuran besar tapi mungkin kuat menahan tubuhku sedikit lebih lama sebelum aku benar-benar jatuh ke dalam jurang.


Yang menjadi pertanyaan adalah, berapa lama aku bisa bertahan sampai bantuan datang, apa Refald bisa datang tepat waktu? Apa aku masih bisa terselamatkan? Ah bukan ... apakah aku bisa melihatnya sebelum aku benar-benar akan pergi dari dunia ini untuk selamanya?


“Sepertinya kematianku akan sedikit tertunda kalau caranya begini,” Ggumamku dalam hati.


“Feyyyyy ....!” teriak Yua dari atas sambil menangis tersedu-sedu. Suaranya terdengar menggema di sekitar area tebing yang menjulang tinggi. “Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini, Fey! Feeeeeyyyy!” teriak Yua semakin kencang.


Suaranya terdengar semakin serak karena terlalu banyak menangis. Samar-samar, aku bisa melihat Yua memukul-mukul tangannya di atas tebing. Sepertinya ia merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkanku.


Aku rasa aku belum jatuh terlalu dalam, meski tertutup rimbunan ranting-ranting dan dedaunan pohon, aku masih bisa melihat Yua dari kejauhan dan apa yang ia lakukan meski tidak terlalu jelas. Aku benar-benar ketakutan karena mengira akan mati akibat terjatuh dari tebing ini.


“Berhenti menangis Yua ... kau berisik sekali!” teriakku dengan menahan rasa sakit yang amat sangat karena punggungku yang menghantam dahan pohon dengan kencang akibat terjatuh dari atas.


Seketika Yua lagsung berhenti menangis dan mencari sumber suaraku berasal. Dia bergegas mengamati area tebing dan melengokku. “Fey! Kau kah itu?” teriaknya dengan lantang. “Kau masih hidup? Benarkah itu kau?” suara Yua terdengar gemetar, dia masih mencari-cari keberadaanku.


“Apa maksudmu itu? Kau berharap aku mati?”


“Aku tidak percaya kau masih hidup! Aku sangat senang! Bagaimana keadaanmu di sana? Apa kau baik-baik saja? Apa kau ada disemak-semak itu? goyangkan rantingnya supaya aku tahu di mana posisimu?” Yua berteriak lagi dan tidak menghiraukan pertanyaanku. Sepertinya ia memang terlalu khawatir padaku.


“Iya, tapi ini bukan semak-semak. Ini adalah hamparan pohon yang tumbuh di sekitar area tebing. Sepertinya punggungku patah, aku tersangkut di dahan kayu besar, tapi aku rasa ini tidak akan bertahan lama, kakiku terjepit dan aku tidak bisa bergerak. Jika sampai dahan ini patah, maka habislah aku!”


“Jangan bergerak kalau begitu! Aku akan segera cari bantuan!” teriak Yua dengan perasaan cemas.


“Yua! Tunggu, bagaimana dengan Epank?”

__ADS_1


“Apa kau tidak waras, ha? Di saat seperti itu kau masih menanyakan keadaan orang lain?”


“Kau juga sama, bodoh! Tak sadar diri!” gerutuku.


Baru saja dia menangisiku dan sekarang malah mengataiku tidak waras! Dasar gadis tengik!


“Dia masih belum sadar, tapi dia baik-baik saja. Yang harus kau cemaskan adalah dirimu. Bukan orang lain!”


“Simpan kata-katamu itu untukmu! Kau jauh lebih parah dariku!”


“Baiklah! Jangan banyak bicara, aku akan turun dan segera cari bantuan untukmu.”


“Jangan lama-lama! Karena aku sungguh tidak kuat lagi!”


“Kau harus kuat sampai aku datang, oke! Syukurlah aku tidak jadi kehilanganmu. Jika sampai itu terjadi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri,” ucap Yua sambil berlalu pergi.


Kata-kata Yua membuatku tertegun. Sejauh itukah Yua menyayangiku? Sampai ia tidak bisa memaafkan dirinya jika kehilanganku Aku sungguh terharu.


Aku tidak pernah menyangka Yua akan mengatakan kalimat menyentuh seperti itu disaat aku berencana meninggalkannya untuk kembali ke Jepang seandainya aku tidak terjatuh dari tebing ini.


Bagaimana jika Nura, Mia dan Yua tahu kalau waktuku bersama mereka hanya tinggal setahun lagi? Itupun jika aku selamat dari sini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka pikirkan jika tahu rencanaku itu. Bahkan Nura dan Mia juga tidak tahu kalau sekarang aku sedang berada diambang kematian. Semoga saja Yua tepat waktu mencari bantuan.


