Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 185 Hadiah dari Refald


__ADS_3

Kendaraan pengangkut para mahasiswa yang hendak kembali ke kampus teman-teman Leo sudah tiba. Semuanya dihimbau untuk segera masuk ke dalam bis mereka masing-masing sesuai dengan kelompok mereka, sama seperti saat semuanya datang ke tempat ini. Para senior mengarahkan para MaBa agar tidak ada yang tertinggal. Sebelum berangkat pulang, semuanya juga sudah dihimbau untuk mengecek kembali barang-barang yang akan mereka bawa kembali ke kampus.


Roy mengajak Laura untuk duduk sebangku dengannya sama seperti saat ketika mereka datang kemari. Namun, gadis itu bingung karena tidak menemukan keberadaan Shena dimanapun. Bahkan insiden pemukulan yang dilakukan Leo, Laura dan Roy juga tidak tahu. Sebab, pada saat kejadian, Roy sedang mengajaknya jalan-jalan keliling desa untuk yang terakhir kalinya. Roy beranggapan kemungkin besar, mereka tidak akan pernah datang kemari lagi, itulah alasan Roy mengajak Laura jalan-jalan.


“Ayo, kita masuk! Bisnya sebentar lagi berangkat,” ajak Roy.


“Tapi aku tidak melihat Shena, barang-barangnya juga sudah tidak ada. Apa mungkin ia sudah naik ke dalam bis?” tanya Laura sedikit khawatir karena sahabatnya itu masih belum sembuh total. Bahkan jalannya saja masih pincang.


“Leo pasti sudah bersamanya, kau tenang saja. Ayo, nanti kita bisa ketinggalan!” Roy menggamit tangan Laura dan menariknya berjalan menuju bis mereka.


“Tapi, kenapa harus Leo lagi? Apa kau yakin Shena aman bersamanya? Aku sering lihat Leo menggoda banyak wanita, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Shena?” Laura tetap saja tidak mau berhenti mencemaskan Shena apalagi saat ia bersama dengan Leo.


“Jika sesuatu terjadi pada Shena, maka Leo akan melindunginya. Percayalah padaku untuk kali ini saja, tidak terjadi apa-apa. Jangan banyak bertanya lagi, bisnya sudah mulai berangkat!” Roy menarik paksa tangan Laura dan membawanya masuk ke dalam bis. Ia mengarahkan Laura agar duduk dibangku mereka.


Meski khawatir, tidak ada yang bisa dilakukan Laura selain percaya pada apa yang dikatakan Roy padanya. Sedangkan Roy sendiri, sebenarnya juga mencemaskan Leo yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Di desa ini tidak ada sinyal, jadi Roy kesulitan menghubungi Leo lewat ponsel.


Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka lagi, batin Roy.


Bis sudah mulai berangkat meninggalkan desa tanpa ada yang menyadari bahwa dua orang sepasang muda mudi masih tertinggal dan keduanya sedang berada di tempat yang berbeda. Tim panitia sengaja mempercepat pemberangkatan karena dikhawatirkan akan terjadi hujan disiang hari. Jika sampai itu terjadi, jalanan bekas bencana, akan banjir lagi dan menutup jalan kembali. Karena itulah begitu bis tiba, semuanya dihimbau untuk segera masuk dan langsung diberangkatkan tanpa menunggu lama.


Saat ditengah perjalanan, Brandon heboh membicarakan insiden tadi pagi dimana Leo memukul Vincen saat laki-laki itu menyatakan cinta pada Shena. Para kaum adam itupun sepakat tidak mau cari gara-gara sama Leo dengan tidak mendekati Shena daripada kena bogem mentah dari si macan Leopard itu.


“Gila si Leo, dia asli nekat ngelarang semua laki-laki deketin wanita yang diincarnya. Kalau seperti itu kenapa mereka tidak menikah saja?” ujar salah satu teman laki-laki Leo. Roy yang duduk diantara mereka pun jadi penasaran tentang apa yang dibicarakan teman-temannya, apalagi menyangkut soal Leo.


“Ada apa dengan Leo? Memangnya apa yang ia lakukan?” tanya Roy sambil mengamati seluruh wajah teman-temannya satu persatu.


