Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 90 Ulah Refald


__ADS_3

Aku langsung bergabung dengan teman-temanku saat semuanya sedang melakukan pemanasan setelah berhasil lepas dari Refald. Memang agak canggung saat semua teman-temanku menatapku dengan wajah sinis mereka. Tapi aku udah cuek is the best saja, yang penting aku tidak menggangu ketenangan hidup orang lain.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Yua saat aku berdiri disampingnya sambil mengikuti gerakan pemanasan yang pak guru instruksikan pada kami. Hanya dia yang bersikap biasa-biasa saja padaku.


“Dia mau memberikan kejutan untukku,”jawabku hati-hati karena aku tahu yang lain sedang mencuri dengar pembicaraan kami sebagai bahan gosip mereka nanti.


“Oh, iya? Apaan?” Yua langsung penasaran.


“Aku tidak tahu, kalau aku tahu, namanya bukan kejutan, oneng!” aku keki juga dengan Yua, mana ada kejutan itu diberitahukan lebih dulu.


“Oh iya, kau benar.” Yua meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti gerakan guru olahraga kami.


Saat sedang asyik mengikuti gerakan pemanasan, tiba-tiba saja sebuah bola kasti kecil berwarna hijau terlempar dan mendarat keras mengenai lenganku. Saking kerasnya, aku langsung oleng karena pada saat yang bersamaan, aku sedang mengangkat salah satu kakiku untuk gerakan pemanasan. Aku jatuh menimpa tubuh Yua, dan Yua pun jatuh menimpa tubuh temanku yang ada di sebelah Yua, begitu juga seterusnya sampai mengenai siswa yang berdiri paling akhir. Alhasil, semua siswa yang satu baris denganku jatuh semua.


“Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa tiduran massal?” bentak guru olah raga kami saat tahu kami semua sedang duduk dan merintih kesakitan.


“Fey yang mulai, Pak!” teriak Rico menyalahkanku karena dia yang berdiri paling pojok.


“Ada yang melempari lengan saya dengan bola kasti, Pak. Makanya saya jadi kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa mereka!” aku mencoba membela diriku.


“Kau itu anak pecinta alam, Fey! Tidak masuk akal kalau hanya karena satu bola kasti saja kau bisa jatuh dan membuat keributan!” bentak guru olahraga itu padaku.


Aduh, kenapa hari ini aku sial banget, sih? Rutukku dalam hati. Padahal kejadian ini bukan kesalahanku tapi tetap saja aku yang disalahkan.


Aku benar-benar badmood sekarang, karena guru olahragaku memarahiku, padahal jelas-jelas semua yang menimpa teman-temanku bukan murni kesalahanku. Bukannya mencari anak yang melempar bola kasti kearahku, tetapi guru itu malah terus saja menyalahkanku.


Saat selesai mengomeliku, tiba-tiba saja sebuah bola basket melesat jauh melewatiku dengan kecepatan tak terhingga dan menghantam seseorang yang berdiri tidak jauh dariku.

__ADS_1


Bola itu tepat sasaran mengenai wajah seorang wanita sehingga cewek itu terpental ke belakang. Wanita itu pingsan dengan darah mengucur keluar dari hidungnya akibat hantaman keras bola basket tadi. Aku menoleh dari mana bola basket itu berasal dan aku melihat Refald sedang berdiri tegak sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.


“Refald!” gumamku.



Refald hanya tersenyum manis padaku dan dia melanjutkan kembali bermain bola basket tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sedangkan semua orang termasuk pak guru itu, heboh dan langsung membawa gadis yang pingsan itu ke ruang UKS.


“Apa yang terjadi?” tanya Yua yang agak sedikit pincang karena terjatuh tadi.


Aku hanya diam tanpa bisa menjawab karena aku yakin, yang melempar bola basket ke arah wanita pingsan tadi adalah Refald. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Refald melempari kakak kelas dengan bola basket sampai seperti itu?


Aku terlalu sibuk berkutik dengan pikiranku sendiri sampai tidak sadar ada sebuah tangan yang meraih tanganku dan memeriksa luka lecet di sikuku akibat terjatuh tadi. Aku kira pemilik tangan itu adalah tangan Yua tapi ternyata bukan.


“Apa terasa sakit?” tanya Refald yang sudah berdiri di depanku. Pemilik tangan yang meraihku adalah Refald, sedangkan Yua, entah pergi kemana dia.


Aku menggeleng pelan, “Tidak, ini hanya luka ringan, tidak masalah buatku.” Aku mencoba menarik lenganku karena kami sudah mulai jadi bahan gunjingan siswa-siswa sekitar. Namun Refald tetap menahan lenganku dengan kuat.


“Tapi, kami masih olahraga! Bagaimana kalau Pak Dika datang kembali dan aku tidak ada di sana? Dia pasti akan menghukumku!” aku protes pada Refald yang terus saja membawaku menjauh dari lapangan.


