Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 140 Foto


__ADS_3

Dalam mimpi Ayah, aku melihat kenangan masa lalunya saat bersama dengan almarhum ibuku semasa ibu masih hidup. Mereka berdua begitu bahagia, rona wajah keduanya dipenuhi cinta dan kasih sayang yang tiada tara. Hanya ada kebahagiaan saja diantara mereka.


Bagaimana tidak, selama ayah menjalin hubungan dengan almarhum ibu, tak sekalipun keduanya bertengkar. Itu karena usia ayahku jauh lebih tua dibandingkan ibu sehingga ayah bisa mengerti dan memahami sifat ibuku yang masih labil.


Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah, ayahku ternyata guru di SMA ibuku. Selama kuliah, ayahku magang menjadi guru bahsa Jepang di sekolah ibu. Kisah cinta mereka mulai bersemi disana.


“Apa kau tahu kalau ayahmu adalah guru dari ibumu sendiri?” tanya Refald yang sepertinya juga terkejut mengetahui kisah cinta mertuanya melalui mimpi ayah saat ini.


“Tidak, ibu hanya bilang kalau mereka bertemu disaat usia ibuku masih muda. Ketemunya dimana, ibu tak pernah menceritakan detailnya. Ibu juga bilang alasan ia menikah muda dengan ayah, karena ia tidak mau dijodohkan nenek. Cuma itu yang aku tahu, aku malah baru tahu kalau ternyata, mereka sebenarnya adalah guru dan murid. Ini sungguh luar biasa. Sekarang aku mengerti kenapa nenek tidak bisa langsung merestui mereka.”


“Apa salahnya? Sekarang malah lagi marak pasangan antara guru dengan murid, dan itu sah-sah saja, tidak ada masalah.”


“Sekarang memang tidak masalah, tapi hidup di zaman dulu, apalagi di era ayahku, mungkin sangat bermasalah. Sejujurnya, aku salut dengan mereka berdua. Orang tuaku benar-benar luar biasa.” Mataku tak henti-hentinya memandangi wajah ibu dan ayahku. Ada rasa bangga tersendiri menjadi putri kedua mereka.


Refald menggenggam erat tanganku. Ia juga ikut tersenyum saat melihatku tersenyum. “Ayo, Honey. Sudah waktunya kita melangsungkan acara pertunangan kita.”


“Hah? Secepat ini?” tanyaku agak terkejut. Perasaan baru beberapa menit yang lalu aku ada di dunia yang Refald ciptakan untuk kami.


“Ini sudah pagi, kita harus kembali sebelum ayahku dan yang lainnya bangun. Aku janji akan membawamu kemari lagi kapanpun kau mau.” Refald menarik tanganku hingga kami berdua berdiri sejajar dan saling berhadapan.


Aku tersenyum dan mengecup pelan bibir Refald. Ia pun membalas ciumanku dan mengisap lembut kedua bibirku. Begitu mataku terbuka, aku sudah kembali ke kamarku dan mendapati ayah yang masih tidur pulas disampingku sambil mendengkur dengan keras.


“Ibu benar, Ayah selalu berisik kalau tidur,” gumamku lirih. Aku melihat jam dinding yang terpajang rapi diatasku. “Sudah pukl 04.00 waktu Jerman. Pantas saja Refald mengajakku kembali. Kalau di Indonesia, mungkin sekarang sudah jam 09.00 am. Sebab, selisih waktu antara Jerman dan Indonesia adalah 5 jam.”


Aku sudah tidak bisa tidur lagi, meski di sini matahari belum juga terbit, aku putuskan untuk jalan-jalan mengelilingi rumah ini. Tidak kusangka saat sampai dibalkon, aku melihat Leo sedang berdiri bersandar di pagar pembatas sambil melihat kemerlip bintang kejora.


Saat aku berjalan mendekat ke arah Leo, aku melihat ditangannya ada sebuah foto seorang anak perempuan cantik sama persis seperti yang tadi aku lihat di dalam mimpinya.


Apa Leo terbangun karena ia bermimpi tentang wanita yang kelak akan jadi pasangan hidupnya? Batinku.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Leo.” aku berdiri tepat di sebelah Leo. Ia terkejut saat melihatku dan buru-buru menyembuyikan foto yang ada ditangannya ke dalam saku celananya. “Cantik,” ujarku sambil tersenyum. Aku pun melihat indahnya kemerlib bintang yang ada di langit.

__ADS_1


“Apa?” tanya Leo tidak mengerti.


“Kau tidak perlu menyembunyikan foto gadis cantik itu. Biar aku tebak, pasti gadis kecil mungil itu adalah orang yang kau suka dan kau merindukannya? Benar, kan?”


