Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 122 Kasih Sayang


__ADS_3

Menurut dugaanku, kemungkinan besar surat itu berisi tentang kronologi bagaimana mbak Sun meninggal dan siapa yang sudah membunuhnya, itulah yang menyebabkan suster Sista menjadi dendam dan ingin membunuh dokter Raska karena dia adalah putra dari orang yang telah membunuh ibunya.


“Aku menceritakan pada putriku siapa yang sudah membunuhku.” Mbak Sun mulai berbicara dan apa yang aku pikirkan ternyata benar. “Dia adalah ayah dari dokter itu! Putriku ingin membalaskan dendamku dengan membunuh putra orang sudah membunuhku! Dan aku menuruti permintaannya, apa itu salah?” bentaknya.


“Salah!” teriakku dengan lantang, entah kenapa rasa takut yang tadinya menyerangku, mendadak hilang dan berganti dengan amarah yang aku sendiri tidak bisa mengerti kenapa aku seberani ini. “Orang yang membunuhmulah yang bersalah, tapi kenapa dokter Raska yang kau hukum? Dia tidak bersalah atas apa yang dilakukan ayahnya padamu.


"Kenapa kau membela dokter itu?" mbak Sun meneriakiku.


"Dokter Raska mencintai putrimu, anak dari orang yang telah dia bunuh ternyata adalah wanita yang paling dicintai dokter Raska. Itulah karma yang di dapat oleh orang yang telah membunuhmu. Orang itu akan terus menerus dibayangi dengan rasa penyesalan yang tak pernah ia bayangkan karena sudah melenyapkanmu dan menghancurkan kebahagianmu.


"Cinta dokter Raska pada putrimu adalah bentuk penebusan dosa yang harus ia tanggung dengan cara membahagiakan putrimu. Jika kau membunuhnya, maka itu artinya kau menghancurkan hidup putrimu sekali lagi."


Mbak Sun diam, jadi aku melanjutkan jurus ceramah no jutsuku yang entah bagaimana bisa aku memiliki jurus itu.


"Kau tidak bisa menyampaikan pesanmu pada putrimu sendiri karena kau tahu, putrimu juga mencintai putra dari orang yang yang kau benci. Namun, setelah kau mengetahui bagaimana reaksi putrimu, kau mengambil keputusan yang salah ini.


"Apa kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada masa depan putrimu jika dia membunuh dokter Raska di tempat ini? Ayahnya akan membalas dendam pada putrimu dan memasukannya ke penjara. Tidak menuntut kemungkinan dengan uang yang dia punya, putrimu bisa saja dihukum mati, dan dendammu juga akan terkubur bersamanya. Sementara orang yang telah menghancurkan kebahagiaanmu masih tetap hidup dan bisa menikmati hidupnya. Itukah yang kau inginkan? Kau ingin hidup putrimu lebih menderita lagi? Sementara orang yang telah membunuhmu bahagia?


"Akan berbeda jika kau membiarkan dokter Raska menebus kesalahan ayahnya dengan memberikan kebahagiaan pada putrimu yang dulu sempat hilang karena kehilangan dirimu. Lupakan dendammu! Seperti yang Refald bilang, ayah dokter Raska akan mendapatkan karma dan ganjaran setimpal atas apa yang sudah ia lakukan padamu. Biarkan dia mendapat hukuman sesuai dengan aturan yang ada di dunia ini, ia juga akan tetap mendapat hukuman setelah dia mati nanti. Jadi, aku minta ... biarkan putrimu bahagia, paling tidak, jika tidak bisa mengikhlaskan, kau masih bisa memaafkan.” Aku menatap mbak Sun. Dia terpaku mendengar kata-kataku yang sudah seperti rentetan gerbong kereta api tanpa ujung.

__ADS_1


Entah apa yang aku ucapkan ini benar atau salah, aku hanya mengikuti instingku. Aku bisa merasakan dari mata dokter Raska, kalau sebenarnya, dia mencintai suster Sista. Dokter Raska sendiri juga tersentak mendengar fakta yang baru saja ia ketahui soal ayahnya dan juga gadis yang dicintainya. Perlahan, dia berjalan mendekat ke arah suster Sista dan berlutut di sisinya menghadap mbak Sun.


“Nyonya, aku tidak keberatan jika kau ingin membunuhku.” Ucapan dokter Raska yang ternyata bisa juga melihat sosok mbak Sun membuatku terkejut, aku ingin menyela tapi Refald memegang tanganku dan memberiku kode untuk tidak ikut campur dulu. “Aku akan menyerahkan nyawaku asal kau bisa memaafkan kesalahan ayahku. Akan aku pastikan dia juga akan menderita karena kehilangan putra satu-satunya akibat kejahatannya. Aku baru tahu apa yang terjadi sebenarnya, maafkan aku Nyonya, dan sampaikan salam cintaku untuk Sista jika dia sudah sadar nanti. Bunuhlah aku sekarang, aku tidak akan melawan.” Dokter itu pun memejamkan matanya dan siap mengorbankan nyawanya demi orang yang ia cintai, yaitu suster Sista.


Refald masih menggenggam erat tanganku untuk mencegahku melakukan hal-hal yang bisa memperkeruh keadaan. Ia juga memerintahkan pak Po dan mbak Kun melepaskan cengkeramannya. Sejujurnya, aku juga was-was dengan keputusan apa yang akan diambil oleh mbak Sun begitu ia terbebas dari belenggunya.


