
Mbak Kun datang menemui Fey dan Refald yang kini berada di pusat kota. Awalnya, Fey terkejut karena mbak Kun tiba-tiba saja datang padahal baik Refald ataupun dirinya tidak memanggilnya kemari. Melihat ekspresi sosok makhluk astral itu, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan.
“Apa yang membawamu kemari, mbak Kun?” tanya Refald dan Fey bersamaan saat mbak Kun muncul dihadapan keduanya.
“Kenapa anda berdua tidak memberitahu? Kalau pangeran sedang bersama dengan Rhea?” tanya mbak Kun tanpa basa-basi.
“Kenapa kami harus memberitahumu? Sudah saatnya mereka memang bersama. Apa ada masalah?” Fey malah balik bertanya.
“Bukan begitu, Putri. Hampir saja saya melakukan kesalahan besar.” Mbak Kun menceritakan kronologi kejadian sewaktu dia berada di goa, tempat dimana Rhea dan Rey kini berada.
Fey langsung tertawa mendengar kisah singkat salah satu pasukan dedemitnya ini, tapi Refald hanya tersenyum simpul saja.
“Rhea masih tidak tahu bahwa laki-laki yang ia selamatkan adalah suaminya sendiri? Bagaimana reaksinya kalau sampai ia tahu?” Fey masih terus tertawa membayangkan betapa lucunya Rhea saat ini. “Kau jangan khawatir mbak Kun, Rey masih belum bisa melihat kalian, kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu.” Fey sudah berhenti tertawa.
“Tidak Putri, pangeran ... sudah bisa melihat kami.” Mbak Kun menatap serius wajah Fey.
“Apa?” Fey terkejut antara percaya dan tidak percaya. “Bagaimana bisa? Jangan-jangan dia ...”
“Pangeran jatuh cinta pada pandangan pertama, Putri. Menurutnya, Rhea adalah gadis yang unik dan menarik. Ditambah lagi, dia bloon banget sampai calon suaminya sendiri tidak tahu, dan yang lebih parah, gadis tengik itu terus saja mengatai suaminya yang bukan-bukan. Tapi anehnya, hal itu tak membuat pangeran marah. Sebaliknya, pangeran malah terlihat bersenang-senang. Rasa yang dimiliki pangeran saat ini, membuatnya bisa melihat kami sekarang,” jelas mbak Kun.
“Bagaimana kau bisa seyakin itu? Apa dia mengatakan sesuatu padamu?” tanya Fey.
“Pangeran tidak bicara apa-apa, tapi tatapan matanya saat melihat saya menandakan bahwa pangeran bisa melihat kami. Saya tidak tahu mengapa pangeran tidak mau mengakuinya.”
“Oh,” ujar Fey sambil manggut-manggut.
“Hanya ‘oh’?” mbak Kun heran, Fey terlihat tenang-tenang saja, sedangkan Refald sejak tadi hanya menyimak sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Ada banyak hal yang sedang Refald pikirkan saat ini. ia tak terihat bahagia, tapi juga tak terlihat sedih. Ekspresinya datar-datar saja.
“Ini menarik mbak Kun. Rey pasti punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau mengakuinya. Biarkan saja dia melakukan apapun yang disukainya. Yang terpenting sekarang, segera siapkan pernikahan. Mereka berdua, akan menikah besok, panggil pak Po dan Di segera pulang kemari untuk menghadiri acara pernikahan putrinya,” ujar Fey sehingga membuat mbak Kun tercengang begitu juga dengan Refald.
“Honey, apa ini tidak terlalu cepat?” Refald agak kurang setuju dengan keputusan yang diambil istrinya. Lebih tepatnya, ia masih belum percaya kalau putra semata wayangnya bakal menikah besok.
“Refald, tidakkah kau sudah memahami situasi? Selendang itu, tidak bisa lepas kecuali kalau mereka berdua menikah. Kita tidak bisa menundanya lagi, lebih cepat lebih baik.”
“Tapi Honey,”
“Kau tahu apa akibatnya jika kita terus membiarkan selendang itu melekat di lengan Rey, Refald.” Fey memotong kata-kata suaminya dengan cepat. “Kalau tidak segera menikahkan mereka berdua, kau dan aku ... tidak akan pernah bisa membantu Rey melepaskan selendang itu selamanya.”
