Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 215 Istirahat Sementara


__ADS_3

Semua orang tampak panik melihat Refald yang tiba-tiba saja pingsan. Ini kali kedua Refald seperti ini. sebelumnya Refald pernah pingsan juga karena terlalu memforsir kekuatannya secara berlebihan. Jika seperti ini terus, bisa-bisa Refald kehilangan kekuatannya. Fey yang terlalu cemas dengan kondisi suaminya mulai memanggil beberapa pasukan Refald agar membantunya membawa suaminya ke kamar yang bisa digunakan untuk beristirahat. Refald pasti terlalu memaksakan diri untuk menahan serangan para makhluk astral dari klan lain yang jelas-jelas sangat jauh lebih kuat dari semua pasukannya sewaktu Fey melakukan proses taransisi perubahan pak Po dari hantu menjadi manusia.


Sedangkan pak Po sendiri, jadi semakin merasa bersalah melihat pangerannya terkapar tak berdaya. Biasanya, dialah yang akan membawa Refald dan membantu memulihkan tenaganya, tapi sekarang, hantu yang kini sudah menjadi manusia ini sudah tidak lagi bisa menolong Refald karena Pak Po alias Ezi, tidak punya kekuatan apa-apa lagi. Ia hanyalah seorang manusia biasa yang rapuh dan juga lemah.


“Jangan bermuka masam begitu, pak Po. Sudah aku bilang, akulah yang akan menggantikanmu melindungi suamiku. Sekarang, biarkan kami sendiri, kau dan Divani bisa menikmati malam pernikahan kalian. Pergilah,” suruh Fey tanpa berpaling menatap wajah suaminya. Ekspresi istri Refald itupun juga sangat datar.


“Tapi, Putri, bagaimana dengan pangeran? Sesungguhnya saya tidak bisa meninggalkan pangeran seperti ini.” pak Po masih mencemaskan Refald yang terbaring lemah di ranjang. Sedangkan Di istrinya, hanya bisa menyimak saja karena ia tidak mengerti apa-apa.


“Apa kau lupa, pak Po. Kau punya istri sekarang. Tugasmu adalah membuat istrimu bahagia menjaga dan melindunginya. Penuhi kewajibanmu sebagai seorang suami. Serahkan Refald padaku, karena aku adalah istrinya. Percayalah, aku bisa memulihkan tenaganya lagi. Bahkan kekuatanku jauh lebih ampuh darimu. Sebaiknya kau dan Di pergi dari sini, ini adalah malam pertama pernikahan kalian! Sampai ketemu besok pagi.” Fey mendorong paksa tubuh pak Po keluar ruangan dan diikuti oleh istrinya dari belakang. Setelah keduanya berada diluar, Fey langsung menutup rapat pintu kamarnya.


“Pu ...Putri!” teriak pak Po dari luar. “Jika anda butuh apa-apa. Panggil saya saja, saya akan berjaga dibawah.”


Teriakan pak Po terdengar jelas ditelinga, Fey. Namun, ia memilih untuk tidak menjawab seruan mantan pasukan Refald itu. Matanya terus fokus menatap wajah pucat suaminya. Fey bahkan ingin menangis tapi ia tidak bisa melakukannya dihadapan para pasukan dedemit Refald yang berdiri mengelilingi pangerannya.


“Kalian semua, pergilah juga dari sini, jangan datang kembali jika aku tidak memanggil kalian kemari. Aku harap para makhluk astral lainnya tidak bisa menemukanku dan Refald disini. Tolong buatlah penjagaan ketat disekitar wilayah ini agar tak ada makhluk astral lain yan datang ke desa ini, apa kalian bisa melakukannya? Setidaknya sampai Refald pulih kembali.”


“Baik Putri, kami akan melaksanakan perintah anda. Tapi ... apa anda yakin bisa memulihkan tenaga pangeran sendirian tanpa bantuan dari kami?” tanya salah satu dedemit pasukan Refald.


“Aku yakin, aku sendiri saja sudah cukup bisa memulihkan tenaga suamiku. Justru aku tidak bisa berbuat apa-apa jika kalian semua tetap ada disini. Cepatlah pergi! Tinggalkan kami berdua!” titah Fey.


“Baik Putri, jika terjadi sesuatu, panggil saja kami.”


“Oke!” jawab Fey singkat. Matanya kembali berpusat pada sosok suaminya.


Para pasukan dedemit Refald yang tadi dipangil oleh Fey, satu persatu mulai menghilang tanpa jejak. Walau mereka semua terlihat amat sangat mengkhawatirkan Refald, tetap saja mereka tidak bisa melawan titah istri pangerannya untuk pergi meninggalkan pangeran dan permaisurinya berdua saja. Saat ini, kekuatan terbesar yang dimiliki Refald adalah Fey. Jika Refald lemah, maka yang bisa membuat Refald menjadi kuat kembali adalah istrinya sendiri.