“Lalu Refald? Apa yang sedang dia lakukan sekarang?” aku bertanya pada diriku sendiri. “Apa dia tahu kalau aku ada di sini? Apa ia akan datang menyelamatkanku seperti yang selalu ia ucapkan jika aku dalam bahaya? Atau itu hanya omong kosong belaka?” aku mulai berperang dengan kepanikanku sendiri.


Aku menekan nomor telepon Refald dan berusaha menghubunginya untuk segera menyelamatkanku. Sayangnya, signal di ponsel ini tidak ada sehingga panggilanku tidak tersahut.


“Haaahhh ... sial! Kenapa tidak ada signal, sih?” aku tidak tahu berapa lama lagi dahan pohon ini bisa menahan beban tubuhku. Aku berusaha tenang dan tidak panik agar dahan pohon ini tetap seimbang.


Di sisi lain, sebenarnya aku menikmati kesialanku. Pemandangan di sini sangat menakjubkan. Suara derasnya air terjun membuat hatiku tenang, air yang tadinya berwarna kecoklatan sudah berubah menjadi jernih menambah indahnya panorama air terjun yang aku saksikan secara langsung dengan jarak terdekat di tempat yang ektrem dan berbahaya.


Saat sedang asyik menikmati detik-detik terakhir hidupku, samar-samar aku mendengar suara orang sedang mengobrol.


“Di mana dia?”itu suara seorang laki-laki dan aku kenal suara itu.


“Ada di bawah!”yang itu suara Yua.


“Apa? Apa yang dia lakukan di bawah?"


“Aku tidak tahu!”seru Yua terdengar ketus.


“Apa maksudmu kau tidak tahu?”

__ADS_1


“Jika aku tahu aku tidak akan mencari bantuan! Mungkin saja saat ini ia sedang berjuang antara hidup dan mati.”


Suara laki-laki yang bicara dengan Yua sangat familiar ditelingaku, aku yakin aku tidak salah dengar. Itu adalah suara Refald. Tidak bisa dipungkiri kalau Aku langsung senang bisa mendengar suara Refald lagi, aku tidak percaya dia bisa menemukanku secepat ini. Refald memang luar biasa. Sepertinya Tuhan masih menyayangiku sehingga mengirimkan Refald untukku.


“Refald!” teriakku. Senyum mengembang memancar diwajahku. “Berhentilah berdebat dengan Yua dan cepat tolong aku!”


Tanpa pikir panjang Refald langsung menuju ke bibir jurang dan mencari sumber suaraku.


“Fey!” Refald ikutan berteriak. “Kau bisa dengar aku?”


“Iya!” balasku berteriak. “Aku bisa mendengar suara kalian dengan sangat jelas. Cepat tolong aku! Sepertinya dahan pohon ini tidak bisa menyangga tubuhku lebih lama lagi!”


“Baik! Tunggu aku dan jangan panik. Aku ada di sini ....”


“Aku tahu! Tidak usah diteruskan.” Aku memotong kata-kata Refald karena aku sudah tahu lanjutan kalimatnya.


“Oke! Tunggu sebentar, Honey!”


Aku tidak tahu apa yang Refald lakukan di atas sana. Dahan yang menyangga tubuhku mulai retak dan aku yakin beberapa detik lagi, dahan ini akan patah dan jatuh bersamaan denganku.


“Cepat Refald! Aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi!” teriakku sebelum dahan itu benar-benar patah.


“Oke!” teriaknya.


Aku mulai panik karena tubuhku mulai berayun turun perlahan-lahan.


“Yua ... jika terjadi sesuatu pada kami tetaplah pergi dan cari bantuan sesegera mungkin, bawa Epank pergi dari sini. Percayalah padaku! Aku akan menjaga Fey dengan baik, tidak akan kubiarkan sesuatu yang buruk menimpanya.”


Aku mendengar samar-samar ucapan Refald itu. Aku tidak mengerti apa maksud dari ucapannya pada Yua.


“Apakah maksudnya kita berdua akan mati bersama? Dasar Refald bodoh!” aku menggumam kesal mencoba mencerna maksud pesan terakhir yang disampaikan Refald pada Yua.


Kreeekkk ...


Terdengar bunyi dahan yang sudah mulai melepaskan diri dari batang pohonnya. Aku semakin tegang dan juga takut.


Gawattt ... bagaimana kalau aku jatuh sebelum Refald bisa menyelamatkanku.


“Refald!” teriakku bersamaan dengan jatuhnya dahan yang sudah mulai patah. Tubuhku langsung ikut terjatuh bersamaan dengan patahnya dahan yang menyangga tubuhku.


Sudah tidak sempat! Aku tidak akan bisa terselamatkan lagi ... tapi aku tidak menyesal, setidaknya di detik-detik terakhir hidupku, aku masih bisa mendengar suara Refald meski aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Maafkan aku semuanya ... sepertinya aku harus lebih dulu pergi meninggalkan kalian semua untuk menyusul ibuku.

__ADS_1


****


__ADS_2