Mata Fey menatap tajam suaminya. Ia sangat mengerti bagaimana parasaan Refald saat ini, meski suaminya itu tidak memberitahunya. Namun, apa yang terjadi pada Rey adalah takdir yang harus terjadi. Sekuat apapun Refald, ia tidak akan bisa menentang takdir yang sudah digariskan ini. Refald sendiri masih bergelut dengan hati dan pikirannya. Fey sama sekali tidak mengerti apa yang bakal terjadi setelah ini. Namun Refald sedang tidak ingin berdebat dengan Fey. Jadi ia memutuskan menyetujui apapun yang Fey katakan.
“Lakukan apa yang dikatakan istriku, mbak Kun. Malam ini, harus selesai dan siap semuanya,” ujar Refald lirih. Ia pun pergi kaluar ruangan tanpa bicara apa-apa lagi.
Mbak Kun jadi bingung sendiri melihat sikap Refald yang aneh itu. “Putri, apa ....”
“Biarkan Refald sendiri dulu mbak Kun. Ia perlu menyiapkan diri untuk melakukan ritual pernikahan putra kesayangannya yang begitu mendadak ini. Kenapa aku jadi teringat dengan pernikahanku dengan Refald dulu, ya? Tidak kusangka putraku bakal mengalami hal serupa. Semuanya juga terjadi begitu cepat.” Fey bergumam pada dirinya sendiri, sedangkan mbak Kun tidak berani bereaksi. “Pergilah, dan jangan lupa beritahu semuanya supaya menghadiri pernikahan putraku.”
“Baik, Putri. Permisi.” mbak Kun pun menghilang dari pandangan Fey dan melakukan semua yang dikatakan raja dan ratunya.
***
__ADS_1
“Ada apa denganmu, Refald? Apa yang terjadi? Katakan padaku. Sejak kau menjadi raja, aku tidak bisa membaca pikiranmu lagi. Kau sangat kuat sekarang.” Fey memeluk tubuh suaminya dari belakang.
Keduanya ada di sebuah balkon lantai teratas gedung perkantoran milik Refald sendiri. Di atap gedung ini, Refald juga membangun sebuah rumah singgah berukuran minimalis dengan bangunan modern dan tercanggih di abad 21 yang bisa ia gunakan bersantai dengan Fey bila ia jenuh dengan pekerjaannya dikantor.
Refald menggenggam erat tangan Fey dan melepasnya pelan, ia berbalik badan dan langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat. Terlalu erat seolah enggan melepas pelukannya.
“Aku tidak bisa menjelaskan padamu sekarang, Honey. Yang jelas mulai detik ini ... kau tidak boleh jauh-jauh dariku, kau harus selalu bersamaku apapun yang terjadi. bahkan bila perlu, ke toiletpun, kita juga harus selalu bersama-sama.”
“Kau ini bicara apa? Bagaimana bisa kita ke toilet bersama?” Fey merasa aneh tiba-tiba saja Refald berkata seperti itu.
“Kita sering mandi bersama Honey, tidak masalah kan?” Refald mengeratkan lagi pelukannya.
“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Refald. Sebenarnya ada apa? Apa ... akan ada hal buruk terjadi? Jika benar, bukankah kita bisa melaluinya bersama?”
“Pokoknya kau harus terus bersamaku mulai sekarang. Jangan pernah sedetikpun kau meninggalkanku. Apapun yang terjadi nanti, kita harus terus bersama-sama. Kau mengerti?” Refald menatap wajah Fey.
“Tidak!” jawab Fey cepat.
Refald langsung mencium mesra bibir Fey dengan erat. “Katakan sekali lagi,” pinta Refald mencurigakan.
“Oke aku mengerti. Kau ini benar-benar curang. Kau juga sama sekali tidak berubah. Trik mu ini benar-benar menyebalkan.”
“Aku tidak akan pernah berubah Honey. Baik dulu ataupun sekarang, aku tetap milikmu seorang.”
“Bukan itu maksudku, hah sudahlah aku ngantuk. Aku mau isirahat. Besok adalah hari penting bagi kita.” Fey melepas pelukan suaminya dan berjalan pergi menuju rumah singgah minimalis buatan suaminya sendiri, tapi dengan cepat Refald mengangkat tubuh Fey masuk ke dalam rumah lalu keduanya melakukan ritual yang biasa mereka lakukan sebelum tidur.