“Guru mesum itu tidak akan datang kembali ke lapangan. Kau jam kosong sekarang.” Pandangan mata Refald tetap lurus ke depan tanpa peduli ada banyak sekali siswi-siswi yang memerhatikan kami. Lebih tepatnya, mereka semua iri padaku karena Refald terus saja menggandeng tanganku. Sudah bisa dipastikan jika seandainya aku lepas dari pengawasan Refald, pasti mereka semua akan membunuhku dengan berbagai macam cara. Menjadi pacar seorang Refald memanglah tidak mudah, bahaya di sekitar selalu mengintaiku.


“Tunggu! Aku tidak mengerti apa maksudmu! Dan juga ... pasti kau kan yang sengaja melempar bola basket itu ke kakak kelas, tadi?”


“Ehm.” Refald menyunggingkan senyum sinisnya. “Karena dia sudah membuatmu terluka dan kena marah guru mesum itu. Huh, selain itu ada fakta mengejutkan yang cepat atau lambat, bakal menjadi heboh di sekolah ini jika semua orang sampai tahu skandal gelap tentang hubungan mereka.”


Aku berusaha mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Refald, ia sudah mirip dengan Roy Kyoshi, selalu penuh misteri dan teka teki. “Aku sama sekali tidak mengerti apapun yang kau katakan,” sindirku.

__ADS_1


“Lupakan saja, itu bukan urusan kita!” Refald membawaku ke tempat sepi dan mengobati lukaku agar tidak terasa perih lagi.


“Jangan hilangkan bekas lukanya, biarkan mengering dengan sendirinya, itu akan lebih terlihat normal bagiku,” pintaku pada Refald saat ia menempelkan tangannya di sikuku.


“Tentu saja! Aku juga sudah tahu itu, lain kali, hati-hatilah di manapun kamu berada.”


“Aku sudah berhati-hati, tapi kaulah yang selalu membuatku sial dan berada dalam bahaya. Sejak pertama kali kau datang kemari dan melibatkan aku. Semua tatapan membunuh para kaum hawa sudah terpancar jelas dimata mereka. Hal-hal semacam ini pasti juga akan terus berlanjut sampai kita nanti lulus sekolah. Kau tahu kenapa? Karena kau terlalu keren untukku. Mereka pasti merasa bahwa aku tidak pantas untukmu. Karena itulah, mereka terus berusaha mencelakaiku disetiap kesempatan yang ada.”


Refald mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil berkata, “ Berhenti bicara omong kosong atau ku cium kau sekarang juga supaya kita langsung dinikahkan oleh pihak sekolah!”


Aku langsung diam menatap Refald karna gugup juga kalau cowok itu mendekatkan wajahnya padaku.


“Tidak ada satu wanitapun di dunia yang cocok menjadi pendampingku selain dirimu. Karena kau adalah wanita terpilih yang ditakdirkan untukku. Kau akan tahu sebentar lagi, dan kita juga harus berisap-siap ... akan ada bahaya sebenarnya yang akan segera mengintai kita, tapi kau tidak perlu khawatir, karena aku akan selalu melindungimu,” Refald menciumku lembut dan mengajakku kembali ke kelas sebelum kami ketahuan oleh penghuni sekolah lainnya.


Apa maksud Refald dengan bahaya sebenarnya? Mungkinkah kami akan menghadapi hal-hal yang mengerikan lagi seperti di hutan waktu itu? Kenapa aku jadi khawatir sekali?


“Jangan khawatir,” ucap Refald. Aku lupa kalau dia juga bisa membaca pikiranku. “Aku memang tidak bisa mengubah takdir yang sudah digariskan untuk kita berdua, tapi aku selalu bisa melindungi segala hal apapun yang membahayakan nyawamu, karena takdir kita adalah untuk bersama-sama selamanya tak peduli seberapa keras badai menghantam kita. Percayalah padaku, oke.” Kami sudah sampai di depan kelas saat Refald menatapku dengan penuh cinta. Siapa yang nggak meleleh coba? Kalau Refald bersikap begitu cool seperti ini. “Masuklah ke dalam, sebentar lagi teman-temanmu akan datang kemari. Kamu mau makan apa? Akan aku pesankan untukmu!”


“Camilan saja, dan juga juz jeruk. Sepertinya itu enak.” Aku tersenyum manja di depan Refald.


“Baiklah, tunggu di sini! Oh iya, pulang sekolah nanti, kau harus ikut denganku!”


“Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana? Tidakkah kau memberitahuku sekarang? Jangan membuatku mati penasaran, please!” aku mengedip-ngedipkan mataku untuk merayu Refald.


“Ke pesta pernikahan,” jawab Refald sambil berlalu pergi meninggalkan aku yang terkejut.


__ADS_1


“Ha? Pesta pernikahan? Siapa yang menikah?” tanyaku pada diriku sendiri karena Refald sudah menghilang dari hadapanku.


***


__ADS_2