__ADS_1


Suasana kamar mendadak menjadi sepi dan sunyi karena waktu masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Kini tinggallah Fey dan Refald saja dalam kamar yang terlihat berantakan saking lamanya tak terurus. Tidak ada waktu untuk merapikan tempat ini, jadi untuk semaentara, Fey akan menggunakan tempat seadanya untuk memulihkan tenaga suaminya yang terbaring lemah diatas ranjang. Untunglah, ranjangnya masih bisa digunakan.


“Putri,” seru pasukan dedemit itu tiba-tiba dari balik punggung Fey sehingga membuatnya terperanjat.


“Ada apa? Bukankah kau sudah ku suruh untuk pergi? Kenapa malah balik lagi?”


“Ada yang terlupa, Putri.” Tanpa peringatan, pasukan dedemit itu menggunakan kekuatannya untuk membuat kamar ini terlihat layak huni, lebih bersih dan tertata rapi. Makhluk astral itu juga membenahi ranjang yang ditempati Refald kembali seperti baru lagi agar layak digunakan.


Mata Fey terkesiap dengan keajaiban luar biasa yang ada dihadapannya. Adegan yang dilakukan salah satu pasukan suaminya ini mengingatkan Fey pada cerita fiksi fantasi dalam film Harry Potter.


“Huah, daebak! Kau mirip Dumbledore difilm harry potter mas Gen,” ujar Fey ngasal sambil terkagum-kagum melihat ruangannya kini berubah seperti hotel bintang 5. “Kau mirip seperti penyihir,” seru Fey lagi.


“Terimakasih atas pujian anda Putri, tapi ... masa iya saya setua itu? Wajah saya ini sebelas dua belas dengan pak Po Putri, sedangkan Dumbledore sudah tua renta.” Makhluk astral yang dipanggil Fey dengan sebutan 'mas Gen' agak tidak terima kalau dia disamakan dengan penyihir tua terkuat di Hogwards.


“Kalau begitu Voldemort saja, dia tidak terlalu tua juga aslinya.” Disaat seperti ini Fey masih bisa-bisanya mengajak pasukan Refald bercanda.


“Baik, terimakasih atas bantuanmu.”


Makhluk astral itupun menghilang dan Fey mulai menatap wajah suaminya kembali.


Di samping Refald, Fey mulai berkaca-kaca karena merasa lemah tak berdaya. Untuk kesekian kalinya, Refald mempertaruhkan nyawanya demi melindunginya. Sungguh, Fey sangat mencintai orang yang mencintainya sampai sedalam ini. Bukan karena Refald punya kekuatan luar biasa yang bisa melindunginya dari bahaya apapun, tapi karena sosok seorang Refaldlah yang sangat ia butuhkan untuk menjalani kehidupan bersama-sama dalam suka maupun duka di dunia fana ini. Entah apa yang terjadi pada Fey jika Refald tidak ada.


Masih sambil menangis, Fey menggenggam erat tangan Refald yang dingin. Gadis itu mencium punggung tangan suaminya lalu menempelkannya dipipinya hingga tangan Refald ikutan basah karena air mata Fey yang terus saja mengalir.


Dihadapan pasukan Refald, Fey berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah keluar, tapi begitu melihat suaminya yang terbaring lemah, air mata itu jatuh dengan sendirinya.

__ADS_1


“Jangan menangis, Honey. Aku sudah tidak apa-apa,” ujar Refald lirih tapi sukses mengagetkan Fey.


“Suamiku, kau tidak apa-apa?” tanya Fey cemas.


“Ehm, air matamu membangunkanku. Sekarang aku sudah tidak apa-apa. Jadi, jangan menangis lagi.” Refald mencoba tersenyum pada istrinya agar wanita yang sangat dicintainya ini tidak khawatir.


Tanpa peringatan, Fey pun menunduk dan mencium bibir suaminya dengan lembut seperti yang biasa Refald lakukan padanya. Fey sendiri mulai terbiasa dengan ciuman maut Refald dan kini ia mempraktekkannya pada suaminya sendiri.


"Kau bisa bergerak, Suamiku?" tanya Fey setelah menyudahi ciumannya. Gadis itu memerhatikan suaminya untuk memastikan apakah ia baik-baik saja.


"Lumayan, kenapa Honey?" tanya Refald tidak mengerti. Ia tidak bisa membaca pikiran istrinya.


"Bersiaplah, aku akan melakukannya," ujar Fey sambil menatap tajam mata Refald. Sudah waktunya Fey harus memulihkan kembali kekuatan Refald.


"Hah, melakukan apa?" mata Refald juga menatap lembut istrinya. Ia benar-benar tidak bisa membaca apa yang akan dilakukan Fey padanya.


BERSAMBUNG


****


Maaf segini dulu, nanti aku lanjut lagi kalau sudah senggang.



jangan lupa mampir di Playboy Jatuh Cinta season 2 ya ... masih awal sih, tapi gak kalah seru kok ... nanti aku up lagi ... terimakasih ... love you all forever ...

__ADS_1



__ADS_2