***
“Kenapa kita datang kemari?” tanya Rey memerhatikan sekeliling. Rupanya tempat ini letaknya tidak jauh dari goa tempat tinggal Rhea.
“Ayah dan ibuku bilang, tempat ini menyimpan banyak kenangan indah raja dan ratu. Tapi aku tidak tahu kenangan seperti apa yang dimaksud,” terang Rhea.
Gadis itu sedang menunggu Fey. Entah kenapa yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang juga. Padahal mbak Kun bilang Fey dan Refald akan menemui Rhea disini, di tempat dan jam sama seperti yang biasa mereka lakukan saat janjian.
“Apa kau sering bertemu dengan mereka disini?” Rey ingin tahu seberapa dekat ibunya dan calon menantunya ini.
“Tidak juga, akhir-akhir ini saja ratu sering datang mengujungiku. Raja dan ratu baru datang kembali dari Swiss, dan ratu langsung menemuiku sebulan yang lalu, sebab aku sedang terluka saat itu dan ratu membantu menyembuhkan lukaku.”
“Kau terluka? Kenapa? Bagian mana yang terluka?”entah Rey sadar atau tidak, nada suaranya terdengar seolah mencamaskan keadaan Rhea.
“Aku tidak bisa memberitahumu,” jawab Rhea cepat.
“Kenapa?” Rey agak sedikit memaksa.
“Tentu saja karena kita ini tidak saling kenal? Kau ini aneh sekali. Dasar kepo!” Rhea manatap sinis wajah Rey.
Rey sendiri ingin terus mengorek informasi tentang Rhea dan memancing emosinya. Entah kenapa ia suka sekali melihat Rhea marah. Tapi sepertinya tidak mudah baginya untuk mengetahui semua hal tentang calon istrinya ini apalagi mereka baru saja bertemu.
Dari kejauhan, akhirnya Rey melihat kedua orangtuanya yang tidak lain adalah Fey dan Refald. Mereka berdua mendekat kearah Rey dan Rhea berdiri. Refald dan Fey bahkan tak segan-segan menunjukkan kekuatannya dengan bergerak cepat secepat kilat di depan gadis ini. Gadis cantik yang tidak lain adala calon istri Rey sendiri. Uniknya, Rhea sama sekali tidak terkejut dengan kekuatan yang ditunjukkan orang tua Rey padanya. Sebab, sejak awal ia memang sudah tahu seperti apaseluk beluk keluarga calon suaminya.
Rhea yang melihat kedatangan raja dan ratunya, langsung bersimpuh dihadapan Fey dan Refald. Sedangkan Rey hanya berdiri diam sambil terus tersenyum penuh makna menatap wajah datar ayahnya. Tanpa ada yang menduga, Rhea menarik paksa tangan Rey supaya ikut bersimpuh seperti dirinya.
__ADS_1
“Apa yang aku lakukan?” teriak Rey kaget karena tiba-tiba saja ia dipaksa berlutut. Seumur-umur, Rey tidak pernah berlutut dihadapan orang lain, tapi kini ia terpaksa melakukannya karena gadis yang baru saja ditemuinya sangat pemaksa.
“Diam dan ikuti saja aku! Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan sekarang!” bentak Rhea kesal tanpa ia tahu, kalau Fey sedang menyembunyikan tawanya di dada Refald. Rhea sendiri tidak tahu dengan siapa ia bersikap galak seperti itu.
Sungguh, sikap Rhea pada Rey, membuat putra Refald dan Fey itu semakin kesal juga. Bagaimana bisa ia dipaksa bersimpuh dihadapan kedua orang tuanya sendiri seolah ia adalah bawahan mereka sama seperti Rhea saat ini.
“Ada apa ini, Rhea? Kenapa kau minta kami bertemu denganmu? Dan kenapa kau membawa pria lain? Kau tahu sendiri seperti apa statusmu?” tanya Refald dengan ekspresi datar. Aktingnya yang pura-pura tak megenal putranya sendiri benar-benar luar biasa.
Wuah, daebak! Bisa-bisanya ia pura-pura tak mengenaliku, batin Rey.
“Maafkan saya atas kelancangan saya yang mulai Raja, ada hal genting yang harus saya sampaikan.”
“Katakan!” ujar Refald. Fey masih bersembunyi di dada suaminya sambil terus menahan tawa. Fey sengaja membelakangi Rhea dan putranya.
