Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
Episode 250 Hadirnya Refald


__ADS_3

Keesokan paginya, Refald dan Fey menemui semua teman-teman Fey. Awalnya mereka senang mendengar kabar bahagia seputar kehamilan Fey, tapi mereka jadi sedih karena Fey dan Refald harus meninggalkan mereka lagi dan tinggal di Swiss. Yua dan Mia terlihat murung, meski sekarang mereka semua telah memiliki kehidupan baru bersama dengan pasangan mereka masing-masing, tetap saja Mia dan Yua merasa sangat kehilangan jika untuk kesekian kalinya, Fey harus pergi jauh meninggalkan mereka.


Namun, hal itu tidak berlaku untuk Nura, sebab ia dan Eric akan tetap bisa bertemu Refald dan Fey karena Eric punya proyek yang sama dengan Refald sehingga mereka pasti akan sering bertemu untuk mendiskusikan proyek yang mereka kerjakan bersama.


“Jangan sedih, kita masih bisa bertemu kembali, aku berencana akan melahirkan di rumah nenek. Aku ingin, anakku punya akte kelahiran sama seperti almarhum ibuku. Jika usia kehamilanku mencapai bulan ke 8, aku akan kembali pulang.” Fey berusaha menghibur kedua temannya yang sedang bersedih karena kepergiannya yang begitu mendadak.


“Tidak bisakah kau lebih lama tinggal disini? Kau baru saja kembali, kenapa harus pergi lagi?” tanya Yua.


“Refald sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya di Swiss, Yua. Sudah tugas dan kewajibannya menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda. Tidak mungkin juga ia meninggalkanku disini tanpanya. Aku harap kalian mengerti, kau bisa mengunjungiku disana, aku janji aku akan menjadi pemandu wisata kalian kalau kalian mau datang mengunjungiku di Swiss.”


“Sungguh?” Yua dan Mia berucap bersamaan, mereka saling pandang dan ekspresi wajah mereka yang tadinya sedih berubah senang.


“Ehm, sungguh. Jangan lupa datang di pesta resepsi pernikahan Nura dan Eric nanti. Siapa bilang kita berpisah, kita masih bisa bertemu lagi.”


“Tentu, aku baru sadar kalau si bodoh itu bisa leluasa bertemu denganmu, dia menikahi sahabat suamimu,” ujar Mia agak sedikit sewot.


“Dan kau menikahi sepupuku, Mia? Kalian berdua berada diposisi yang sama. Jangan saling iri begitu.”


“Apalah aku yang tidak ada kaitannya denganmu.” Ganti Yua yang jadi sewot.


“Ada.” Fey menjawab cepat, ia pun berjalan mendekat dan memberikan sebuah amplop pada Yua. Isi amplop itu adalah pesan yang ditulis langsung oleh Fey untuk Yua. “Jangan buka disini. Buka di rumah saja, oke.” Fey memeluk Yua dengan erat begitu juga dengan Mia dan Nura sebagai tanda salam perpisahan.


“Kami harus pergi sekarang, sampai jumpa lagi, aku pasti akan sangat merindukan kalian semua. Sambut aku dengan meriah jika nanti aku kembali. Kalian juga harus membuat pesta penyambutan kepulanganku, jangan lupa masak makanan kesukaanku Mia, kau pandai sekali memasak. Aku juga suka masakanmu Nura, kau harus membuat masakan yang enak untukku nanti. Dan kau Yua, siapkan semua hal yang aku suka, oke!”


“Kau ini mau pergi tapi masih sempat-sempatnya meminta ini dan itu? Dasar!” gerutu Mia.


“Harus itu! Karena aku ingin kalian semua mengingatku! Bye.” Fey melambaikan tangannya.


“Bye, kalian semua.” Refaldpun yang sejak tadi hanya diam menyimak obrolan emak-emak juga ikut melambaikan tangan pada semua sahabat istrinya.