Leo terpana mendengar pernyataanku. “Apa kak Refald menceritakan sesuatu padamu, Kakak ipar? Mengenai gadis kecil yang ada di foto ini?” secara tidak langsung Leo mengakui kalau tebakanku benar.


“Ia hanya bilang suatu saat kalian pasti bertemu, itu sudah menjadi takdir kalian. Cuma itu saja yang ia katakan padaku.” Aku menatap Leo yang menunduk. “Kau sangat menyukainya?” tanyaku mulai kepo.


“Aku tidak tahu, yang aku tahu aku merindukan gadis yang ada di foto ini. Aku tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang. Aku takut aku tidak bisa mengenalinya jika seandainya kami berdua bertemu nanti.” Suara Leo terdengar lirih.


“Kau bisa merasakannya, kalau cintamu tulus pada orang yang kau cintai, kau bisa merasakannya meski kalian tidak pernah bertemu sebelumnya. Perasaan itu akan sangat berbeda dengan wanita lain yang tidak kau cintai.” Aku memberi Leo pencerahan tentang cara bagaimana menemukan wanita yang ia cintai. Padahal aku sendiri tidak bisa mengenali tunanganku saat pertama kali bertemu dengan Refald.


“Kau benar sekali Kakak ipar, begitu aku lulus di Inligua Berlin nanti, aku akan langsung pulang ke Indonesia untuk menemukan gadis ini.” kali ini suara Leo terdengar bersemangat. “Terima kasih Kakak ipar, aku senang karena kau akan segera menjadi kakak iparku!”


“Aku juga senang karena sebentar lagi kau juga akan menjadi adik iparku, jangan lupa kenalkan pada kami jika suatu hari nanti kau menemukan wanita yang ada difoto itu.”


“Tentu, tapi itu masih sangat lama.”


Kami berdua tersenyum bersama-sama. Ini adalah awal aku mengenal keluarga besar Refald. Biasanya aku tidak mudah akrab dengan siapapun kecuali kalau kami sudah mengenal lama. Namun bersama Leo, aku merasa ia seperti adikku sendiri. Leopun juga langsung menganggapku sebagai kakaknya sehingga sering juga membuat Refald cemburu jika melihat kedekatan kami dalam waktu yang relatif singkat.


Leo juga tak segan-segan menjadi tourgaedku selama berada di sini. Ia memperkenalkanku pada seluruh keluarga besarnya padaku satu persatu. Anehnya, sampai sore tiba, aku belum melihat Refald lagi.


Terakhir kali aku melihatnya, saat kami tadi sarapan bersama, dan ia melirik tajam padaku dan Leo saat kami berbincang-bincang dengan akrab. Setelah itu ia menghilang entah kemana.


***


Malam pun tiba dan pesta pertunangan kami akan segera dilangsungkan, tapi sampai detik ini, aku masih tidak tahu dimana keberadaan Refald. Tak seorangpun mau memberitahuku sampai akhirnya Leo datang dan masuk ke dalam kamar riasku.


“Kau sudah siap, Kakak ipar? Acaranya akan segera dimulai.” Leo berjalan mendekat dan berdiri disampingku.


“Leo, apa kau tahu dimana Refald saat ini? Kenapa aku tidak melihatnya dimanapun setelah sarapan tadi?”

__ADS_1


“Ohooo ... kau merindukannya, ya? Baru juga beberapa jam kalian tidak bertemu tapi kau sudah merindukannya setengah mati.” Bukannya menjawab pertanyaanku, Leo malah menggodaku.


“Bukan begitu, aku hanya khawatir padanya,” kilahku.


“Kau takut kalau dia melarikan diri darimu?” Leo terus saja menggodaku. “Dia sedang sibuk,” ujar Leo kemudian.


“Sibuk apa?” tanyaku penasaran.


“Aku tidak boleh memberitahumu. Dia bilang kau akan tahu sendiri nanti. Sebaiknya ayo kita keluar karena para tamu sudah menunggu, Kakak. Aku datang kemari karena paman yang menyuruhku.”


Aku pun berdiri dan mengikuti langkah Leo meski aku agak sedikit bingung dengan maksud ucapannya. Sepanjang perjalanan menuju ruang acara, hatiku terus berdegup dengan kencang. Aku sangat gugup sekarang. Meski ini hanya pesta pertunangan, aku tetap merasa aneh dan juga canggung. Padahal sebelumnya, aku sudah pernah menikah dengan Refald di dunia lain.


Apa yang dilakukan Refald, kenapa ia tidak ada dimanapun? Tanyaku dalam hati.


BERSAMBUNG


****


Nanti aku lanjut lagi, maaf upnya telat.



Fey



Leo saat masih muda



Refald

__ADS_1


__ADS_2