Laura pun juga menanyakan pertanyaan yang hampir sama saat mendengar pembicaraan para kaum adam teman-temannya Roy. Namun, gadis itu tidak berani bersuara dan lebih memilih diam dan menyimak saja.


“Ah, lu tadi ngilang kemana, Roy? Makanya jangan kencan mulu! Ketinggalan berita kan, lu?” ledek salah satu temannya.


“Jangan banyak bacot, lu! Jelasin ada apa? Memangnya apa yang dilakukan, Leo?” geram Roy.


Brandon yang duduk disamping bangku Roy dan Laura menjelaskan kronologi yang terjadi antara Leo dan Vinsen tadi pagi, tentu saja hal itu membuat Roy dan Laura langsung terkejut bersamaan. Mereka tidak menyangka, Leo bisa senekat itu. Untung panitia ospek tidak tahu dan Vincen sepertinya juga tidak berniat melaporkan kejadian itu ke panitia. Jika sampai panitia mendengar insiden pemukulan tersebut, habislah riwayat Leo saat itu juga.


Tentu saja Vincen tidak berani melaporkan Leo atas perlakuan kasar Leo padanya. Sebab, Refald sudah mengancamnya sesaat sebelum ia pergi menemui Leo di dalam hutan. Sudah bisa dibayangkan seperti apa ancaman intimidasi yang diberikan Refald pada Vincen sehingga laki-laki itu lebih memilih bungkam dan melupakan kejadian tadi pagi. Kalau sampai Vincen melanggar janjinya, sudah bisa dipastikan ia tidak akan pernah bisa tenang karena diganggu terus oleh pasukan dedemit Refald.


“Lalu, ada dimana Leo dan Shena sekarang?” tanya Roy. Ia jadi mulai khawatir seperti Laura.


“Leo masuk kedalam hutan dengan kesal, sedangkan Shena pergi ke sungai,” jawab Brandon.


“Apaaa?” teriak Roy dan Laura bersamaan dan mengagetkan semua orang yang ada di dalam bis. Keduanya pun juga shock dan mulai mencemaskan kedua sahabat mereka yang ternyata masih tertinggal di desa.


***


Leo berjalan keluar dari dalam hutan dengan kesal, wajahnya masih cemberut akut dan penasaran dengan hadiah apa yang akan diberikan Refald padanya. Ketika ia tiba disebuah jembatan, Leo tertegun karena mendengar suara seseorang sedang berteriak meminta tolong.


“Tolong!” teriak wanita itu. “Tolong aku!” teriaknya lagi.


Leo mencari-cari sumber suara teriakan itu dan betapa terkejutnya ia kerena dari kejauhan Leo melihat ada seseorang sedang terhanyut di dalam sungai. Leo memicingkan matanya dan matanya terbelalak ketika tahu bahwa wanita yang sedang hanyut di sungai itu adalah Shena, gadis yang amat sangat dicintainya.


“Tidak! Shenaaa!” teriak Leo.


Tanpa pikir panjang, Leo pun terjun ke dalam sungai yang arusnya memang lumayan deras. Ia berenang menghampiri Shena yang sepertinya sudah tidak punya tenaga lagi. Sekuat tenaga Leo berusaha meraih tubuh Shena dan akhirnya berhasil. Sayangnya, keduanya jadi sama-sama terhanyut ke sungai mengikuti arus yang sangat deras.

__ADS_1


Dari jarak 5 meter, Leo melihat ada batu besar berdiri tegak ditengah-tengah aliran sungai. Leo mengarahkan dirinya supaya sejajar dengan batu besar itu. Ia berencana menabrakkan tubuhnya ke batu tersebut supaya ia dan Shena tak lagi terbawa arus.


Leo mulai mempersiapkan diri saat keduanya sudah hampir sampai di batu besar. Begitu sudah dekat, Leo memutar tubuhnya melindungi Shena dan membelakangi batu besar tersebut sehingga punggung Leolah yang tertabrak..


Buk!


“Aaarghhh!” Leo mengerang kesakitan menahan sakit akibat benturan keras yang menghantam punggungnya. Syukurlah keduanya tertahan oleh batu besar dan tidak lagi terbawa arus sungai.