“Jaga Fey untuk kami Refald, kalau sampai kau membuatnya menangis akan kupatahkan tangan dan kakimu!” ancam Mia.


“Kau tidak akan bisa melakukan itu pada Refald. Sebelum kau menyentuhnya, maka tangan dan kakimu duluanlah yang bakal patah.” Yua yang menjawab.


“Kalian semua tenang saja. Aku tida akan pernah membuat istriku menangis. Sebaliknya, aku akan membuatnya selalu bahagia bersamaku.”


“Kami percaya padamu. Selamat tinggal, jaga kesehatan kalian,” ujar Mia, Nura dan Yua bersamaan.


Mereka bertiga menatap haru kepergian sahabat tercinta mereka. Diantara mereka berempat hanya Feylah yang berbeda. Sejak dulu, gadis itu hanyalah gadis pendiam tapi menakutkan kalau sedang marah. Fey juga tidak akan membiarkan teman-temannya disakiti oleh orang lain. Meski begitu, mereka tidak bisa mengabaikan Fey begitu saja. Banyak hal yang sudah dilakukan Fey terhadap mereka semua tanpa pamrih apapun. Meski awalnya mereka tidak tahu siapa Fey sebenarnya, mereka percaya bahwa sosok Fey adalah gadis yang baik. Dan memang benar, ada banyak misteri dan rahasia yang ada dalam diri Fey yang baru mereka ketahui beberapa tahun lalu.


Begitu tahu siapa sosok Fey sebenarnya, mereka semua semakin menyayangi sahabat anehnya itu. Bagi teman-teman Fey, istri Refald itu adalah gadis yang kuat dan luar biasa serta tidak suka pandang bulu bila berteman. Wajar jika kini ia mendapatkan seorang pangeran tampan luar biasa seperti Refald. Ketiga teman Fey ini juga menjadi saksi hidup bagaimana kisah Refald dan Fey semasa mereka masih duduk di bangku sekolah sampai akhirnya mereka menikah.


“Mereka berdua adalah pasangan yang serasi,” ujar Yua melihat betapa perhatiannya Refald pada Fey saat membukakan pintu mobil untuk istrinya.


“Ehm, kau benar. Bahkan sampai detik ini aku sangat iri padanya, Fey bukanlah gadis biasa. Dia keturunan orang Jepang yang sekarang sudah menikah dengan bule Jerman berwajah Asia dan punya kekuatan super bernama Refald. Siapa sangka manusia biasa seperti kita adalah sahabat terdekatnya.” Mia pun menyampaikan pendapatnya.


“Itu karena kita juga sama luar biasanya dengan gadis tengik itu. Disaat semua gadis remaja sibuk berdandan dan mencari pacar, cuma kita berempat yang sibuk naik turun gunung dan menjelajahi hutan. Sejak dulu hingga sekarang, kita satu seperguruan walau Fey jauh lebih unggul dalam hal apapun dibandingkan dengan kita. Tapi kita semua tahu, bagi Fey ... kita adalah segalanya dalam hidupnya. Begitu pula Fey dihati kita. Kita adalah sahabat terhebatnya, benar kan?”


“Tumben otakmu encer, Nura. Sejak kau menjadi kekasih Eric otakmu sudah tidak senewen lagi.” Yua mulai berkomentar.


“Harus gitu dong, paling tidak, Fey tidak merasa malu memiliki sahabat sepertiku dihadapan Eric. Auhh ... sakit tahu? Kenapa kalian menjitakku?” protes Nura yang kepalanya langsung dijitak oleh kedua sahabatnya bersamaan.


“Itu artinya kami sayang padamu,” terang Yua diikuti anggukan setuju dari Mia.


“Mana ada orang sayang itu dijitak kepalanya?” Nura masih saja tidak terima.