Kuputuskan untuk menutup mataku karena aku tidak ingin melihat kemungkinan terburuklah yang terjadi. Sebab, mbak Sun tidak mamberikan komentar apa-apa. Sosok fenomenal itu hanya diam seribu bahasa.


Tiba-tiba saja, ada cahaya terang benderang datang menyinari ruangan ini dan Refald langsung melindungiku dalam pelukannya agar cahaya itu tidak mengenaiku. Hal ini mengingatkanku pada cahaya yang dulu juga pernah datang seperti ini saat kami berada di hutan waktu itu. Aku khawatir akan ada hal buruk lagi mengingat waktu itu, orang yang melakukan hubungan terlarang, tiba-tiba saja mati mengenaskan. Semoga apa yang aku pikirkan ini salah.


Setelah beberapa menit, cahaya itu pun menghilang bersama dengan raibnya mbak Kun. Sepucuk surat, jatuh diantara mbak Kun dan Pak Po yang melayang-layang di udara. Aku berjalan mendekati mereka dan mengambil surat itu lalu membacanya.


Dear Sista, maafkan semua kesalahan ibumu yang selama tak bisa bersamamu. Tidak ada lagi yang bisa ibu lakukan selain membiarkanmu hidup bersama dengan orang yang kau cintai dan mencintaimu. Lupakanlah dendam yang selama ini terpendam di hatimu dan bukalah lembaran baru bersama dokter Raska. Sebab, dengan melihatmu bahagia, maka ibu juga akan bahagia. Aku sangat menyayangimu, putriku Sista ... dari ibumu, Susan.


Tiba-tiba saja, lagi-lagi aku teringat oleh ibuku sendiri, perasaan mbak Sun terhadap putrinya, juga dirasakan ibuku. Ibuku tidak akan tenang sebelum aku hidup bahagia, tapi nyatanya aku malah menyiksa diriku sendiri dan meninggalkan semuanya. Kejadian ini benar-benar menusuk dan membuka mata hatiku bahwa aku harus tetap hidup bahagia walau tidak ada ibu disampingku. Karena bagaimanapun juga, ibuku akan tetap hidup dalam hati dan jiwaku, selamanya. Untunglah aku meminta hadiah pernikahan pada Refald sebagai penebus kesalahanku di masa lalu. Aku sudah tidak sabar menunggu datangnya hadiah itu.


Refald memelukku dengan erat begitu juga dengan dokter Raska yang langsung memeluk suster Sista, padahal dia masih pingsan. Pelukan Refald sedikit menenangkanku, ia tidak banyak bicara, Refald hanya mengusap lembut rambutku sampai aku berhenti menangis.


Setelah aku tenang dan bisa menguasai diri, aku memberikan surat peninggalan mbak Sun sebelum dia menghilang pada dokter Raska yang juga masih memeluk kekasihnya.

__ADS_1


“Dokter, berikan surat ini pada suster Sista setelah ia sadar nanti, dan berjanjilah padaku kau akan membahagiakannya. Jika kau tidak menepati janjimu, maka aku sendiri yang akan datang padamu dan menghancurkan hidupmu!” ku akui aku sedikit mengancam meski sebenarnya tidak perlu kulakukan, sebab dokter Raska tidak akan menyakiti suster Sista. Aku menyerahkan surat itu pada dokter Raska dan ia pun menerima surat itu.


“Aku janji padamu, aku akan membahagiakan Sista dan melindunginya dengan segenap hati dan jiwaku. Aku juga akan menjaga rahasia kalian. Jangan khawatirkan apapun. Sebaiknya kalian cepat kembali ke kamar kalian sebelum penjaga rumah sakit datang. Terimakasih untuk semuanya, kalian berdua sudah banyak membantu kami. Aku berhutang budi pada kalian berdua.”


“Bahagiakan saja suster Sista seperti yang diinginkan almarhum ibunya. Dengan begitu, hutang budi dokter, kami anggap lunas.” Setelah berkata begitu tubuhku serasa lemah, hampir saja aku terjatuh jika saja Refald tidak segera menangkapku.


Refald menggendongku dalam pelukannya dan membawaku kembali keruangannya tanpa suara. Sepanjang perjalanan Refald juga diam dan pandangannya tetap lurus ke depan. Pak Po dan mbak Kun juga mengikuti kami dari belakang.


Sesampainya di dalam kamar inap, Refald membaringkanku di tempat tidurnya dan menyuruh pak Po dan mbak Kun segera pergi dari sini sehingga tinggalah kami berdua saja di ruangan ini. Refald terus menatapku tanpa kedip sehingga aku jadi gugup sendiri.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyaku balas menatapnya.


Bukannya menjawab, Refald malah menciumku dengan mesra, ia mengisap lembut kedua bibirku secara bergantian dan memaksakan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Refald berhenti menciumku karena aku mulai kehabisan napas. Ciuman Refald yang memabukkan membuatku melayang sehingga aku lupa bernapas. Dia menatapku lagi dan menempelkan dahinya di dahiku.


“Ini adalah hadiah dariku. Kau sudah berhasil menunjukkan bahwa kau adalah istriku, Honey. Kau hebat hari ini. Dan juga ... jangan lupa bernapas.” Refald memberikan ciuman mautnya lagi.


****


Dilarang baper! Aku aja yang baper sendiri ... hehehe ..

__ADS_1


Yang mau masuk grub dan saling kenal satu sama lain, tambah teman, dan have fun bareng soal kehaluanku yang gak karuan ini ... bisa langsung klik grub chat ku ya ... terimakasih atas dukungannya selama ini, love you all ....



__ADS_2