Leo berusaha membawa tubuh Shena yang pingsan kepinggiran sungai, tapi hal itu juga tidak mudah dilakukan. Berkali-kali Leo hampir saja kehilangan Shena lagi. Untungnya, ia masih tetap sigap menangkap Shena kembali. Berkat batu besar tadi, keduanya tidak sampai terbawa ketengah arus sungai, jadi Leo bisa mengejar Shena yang bolak-balik terhanyut saat terlepas dari dekapannya.


Dengan segala macam upaya yang dilakukan Leo, akhirnya ia berhasil sampai ke tepian sungai dan merebahkan Shena di tanah. Leo megambil napas dalam-dalam agar ia bisa bernapas normal lagi. Setelah itu, ia menepuk pelan pipi Shena dan berusaha menyadarkannya. Namun, Shena tidak bangun juga, sepertinya gadis itu terlalu banyak menelan air.


Leo menekan dada Shena untuk melakukan pertolongan pertama dan memberikan bantuan udara lewat rongga mulut Shena. Berkali-kali Leo meniup bibir Shena agar gadis itu bisa bernapas kembali. Akhirnya, air yang masuk ke dalam tubuh Shena keluar dengan sendirinya, gadis itu terbatuk-batuk tak berdaya. Leo terduduk lunglai melihat Shena sudah kembali sadar. Cowok itu menelungkupkan wajah dan merasakan nyeri dipunggungnya akibat hantaman batu besar tadi.


Pertama kali yang Shena lihat saat membuka matanya adalah Leo yang sedang duduk menunduk sambil menghembuskan napas beratnya. Ia tersengal-sengal karena terlalu bersemangat menyelamatkan Shena.


“Ada di mana kita?” tanya Shena lirih, ia merasakan nyeri disekujur tubuhnya akibat terhanyut tadi. Tak menuntut kemungkinan saat terbawa arus sungai, tubuhnya berkali-kali menabrak batu-batu yang ada didalam sungai sehingga membuat Shena tak sadarkan diri.


“Kau dan aku masih hidup,” gumam Leo sambil mengangkat kepalanya menatap Shena. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa sampai terhanyut ke sungai? Apa kau mencoba bunuh diri?” teriak Leo marah. Ia kesal bukan karena Shena terhanyut ke sungai. Leo kesal memikirkan seandainya saja ia tidak ada di sana waktu itu, apa yang akan terjadi pada Shena.


Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Leo jika ia sampai kehilangan Shena disaat ia belum memulai hubungannya dengan gadis yang ia cinta. Leo marah pada takdir dan juga dirinya sendiri, betapa sulit baginya karena harus menahan semua rasa agar suatu hari nanti bisa memiliki Shena seutuhnya. Namun, jika sampai terjadi sesuatu pada Shena, semua pengorbanan yang Leo lakukan akan menjadi sia-sia.


Shena tidak menggubris ocehan Leo padanya. Gadis itu sedikit bingung melihat reaksi Leo yang menurutnya terlalu berlebihan. Shena mencoba mengingat-ingat kembali momen saat ia sebelum terjatuh ke sungai. Ketika Leo pergi meninggalkannya waktu itu, Shena melanjutkan niatnya mengambil air dan pergi ke sungai untuk menyegarkan diri sekaligus menenangkan hati dari segala macam masalah yang ia hadapi selama berada di sini.


Awalnya, Shena duduk di atas batu sambil melempari batu-batu kecil ke tengah sungai. Tiba-tiba saja, Shena merasa ada sesuatu yang mendorongnya dari belakang sehingga ia jatuh ke sungai. Gadis itu terbawa arus dan sempat tidak melihat ada orang lain disekitarnya selain Shena sendiri. Sangat aneh sekali jika tiba-tiba saja Shena jatuh tanpa sebab.


Begitu masuk ke dalam air, Shena langsung berteriak minta tolong karena tubuhnya mulai terbawa arus dan Shena tidak bisa lagi mengontrolnya. Semakin lama, arusnya semakin deras dan menghanyutkannya. Beberapa saat setelah berteriak, kepala Shena terbentur sebuah batu dan ia sudah tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.


Namun saat ini, Shena terkejut melihat Leo sudah ada disampingnya, itu artinya untuk kesekian kalinya, Leolah yang menyelamatkannya lagi dan lagi.