__ADS_1


“Ada, khusus sayang kami padamu, harus melalui jitakan kepala seperti ini.” untuk kedua kalinya Yua dan Mia menjitak kepala Nura lagi.


“Sudah, hentikan! Akan kulaporkan pada Eric!” ancam Nura kesal.


“Laporkan saja! Pasti dia juga akan membantu kami menjitak kepalmu karena kami tahu, dia juga menyayangimu. Bahkan mungkin jitakannya jauh lebih keras dari kami, haha ...” ujar Mia diikuti tawa lepas Yua.


“Dasar sahabat laknat kalian!”


Ketiganyapun saling kejar-kejaran sambil tertawa lepas. Dalam hati, mereka akan terus seperti ini sambil menunggu kedatangan Fey kembali hadir ditengah-tengah mereka lagi.


***


“Apa yang kau berikan pada Yua tadi, Honey?” tanya Refald ketika keduanya sedang dalam perjalanan menuju bandara.


“Sebuah pesan yang isinya, aku akan mengatur semua hal yang diperlukan Yua jika ia ingin datang ke Swiss saat merindukanku. Kau tahu kan Refald, Yua tidak mungkin mau menggunakan uang Epank hanya untuk pergi ke Swiss agar bisa menemuiku. Aku sangat tahu Yua bukanlah tipe wanita yang bergantung pada orang lain. Sebagai sahabatnya, aku memberikan kebebasan pada Yua untuk menggunakan black card yang aku berikan padanya supaya bisa ia manfaatkan sebaik mungkin. Apa kau keberatan?”


“Tidak Honey, lakukan apapun yang kau mau. Aku jamin, dalam waktu singkat Yua akan mengembalikan kartu yang kau berikan itu padamu.”


“Apa maksudmu?”


“Kau pikir Yua mau menerima kartu itu begitu saja? Dia sahabatmu, dan dia punya harga diri yang tinggi. Seperti yang kau bilang, kalau ia ingin menemuimu, ia pasti akan menggunakan uangnya sendiri.”


“Lalu aku harus bagaimana?”


“Biarkan saja Yua sendiri yang mengatasinya. Dia sama hebatnya denganmu, jangan khawatirkan semua teman-temanmu. Kalian satu seperguruan, jadi tidak ada yang tidak bisa mereka selesaikan jika ada maslah menimpa mereka semua. Karena mereka adalah sahabat-sahabat terbaikmu.”


“Kau benar, Refald. Mereka semua hebat dan langka. Zaman modern seperti sekarang mana ada orang sesomplak teman-temanku itu. Untung kau segera membawaku pergi dari mereka, jika tidak aku pasti sudah ketularan.” Fey tertawa getir mengingat masa-masa indah Fey saat bersama teman-temannya. “Aku pasti akan sangat merindukan mereka.”


“Seminggu lagi kalian pasti bakal bertemu di acara pernikahan kedua sahabat karib kita Honey, Eric dan juga Nura, serta banyak sekali waktu-waktu lainnya yang membuat kalian bisa berkumpul bersama. Berpisah karena berbeda negara, bukanlah hal sulit Honey. Kalian masih bisa saling bertemu satu sama lain. Teknologi juga semakin canggih, hal seperti itu tidak perlu kau risaukan lagi.”


Fey merebahkan kepalanya di bahu Refald yang fokus memandang jalan dihadapannya. Semua yang dikatakan suaminya ini benar. Jarak dan waktu, tak bisa menghalangi kebersamaannya dengan orang-orang terdekat Fey.


Tanpa terasa, waktu pun sudah berlalu dengan cepat. Begitu pula kisah cinta antara Refald dan Fey yang sudah terjadi sejak mereka berdua masih anak-anak. Ada banyak hal yang terjadi diseputar kehidupan mereka berdua. Suka duka juga sudah mereka lalui bersama. Kini, keduanya hanya tinggal menunggu datangnya hari dimana sang buah hati mereka lahir kedunia untuk menggantikan peran kisah antara Fey dan Refald.


