
Refald kembali menggendong Fey dan berlari kencang menuju ke suatu tempat. Sudah lama juga, Fey tak digendong Refald seperti ini. Suasana hati Refald sepertinya terlihat baik. Wajah dan perasaanya juga sangat berbeda. Hari ini, suami Fey itu lebih banyak tertawa dibandingkan dengan hari sebelumnya. Mungkin Refald sudah bisa menerima semua yang terjadi kemarin karena itulah ia terlihat lebih ceria hari ini.
“Senang bisa melihatmu tertawa lagi, Sayang. Aku merindukan wajah tampan itu.” Fey menatap lembut wajah suaminya sambil memeluk erat leher Refald.
Seketika Refald berhenti bergerak dan keduanya melayang diudara. Ia memejamkan matanya sambil menggigit kecil bibir bawahnya.
“Kita menikah sekarang,” ujar Refald setelah membuka mata.
“Hah?” Fey terkejut karena Refald tiba-tiba saja bicara seperti itu.
“Ayo!” ajak Refald dan keduanya pun kembali berlari kencang. Tentu saja Fey masih tetap berada digendongan Refald dengan wajah shock tak terkira setelah mendengar Refald bicara seperti itu.
“Tunggu! Bukankah kau ingin mengajakku ke suatu tempat supaya rasa gugupku hilang? Apa kau lupa?”
“Tadinya sih begitu, tapi mendengar rayuan mautmu tadi, semakin membuatku ingin cepat menikahimu saat ini juga. Kita akan cari penghulu yang bersedia menikahkan kita sekarang.”
Deg!
Jantung Fey jadi semakin keras berdetak serasa mau copot. Bagaimana bisa Refald langsung berubah pikiran lagi. Menikah sekarang, itu jelas tidak mungkin, tetapi bagi Refald tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kecuali kalau dia sedang bercanda.
“Refald jangan melucu! Kau pikir pernikahan kita ini permainan apa?”
“Siapa yang main-main, Honey. Kita tidak perlu resepsi, yang penting sah dulu dimata agama, soal hukum bisa menyusul, toh berkas-berkas kita sebenarnya juga sudah siap, tidak masalah, kan? Resepsi bisa kita lakukan nanti.” Refald menatap wajah istrinya dengan serius.
Entah Refald ini serius atau tidak dengan ucapannya, Fey sungguh tidak tahu. Yang jelas Fey dan Refald tidak mungkin menikah sekarang.
Gawat! Aku sudah memancing hasrat singa, bagaimana ini? Masa iya kami menikah sekarang? Aku belum siap apa-apa? Aku tidak ingin menikah mendadak gini, Fey menjerit dalam hati. Berkali-kali ia menghela napas panjang.
Refald hanya tersenyum mendengar suara hati istrinya. “Kita sudah sampai.” Ia menurunkan Fey disebuah tempat di balik semak-semak belukar dipinggir sebuah jalan.
Namun, Fey sepertinya salah persepsi. Ia mengira Refald menurunkannya di pekarangan rumah seorang penghulu. Gadis itu sama sekali tidak mau menoleh ke belakang dan hanya menatap dada Refald.
“Refald, dengarkan aku. Bukannya aku tidak mau menikah denganmu, tapi aku belum siap. Maksudku, kita butuh banyak persiapan, ehm ... apa, ya ... pokoknya banyak. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini, aku hanya bahagia karena kau sudah kembali seperti Refaldku yang dulu. Ehm ... kita ....” Fey tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Refald langsung menciumnya.
__ADS_1
“Hari ini kau cerewet sekali, aku tahu pernikahan seperti apa yang kau inginkan. Kita menikah seumur hidup sekali, tidak mungkin aku memberimu hari bersejarah dalam hidup kita dengan cara biasa. Pernikahan kita nanti akan menjadi pernikahan terindah yang tidak akan pernah bisa kita lupakan sepanjang hidup kita, oke Honey.” Refald mencium kening Fey yang tertegun melihat wajah tampan suaminya.
Samar-samar ia mendengar suara keributan dibelakangnya dan ia tahu suara siapa itu. Buru-buru Fey menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya ia melihat ada Leo dan Shena yang sedang berdebat.
“Refald, itu kan ...”
“Shena baru saja menampar Leo.” Refald tertawa santai. “Ayo kita lihat hiburan yang menarik ini, daripada memikirkan pernikahan kita yang batal, itu membuatku kesal. ” Refald Merangkul bahu Fey sambil mengamati apa yang terjadi pada Leo dan Shena. Yang dikatakan Refald benar, rasa gugup Fey dan kecemasannya karena gurauan Refald pun langsung hilang setelah melihat Shena mengumpati Leo.
“Kau menghapus ingatan Shena? Ia terlihat sangat membenci Leo.” belum sempat Refald menjawab, mata Fey terbelalak saat Leo menjelaskan alasan Shena menamparnya pada sahabatnya, Roy. “Apa yang Leo katakan itu? ‘itunya’? Apa adikmu itu benar-benar sudah gila? Bagaimana bisa ia bicara seperti itu pada wanitanya sendiri? Kau yang mengajarinya?” tuduh Fey pada Refald. Ia tidak percaya adik iparnya bisa bersikap sebrengsek itu pada Shena.