“Aku tidak tahu, yang aku ingat ... aku sedang duduk di batu besar di pinggiran sungai dan tiba-tiba saja, aku merasa ada seseorang yang mendorongku sampai aku jatuh ke dalam sungai. Saat aku muncul ke permukaan, aku tidak melihat ada siapapun selain aku. Aneh, bukan? Aku sangat yakin sekali kalau ada seseorang yang mendorongku. Tidak mungkin orang itu menghilang begitu saja. Siapa dia dan kenapa mendorongku? Apa tujuannya?” ada banyak sekali pertanyaan yang muncul dibenak Shena, dan ia sama sekali tak bisa menemukan jawabannya. Ia sendiri tidak tahu harus meminta jawaban pada siapa.


Gadis itu mencoba bangun tapi ia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya benar-benar mati rasa. Tapi Shena tidak ingin memperlihatkan rasa sakitnya di depan Leo. Sebab, Leo sudah menatapnya tajam penuh arti. Leo sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa menyimak apa yang diucapkan Shena. Firasatnya mengatakan, Refaldlah dalang dibalik semua ini meski Leo tidak yakin seratus persen.


“Kau tidak bisa bergerak?” tanya Leo yang langsung tahu gelagat Shena.


Shena hanya menggeleng lemah, ia malu dan tidak tahu harus bagaimana. Namun, dalam hatinya ia merasa lega karena untuk kesekian kalinya, ada Leo bersamanya.


Perasaan apa ini? Harusnya aku benci cowok ini? Tapi kenapa ia selalu ada disaat aku sedang dalam kesulitan? Batin Shena,


Leo bangun dan berdiri sebentar untuk melemaskan otot-ototnya. Seluruh pakaiannya basah kuyub. Cowok itu melirik pakaian Shena yang juga basah sehingga bagian dalam pakaiannya jadi terlihat, sayangnya Shena masih belum menyadarinya.


Sambil tersenyum simpul, Leo menanggalkan jaketnya dan menutupi tubuh Shena yang transparan.


“Pakai itu!” ujar Leo dan langsung sukses membuat Shena terkejut. “Aku sudah melihatnya, jadi kau tidak perlu malu lagi.” Kata-kata Leo semakin membuat merah merona wajah Shena. Gadis itu ingin mengumpat, tapi tenggorokannya tersumbat menahan malu dan kesal.


“Kenapa kau baru beritahu aku sekarang, bod0h!” cetus Shena sambil membekap kedua tangan di depan dadanya.


“Apa bedanya? Toh aku tetap saja sudah lihat.” Leo menarik kedua tangan Shena sampai gadis itu terduduk dan membantu memakaikan jaketnya pada Shena karena ia masih saja kesulitan bergerak.


Shena yang tadinya malu dan kesal serta marah, jadi heran karena Leo hanya diam tanpa suara saat ia membantu Shena. Kalau laki-laki lain, pasti sudah mengambil kesempatan ini untuk melecehkannya atau bahkan bisa lebih dari itu, apalagi saat ini Shena tidak punya tenaga untuk melawan. Namun, Leo tidak melakukannya, cowok itu benar-benar melindungi Shena seperti yang pernah ia ucapkan sebelumnya.


“Sudah kubilang, jangan menatapku seperti itu, kau bisa jatuh cinta padaku!” ujar Leo sambil menutupkan resleting jaketnya hingga sampai di bawah dagu Shena.

__ADS_1


“Siapa yang menatapmu? Geer!” kilah Shena dan mencoba memalingkan wajahnya.


Leo hanya tersenyum dan membalikkan badannya membelakangi Shena. “Naiklah ke punggungku, kita harus segera pergi dari sini,” suruh Leo.


Shena kembali menatap Leo. “Lagi-lagi, kau menggendongku. Apa yang akan dikatakan teman-temanmu tentang kita nanti? Kenapa hidupku selalu berakhir digendonganmu? Apa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain digendong olehmu?”


“Itu artinya kita berjodoh.” Leo tersenyum senang karena memang untuk kesekian kalinya, ia akan kembali ke camp dengan menggendong Shena lagi. “Jangan pedulikan mereka kalau nanti teman-temanku bertanya. Kau cukup bilang ‘iya’ saja. Sudahlah, jangan bicara lagi, cepat naiklah, sampai kapan kita ada di sini?”