***


Sebulan telah berlalu, Refald kembali pulang ke rumahnya yang ada di Swiss setelah menyelesaikan proyek yang ia kerjakan dengan Eric. Fey menyambut kedatangan Refald sambil mencium mesra pipi suaminya. Refaldpun membalas dengan ciuman manis di bibir Fey yang kian hari, terlihat semakin berisi.


“Kau sudah pulang?” tanya Fey sambil tersenyum manis.


“Aku selalu buru-buru pulang lebih cepat supaya bisa segera melihatmu.”


“Baru beberapa jam yang lalu kita bertemu,” ujar Fey.


“Kali ini aku benar-benar pulang, Honey.” Refald mengelus pelan perut istrinya. “Perutmu mulai sedikit menonjol, meski tidak banyak.”


“Tentu saja, ini sudah jalan 3 bulan, pasti nanti bakal bertambah besar.”


Refald langsung menggendong tubuh Fey dan mendudukkannya di kursi ruang keluarga. “Kau sudah makan?” tanya Refald sambil memijat pelan kaki istrinya.


“Harusnya aku yang bertanya padamu, kau baru saja pulang tapi kau langsung memanjakanku. Jangan seperti ini Refald, aku merasa jadi istri yang buruk.”


“Sudah tugasku menjaga dan merawatmu, Honey. Terlebih lagi, kau sedang mengandung anakku. Aku sangat menyukai masa-masa ini, jangan larang aku, aku sama sekali tidak lelah dan justru ingin selalu bersamamu setiap saat. Aku ingin terus berada di rumah, tapi apa kata tetangga kalau aku hanya berdiam diri saja didalam rumah. Pasti mereka menganggapku suami pengangguran.”


“Kau ini lucu sekali, sejak kapan kau peduli pada omongan tetangga?” Fey tertawa mendengar jawaban Refald karena ia sangat tahu, meski tidak bekerja, pundi-pundi kekayaan suaminya ini tidak akan pernah berkurang, malah yang ada semakin bertambah dengan sendirinya karena sudah ada orang yang mengusus semua pekerjaan Refald.

__ADS_1


Refald hanya tinggal mendesain satu gambar dan tanda tangan. Dengan begitu jumlah saldo direkening Refald akan semakin bertambah. Tak bisa dibayangkan betapa kayanya Refald saat ini.


“Honey, semua orang disini bekerja keras meski mereka punya finansial yang lebih dari cukup. Aku hanya membaur seperti mereka agar tidak ada yang curiga siapa kita sebenarnya.”


“Oke-oke aku tahu, kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Kita berdua tahu, sebenarnya kau lebih sering berada dirumah dibandingkan diluar. Kau berpura-pura berangkat bekerja menggunakan mobilmu itu dan menyapa banyak orang seolah memperlihatkan bahwa kau punya pekerjaaan. Begitu sampai dikantormu, kau menghilang dan datang kemari? Sungguh kau jangan membuatku tertawa dengan mengatakan berpura-pura membaur.” Fey menatap wajah tak berdosa Refald.


Refald ingin bicara lagi, tapi ponsel yang ada disakunya berdering sehingga ia mengurungkan niatnya itu, Refald mengangkat panggilannya karena itu berasal dari Byon, ayah Leo.


“Iya, ada apa Paman?” tanya Refald begitu mengangkat sambungan ponselnya. Dari seberang, Byon langsung menjelaskan alasan kenapa ia menelepon Refald. “Baik Paman ... aku mengerti, aku akan berangkat kesana sekarang juga. Beritahu Leo untuk menjemputku di Bandara.” Refaldpun menutup sambungannya.


“Apa yang terjadi?” tanya Fey sambil menatap wajah serius Refald. “Apa yang dikatakan Paman?”