“Selendang pemberian ratu, tidak sengaja saya pinjamkan pada pria ini untuk membantu menghentikan pendarahannya. Saya baru tahu kalu selendang itu tidak bisa lagi dilepaskan dari lengannya. Tolong bantu kami melepaskan selendang itu yang mulia.” Rhea terus menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Refald ataupun Fey.
“Apa kau taku makna dibalik peberian selendang itu, Rhea?” tanya Refald.
“Ehm, saya tidak mengerti Yang mulia. Bagi saya, selendang pelangi itu juga berarti untuk saya.”
“Itu adalah persekot,” jawab Refald.
“Apa? Per- ... apa?” Rey dan Rhea sama-sama kompak bertanya karena jujur baru pertama kali ini keduanya mendengar istilah aneh itu.
“Kami menyebutnya ‘pengikat’, yang artinya ... kau sudah terikat dengan kami. Ada beberapa aturan mengenai persekot yang sudah kau buat dengan Fey, istriku. Diantaranya, bila kau mengembalikan selendang itu pada orang yang akan menikah dengamu, maka secara otomatis kau menerima pernikahan ini dan harus segera melangsungkan pernikahan,” terang Refald.
Mendengar penjelasan rajanya, Rhea merasa sedikit ada yang tidak benar disini. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk akan segera menimpanya. “Lalu ... bagaimana cara melepaskan selendang ini yang mulia?”
“Caranya cuma satu, kalian berdua harus menikah,” tandas Refald sambil menatap tajam mata Rey.
Rey masih bersimpuh dihadapan kedua orang tuanya sambil membalas tatapan mata ayahnya yang sedang berakting drama ikan terbang.
“Tidak mungkin ...” Rhea langsung shock, ia masih belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan Refald barusan. “Pasti ada cara untuk melepas selendang ini. Bagaiamana bisa saya harus menikah dengan pria asing ini, Yang mulia? Bagaimana dengan pangeran?” Rhea hampir menangis.
Pernyataan Refald, memiliki istilah kasar yang mengatakan bahwa ia tak bisa menikah dengan putranya lagi, melainkan harus dengan orang asing ini. Entah kenapa rasanya sesak banget mendengar kalimat seperti itu. Semua ini serasa mimpi di siang bolong bagi Rhea. Ia masih belum bisa terima kalau dirinya telah gagal menikah dengan pangeran yang menjadi impiannya.
Fey sudah mulai bisa mengontrol emosinya dan sudah tidak lagi tertawa. Sekarang, saatnya ia menunjukkan bakat aktingnya.
“Kau harus menikah dengannya, Rhea. Baru selendang itu bisa lepas. Jika kau tidak mau, maka nyawa pria yang ada disampingmu itu sedang dalam bahaya besar. Pernikahan kalian tidak dilaksanakan di dunia nyata, tapi di dunia lain yang akan aku bantu menyiapkannya. Istilah lainnya adalah, pernikahan ghaib,” terang Fey. Aktingnya tak kalah memukau dari Refald.
Rhea langsung lemas tak berdaya. Ia sudah tidak bisa lagi mengontrol rasa shocknya. “Benarkah saya tak bisa lagi menikah dengan pangeran, Putri?” tanya Rhea sekali lagi untuk meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi.
“Kau harus menikah dengan orang yang sudah kau ikat dengan selendang pemberianku. Kalian tidak punya banyak waktu, hari ini juga ... kalian harus menikah. Jika tidak, sama saja dengan kau membunuh pria yang ada disampingmu itu.” Fey menatap tajam mata Rhea yang masih menunduk sambil menangis.
Gadis itu terlalu shock dengan berita ini. Rasanya, ia tidak ingin memercayai apa yang dikatakan raja dan ratunya. Padahal ia sangat ingin menikah dengan pangeran yang sudah lama ia impikan meski keduanya belum pernah bertemu satu sama lain. Namun nyatanya, keinginan tersebut sudah tidak akan pernah terwujud sebab kini, hanya karena sebuah kebaikan yang ia lakukan untuk menolong pria asing yang tidak ia kenal, ternyata berujung petaka baginya. Mau tidak mau, suka atau tidak suka ... Rhea harus menikah dengan Rey.
BERSAMBUNG
****
Episode selanjutnya masuk masuk fantasi ya. ..
__ADS_1
Terimakasih atas semua dukungannya, lope youuuuuu