Apa yang dikatakan Leo benar. Shena tidak punya pilihan lain lagi. Entah ia memang berjodoh dengan Leo atau tidak, Shena tidak tahu. Begitu keluar dari tempat ini, Shena hanya bertekad fokus pada kuliahnya saja. Ia akan menganggap Leo dan semua yang pernah terjadi di sini hanyalah mimpi belaka. Saat Shena bangun, maka mimpi itu akan hilang seketika dan menjadi bunga tidur saja. Untungnya Leo dan Shena berbeda jurusan dan fakultas, jadi keduanya pasti akan jarang sekali bertemu mengingat gedung tempat keduanya kuliah berbeda tempat.


Ketika keduanya sampai di camp mereka, Leo tertegun dan tak bisa berkata-kata karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi ditempat ini. Dengan kata lain, semua teman-teman Shena dan Leo sudah pergi meninggalkan mereka kembali ke kampus tanpa menunggu keduanya. Shena tak kalah terkejutnya dari Leo, mulutnya bahkan sampai menganga lebar setelah mengetahui apa yang terjadi.


“Apa ini? Jangan bilang kalau mereka semua sudah meninggalkan kita di sini!” gerutu Shena masih dalam keadaan shock. Untung saja ia masih digendong Leo, kalau tidak gadis itu sudah pasti pingsan lagi.


Leo tak langsung merespons apa yang dikatakan Shena. Ia memejamkan mata dan mengumpati Refald habis-habisan.


Sialan si Refald! Jadi ini hadiah yang ia berikan padaku sebelum menghapus ingatanku? Si kampret itu ingin aku dan Shena menghabiskan waktu bersama sedikit lebih lama di tempat ini? Dasar bengek, sial! umpat Leo dalam hati.


Dari kejauhan, dua sosok makhluk astral pasukan Refald sedang tertawa cekikikan melihat keromantisan yang terjadi antara Leo dan Shena. Siapa lagi kalau bukan pak Po dan mbak Kun yang memang sengaja diperintah Refald untuk membuat Shena dan Leo tertinggal dari rombongannya.


Berawal dari ide mbak Kun untuk mendorong Shena supaya jatuh ke sungai tepat disaat pak Po memberi aba-aba kalau Leo akan berjalan mendekati jembatan. Keduanya bekerja sama membuat Shena celaka dan Leolah yang menyelamatkannya.


Mereka berdua juga memindahkan batu besar yang tadinya ada dipinggiran sungai berpindah tempat ke tengah sungai supaya bisa digunakan Leo menahan tubuhnya dan Shena sehingga mereka tak lagi terseret arus sungai yang deras.


Semua yang terjadi ini, adalah akal bulus dari pak Po dan mbak Kun yang tentunya atas perintah Refald juga.


“Yes, kita berhasil pak Po!” ujar mbak Kun. Mereka berdua saling menabrakkan tubuh satu sama lain.


“Idemu briliant, mbak Kun. Mereka berdua pasti punya banyak waktu untuk bersama sebelum pangeran menghapus ingatan keduanya.”


“Aku akan merekam momen ini dimemoriku dan akan aku tunjukkan pada mereka berdua tepat di upacara resepsi pernikahan keduanya suatu hati nanti. Pasti bakal seru sekali.”


“Good things mbak Kun.” Pak Po sengaja memakai bahasa asing supaya terlihat sok kebarat-baratan.


“Apa? Gunting? Untuk apa?” tanya mbak Kun yang tidak mengerti bahasa pak Po.


“Omegot mbak Kun, kenapa kau katrok sekali? Sepertinya kau haru les bahasa asing biar gak ketinggalan zaman, sudah berapa abad kau berkelana di dunia yang fana ini?”


“Katrok itu apaan lagi, sih? Kapan kau belajar bahasa aneh begitu?”


“Untung saja aku sudah mati jadi tidak perlu menghela napas lagi,” gerutu pak Po.


“Kau bilang apa?” tanya mbak Kun.


“Kita harus segera pergi dari sini untuk menemani putri. Ayo!” ajak pak Po mengalihkan perhatian karena kesal dengan sifat mbak Kun yang sudah sangat ketinggalan Zaman. Keduanya langsung menghilang begitu saja.


BERSAMBUNG


***


1 episode tapi puanjang ..


__ADS_1


Leo saat basah kutub



__ADS_2