“Leo buat ulah, paman memintaku membantunya untuk menggertak musuh yang bisa membahyakan nyawa Leo dan Shena. Aku harus segera pergi, begitu aku naik pesawat aku akan kembali kemari sampai pesawat itu mendarat di Indonesia. Aku harus bersiap-siap. Tolong ambilkan tas hitamku, Honey?”


Fey bangun berdiri dan melakukan apa yang diminta Refald yaitu mengambilkan tas hitam suaminya.


“Kau juga harus bersiap-siap, sebentar lagi, Leo dan Shena akan menikah, paman sudah menyipkan semua tempatnya dan juga drama ikan terbang ala paman Byon.”


“Jangan bilang kalau kau juga ikut andil dalam drama ikan terbang yang dibuat paman.” Fey membantu suaminya memakaikan jasnya.


“Ehm, akulah peran utama dalam drama ikan terbang paman Byon. Selama aku pergi, pak Po akan menjagamu disini. Aku akan segera kembali.”


“Lalu Di?”


“Dia juga akan kemari, sebentar lagi mereka sampai. Jaga dirimu baik-baik.” Refald mencium kening istrinya dan mengambil tas hitamnya lalu pergi keluar meuju bandara.


Begitu pintu rumah tertutup, tak berselang lama pintu kembali terbuka dan itu adalah Di yang datang bersama dengan pak Po.


“Wuah, daebak! Cepat sekali kalian datang kemari?” sapa Fey yang membantu Di duduk disebuah kursi.


“Pangeran bilang ada urusan sebentar makanya kami langsung bergegas kemari tanpa persiapan.” Pak Po langsung menjelaskan.


“Ehm, katanya Leo sedang bikin ulah. Makanya Refald harus segera membantunya.” Fey membuatkan teh untuk Di. “Terimakasih sudah mau menemaniku, sebentar lagi Refald juga akan kembali?”


“Kenapa cepat sekali Putri?” tanya Di bingung. Untuk apa Refald menyuruhnya menemani istrinya kalau ia akan kembali dalam waktu singkat.


“Pangeran hanya melakukan formalitas penerbangan saja Di. Begitu pangeran masuk kedalam pesawat pribadinya, pangeran akan menghilang dan pulang kembali kemari sampai pesawat itu mendarat lagi.”


“Apa? Maksudmu pesawat itu kosong? Hanya ada staf dan pilot saja?”


“Ehm, begitulah kira-kira. Hanya formalitas saja agar keberadaannya tidak dianggap ilegal.”


Di hanya terdiam kerena ia baru kali ini mendengar ada orang selangka Refald. Sementaar Fey hanya tersenyum simpul melihat ekspresi terkejut Di dan cara pak menghiburnya. Kehadiran keduanya memang sukses membuat Fey tidak bosan lagi dirumah kalau Refald sedang tidak ada.


“Aku akan istirahat di kamar, silahkan kalian buat senyaman mungkin disini. Anggap saja rumah sendiri.” Fey berjalan pelan menuju kamarnya.


“Baik Putri, panggil saja kami kalau Putri butuh sesuatu,” ujar pak Po sambil menatap kepergian istri pangerannya.


Fey hanya menganggukkan kepala dan langsung membuka pintu kamar. Betapa terkejutnya Fey setelah tahu kalau ada orang yang sedang tidur terlentang diatas kasurnya sambil tersenyum menatapnya.


“Kau!” pekik Fey langsung sambil melotot.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


Yang sudah baca playboy jatuh cinta season 1 pasti tahu kalau part ini mengisahkan Refald yang membantu Leo menakut-nakuti Kenzo dengan kekuatannya. Setelah itu Refald juga muncul lagi untuk menyelamatkan Leo dari ledakan bom sehingga ia kehilangan kekuatannya. Detailnya bakal aku kisahkan di part selanjutnya. Sabar ya ... eh kira-kira itu siapa yang diatas kasur Fey? Ada yang tahu ... hehe ...



__ADS_2