“Honey, kau tahu sendiri ... Leo dijuluki gengster nggak ada akhlak, aku sudah tidak terkejut dia bicara seperti itu, dan bukan aku yang mengajarinya, ia begitu karena memang sudah jadi sifatnya. Sangat aneh kalau Leo bersikap sopan sepertiku.”
“Apa?” Fey tersenyum sinis. “Sepertimu? Kau sama saja dengan adikmu! Dasar gengster nggak ada akhlak!” Fey hendak pergi tapi lengannya dicekal oleh Refald.
“Kau mau ke mana, Honey?”
“Aku mau menghajar adikmu itu! Ini bukan Jerman, jadi ia tidak bisa samakan tempat ini dengan luar negeri. Huh, bisa-bisanya Leo berkata ‘itunya’ pada Shena. Mulutnya perlu kusumpal dengan kapas!” geram Fey, tapi Refald masih belum mau melepaskan cekalannya.
“Pertunjukannya belum selesai, Honey. Ini baru permulaan, sangat tidak seru kalau kau ikut campur urusan mereka sekarang. Ayo ikut aku kesuatu tempat lagi. Aku akan beraksi di sana!” Tanpa permisi Refald menggendong tubuh Fey lagi dan pergi ke tempat yang entah ada apalagi di sana.
****
Kembali ke saat Laura diseret seseorang kesuatu tempat sambil mulutnya dibekap tanpa sepengetahuan Shena yang terus saja nyelonong pergi entah kemana. Orang yang membawa Laura tidak lain adalah Roy sendiri. Ia bermaksud ingin memberikan ruang pada Leo dan Shena untuk berbicara berdua. Karena itu, Roy terpaksa menyingkirkan Laura supaya tidak mengganggu keduanya.
“Apa yang kau lakukan?” bentak Laura setelah Roy melepaskan bekapannya.
“Harusnya aku yang bertanya? Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang, jangan dekati Leo! Lihatlah sekarang!” Roy menyalahkan Laura atas insiden yang mengakibatkan Leo harus ditampar Shena.
“Sebenarnya, apa yang kalian sembunyikan? Kenapa Shena tidak ingat apa-apa?”
Roy tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Laura. Ia sudah janji pada Leo untuk merahasiakan semuanya dari siapapun termasuk pada Laura. “Sebaiknya, kita kembali saja ke camp, sebentar lagi kita harus kembali ke kampus.”
“Bagaimana dengan Shena? Aku harus memberitahunya. Atau jangan-jangan ....”
“Apa?” sela Roy.
__ADS_1
“Kau sengaja membawaku kemari supaya Leo bisa bersama dengan Shena, kan?” Laura hendak pergi mencari Shena tetapi langkahnya langsung dihadang oleh Roy.
“Minggir!” cetus Laura.
“Jangan ikut campur urusan mereka.” Roy menatap tajam mata Laura.
“Kau tidak tahu? Setiap kali Shena dan Leo bersama, pasti mereka berdua kembali ke camp kita dengan keadaan Shena pingsan digendongan Leo! Kali ini aku harus tahu kenapa buaya darat itu bisa membuat sohibku pingsan!”
“Itu hanya kebetulan?” Roy menjawab dengan santai sambil menoleh ke segala arah. Ia seakan menyembunyikan tawanya dari Laura.
“Bagaimana bisa kebetulan terjadi berulang-ulang? Kau ingin aku percaya hal semacam itu?”
“Yaah ... namanya juga takdir? Siapa yang tahu?”
“Oke! Kita lihat saja, apakah setelah ini Leo dan Shena kembali dalam keadaan pingsan digendongan Leo apa tidak!”
“Memangnya kenapa kalau mereka mengalami kejadian yang sama berulang-ulang? Bukankah berarti mereka, jodoh? Kau tidak tahu, ya? Jika takdir mempertemukan sepasang sejoli dalam kejadian yang sama, itu artinya mereka berjodoh.”
Laura langsung bungkam tak bisa berkata-kata. Apa yang diucapkan Roy ada benarnya juga. Bisa saja Leo dan Shena memang berjodoh. Entah itu benar apa tidak hanya yang diataslah yang tahu.
“Lalu ... bagaimana dengan kita?” tanya Laura lirih.
“Memangnya kenapa dengan kita?” Roy malah balik bertanya.
“Ah, sudahlah! Lupakan, saja.” Laura nyelonong pergi meninggalkan Roy dengan raut wajah heran. "Dasar tidak peka!” gumam Laura dengan kesal.
“Dasar cewek aneh? Masa iya aku harus menerima misi itu dari Leo, tapi menarik juga, sih. Cewek itu juga lumayan cantik.” Roy menatap kepergian Laura dari belakang.
BERSAMBUNG
***
Nanti aku sambung lagi satu episode. Ditunggu ya .... love you all
__ADS_1